Keliling HSI

HSI Tuna Netra Mencari Ketenangan Hati

Reporter: Anastasia Gustiarini

Redaktur: Hilyatul Fitriyah


يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur [QS Al-Baqarah: 185]

Memiliki kendala penglihatan, bukan penghambat bagi Akhuna Agusman santri ikhwan HSI Angkatan 222 dan Ukhty Marisya Amelia santri akhwat HSI Angkatan 221, untuk belajar agama di HSI. Tekad kuat untuk meraih ridha Allah lewat kemudahan belajar yang ditawarkan oleh HSI dan saling support karena berada di satu tujuan untuk mempelajari akidah yang lurus, menjadi penyemangat bagi keduanya.

Bahkan pasangan suami istri asal Riau ini telah sukses mengumpulkan sesama teman penyandang tuna netra yang belajar HSI melalui HSI Tuna Netra. MasyaAllah.

Aplikasi Pembaca Layar

Berbagai aplikasi yang hadir sebagai imbas kemajuan teknologi membantu memudahkan Akhuna Agusman dan Istri dalam mengikuti pembelajaran, seperti membaca soal serta beberapa infomasi di grup.

Adapun, untuk membaca tampilan di layar handphone, ia dan istri menggunakan aplikasi screen reader (pembaca layar), sehingga tulisan apapun yang masuk di hp akan secara otomatis dibacakan oleh aplikasi.

Namun, tetap saja aplikasi ini sendiri memiliki kelemahan dalam mendeteksi tulisan Arab. Alhamdulilah, walau demikian sedikit demi sedikit hal tersebut bisa terbantu dengan cara membaca terjemahannya.

“Pada awalnya, ketika bertemu materi yang bertulisan Arab ana harus menunggu anak yang pulang sekolah dulu untuk dibacakan oleh anak,” kenangnya

Allah Mudahkan Ilmu Datang

Pria kelahiran Minas, Siak, Riau 4 Agustus 1977 lalu ini menceritakan rintangan yang harus ia hadapi kala dahulu menuntut ilmu syar'i. Jauhnya jarak tempuh dari rumah menuju majelis ilmu membuatnya harus mempersiapkan banyak waktu dan tenaga.

Namun, dengan izin Allah, ia bertemu dengan salah seorang santri HSI. Dari sanalah, ia mengetahui bahwa metode pembelajaran di HSI menggunakan voice note. “Setelah mencoba mendengar materi dari Ustadz Abdullah Roy, ternyata bisa dipahami, dan ketika menjawab pertanyaan ternyata berupa pilihan ganda. Alhamdulilah ana bisa mengerjakannya,” tuturnya. Bahkan ayah satu putri ini mengatakan ia semakin bersemangat menimba ilmu bersama pasangan.

Setelah belajar sunnah di HSI, Akhuna Agusman mengungkapkan hatinya menjadi tenang dan nyaman. Padahal sebelumnya hatinya merasa bak terombang-ambing karena selalu dihantui kekhawatiran akan masa depan.

“Semenjak belajar HSI, kami diberi keberkahan, dan mengenai masa depan, kami tidak takut dengan rezeki, Alhamdulilah,” tutur pria yang memiliki keahlian terapi totok punggung ini.

Riwayat Glukoma

Kehilangan penglihatan bagi Akhuna Agusman bukanlah sebuah kekurangan melainkan merupakan salah satu kenikmatan dari Allah.

Pria yang berdomisili di Rumbai Pesisir Pekanbaru ini bercerita sejak kecil dirinya memiliki riwayat penyakit glukoma, dan tepat di usia 25 tahun yaitu pada tahun 2001 ia harus mengalami kebutaan.

Hal serupa juga dialami oleh sang istri Ukhtuna Marisya Amelia. Ia mengidap penyakit glukoma sejak bayi dan pada usia 27 tahun mengalami gelap total.

Sang Istri Bergabung Dahulu

Ihwal bergabung belajar di HSI, Ukhtuna Marisya menceritakan bahwa ia lebih dahulu terjun di HSI ketimbang sang suami. Kala itu semua santri di angkatannya berkenalan dan menyebutkan usia.

