🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

HSI Umrah: Harmoni Ilmu dan Jejak Spiritual di Baitullah

Reporter: Muhammad Wildan Zidan

Redaktur: Rizky Aditya Saputra


وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” [QS Al-Baqarah: 196]


Musim haji selalu menghadirkan getaran yang khas di hati kaum Muslimin. Talbiyah yang menggema dari Tanah Suci seakan memanggil kerinduan terdalam setiap jiwa untuk datang memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, tidak semua langkah menuju Baitullah dimulai dari musim haji. Ada perjalanan lain yang juga menyimpan keagungan, menjadi pintu pembuka kerinduan, sekaligus madrasah ruhani yang menyiapkan hati untuk semakin dekat kepada Allah. Umrah, ibadah yang kerap disebut sebagai “haji kecil”.

Di edisi yang mengangkat semangat haji ini, Majalah HSI menghadirkan sisi lain dari perjalanan menuju Baitullah melalui kiprah Divisi HSI Umrah. Sebab, meski berbeda dalam hukum, waktu, dan beberapa rangkaian ibadah, umrah tetap membawa ruh yang sama yaitu perjalanan penghambaan, perjalanan ilmu, dan perjalanan pulang menuju hati yang lebih bersih.

Umrah merupakan sebuah ibadah nan agung. Ibadah yang memberikan ketenangan, kedamaian, dan spiritualitas yang mendalam bagi jiwa. Di dalamnya terdapat pembaruan iman, penyegaran hati, dan cahaya bagi mata karena hanya sekadar memandang Ka'bah yang mulia dan melakukan tawaf di sekelilingnya saja terasa mampu membuat jiwa melayang di langit kebahagiaan dan bersuka cita atas pengampunan dari Allah Ta’ala.

Ia adalah penebus dosa, mengundang keridhaan Allah, menambah amal baik, menghapus dosa-dosa dan merupakan sumber kegembiraan yang membuat hati terikat pada tawaf dan sa’i antara Safa dan Marwah. Umrah mengajarkan manusia banyak pelajaran dan kisah, serta membawanya menyelami dunia spiritual, sehingga dia merasakan kedekatannya dengan Rabbnya, terutama saat merenungkan setiap langkah yang dilakukannya selama umrah.

Tawaf mengajarkan banyak hal kepada orang beriman dan membuatnya melantunkan doa-doa yang mustajab, karena dia berada di tempat paling suci di bumi dan di hadapan Allah. Demikian pula saat sa'i antara Safa dan Marwah, dia merenungkan kisah air Zamzam ketika rahmat Allah memancar untuk memberi minum kepada Hajar, istri Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya Ismail ‘alaihissalam.

Umrah: Lebih dari Sekadar Ritual

Ibadah umrah, secara lahiriah, adalah serangkaian prosesi yang telah ditetapkan oleh syariat: mengenakan ihram, mengelilingi Ka’bah (tawaf), berlari kecil antara Safa dan Marwah (sa’i), dan diakhiri dengan tahallul. Namun, bagi mereka yang telah merasakan sentuhan spiritualnya, umrah jauh melampaui sekadar ritual fisik. Setiap gerakan, setiap lantunan doa, dan setiap pandangan ke arah Ka’bah adalah kesempatan untuk merenung, bertaubat, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kepala Divisi HSI Umrah, Akhuna Faizal Sukma, berkesempatan untuk berbagi kisah kepada Majalah HSI. Beliau, sebagai sosok yang telah mengawal perjalanan jemaah sejak angkatan kedua pada Desember 2019 hingga kini mencapai belasan angkatan, menyaksikan sendiri bagaimana keberagaman latar belakang jamaah melebur dalam satu tujuan. “Kesadaran/kehadiran hati saat melakukan ritual ibadah tersebut yang kadang terlewatkan oleh jemaah. Bahwa itu semua tidak hanya rukun umrah yang harus/wajib dipenuhi agar sah dalam menunaikan ibadah umrah.” ujar beliau kepada Majalah HSI.

“Semua jemaah sama di hadapan Allah, tidak ada perbedaan kaya/miskin, pejabat/rakyat biasa, tinggal di desa/kota, suku/bangsa, dll.” ungkap PIC Divisi HSI Umrah tersebut. “Semua taat & patuh hanya berusaha maksimal untuk mencari pahala/keridhaan Allah sesuai tuntunan-Nya, agar bisa kembali suci nan bersih dari segala penyakit hati & keburukan perilaku kita setelah selesainya ibadah umrah.”

