Hidup yang Dipenuhi Ujian
Penulis: Abu Ady
Editor: Za Ummu Raihan
Khotbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti ajaran beliau hingga hari kiamat nanti.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, ujian adalah sunnatullah dalam kehidupan. Setiap manusia akan diuji, baik dengan kesulitan maupun dengan kesenangan, sebagai bukti keimanan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala dalam Al-Qur'an,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2).
Setiap orang pasti akan diuji, baik dengan kesulitan maupun kesenangan. Ujian dalam bentuk kesulitan bisa berupa musibah, kehilangan, sakit, atau kegagalan. Adapun ujian dalam bentuk kesenangan bisa berupa kekayaan, jabatan, atau kemudahan hidup. Keduanya merupakan bentuk ujian yang menuntut kesabaran dan kesyukuran.
Orang yang diuji bukan hanya manusia biasa, tetapi juga manusia pilihan, yaitu para nabi dan rasul. Bahkan, ujian mereka lebih berat dibandingkan dengan yang kita alami. Dalam sebuah hadits, seorang sahabat bertanya,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
“’Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Beliau menjawab, ‘Para nabi, kemudian orang-orang yang semisal dengan mereka, lalu yang semisalnya lagi. Seseorang diuji sesuai dengan kadar keagamaannya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya pun semakin berat. Jika dalam agamanya terdapat kelemahan, maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Ujian itu akan terus menimpa seorang hamba hingga ia dibiarkan berjalan di muka bumi tanpa ada satu pun dosa padanya.’” (HR. Tirmidzi, no. 2398).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya mengandung banyak hikmah. Salah satu hikmah dari ujian berupa kesusahan adalah sebagai penghapus dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, ataupun kegundahan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan itu." (HR. Bukhari, no. 5641).
Selain sebagai penghapus dosa, ujian juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan kita. Saat menghadapi kesulitan, kita cenderung lebih dekat kepada Allah, lebih banyak berdoa, dan lebih berharap kepada-Nya.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, di antara hal penting yang harus kita yakini adalah bahwa ujian merupakan tanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala menginginkan kebaikan bagi kita. Jika kita tidak pernah diuji, maka kita patut bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya masih berada di jalan yang benar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya cobaan." (HR. Bukhari, no. 5645).
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa di antara makna Allah kehendaki kebaikan adalah orang tersebut diberi ujian agar memperoleh pahala. (Fathul Bari, 10:108).
Akhirnya, kita memahami bahwa ujian atau cobaan hidup sejatinya merupakan tanda kasih sayang Allah. Dengan ujian, Allah ingin menghapus dosa kita dan mengangkat derajat kita. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari ujian, bahkan para nabi dan rasul—manusia terbaik—menghadapi cobaan yang jauh lebih berat daripada kita.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, dalam menghadapi cobaan, terkadang kita merasa hidup kita penuh dengan kekurangan dan kesengsaraan, padahal ada orang lain yang keadaannya jauh lebih sulit daripada kita. Oleh karena itu, dalam menyikapi berbagai permasalahan hidup, kita dianjurkan untuk melihat orang yang berada di bawah kita dalam hal nikmat dunia agar kita lebih bersyukur dan merasakan betapa besar nikmat Allah kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963 dan Tirmidzi, no. 2513).
Ketika kita miskin, jangan membandingkan diri kita dengan orang kaya, tetapi lihatlah orang yang lebih kekurangan daripada kita. Saat kita sakit, jangan melihat orang yang sehat, tetapi lihatlah orang yang sakitnya lebih berat dari kita. Apa pun ujian dan cobaan hidup yang kita hadapi, jangan menilainya dengan kelebihan orang lain terhadap diri kita, tetapi lihatlah orang yang lebih membutuhkan, lebih menderita, dan lebih berat cobaannya. Dengan demikian, kita akan lebih bersyukur dan lebih tabah dalam menghadapi ujian yang Allah berikan kepada kita.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Nya dan bersabar atas setiap ujian yang menimpa kita.
Di akhir khotbah ini, marilah kita bershalawat untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita serta seluruh kaum muslimin.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ
اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. واشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
Referensi:
- Shahih Bukhari. Imam Bukhari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim. Imam Muslim. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Sunan Tirmidzi. Imam Tirmidzi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Fathul Bari. Ibnu Hajar. Al-Maktabah Asy-Syamilah.