Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/Jr2ji-NwoXg?si=DW1ebed4jy7uOdLL
Hati yang Selamat
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Faizah Fitriah
Kajian kali adalah tentang hati yang selamat atau dalam bahasa Arab قلب سليم. Pembahasan ini sangat penting untuk disampaikan karena,
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan qalbun (dalam bahasa Arab) berarti jantung. Al-Qalb (القلب) artinya adalah jantung, namun sejak dahulu kita sering mengartikan qalbun dengan kata “hati”.
Kita gunakan istilah Al-Qalb (القلب) dan qalbun yang maknanya adalah jantung. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan sejak dahulu tentang peran Al-Qalb (القلب) dalam jasad serta peranannya untuk seluruh anggota badan. Dalam sebuah hadits, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:
ألا وإن في الجسد مضغة
“Ketahuilah, di dalam tubuh kita ada segumpal daging.”
Segumpal artinya bukan sesuatu yang besar dalam jasad kita. Itu hanya sepotong daging. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan:
إذا صلحت، صلح الجسد كله
“Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik.”
Daging tersebut memiliki peran vital dalam keberlangsungan seluruh anggota badan. Jika dia sehat dan normal, seluruh tubuh akan sehat. Namun jika terjadi gangguan pada segumpal daging itu, maka seluruh tubuh akan terganggu.
فسد الجسد كله
“Maka seluruh jasad akan rusak.”
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa segumpal daging itu adalah Al-Qalb (القلب) yang kita kenal sebagai jantung. Dari sisi fisik, kita mengetahui bagaimana peran jantung dalam tubuh manusia. Namun, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjadikan Al-Qalb (القلب) sebagai tempat bagi keyakinan (akidah) yang akan mempengaruhi seluruh tindakan anggota tubuh.
Bukan hanya secara fisik, namun juga secara maknawi. Jika Al-Qalb (القلب) seseorang selamat dari berbagai penyakit maknawi, maka ini akan mempengaruhi gerak-gerik, akhlak, dan ibadah seseorang. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk memiliki قلب سليم dan mengetahui cara untuk mendapatkannya.
Kedua, mengapa kita perlu mempelajari tentang قلب سليم? Karena yang akan bermanfaat dan akan selamat di akhirat adalah orang yang datang kepada Allah dalam keadaan membawa قلب سليم.
Setiap orang akan datang kepada Allah dengan membawa Al-Qalb (القلب)-nya. Siapa yang selamat? Siapa yang beruntung di akhirat? Mereka adalah orang yang datang kepada Allah dengan qalbun salim. Bukan orang yang membawa harta banyak, jabatan tinggi, atau anak banyak, karena semua itu tidak akan bermanfaat di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam:
وَلَا تُخْزِنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ
“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu'ara: 87)
Apa hari tersebut?
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.” (QS. Asy-Syu'ara: 88)
Hari ketika tidak akan bermanfaat harta maupun anak-anak. Sebanyak apapun harta dan anak yang dimiliki seseorang, itu tidak akan berguna di sisi Allah.
Apa yang bermanfaat?
إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٍۢ سَلِيمٍۢ
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu'ara: 89)
Kecuali orang yang datang kepada Allah di hari tersebut dengan qalbun salim. Masing-masing dari kita akan membawa qalbunya. Maka yang selamat adalah yang datang kepada Allah dengan qalbun salim.
Pembahasan ini penting karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak melihat jasad kita apakah tampan, cantik, tinggi, atau pendek. Allah juga tidak melihat harta kita si kaya atau si miskin. Yang Allah lihat adalah qalbun kita dan amalan kita.
Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّـهَ لاَ يَنظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa kalian, juga tidak memandang harta kalian, tetapi Dia memandang kepada hati dan amal kalian.”
Allah tidak melihat harta atau rupa jasad kita. Yang Allah lihat adalah قُلُوْبِكُمْ (hati-hati kalian), apakah baik atau tidak, selamat atau tidak, bersih atau tidak. Itu yang menjadi ukuran derajat seseorang di sisi Allah. Allah juga melihat amalan kita, yang sangat erat kaitannya dengan kondisi Al-Qalb (القلب).
Ternyata untuk menjadikan Al-Qalb (القلب) seseorang dalam keadaan selamat bukanlah hal yang mudah. Al-Qalb (القلب) itu secara bahasa berarti "terbalik," yaqlibu (يقلب) artinya membalik. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qalb (القلب) dinamakan demikian karena ia sering berubah. Pagi hari bisa gembira, siang sudah sangat sedih, atau seseorang bisa beriman di pagi hari namun kufur di sore hari.
