Husain Dikhianati, Husain Dipertuhankan
Penulis: Azhar Abu Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Kisah panjang Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib sangat layak disimak hingga akhir, demi meluruskan kultus yang disematkan padanya. Husain dan Karbala sering disandingkan dalam cerita yang mengaduk emosi, membuat sebagian orang tak lagi waras dalam beragama. Tentang Husain dan Karbala, berikut inilah kisah sebenarnya.
Profil Al-Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma
Namanya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib,[1] putra Khalifah kaum muslimin dan Fatimah Al-Batul radhiyallahu 'anha. Adapun kakeknya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasab yang sungguh mulia, tak tertandingi. Kuniyah beliau adalah Abu Abdillah.
Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 4 Hijriah. Keutamaannya amatlah banyak. Bersama saudaranya, Al-Hasan, Al-Husain sering mendapat pujian dari Rasulullah pada berbagai kesempatan. Dalam sebuah riwayat, dideskripsikan, “Fisik Al-Husain lebih mirip dengan Rasulullah mulai dari bagian dada hingga kaki.” Sedangkan dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Al-Hasan cenderung memiliki sifat yang lembut, tenang, fasih lisannya, dan bijak. Adapun Al-Husain, adiknya, cenderung menonjol dalam sifat keberanian, ketegasan, dan kekuatan. Al-Hasan pernah berkata kepada adiknya, “Aku harap diriku diberi sebagian kekuatan hatimu.” Sang adik menukas, “Aku pun berharap andai aku diberi bagian dari kefasihan lisanmu.”
Al-Husain selalu menyertai ayahnya, lalu menjadi pelindung sang kakak saat ayah mereka tiada. Para sahabat juga sangat mencintai Al-Hasan dan Al-Husain karena mereka mendengar ucapan Rasulullah, “Mereka berdua adalah kesayanganku (ريحانتايَّ).”[2]
Latar Belakang Tragedi Karbala
Sepeninggal Khalifah Utsman, yang terbunuh di tangan para pemberontak, keadaan kaum muslimin perlahan melemah dan semakin kacau. Pengangkatan Ali sebagai khalifah tak terlalu berpengaruh. Perang saudara terus berkecamuk. Para pemberontak dari kalangan Khawarij juga terus bergerak. Korban berjatuhan. Tak main-main, Khalifah Ali terbunuh di tangan salah satu pemberontak Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam.
Babak baru terlihat akan dimulai. Bukan menuju arah yang lebih baik, melainkan menuju pertempuran yang lebih besar dan lebih menyakitkan. Kubu Irak hendak menuntut balas kepada para Khawarij, sekaligus kepada Mu’awiyah yang dinilai ikut andil dalam kecamuk perang saudara ini. Di kubu Mu’awiyah sendiri, masyarakat Syam siap menyambut perintahnya dengan satu suara, jika diperlukan untuk menghadapi serangan dari pihak Irak.
Kengerian ini memantik kekhawatiran mendalam pada pemimpin dua belah kubu, Irak dan Syam. Al-Hasan yang didapuk oleh masyarakat Kufah secara khusus, dan Irak secara umum sebagai pengganti sang ayah berada dalam posisi yang dilematis.
Pihak Mu’awiyah juga merasakan kekhawatiran yang sama. Ia melihat dua pasukan yang besar tengah bersiap untuk saling menghabisi dan meneruskan babak baru perang saudara. Pada saat itulah ia berinisiatif untuk mengajukan penawaran kepada Al-Hasan bin Ali.
Sambutan yang menggembirakan ditunjukkan oleh Al-Hasan dengan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Mu’awiyah dan menyatukan barisan kaum muslimin, persis seperti yang dinubuatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3] Al-Hasan pernah berkata, “Sungguh, putusan seluruh bangsa Arab pernah berada di genggamanku; mereka akan berperang atu berdamai dengan siapa saja yang aku suruh. Aku tinggalkan hal itu demi mencari keridhaan Allah dan menjaga darah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[4] Semenjak tahun itu, 41 H, kaum muslimin bersatu di bawah pemerintahan yang relatif kondusif.
Masalah muncul kembali ketika Mu’awiyah hendak mengangkat putranya, Yazid, menjadi khalifah pengganti beliau. Para penyulut api fitnah bergerilya kembali untuk mengadu sesama kaum muslimin. Saat itu, pengangkatan Yazid dijadikan bahan bakar. Menurut mereka, Yazid tak pantas mengemban amanah menjadi khalifah sementara para sahabat dan cucu Rasulullah masih hidup. Tokoh yang akan dimanipulasi pada waktu itu ada dua, Abdullah bin Zubair dan Al-Husain bin Ali. Hal tersebut diperburuk oleh perangai jelek utusan Damaskus yang diperintah untuk mengambil baiat dari para tokoh sahabat di Madinah.
