HSI BERBAGI Dukung Pendidikan dan Mencetak Da’i Masa Depan

Penulis : Leny Hasanah

Editor : Subhan Hardi


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال تعالى: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Jumlah anak-anak yang putus sekolah pada tahun ajaran 2022/2023 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurut data terbaru, total sebanyak 76.834 anak di berbagai jenjang pendidikan terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Perinciannya: 40.623 anak di tingkat SD, 13.716 anak di tingkat SMP, 10.091 anak di tingkat SMA, dan 12.404 anak di tingkat SMK.

Qadarullah wa maa sya’a fa’ala. Sebagian besar dari mereka harus menghadapi realitas sulit ini akibat masalah ekonomi, di mana banyak di antaranya harus bekerja membantu keluarga.[1]

Namun, di tengah tantangan ini, ada secercah harapan melalui program-program yang dirancang untuk mendukung pendidikan mereka. Salah satunya adalah Program Beasiswa Tholabul Ilmi (BTI) HSI BERBAGI—sebuah jembatan yang menghubungkan harapan dan kesempatan, membantu anak-anak yang membutuhkan untuk tetap mengenyam pendidikan dan dinilai berprestasi, biidznillah.

Jembatan Penghubung Masa Depan

Program BTI tidak sekadar memberikan bantuan pendidikan biasa. Program ini dirancang dengan tujuan yang lebih mulia: memastikan kelangsungan belajar bagi mereka yang kurang mampu serta berpotensi menjadi kader da’i, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, baik lembaga formal maupun nonformal.

Proses pengajuan yang dilakukan bukan oleh individu, melainkan melalui lembaga pendidikan atau yayasan yang mengajukan nama-nama calon penerima kepada Ketua Yayasan HSI Berbagi. Siswa yang memenuhi syarat kemudian dipilih untuk menerima beasiswa tersebut.

“Pendaftaran BTI tidak dilakukan secara personal, tetapi melalui pengajuan dari lembaga tempat penerima beasiswa tersebut belajar. Nama-nama calon penerima diajukan melalui surat rekomendasi kepada Ketua Yayasan HSI BERBAGI,” jelas Ketua Program BTI HSI BERBAGI, Agus Fadilah.

Pada tahun 2024 hingga bulan Oktober, 557 siswa dari 10 lembaga pendidikan di seluruh Indonesia telah menerima beasiswa ini, meliputi STDI Imam Syafi’i Jember Jawa TImur, IL STAIR Pandeglang Banten, Yayasan Mulazamah Ustadz Sufyan Baswedan, SDIST Ibnu Qoyyim, PP Tahfizh Dhiyaul Qur'an, Balai Qur'an Al Islam Aceh, SMA TI HSI IDN Ikhwan Purworejo, Al Fatchy IBS Cianjur, Edu Madani Tangerang Selatan, serta SMA TI HSI IDN Akhwat Bekasi. Adapun realisasi penyaluran Program BTI periode Januari-Juni 2024 sebesar Rp2.648.521.000,00.

Beasiswa ini tidak hanya mencakup biaya pendidikan penuh, tetapi juga menyediakan uang saku bagi siswa tingkat perguruan tinggi, serta reward berdasarkan prestasi akademik. Ini menunjukkan komitmen HSI Berbagi tidak hanya untuk menyokong pendidikan dasar, tetapi juga mendukung siswa hingga ke jenjang yang lebih tinggi dengan tujuan jangka panjang, yakni mencetak kader da’i.

Seleksi dan Proses Beasiswa

Menurut Agus, salah satu syarat penting untuk memperoleh beasiswa BTI adalah bahwa lembaga pendidikan harus bermanhaj salaf. Beasiswa ini juga difokuskan untuk siswa dengan latar belakang tidak mampu serta mereka dipersiapkan sebagai calon da’i.

Proses seleksi penerima beasiswa dilakukan berdasarkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari pemerintah setempat. Namun, beberapa lembaga mitra juga menambahkan pertimbangan seleksi dengan nilai dan akhlak calon penerima.

Santri HSI ber-NIP ARN171-07001 ini mengungkapkan, saat ini HSI BERBAGI belum mewajibkan syarat akademik untuk mempertahankan beasiswa yang diperoleh. Namun, insyaallah pengurus HSI BERBAGI sedang mempertimbangkan syarat-syarat khusus yang nanti dituliskan dalam surat pernyataan penerima beasiswa ke depannya.

Proses pengajuan dan penyaluran beasiswa bisa berlangsung cepat—antara satu hingga tiga pekan, tergantung dari kelengkapan administrasi yang diajukan oleh lembaga mitra. Setiap lembaga penerima beasiswa diwajibkan memberikan laporan pertanggungjawaban setelah penyaluran dalam bentuk dokumentasi serah terima bantuan.

Masa Depan Dakwah

Evaluasi berkala terhadap kinerja akademik siswa penerima beasiswa, saat ini belum diterapkan secara sistematis oleh tim Program BTI HSI Berbagi karena keterbatasan sumber daya. Namun, HSI Berbagi tetap memilih lembaga mitra yang memiliki hubungan erat dan menjalin komunikasi aktif dengan yayasan.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa beasiswa yang disalurkan benar-benar bermanfaat bagi siswa yang membutuhkan.

Program BTI tidak hanya mendukung pendidikan formal, tetapi juga menjadi bagian dari visi jangka panjang HSI Berbagi untuk mencetak generasi da’i yang berpegang pada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, sesuai pemahaman Salaful Ummah. Diharapkan para penerima beasiswa ini akan menjadi garda terdepan dalam menyebarkan dakwah Islam yang murni.

“Program BTI diharapkan bisa menjadi program pengkaderan da’i yang dapat mendakwahkan Islam sesuai Al-Quran dan As-Sunnah serta menjadi bagian dari program dakwah HSI AbdullahRoy dan HSI Berbagi,” tutup Agus.

Yayasan Anshorussunnah Mamuju (ASM), Sulawesi Barat menjadi salah satu lembaga yang menerima beasiswa BTI dari HSI BERBAGI sejak Juli 2023.

Dari jumlah 30 santri lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di bawah naungan Yayasan ASM, tercatat 23 santri telah menerima bantuan beasiswa dari HSI Berbagi, sedangkan sisanya tidak mendapat beasiswa karena mereka tidak mondok di LKSA.

Adapun penyaluran beasiswa sebesar Rp500 ribu per bulan untuk setiap santri, dan biasanya dikirimkan HSI Berbagi setiap satu semester.

“Alhamdulillah, kami dari Yayasan ASM tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mendoakan keberkahan kepada seluruh tim HSI BERBAGI dan para donator. Karena telah memberikan beasiswa kepada anak-anak kami, sehingga mereka dapat melanjutkan tholibul ilmi di ma’had ASM,” ungkap Ustadz Arman Supandi, Ketua Yayasan ASM.

Ustadz Arman menuturkan, anak-anak yang belajar di ma’had ASM sebagian besar berasal dari keluarga dhuafa, yatim, piatu, broken home, bahkan mualaf yang terpaksa berpisah dengan keluarganya.

Biidznillah, dengan adanya bantuan beasiswa BTI, mereka semua dapat melanjutkan pendidikan di pondok ini. Sekali lagi, jazaakumullahu khairan katsiran,” tegasnya memastikan.*

2