Wajah yang Berubah dan Hati yang Berbalik

Setiap jemaah yang datang ke Tanah Suci memiliki latar belakang, harapan, dan beban hidup yang berbeda. Namun, ada satu benang merah yang menyatukan mereka: kerinduan akan perubahan. Inilah Akhuna Abu Uwais (ARN232-04109), seorang santri HSI asal Padalarang, salah satu jemaah yang merasakan langsung bagaimana umrah bisa menjadi titik balik sebuah cara pandang. “Ana rasa setiap perjalanan ke Baitullah adalah perjalanan yang berkesan, dengan pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik di tiap kesempatannya.” Beliau sendiri telah menunaikan umrah bersama HSI dua kali: pertama bersama seorang sahabat, kemudian bersama keluarganya. Keduanya, alhamdulillah, dibimbing oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.

Dalam wawancaranya bersama Majalah HSI, beliau mengisahkan perjalan umrah bersama Ustadzuna Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah. “Satu hal yang terasa jelas adalah bagaimana kita diajak menerapkan kerangka ibadah dalam setiap bagian perjalanan.” ungkap beliau. “Ustadz Abdullah Roy hafizhahullah memperjelas bahwa perjalanan umrah, khususnya bagi kaum muslimin Indonesia, dapat dipetakan menjadi tiga tema besar: Safar, Umrah ke Baitullah, dan Ziarah Madinah.”

Kisah yang sama tak hanya dialami oleh Abu Uwais. Akhuna Ardhi Fajruka, santri yang telah belajar di HSI sejak tahun 2016, turut merasakan hal yang serupa. Pak Ardhi sendiri telah melaksanakan umrah bersama HSI sebanyak dua kali. Beliau bercerita bahwa dirinya mendapatkan sebuah momen berharga di mana beliau akhirnya bisa mengetahui tata cara umrah yang tepat. Dan ternyata, umrah itu adalah ibadah yang mudah. Sangat disayangkan, banyak dari masyarakat yang menganggap ibadah umrah itu rumit karena sebagian tambahan yang sebenarnya tidak ada tuntunan dalam Islam.

Perjalanan Ilmu, Bukan Agenda Wisata

Salah satu keistimewaan yang membedakan HSI Umrah dibandingkan dengan travel yang lain adalah orientasinya yang kuat pada pembekalan ilmu. Hal ini disampaikan langsung oleh Pak Faizal selaku Ketua Divisi HSI Umrah. Beliau menggarisbawahi bahwa mengutamakan semangat menuntut ilmu bagi seluruh jemaah Umrah Bareng HSI adalah pondasi utama yang dijaga sejak awal.

Demikian pula sisi spiritual umrah itu ditanamkan kepada para jemaah agar benar-benar merasakan hakikat sejati dari umrah melalui:

  1. Manasik Umrah yang ada 3 macam (audio online via website edu.hsi.id, manasik online via zoom room, dan manasik offline H-1 keberangkatan di hotel transit)
  2. Kajian intesif/membahas kitab ringkas bersama Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. selama di Makkah dan Madinah.
  3. Memotivasi bagi para jemaah untuk selalu mengikuti kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi bersama Ustadz Dr. Ariful Bahri, M.A. selama di Madinah.
  4. Layanan konsultasi intensif pribadi/keluarga/pekerjaan langsung dengan Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. selama di Makkah & Madinah.

Maka tak heran jika Abu Uwais mengungkapkan bahwa dirinya merasakan betul dampak dari pendekatan ini. “Salah satu hal yang paling terasa dari perjalanan bersama HSI Umrah adalah bagaimana ibadah menjadi lebih terarah dan tenang dijalani.” ujar beliau. “Banyak hal teknis sudah dipersiapkan dengan baik sehingga perhatian bisa lebih fokus kepada ibadah,” sambung beliau.

Tak hanya Abu Uwais, Pak Ardhi menuturkan hal serupa. Beliau menyampaikan momen perjalanan umrah paling berkesan bagi beliau adalah bisa bertatap muka langsung, berkonsultasi, dan sharing bersama Ustadz Abdullah Roy. Pendekatan yang sangat personal dan ilmiah ini menciptakan ekosistem spiritual yang kuat, di mana jemaah merasa dibimbing secara utuh, baik secara lahir maupun batin.