Siapa yang mengubahnya? Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dialah yang membolak-balikkan Al-Qalb (القلب). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering membaca doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Sahabat Anas radhiyallahu 'anhu berkata, “Kami beriman denganmu dan dengan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih takut kami berubah?” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Iya.” Meskipun beliau dihadapkan oleh para sahabat terbaik, beliau tetap khawatir hati mereka bisa berubah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْقُـلُوْبَ بَـيْـنَ أُصْبُـعَـيْـنِ مِنْ أَصَابِعِ اللّٰـهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati-hati itu berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah, di mana Dia membolak-balikkan hati itu sekehendak-Nya.”
Hati manusia berada di antara dua jari Allah, dan Allah bisa sewaktu-waktu mengubah keadaan hati seseorang. Jika kita tahu bahwa yang selamat di akhirat adalah yang datang dengan قلب سليم, maka kita harus sadar bahwa hati tersebut bisa berubah sesuai dengan kehendak Allah. Ini semakin mengingatkan kita untuk memperhatikan Al-Qalb (القلب) kita.
Jangan hanya memperhatikan hal-hal yang zhahir seperti makanan, minuman, atau perhiasan. Kita sering kali lalai untuk memperhatikan yang ada di dalam hati kita, padahal itu adalah keselamatan kita di akhirat.
Poin selanjutnya setelah kita mengetahui manfaat dan keutamaan pembahasan ini, kita tentu ingin tahu yang dimaksud dengan Al-Qalb (القلب) yang salim.
Apa Pengertian Hati yang Selamat (قلب سليم)?
qalbun salim lawannya adalah qalbun maridh. maridhun (مَرِضٌ) artinya adalah berpenyakit. Ada hati yang selamat, ada hati yang sakit, dan ada pula hati yang mati. Kita tentu memahami makna salim (selamat). Pertanyaannya adalah, qalbun yang selamat itu selamat dari apa? Berikut penjelasannya.
Pertama: Selamat dari Kesyirikan
Kesyirikan adalah beribadah kepada selain Allah bersama Allah. Dalam hal ini, ada ibadah-ibadah yang dilakukan oleh Al-Qalb (القلب), seperti tawakal. Tawakal adalah amalan yang dilakukan oleh hati (Al-Qalb), yaitu bergantung atau bersandar hanya kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)
Menyandarkan tawakal kepada selain Allah adalah kesyirikan. Jika seseorang bergantung sepenuhnya kepada selain Allah, meyakini bahwa selain Allah dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudharat, maka itu adalah kesyirikan besar. Tawakal kepada seorang syaikh, wali, atau bahkan kepada nabi, bertawakal kepada benda, atau bahkan mendatangi kuburan untuk meminta bantuan adalah bentuk kesyirikan yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa hati tersebut terkontaminasi dengan kesyirikan.
Selain itu, rasa takut kepada selain Allah, yang disertai dengan merendahkan diri dan mengagungkan yang ditakuti, juga termasuk dalam kesyirikan. Misalnya, takut kepada jin disertai dengan merendahkan diri di hadapannya dan mengagungkannya. Itu adalah takut yang merupakan ibadah.
Namun, rasa takut yang biasa, seperti takut terhadap hewan buas atau api adalah rasa takut alami, yang tidak mengurangi iman seseorang. Contohnya, ketika Nabi Musa ‘alaihis sallam takut melihat tongkatnya berubah menjadi ular. Ini adalah rasa takut yang normal, bukan kesyirikan.
Untuk memiliki qalbun salim, pertama-tama kita harus membersihkan hati kita dari segala bentuk kesyirikan: tawakal kepada selain Allah dan rasa takut yang disertai dengan pengagungan terhadap selain Allah.
Kedua: Selamat dari Nifak (Kemunafikan)
Nifak artinya menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran. qalbun yang salim adalah hati yang selamat dari nifak. Apa yang ada di dalam hati seseorang, itulah yang akan tampak pada anggota tubuhnya. Jika seseorang mengucapkan Lailahaillallah dan Muhammad Rasulullah, maka itu mencerminkan yang ada dalam hatinya. qalbun yang salim tidak akan menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekufuran.
Nifak bisa dimulai dengan nifak yang kecil, yaitu nifak amali (nifak dalam amalan). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tiga tanda orang yang munafik:
إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ
“Jika dia berbicara, dia berdusta.”
وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ
“Jika dia berjanji, dia mengingkari janji.”
وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Jika diberikan amanah, dia berkhianat.”
Jangan sampai kita menganggap remeh nifak amali ini. Jika terus-menerus dilakukan, bisa berujung pada nifak besar yang sangat berbahaya. Itulah cara syaitan menjerumuskan manusia, tidak secara langsung ke dalam dosa besar, tapi secara perlahan, bertahap.