Pada akhirnya Al-Husain dan Abdullah bin Zubair berangkat menuju Makkah untuk menghindari baiat. Hanya saja, Abdullah bin Zubair memilih bersikap pasif dan tidak mengajak manusia untuk membaiat dirinya. Berbeda dengan Al-Husain, beliau telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh orang-orang Kufah dengan cara mengiriminya surat[5] bersama utusan demi meyakinkan Al-Husain untuk pindah ke Kufah dan menjadi khalifah pengganti Mu’awiyah bin Abi Sufyan karena beliau lebih layak bila dibandingkan Yazid.
Sikap seluruh tetua dan tokoh sahabat sama: melarang Al-Husain pergi ke Kufah serta mengingatkan bagaimana sifat khianat orang-orang Kufah yang telah menyeret ayah dan kakaknya menuju bencana.
Takdir Allah tak bisa dielakkan. Al-Husain, yang menghadapi dilema, akhirnya mengirim Muslim bin Aqil untuk memeriksa keadaan masyarakat Kufah. Pada awalnya, Muslim mendapati penduduk Kufah sangat solid dan relatif tidak memiliki penghambat. Hal itu mungkin juga disebabkan oleh keramahan sahabat Nu’man bin Basyir yang menjadi gubernur di sana.
Namun, tak berselang lama, api pemberontakan mulai terendus. Akhirnya Yazid menginstruksikan agar gubernur Kufah dicopot, lalu dikirimlah Ubaidullah bin Ziyad yang lebih keras, sebagai penggantinya. Melihat kebijakan gubernur baru yang tidak menoleransi adanya rencana pemberontakan, satu per satu pendukung Al-Husain mulai meninggalkan Muslim bin Aqil sendiri dalam pengejaran. Namun, nahas, surat dari Muslim bin Aqil yang menggambarkan dukungan penduduk Kufah sudah dikirim kepada Al-Husain.
Pada akhirnya, Muslim bin Aqil tertanggap dan dibunuh karena dianggap sebagai pemberontak, sedangkan selang sehari dari kematiannya, Al-Husain pergi menuju Kufah dengan diiringi tangisan pilu dari para pembesar sahabat pada bulan Dzulhijjah. Inna lillahi wa inna ilaihi raju’un ….
Al-Husain Bertolak ke Qadisiyah, lalu ke Karbala[6]
Berita tentang Muslim bin Aqil sampai kepada Al-Husain melalui utusan yang dikirim oleh Umar bin Sa‘ad. Ketika mendengar kabar itu, Al-Husain berniat untuk kembali, lalu ia bermusyawarah dengan putra-putra Muslim bin Aqil. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak akan kembali sampai kami menuntut balas atas kematian ayah kami!” Al-Husain pun mengikuti pendapat mereka.
Setelah Ubaidullah bin Ziyad mengetahui keberangkatan Al-Husain, ia memerintahkan Al-Hurr bin Yazid At-Tamimi untuk berangkat bersama seribu orang sebagai pasukan pendahuluan guna menemui Al-Husain di perjalanan. Al-Hurr pun bertemu dengan Al-Husain di dekat Qadisiyah.
Al-Hurr berkata, “Hendak ke manakah engkau, wahai putra putri Rasulullah?”
“Ke Irak,” jawab Al-Husain.
Al-Hurr mengingatkan, “Kembalilah! Aku tidak ingin Allah mengujiku karena dirimu. Kembalilah ke tempat asalmu, atau pergilah ke Syam menemui Yazid. Jangan menuju Kufah.”
Namun, Husain menolak. Ia terus melanjutkan perjalanan ke arah Irak, meski Al-Hurr terus menghalang-halangi dan mencegahnya.
Lalu, Husain berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku! Semoga ibumu kehilanganmu!”
Al-Hurr menjawab, “Demi Allah, seandainya ucapan itu diucapkan oleh orang Arab selain engkau, niscaya aku akan membalasnya terhadap dirinya dan ibunya. Akan tetapi, apa yang dapat aku katakan sedangkan ibumu adalah penghulu wanita seluruh alam?”
***
Singkat cerita, Al-Husain meneruskan perjalanannya. Tatkala Al-Husain berhenti di suatu tempat yang disebut Karbala, ia bertanya pada rombongannya, “Tempat apakah ini?”