“Ketika libur panjang pertama tepatnya saat selesai mengerjakan silsilah pertama pada saat itu semua santri berkenalan dan menyebutkan usia ternyata kita mayoritas berada di satu grup dan di kota yang sama. Ana dan santri yang lain merasa malu karena di dalam grup tersebut ada yang berusia 50 tahun dan masih ikut belajar. Di situlah ana mengajak suami dan menunjukkan chat wa di grup diskusi dan Alhamdulillah saat itu juga suami menyatakan akan mengikuti pembelajaran di HSI,” kisahnya.

Awal bergabung, perempuan yang berprofesi sebagai ahli terapi totok punggung ini juga mengaku sering mengalami kendala saat menggunakan Chrome karena tombol terkirim tidak terbaca sehingga sering kali ia kehabisan waktu.

Sedangkan jika menggunakan aplikasi HSI, lebih banyak item yang tidak terbaca oleh pembaca layar. Namun, Alhamdulillah lambat laun kendala tersebut semakin berkurang. “Jika ada pertanyaan atau pilihan jawaban yang berbahasa Arab saja yang belum bisa ana dapatkan pembaca layarnya,” ujarnya.

Adapun, stiker screenshot atau tulisan bahasa Arab yang tidak bisa terbaca oleh aplikasi, maka ia meminta bantuan anak untuk membacakan

Saling Support

Ukhtuna Marisya menambahkan bahwa belajar di HSI bersama sang suami memberi kesan tersendiri baginya yaitu berlomba dan saling menyemangati dalam hal nilai, serta saling mengingatkan dalam mengulang pelajaran. Tak ketinggalan, saling mensupport dan mengingatkan untuk senantiasa mengerjakan soal.

“Berkesan dalam hidup saya ketika kami satu tujuan dan kami saling mensupport itu adalah kebahagiaan terbesar dan tak terhingga bagi saya,” ungkapnya.

Kenyataan bahwa dirinya sejak kecil hanya menempuh pendidikan umum dan sama sekali tidak belajar agama secara intensif, membuatnya termotivasi untuk menimba ilmu syari. Ia ingin lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta.

“Saya ingin dapat melihat kembali ketika di akhirat nanti dan sangat rindu melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala,” tulisnya.

HSI Tuna Netra

Akhuna Agusman menyebutkan HSI Tuna Netra saat ini berjumlah 10 orang yang didominasi asal Pulau Jawa. Wadah ini sangat bermanfaat untuk saling berbagi informasi terkait HSI serta saling memotivasi antar anggota.

Perihal pendirian HSI Tuna Netra, berawal kala ia dan sang istri merasa kesulitan bertanya di grup diskusi, “Karena jawabannya itu, tidak sesuai dengan pembacaan screen reader kami,” jelasnya.

Tak dinyana, Akhuna Agusman juga memiliki teman tuna netra yang telah terlebih dahulu bergabung di HSI. Namun, Qaddarullah sang teman harus mengalami kegagalan karena pembacaan layar oleh screen reader tidak berfungsi dengan baik sehingga ia tidak dapat melanjutkan ke silsilah berikutnya.

Oleh karena itu, ia berniat membentuk HSI Tuna Netra dengan sebab beberapa kendala yang pernah dihadapi.

Dengan izin Allah, salah satu pasien pijat yaitu Akhuna Yudhi Aksara merupakan admin HSI, dan kemudian membantu ia dan sang istri membentuk HSI Tuna Netra tepatnya pada 7 November 2023.

“Untuk program (kerja) kami belum ada, karena kami berjauhan. Sementara ini kami hanya mengaktifkan fungsi grup sebagai wadah untuk bertanya dan berkeluh kesah dibantu oleh mas Yudhi Aksara yang juga berada di grup. Alhamdulilah berkat semangat beliau, kami bersemangat untuk berkomunikasi di grup HSI Tuna Netra,” tuturnya.

Akhuna Agusman juga berharap ada perhatian dan bantuan pendampingan dari HSI untuk kelancaran kebaradaan komunitasnya.

Maasyaa Allah, semangat belajar yang patut menjadi contoh. Sebagian besar kita yang Allah karuniai kesempurnaan fungsi penglihatan, mudah-mudahan tidak kalah semangat dari teman-teman santri berkebutuhan khusus ini. Semangat selalu menuntut ilmu, teman-teman. Semoga Allah ridho dengan segala kerja keras kita...aamiin.

0