Untuk menjaga qalbun tetap salim, marilah kita berlomba-lomba untuk memurnikan hati kita dari kesyirikan dan nifak. Cek apa yang ada dalam hati kita. Sudahkah hati kita selamat dari berbagai penyakit hati, seperti kesyirikan dan nifak? Jika kita ingin memiliki qalbun salim, maka kita harus memperhatikan apa yang ada di dalam hati kita.
Ketiga: Selamat dari Berbagai Jenis Kekufuran
Contoh kekufuran yang dimaksud, misalnya, adalah keyakinan bahwa hukum selain hukum Allah lebih baik daripada hukum Allah. Jika seseorang meyakini bahwa undang-undang manusia lebih baik dari hukum Allah, maka ini adalah bentuk kekufuran. Sebagai contoh, jika seseorang mengatakan bahwa bagian warisan anak perempuan sama dengan anak laki-laki, ini bertentangan dengan hukum Allah yang sudah ditentukan dalam agama Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan bahwa anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian dari anak perempuan dalam warisan. Jika ada yang menganggap pembagian ini tidak adil atau lebih memilih hukum selain hukum Allah, maka itu bisa menjadikannya keluar dari agama Islam.
Contoh lain adalah keyakinan bahwa seseorang boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah Beliau diutus. Jika seseorang meyakini bahwa dia tidak wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam meskipun dia mengaku muslim, maka keyakinan ini juga bisa mengeluarkannya dari Islam. Setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seluruh umat manusia, bahkan jin, wajib mengikuti beliau.
Keyakinan seperti ini adalah kekufuran yang bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Oleh karena itu, qalbun yang salim adalah qalbun yang selamat dari kotoran-kotoran kekufuran tersebut.
Keempat: Selamat dari Keyakinan-keyakinan Bid'ah dan Akidah-akidah yang Sesat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan kita petunjuk tentang akidah yang shahih melalui Al-Qur'an dan Hadits. Keyakinan yang menyimpang dari petunjuk ini meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam, tetap bisa membuat qalbun seseorang sakit.
Contoh dari akidah sesat adalah keyakinan Kelompok Khawarij yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar keluar dari agama Islam. Mereka bahkan menghalalkan darah orang yang berzina atau mencuri. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang melakukan dosa besar bisa mendapatkan syafa'at di akhirat jika Allah menghendaki, asalkan dia termasuk umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kelompok Khawarij sangat berbahaya karena menganggap dosa besar bisa menjadikan seseorang murtad dan mereka menghalalkan darah orang yang mereka anggap kafir. Bahkan, di zaman Ali bin Abi Thalib, mereka memerangi sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Contoh lainnya adalah Kelompok Murjiah yang meyakini bahwa dosa besar tidak mempengaruhi keimanan seseorang. Mereka percaya bahwa seseorang tetap sempurna imannya meskipun melakukan dosa besar. Ini adalah keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa seseorang yang berzina atau mencuri dalam keadaan beriman tidak akan selamat dari hukuman.
Kelima: Selamat dari Kemaksiatanqalbun salim adalah qalbun yang selamat dari berbagai bentuk kemaksiatan, baik itu syirik, kenifakan, kekufuran, maupun kebid'ahan. Selain itu, kemaksiatan juga bisa dilakukan oleh qalb itu sendiri, seperti niat atau tekad untuk melakukan dosa. Misalnya, jika seseorang memiliki niat untuk membunuh, meskipun tidak terlaksana, hatinya sudah tercemar dengan kemaksiatan.
Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa jika dua orang muslim bertemu dan saling membawa pedang, baik yang membunuh maupun yang terbunuh akan masuk neraka. Ini menunjukkan bahwa niat untuk berbuat dosa sudah tercatat sebagai kemaksiatan dalam qalbun. Namun, jika niat tersebut datang dari waswas atau bisikan syaitan, selama seseorang berusaha menepisnya, maka hal itu tidak mempengaruhi imannya.
Salah satu bentuk kemaksiatan dalam qalb adalah hasad atau iri hati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita untuk tidak saling iri karena rezeki yang diberikan Allah kepada setiap orang sudah sesuai dengan kehendak-Nya. Jika kita melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, kita harus meyakini bahwa itu adalah takdir Allah dan mengikhlaskannya, bukan merasa iri atau mendengki. Hasad dapat merusak hati dan amalan seseorang, bahkan bisa menghilangkan kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan.
Sebagai penutup, qalbun salim adalah qalbun yang bersih dari penyakit hati seperti kesyirikan, kenifakan, kekufuran, bid'ah, dan kemaksiatan. Ini adalah qalbun yang tidak hanya bebas dari dosa besar tetapi juga dilindungi dari segala jenis kotoran spiritual yang bisa merusak hubungan kita dengan Allah.