Mereka menjawab, “Karbala (كَرْبَلَاءُ).”
Al-Husain berkata, “Kesusahan (كَرْبٌ) dan bencana (بَلَاءٌ).”
Ketika pasukan Umar bin Sa‘d yang berjumlah 4.000 orang tiba, ia berbicara dengan Al-Husain dan memerintahkannya agar ikut bersamanya menuju Irak untuk menemui Ubaidullah bin Ziyad. Namun, Al-Husain menolak.
Ketika Al-Husain melihat bahwa persoalan ini sangat serius, ia berkata kepada Umar bin Sa‘ad, “Aku memberimu tiga pilihan. Pilihlah salah satunya.”
Tanya Umar, “Apa saja itu?”
Al-Husain menjawab, “Biarkan aku kembali, biarkan aku pergi ke salah satu daerah perbatasan kaum Muslimin, atau biarkan aku pergi menemui Yazid di Syam sehingga aku dapat berbaiat kepadanya.”
Umar bin Sa‘ad berkata, “Baik. Engkau kirim utusan kepada Yazid, dan aku akan mengirim utusan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Kita lihat keputusan atas perkara ini.”
Namun, Al-Husain tidak mengirim utusan kepada Yazid, sedangkan Umar bin Sa‘d mengirim utusan kepada Ubaidullah bin Ziyad.
Ketika utusan itu sampai kepada Ubaidullah bin Ziyad dan menyampaikan bahwa Al-Husain menawarkan tiga pilihan tersebut. Pada awalnya, Ubaidullah bin Ziyad menerima pilihan mana saja yang dipilih oleh Al-Husain.
Sayangnya, di sisi Ubaidullah saat itu ada seorang pembisik jahat bernama Syimr bin Dzil Jausyan. Syimr berkata, “Tidak, demi Allah! Sampai ia tunduk kepada keputusanmu.”
Ubaidullah terpengaruh, hingga akhirnya ia berkata, “Benar! Sampai ia tunduk kepada keputusanku.”
Ubaidullah bin Ziyad mengutus Syimr bin Dzil Jausyan dan berkata, “Pergilah hingga Husain tunduk kepada keputusanku. Jika Umar bin Sa‘ad setuju, baik. Jika tidak, maka engkaulah panglima yang menggantikannya.”
Sebelumnya, Ibnu Ziyad telah menyiapkan Umar bin Sa‘ad dengan 4.000 pasukan untuk berangkat ke Ray. Ia berkata kepadanya, “Selesaikan dulu urusan bersama Al-Husain, kemudian pergilah ke Ray,” karena ia memang telah menjanjikan jabatan gubernur Ray kepadanya.
Syimr pun berangkat. Berita itu sampai kepada Al-Husain bahwa ia harus tunduk pada keputusan Ubaidullah bin Ziyad. Namun, Al-Husain menolak. Beliau berkata, “Tidak, demi Allah! Aku tidak akan pernah tunduk pada keputusan Ubaidullah bin Ziyad.”
***
Jumlah orang yang bersama Al-Husain hanya 72 penunggang kuda, sedangkan pasukan Kufah berjumlah 5.000 orang.
Ketika kedua pasukan berhadapan, Al-Husain berkata kepada pasukan Ibnu Ziyad, “Periksalah diri kalian dan hisablah diri kalian. Pantaskah kalian memerangi orang seperti aku? Aku adalah putra dari putri Nabi kalian. Tidak ada lagi di muka bumi ini putra dari putri seorang nabi selain aku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang aku dan saudaraku, ‘Kedua anak ini adalah penghulu para pemuda penghuni surga.’”
Al-Husain terus mendorong mereka agar meninggalkan perintah Ubaidullah bin Ziyad dan bergabung dengannya. Maka, 30 orang dari mereka bergabung dengan Husain. Di antaranya adalah Al-Hurr bin Yazid At-Tamimi yang sebelumnya merupakan komandan pasukan pendahuluan Ibnu Ziyad.
Dikatakan kepada Al-Hurr, “Engkau datang bersama kami sebagai komandan pasukan pendahuluan, lalu sekarang engkau berpihak kepada Husain?”
Ia menjawab, “Celaka kalian! Demi Allah, aku sedang memilih antara surga dan neraka. Demi Allah, aku tidak akan memilih sesuatu atas surga, sekalipun aku harus dicincang dan dibakar.”
