Hubungan antara Aqidah dan Bakti kepada Kedua Orang Tua
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
Aqidah adalah fondasi agama seorang yang beriman. Ia menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah seseorang. Tidak ada amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Taโala kecuali apabila didasari dengan aqidah yang lurus, yaitu tauhid. Akan tetapi, aqidah bukan sekadar keyakinan dalam hati. Aqidah yang benar menuntut wujud nyata dalam amal perbuatan, akhlak, dan muamalah sehari-hari.
Salah satu bentuk paling nyata dari buah aqidah adalah berbakti kepada kedua orang tua. Islam meletakkan bakti kepada orang tua di posisi yang sangat agung, bahkan setelah perintah menauhidkan Allah Subhanahu wa Taโala. Perintah ini menunjukkan bahwa hubungan antara aqidah dengan bakti kepada orang tua sangat erat dan tidak bisa dipisahkan.
Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ููุงุนูุจูุฏููุง ุงูููููู ูููุง ุชูุดูุฑููููุง ุจููู ุดูููุฆุงู ููุจูุงูููุงููุฏููููู ุฅูุญูุณุงูุงู
โSembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.โ (QS. An-Nisa: 36)
Ayat seperti ini sangat banyak dalam Al-Quran. Ibnu Katsir mengatakan, โAllah Taโala seringkali mengaitkan antara ketaatan kepada-Nya dengan berbakti kepada kedua orang tua.โ (Tafsir Ibnu Katsir, 3:324)
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan penunaian hak. Ibnu Katsir memaparkan, โIni adalah hak yang paling tinggi dan paling agung, yaitu hak Allah Taโala, bahwa Dia disembah semata tanpa sekutu bagi-Nya. Setelah itu, barulah disebutkan hak makhluk dan yang paling kuat serta paling utama di antara hak makhluk tersebut adalah hak kedua orang tua. Oleh karena itulah, Allah Taโala sering menyandingkan antara hak-Nya dengan hak kedua orang tua.โ (Tafsir Ibnu Katsir, 1:209)
Allah Subhanahu wa Taโala memerintahkan tauhid, kemudian langsung menyandingkannya dengan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Ini memberikan isyarat bahwa seorang hamba yang bertauhid tidak bisa lepas dari berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika anak tidak berbakti kepada orang tuanya, itu tanda tauhidnya bermasalah.
Aqidah yang Benar akan Melahirkan Sikap Ketaatan kepada Orang Tua
Seorang muslim yang bertauhid akan selalu merasa bahwa setiap perintah Allah Subhanahu wa Taโala wajib untuk dilaksanakan. Ketika Allah Subhanahu wa Taโala memerintahkan anak untuk berbakti kepada orang tua, sang anak memandang perintah tadi sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah dan bentuk merealisasikan tauhid dalam kehidupannya.
Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
ุฑูุถูุง ุงูููููู ููู ุฑูุถูุง ุงููููุงููุฏูุ ููุณูุฎูุทู ุงูููููู ููู ุณูุฎูุทู ุงููููุงููุฏู
โKeridaan Allah ada pada keridaan orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua.โ (HR. At-Tirmidzi nomor 1899)
Keridaan Allah Subhanahu wa Taโala terikat dengan keridhaan orang tua. Seorang anak yang memahami aqidah dengan benar pasti akan berhati-hati agar tidak membuat orang tuanya murka karena ia yakin bahwa murka orang tua berarti murka Allah Subhanahu wa Taโala. Inilah buah dari tauhid. Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Taโala harus senantiasa ada, termasuk dalam berinteraksi dengan orang tua. Oleh karena itu, kita memahami bahwa ketaatan kepada orang tua bukan sekadar etika atau hubungan sosial, tetapi juga berkaitan dengan aqidah.
Tauhid Mengharuskan Hadirnya Kesabaran dalam Berbakti
Bakti kepada orang tua tidak selalu mudah. Ada kalanya orang tua keras, cerewet, atau memiliki kebiasaan yang sulit diterima. Namun, aqidah yang lurus menuntut seorang muslim bersabar demi mengharap rida Allah Subhanahu wa Taโala. Sungguh, Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ููุงุฎูููุถู ููููู ุง ุฌููุงุญู ุงูุฐููููู ู ููู ุงูุฑููุญูู ูุฉู ูููููู ุฑูุจูู ุงุฑูุญูู ูููู ุง ููู ุง ุฑูุจูููุงููู ุตูุบููุฑุงู
โDan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, โWahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.โ (QS. Al-Isra: 24).
Seorang anak yang paham tauhid pasti meyakini dalam hatinya bahwa orang tua adalah pintu surga baginya. Ia akan bersabar karena ia menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Taโala melalui baktinya kepada orang tua.
Dalam perintah atau larangan, Islam tidak hanya memberi teori, tetapi juga teladan nyata dari generasi terbaik yaitu para sahabat Nabi. Mereka memahami bahwa aqidah bukan sekadar keyakinan di hati, melainkan harus melahirkan amal nyata. Salah satunya wujudnya adalah birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua.
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu โalaihi wa sallam,
ุฃูููู โุงููุนูู ููู โุฃูุญูุจูู โุฅูููู โุงููููุ ููุงูู: ุงูุตููููุงุฉู ุนูููู ููููุชูููุงุ ููุงูู: ุซูู ูู ุฃููููุ ููุงูู: ุซูู ูู ุจูุฑูู ุงููููุงููุฏูููููุ ููุงูู: ุซูู ูู ุฃููููุ ููุงูู: ุงููุฌูููุงุฏู ููู ุณูุจูููู ุงููููุ ููุงูู: ุญูุฏููุซูููู ุจูููููู ูููููู ุงุณูุชูุฒูุฏูุชููู ููุฒูุงุฏูููู.
โAmalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?โ Beliau menjawab, โShalat tepat pada waktunya.โ Aku bertanya lagi, โLalu apa setelah itu?โ Beliau menjawab, โBerbakti kepada kedua orang tua.โ Aku bertanya lagi, โKemudian apa setelah itu?โ Beliau menjawab, โBerjihad di jalan Allah.โโ Sang sahabat menuturkan, โBeliau menyebutkan tiga hal itu kepadaku, dan seandainya aku meminta lebih banyak, niscaya beliau akan menambahkannya.โ (HR. Al-Bukhari nomor 527)
Lihatlah, jihad yang merupakan amal besar saja didahului dengan perintah berbakti kepada orang tua. Hal ini menunjukkan berbakti kepada kedua orang tua memiliki hak istimewa di sisi Allah Subhanahu wa Taโala. Seorang muslim yang bersemangat dalam berjihad biasanya adalah orang-orang yang bersih aqidahnya dan kuat imannya. Meskipun demikian, berbakti kepada orang tua lebih didahulukan daripada jihad. Itu artinya, berbakti kepada orang tua adalah amalan yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Taโala, dan orang yang menunaikannya tauhidnya sama-sama kuat atau bisa lebih dari orang yang berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Taโala.
Jika Orang Tua Mengajak kepada Kesyirikan
Islam memerintahkan seorang anak untuk patuh dan taat kepada kedua orang tua, tetapi Islam tidak membiarkan bakti kepada orang tua melebihi ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taโala. Jika orang tua memerintahkan kesyirikan, mereka tidak boleh ditaati. Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ููุฅููู ุฌุงููุฏุงูู ุนููู ุฃููู ุชูุดูุฑููู ุจูู ู ูุง ููููุณู ูููู ุจููู ุนูููู ู ูููุง ุชูุทูุนูููู ุง ููุตุงุญูุจูููู ุง ููู ุงูุฏูููููุง ู ูุนูุฑูููุงู
โDan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Namun pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.โ (QS. Luqman: 15)
Di sini terlihat jelas keseimbangan aqidah: (i) tauhid tetap menjadi yang utama, (ii) tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Taโala, dan (iii) seorang anak tetap diperintahkan untuk bergaul dengan keduanya secara baik dalam perkara dunia, bukan dalam hal yang mengandung dosa.
Buah Aqidah: Doa untuk Orang Tua
Aqidah yang lurus melahirkan kesadaran bahwa amal seorang anak bisa menjadi bekal bagi kedua orang tuanya. Salah satunya adalah doa. Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
ุฅูุฐูุง โู ูุงุชู โุงููุฅูููุณูุงูู ุงููููุทูุนู ุนููููู ุนูู ููููู ุฅููููุง ู ููู ุซูููุงุซูุฉู: ุฅููููุง ู ููู ุตูุฏูููุฉู ุฌูุงุฑูููุฉูุ ุฃููู ุนูููู ู ููููุชูููุนู ุจูููุ ุฃููู ููููุฏู ุตูุงููุญู ููุฏูุนูู ูููู
โApabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.โ (HR. Muslim nomor 1631)
Inilah wujud nyata hubungan aqidah dan bakti kepada orang tua. Anak yang shalih lahir dari aqidah yang benar tahu bahwa mendoakan orang tua adalah amal yang akan terus bermanfaat bagi keduanya setelah wafat dan ia menjadikan ibadah ini yaitu doa sebagai bentuk baktinya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
Bagi yang belum berbakti kepada kedua orang tuanya dengan baik, mari kita renungkan sebuah pertanyaan, โBagaimana aqidah kita jika kita masih lalai terhadap orang tua? Bagaimana tauhid kita bila kita mengaku mencintai Allah Subhanahu wa Taโala, tetapi kita tidak peduli pada ridha ayah dan ibu kita?โ
Setiap doa yang kita panjatkan dan setiap ibadah yang kita lakukan akan terasa hampa jika kita masih mendurhakai orang tua sebab Allah Subhanahu wa Taโala telah meletakkan keridaan-Nya pada keridaan orang tua. Ingatlah, orang tua adalah jalan kita menuju surga. Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
ุฑูุบูู ู ุฃูููููููุ ุซูู ูู ุฑูุบูู ู ุฃูููููููุ ุซูู ูู ุฑูุบูู ู ุฃููููููู. ููููู: ู ููู ููุง ุฑูุณูููู ุงููููุ ููุงูู: ู ููู โุฃูุฏูุฑููู โููุงููุฏููููู โุนูููุฏู โุงููููุจูุฑู ุฃูุญูุฏูููู ูุง ุฃููู ููููููููู ูุงุ ุซูู ูู ููู ู ููุฏูุฎููู ุงููุฌููููุฉู
โCelaka! Celaka! Celaka!โ Lalu ada yang bertanya, โSiapa dia, wahai Rasulullah?โ Beliau menjawab, โOrang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya di masa tua, tetapi ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada keduanya).โ (HR. Muslim nomor 2551)
Aqidah harus melahirkan amal nyata dan salah satu buah terbesarnya adalah bakti kepada orang tua. Allah Subhanahu wa Taโala tidak menyandingkan perintah tauhid dengan amalan lain kecuali birrul walidain karena keduanya adalah jalan menuju keridhaan-Nya.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan bakti kepada orang tua sebagai wujud aqidah kita. Berdoalah untuk mereka, muliakanlah, dan layanilah mereka. Jangan biarkan kesempatan berbakti itu hilang sebab orang yang kehilangan kesempatan itu sungguh telah kehilangan pintu surga.
Referensi
- Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Bukhari, Imam Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Sunan At-Tirmidzi, Imam Tirmizi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.