Mutiara Al-Quran

Hikmah dan Pelajaran dari Ibadah Qurban

Penulis: Abi Usamah Al-Kadiri

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc, MA. 


Lafal Ayat

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

Tafsir ringkas[1]

Pada ayat sebelumnya, Allah Ta’ala berfirman tentang nikmat-Nya bagi manusia, dengan cara menundukkan hewan qurban yang besar semisal unta ataupun sapi sehingga dapat dengan mudah disembelih oleh manusia yang lebih kecil ukuran tubuhnya. "Dan telah Kami jadikan kebaikan duniawi dan pahala di akhirat di dalam hewan yang besar, semisal unta dan sapi bagi kalian yang berqurban. Maka sebutlah nama Allah dengan mengucapkan, ‘Bismillah,’ saat menyembelihnya, ketika unta itu masih berdiri di atas keempat kakinya lalu diikat yang satu[2]. Apabila telah terjatuh di tanah, makanlah dari dagingnya dan sedekahkanlah kepada orang fakir yang meminta-minta, juga orang yang butuh walaupun tak memintanya. Demikianlah Allah tundukkan bagimu hewan qurban yang besar itu supaya kalian bersyukur kepada-Nya atas penguasaan tersebut.”

Lalu Allah Ta’ala melanjutkan,

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah.”

Maksudnya, tujuan utama qurban bukan semata-mata menyembelih hewannya. Daging maupun darah hewan qurban tidak akan sampai kepada Allah, lantaran Allah adalah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Yang bisa sampai kepada Allah Ta’ala hanyalah keikhlasan, rasa harap serta niat yang baik dalam ibadah qurban. Karena itu selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,

وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Dalam kutipan firman Allah Ta’ala ini terdapat anjuran dan motivasi untuk mengikhlaskan niat dalam ibadah qurban. Selain itu, hendaklah tujuan utamanya adalah Wajah Allah saja, bukan riya’ (ingin dilihat), berbangga diri, sum’ah (ingin dibicarakan), atau sekadar adat dan kebiasaan. Demikian juga hendaknya seluruh ibadah lain didasari dengan ikhlas. Jika semua ibadah itu tidak dibarengi dengan ikhlas serta ketakwaan kepada Allah, niscaya akan menjadi kulit yang tak berisi ataupun raga tanpa nyawa.

كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ

“Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.”

Maksudnya, hendaklah kalian agungkan serta muliakan Allah karena Dia telah memberi hidayah kalian semua. Sungguh, hanya Allah yang paling berhak untuk mendapat pujian dan pengagungan. Pada akhir ayat, Allah Ta’ala mengabarkan,

وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Maksudnya, orang yang berbuat baik dengan menyembah Allah seakan-akan mereka bisa melihat-Nya. Jika mereka tidak bisa sampai derajat ini, hendaknya mereka tetap beribadah kepada Allah secara yakin bahwa saat itu Allah tetap melihat mereka. Begitu juga, kabar gembira bagi orang yang berbuat baik kepada sesama makhluk dengan harta mereka, ilmu, kedudukan, nasihat, amar makruf nahi mungkar ataupun ucapan yang baik dan yang semisalnya.

Orang-orang yang muhsinin ini mendapatkan kabar gembira dari Allah berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah juga akan berbuat baik kepada mereka sebagaimana mereka menunaikan ibadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada para hamba-Nya.