Setelah itu, Al-Husain mengimami shalat Zuhur dan Ashar pada hari Kamis. Ia mengimami kedua kelompok: pasukan Ubaidullah bin Ziyad dan orang-orang yang bersamanya.
Sebelumnya, Al-Husain berkata kepada mereka, “Kalian memiliki imam dan kami memiliki imam.”
Mereka menjawab, “Tidak. Kami akan bermakmum di belakangmu.” Maka, mereka pun salat Zuhur dan Ashar di belakang Al-Husain.
Ketika waktu Maghrib hampir tiba, pasukan itu mulai bergerak dengan kuda-kuda mereka menuju Al-Husain. Saat itu Al-Husain sedang bersandar pada pedangnya dan sempat tertidur sejenak.
Ketika melihat mereka datang, ia bertanya, “Apa yang terjadi?”
Mereka menjawab, “Mereka telah maju mendekat.”
Al-Husain berkata, “Pergilah kepada mereka, berbicaralah dengan mereka, dan tanyakan apa yang mereka inginkan.”
Lantas berangkatlah 20 penunggang kuda, di antaranya Al-Abbas bin Ali bin Abi Thalib, saudara Al-Husain.
***
Pada malam Asyura, Al-Husain mengumpulkan para sahabatnya. Ia memuji Allah lalu berkata, “Aku yakin bahwa kaum itu tidak memiliki tujuan lain selain memerangi kalian esok hari. Aku telah mengizinkan kalian semua (untuk pergi), dan kalian bebas dari kewajiban terhadapku. Malam telah menutupi kalian. Barang siapa yang memiliki kemampuan, hendaklah ia membawa seorang dari keluargaku bersamanya dan berpencarlah dalam kegelapan malam. Sesungguhnya mereka hanya menginginkanku. Jika mereka melihatku, mereka akan sibuk denganku dan tidak akan mencari kalian.”
Keluarganya menjawab, “Kami tak rela hidup tanpamu. Demi Allah, kami tidak akan meninggalkanmu.” Para sahabatnya juga mengatakan hal yang sama.
Ketika pagi tiba, Al-Husain berdoa, “Ya Allah, Engkaulah sandaranku dalam setiap kesusahan, harapanku dalam setiap kesempitan. Dalam setiap musibah yang menimpaku, Engkaulah tempat aku bersandar. Engkaulah pemilik setiap nikmat dan sumber setiap kebaikan.”
Kemudian Al-Husain berkata kepada Umar bin Sa'd dan pasukannya, “Janganlah tergesa-gesa! Demi Allah, aku tidak datang kepada kalian hingga surat-surat dari tokoh-tokoh kalian datang kepadaku yang menyatakan bahwa sunnah telah dimatikan, kemunafikan telah muncul, dan hukum-hukum Allah telah ditinggalkan. Mereka berkata, ‘Datanglah, semoga Allah memperbaiki keadaan umat melalui dirimu.’ Maka, aku datang.
Jika sekarang kalian tidak menyukai kedatanganku, aku akan kembali. Renungkanlah sendiri! Apakah pantas bagi kalian untuk membunuhku? Apakah darahku halal bagi kalian?
Bukankah aku putra dari putri Nabi kalian dan putra dari anak paman beliau? Bukankah Hamzah, Al-Abbas, dan Ja‘far adalah paman-pamanku? Tidakkah sampai kepada kalian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangku dan saudaraku, ‘Kedua anak ini adalah pemimpin para pemuda penghuni surga.'"
Syimr berkata, “Ia menyembah Allah di atas satu sisi (tanpa pemahaman yang mantap), jika memang ia tahu apa yang ia katakan.”
Umar bin Sa'ad berkata, “Seandainya urusan ini berada di tanganku, tentu aku akan memenuhi permintaanmu.”
Lalu Al-Husain berkata, “Wahai Umar, akan datang suatu hari yang membuatmu menyesal atas apa yang engkau lihat ini! Ya Allah, penduduk Irak telah menipuku, mengkhianatiku, dan memperlakukan saudaraku seperti ini. Ya Allah, cerai-beraikan urusan mereka dan hitunglah mereka satu per satu.”
Orang pertama yang maju bertempur adalah seorang maula (bekas budak yang menjadi pengikut) milik Ubaidullah bin Ziyad. Lalu, Abdullah bin Tamim Al-Kalbi tampil menghadangnya.
Ketika itu, Al-Husain sedang duduk mengenakan jubah khazz berwarna gelap, sementara anak-anak panah berjatuhan di sekelilingnya. Sebuah anak panah mengenai seorang putranya yang berusia tiga tahun. Kemudian Al-Husain mengenakan perlengkapan perangnya. Para sahabatnya bertempur di sekelilingnya hingga mereka semua gugur.