Menjaga Api Tetap Menyala

Pertanyaan sesungguhnya selalu datang setelah kepulangan dari Tanah Suci. Ketika rutinitas dan pekerjaan kembali menyambut, akankah semangat ibadah yang dulu pernah berkobar ketika berada di depan Ka’bah masih terus membara?

Abu Uwais menjawab pertanyaan tersebut dengan makna yang dalam. “Kalau ditanya apakah semangatnya masih sama persis seperti ketika di Tanah Suci, tentu tidak selalu.” ungkap beliau. “Setelah kembali ke rutinitas, pekerjaan, dan aktivitas harian, pasti ada naik turunnya.” lanjut beliau. “Tetapi mungkin yang paling terasa bertahan adalah cara memandang ibadah itu sendiri, bahwa banyak hal kecil dalam keseharian sebenarnya bisa diniatkan dan dijalani sebagai bagian dari ibadah.”

Pak Ardhi pun mengatakan hal yang sama, bahwa yang terpenting itu adalah niat. Niat untuk berangkat umrah – ataupun dalam ibadah lainnya – harus diperbaiki dan terus diperbaharui. Aktualisasi niat harus terus dilakukan.

Selain dari sisi pribadi para jemaah, pihak HSI Umrah pun juga berupaya menjaga semangat keimanan jemaah agar tidak padam setelah kepulangan. Pak Faizal menyampaikan bahwa grup WhatsApp alumni tidak dibubarkan, dengan tujuan agar seluruh jemaah bisa tetap saling berkomunikasi, mendapatkan informasi update kajian ustadz pembimbing/kajian HSI, pendaftaran Santri HSI via jalur khusus bagi jemaah yang belum menjadi Santri HSI. “Sehingga semangat untuk menuntut ilmu juga tetap dan terus disampaikan walaupun setelah kepulangan dari tanah suci.” ujar beliau.

Akhirnya, di tengah musim haji yang mengingatkan umat Islam pada panggilan agung menuju Baitullah, umrah hadir sebagai jalan yang juga menuntun hati untuk mendekat kepada Allah. Ia bukan sekadar perjalanan singkat atau agenda wisata religi, melainkan ruang untuk membersihkan jiwa, memperbaiki niat, dan menanam benih-benih ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Layaknya tanah subur yang ditanami pohon-pohon, ia menancapkan akar-akar baiknya ke dalam tanah, tumbuh menjulang, dan berbuah. Dan inilah hal terbesar yang dapat diperoleh setiap Muslim yang berangkat ke tanah suci untuk mengenakan pakaian ihram dan melaksanakan ibadah ini, seolah-olah ia adalah wewangian yang menyebar ke segala penjuru.

Pergi untuk umrah membutuhkan persiapan iman yang besar, dan seorang Muslim harus bertekad untuk mengumpulkan amal baik serta beribadah sebanyak mungkin agar derajatnya di surga semakin tinggi, karena umrah adalah tangga menuju surga, benih kebaikan yang ditanam oleh seorang Muslim dalam perjalanannya, dan benteng yang kokoh dari segala bahaya. Ia merupakan sumber keamanan dan ketenangan yang membuat hamba melampaui segala kekhawatiran yang dirasakannya.

“Menjadi tamu Allah tidak hanya khusus bagi orang kaya semata, tidak hanya menyiapkan bekal dari sisi harta/materi semata.” kata Pak Faizal pada sesi akhir wawancara bersama majalah HSI. “Justru banyak jemaah yang dipanggil menjadi tamu Allah dari kalangan yang biasa-biasa saja. Tapi semangat mengaitkan hati ini ke Baitullah yang harus dipupuk dari dini. Minimal doa yang sungguh-sungguh dan istiqamah terus meminta dipanggil juga ke Baitullah suatu saat nanti, dari arah/jalan mana saja yang bisa jadi tidak kita kira sebelumnya. Karena banyak dari kita yang secara harta/materi/finansial mampu untuk berangkat, tapi hatinya belum disentuh, belum terikat dengan Baitullah, maka pasti ia akan lama untuk dipanggil menjadi tamu-Nya juga.” Wallahu Waliyyut Taufiq.

0