Pelajaran yang dapat diambil

  1. Ayat di atas turun berkenaan dengan kebiasaan masyarakat jahiliah yang mengira bahwa darah hewan dan daging qurban dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sendirinya.[3] Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma menyebutkan, “Masyarakat jahiliah dahulu mengoleskan darah-darah unta yang disembelih ke dinding Ka’bah. Kaum muslimin setelah itu hendak meneruskan kebiasaan tersebut, maka turunlah ayat ini.”[4]
  2. Allah menjadikan hewan qurban tunduk kepada kita, padahal secara fisik dan kekuatan, ia melebihi manusia. Hal itu dikarenakan supaya manusia mengetahui bahwa fenomena yang terjadi di sekitarnya bukan semata-mata lantaran hasil dari usahanya, namun semua yang terjadi hanya atas kehendak Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahakuasa. Terbukti bahwa hewan yang sedemikian besar dan kuat, ditundukkan oleh Allah bagi manusia.[5]
  3. Kita harus senantiasa menjaga keikhlasan tatkala melaksanakan ibadah qurban, semisal dengan menjauhi sikap berbangga diri -termasuk saling berbangga dengan perolehan hewan qurban di masjid fulan atau kampung fulan-, riya' dan sum'ah, juga menghindari anggapan bahwa berqurban sekadar melaksanakan adat dan kebiasaan ataupun rutinitas dan tradisi keluarga. Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Dulu pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seseorang menyembelih seekor domba qurban untuk dirinya dan keluarganya. Mereka makan dan memberi sedekah darinya, hingga manusia sekarang saling berlomba-lomba seperti yang dapat engkau lihat.”[6] Setan memiliki banyak jalan untuk menggelincirkan kita dari amal shalih, termasuk menumpangi niat baik kita dengan tujuan-tujuan selain karena Allah tanpa terasa. Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan, suatu ketika Abu Sulaiman mendengar Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur menangis dalam khutbah Jumat. Beliau pun mulai marah dan berniat untuk berdiri guna menasihati sang Khalifah ketika sudah turun dari mimbar. Abu Sulaiman lalu mengatakan, “Aku tidak suka berdiri menasihati Khalifah saat semua manusia duduk memperhatikanku.”[7] Semoga Allah menguatkan kita untuk bisa tetap beramal shalih dan menjaga niat-niat kita saat melaksanakan ibadah.
  4. Sebagaimana disebutkan di atas, tujuan penyembelihan hewan qurban bukanlah semata-mata daging dan darahnya, akan tetapi pemanfaatan daging qurban dan hadyu bagi shahibul qurban dan fakir miskin yang membutuhkan. Ibnu ‘Asyur rahimahullah mengatakan, “Mengalirkan darah dan memotong daging qurban bukanlah dimaksudkan untuk beribadah dengan sendirinya. Keduanya hanya sebagai wasilah (sarana) untuk memberi manfaat kepada manusia yang lain melalui penyembelihan itu. Sebab, daging, kulit dan bagian tubuh hewan qurban itu tidak dapat dimanfaatkan kecuali dengan cara nahr[8] atau disembelih dan tujuan pensyariatannya ialah untuk memberi manfaat kepada para shahibul qurban dan selain mereka. Adapun para shahibul qurban memanfaatkannya dengan cara dimakan pada waktu hari raya, sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits tentang larangan berpuasa pada hari penyembelihan, ‘Hari ketika kalian makan dari hewan qurban kalian.’ Itulah pemanfaatan bagi mereka dan keluarga, walaupun dengan cara disimpan hingga kembali lagi ke negeri masing-masing bagi jamaah haji.”[9]
  5. Hal terakhir dalam kesempatan kali ini yang patut untuk dijadikan renungan ialah ibadah qurban dan menyembelih hadyu dilakukan pada hari-hari yang mulia.[10] Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, siapa saja yang melakukan kemungkaran pada bulan-bulan mulia atau di tempat-tempat mulia,[11] dosanya akan dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala.[12] Intinya, kita harus tahu dan selalu waspada, bahwa godaan setan bisa datang dalam berbagai bentuk. Adakalanya sifat pelit yang membuat kita gamang mengeluarkan uang untuk membeli hewan qurban. Setan juga menyusupi niat-niat kita dengan sikap bangga diri, merendahkan orang lain atau bahkan dengan melenyapkan niat ibadah itu sendiri sehingga membuat amal kita menjadi sekadar tradisi. Waspadalah!

Referensi:

  • Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Ad-Darul ‘Alamiyah - Mesir, cet. 1 tahun 1434 H/ 2012 M.
  • Taisirul Karimir Rahman, Abdurrahman Nashir As-Sa’di, Dar Ibnu Hazm – Arab Saudi,
  • Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, Darul Kutub Al-Mishriyah – Mesir (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • Talbis Iblis, Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah – Lebanon, cet. ke-2 tahun 2004.
  • At-Tahrir wat Tanwir, Muhammad Ath-Thahir Ibnu ‘Aysur, Mu`assasah At-Tarikhil ‘Arabi, Lebanon (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • At-Tafsir Al-Muharrar dari https://dorar.net/tafseer/22/13
0