Di antara orang-orang yang gugur bersama Husain adalah: empat saudaranya (Ja‘far, Atiq, Muhammad, dan Al-Abbas Al-Akbar), putranya yang telah dewasa (Ali bin Al-Hasan bin Ali), dan putranya yang lain (Abdullah).
Adapun putra Al-Husain, yang bernama Ali Zainal Abidin, pada saat itu sedang sakit, sehingga ia tak ikut ke Karbala, dan akhirnya selamat dari peristiwa tersebut. Setelah Al-Husain wafat, Yazid memuliakan Ali Zainal Abidin dan memberikan perhatian kepadanya.
Semoga Allah Ta’ala merahmati Al-Husain dan Ahlul Bait, serta menjaga kaum muslimin dari kobaran fitnah.
Pelajaran dan Keteladanan
Tragedi yang menimpa Al-Husain di Karbala mengajarkan beberapa hal penting. Pertama, fitnah (huru-hara) yang terjadi di tengah kaum muslimin harus dilihat dari berbagai sudut pandang, saking kompleksnya. Oleh karena itulah, Rasulullah berpesan bahwa orang yang paling selamat adalah orang yang tidak gegabah dalam merespons fitnah yang tengah terjadi. Menahan diri tatkala kobaran emosi membara memang tak mudah, tetapi itulah jalan yang paling selamat demi menutup kesempatan bagi para oportunis. Syiah Rafidhah adalah contoh kelompok yang menunggangi tragedi Karbala demi menyebarkan aqidah sesat mereka.
Kedua, betapa berbahayanya ghuluw (berlebihan) dalam mencintai orang-orang yang shalih. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana Nasrani berlebihan dalam memuji Isa putra Maryam.”
Ketiga, salah satu noktah hitam yang tak bisa dihapus dalam sejarah umat Islam ialah perilaku Syiah Rafidhah yang melakukan praktik meratapi kematian Al-Husain, mencela para sahabat, dan kemungkaran lainnya yang merupakan hasil perbuatan mereka sendiri.
Keempat, butanya kaum muslimin terhadap ilmu syar’i membuat Syiah Rafidhah leluasa memamerkan perayaan Asyura ala Syiah, demi mencabik-cabik emosi umat, sehingga terpengaruh untuk bergabung dalam barisan kaum sesat tersebut. Padahal, dalam literatur Syiah sendiri disebutkan bahwa Al-Husain dan para Ahlul Bait melaknat orang-orang Kufah yang telah berkhianat. Dr. Husain Al-Musawi (mantan cendekiawan Syiah Rafidhah yang telah insaf) menyatakan, “Maka, naskah-naskah ini menjelaskan kepada kita tentang siapa sebenarnya para pembunuh Al-Husain. Merekalah para pendukungnya dari penduduk Kufah! Kakek moyang kita! Lalu, mengapakah kita bebankan tanggung jawab terbunuhnya Al-Husain ini kepada Ahlussunnah!”[7]
Referensi:
- Al-‘Awashim minal Qawashim, Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki, Tahqiq: Muhibbuddin Al-Khathib, 1986 M, Al-Maktabah Al-Ilmiyah, Lebanon.
- Tarikhul Khulafa’, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Kutub Al-Islamiyah, tanpa negara.
- Mausu’atul Hasan wal Husain, Sayyid Hasan Al-Husaini, tahun 2012 M, Mu’assasah Ar-Rayyan, Lebanon.
- Siyar A’lamin Nubala’, Abu Abdillah Syamsuddin Adz-Dzahabi, Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth, dkk., Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
- Al-Bidayah wan Nihayah, Abul Fida’ Ismail bin Katsir, 1988 M, Darul Fikr, Lebanon.
- Hiqbah min At-Tarikh, Utsman bin Muhammad Al-Khamis, cet. 3, 1427 H, Maktabah Al-Imam Al-Bukhari, Mesir.
- Al-Fitnah Bainas Shahabah, Muhammad Hassan, cet. 1, 2007 M, Maktabah Fayadh, Mesir.
- Tarikhul Khulafa’ Ar-Rasyidin wad Daulah Al-Umawiyah, Kementerian Pendidikan Arab Saudi.
- Kasyful Asrar wa Tabri’atul A’immatil Ath-har, Dr. Husain Al-Musawi, 2011 M, Darus Salaf Ash-Shalih, Mesir.