Khotbah Jumat

Hati-hati dalam Bercanda!

Penulis: Abu Ady

Editor: Za Ummu Raihan


Khotbah pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan dari-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan takwa yang sesungguhnya. Tema khutbah kita pada hari yang mulia ini adalah salah satu perbuatan yang menjadi bagian dari kehidupan kita, yaitu bercanda dan ketentuannya dalam agama kita.

Bercanda pada asalnya boleh dalam Islam, bahkan bercanda merupakan bagian dari fitrah manusia untuk menciptakan kebahagiaan dan kedekatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي أَضْحَكَ وَأَبْكَىِ

“Dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa tertawa, sebagai bagian dari bercanda, merupakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, bercanda dan tertawa harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat kita.

Meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat Radhiyallahu 'Anhum dalam bercanda

Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya. Beliau adalah teladan terbaik bagi umat manusia dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam bercanda. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bercanda dengan para sahabatnya, tetapi candaan beliau selalu penuh hikmah dan tidak pernah melampaui batas atau melakukan kebohongan. Beliau bersabda:

إِنِّي لَأَمْزَحُ وَلَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا

“Sesungguhnya aku juga bercanda, tetapi aku tidak mengatakan kecuali yang benar. “ (HR. Thabarani dalam Al-Mu'jam As-Shagir no. 779)

Beberapa contoh candaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal adalah ketika beliau mengatakan kepada seorang nenek bahwa orang tua tidak akan masuk surga. Ketika nenek itu sedih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa maksudnya adalah di surga semua orang akan dikembalikan dalam usia muda, sehingga tidak ada nenek-nenek di surga.

Para sahabat Radhiyallahu 'Anhum juga mengikuti cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bercanda. Mereka melakukannya dengan penuh kejujuran dan kehormatan, serta tidak pernah menyimpang dari ajaran agama.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Mari kita ketahui hal-hal yang dibolehkan dan dilarang dalam bercanda. Dalam Islam, bercanda memiliki batasan yang harus dijaga. Berikut adalah beberapa hal yang diperbolehkan dalam bercanda.

  1. Candaan harus berdasarkan fakta atau sesuatu yang benar.
  2. Candaan harus menjaga perasaan orang lain dan tidak boleh menyinggung kehormatan atau harga diri seseorang.
  3. Candaan yang baik adalah yang membahagiakan tanpa melukai perasaan orang lain.
  4. Candaan sebaiknya tidak berlebihan dan tetap pada batasan yang wajar.

Hal-hal yang dilarang dalam bercanda

Islam melarang jenis candaan yang membawa keburukan sebagai berikut.

1. Mengandung kebohongan. Candaan yang mengandung kebohongan hukumnya haram dan dapat menjadi dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحْدِثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar orang-orang tertawa. Celaka baginya, celaka baginya.” (HR. Abu Dawud, no. 4990 dan Tirmizi no. 2315)

2. Mengandung penghinaan. Jangan sampai candaan kita merendahkan atau menghina orang lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurat: 11)

3. Melibatkan unsur syariat. Jangan jadikan agama sebagai bahan candaan karena dapat menyebabkan pelakuknya jatuh ke dalam kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولَهُ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’” (QS. At-Taubah: 65)

4. Membuat orang lain takut atau khawatir. Di antara candaan yang membuat orang lain khawatir adalah mengambil atau menyembunyikan barang miliknya. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabda beliau:

لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لَاعِبًا، وَلَا جَادًّا

“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik untuk main-main maupun sungguhan.” (HR. Abu Daud no. 5003)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para sahabat sedang melakukan perjalanan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu salah seorang dari mereka tertidur. Kemudian sebagian dari mereka pergi mengambil tali miliknya, sehingga ia terkejut karena merasa takut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat muslim lainnya merasa takut.” (HR. Abu Daud no. 5004)

Khotbah kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Islam adalah agama yang penuh rahmat dan keseimbangan. Ia memberikan ruang bagi manusia untuk menikmati hidup dengan segala sisi keceriaannya, termasuk dalam bentuk bercanda. Bercanda adalah bagian dari sifat bawaan manusia untuk menyegarkan pikiran dan menciptakan suasana bahagia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَكَذِلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan...” (QS. Al-Baqarah: 143)

Umat Islam harus menjadi umat yang seimbang dan bijaksana dalam segala hal, termasuk dalam bercanda. Bercanda yang dilakukan dengan benar dapat menjadi sarana menguatkan hubungan, memberikan kebahagiaan, dan menyebarkan kebaikan.

Ibnu Hibban Rahimahullah berkata, “Orang yang bijak seharusnya bersikap ramah dan menarik hati orang lain dengan candaan, serta menghindari bersikap masam atau cemberut. Candaan itu ada dua: canda yang terpuji dan canda yang tercela.

Candaan yang terpuji, yaitu canda yang tidak mengandung hal-hal yang dibenci oleh Allah, tidak mengandung dosa, dan tidak menyebabkan pemutusan hubungan silaturahmi.

Candaan yang tercela, yaitu canda yang bisa menimbulkan permusuhan, menghilangkan rasa hormat, merusak persahabatan, membuat orang rendah jadi berani kurang ajar, dan menyebabkan orang baik jadi marah atau sakit hati.” (Raudhatul ’Uqala: 77)

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Marilah kita jadikan canda sebagai sarana untuk menyebarkan kebahagiaan tanpa melupakan adab dan batasan syariat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membimbing kita agar senantiasa menjaga diri kita dari hal-hal yang mendatangkan murka-Nya.

Di akhir khutbah ini mari kita bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عِبَادَ اللّٰهِ إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ. وَاشْكُرُوهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Referensi:

  1. Al Mu'jamus Shagir. At-Thabarani. Al-Maktabah As-Syamilah
  2. Sunan Abi Daud. Abu Daud. Al-Maktabah As-Syamilah
  3. Sunan Tirmizi. At-Tirmizi. Al-Maktabah As-Syamilah
  4. Rhaudhatul U'qala'. Ibnu Hibban. Al-Maktabah As-Syamilah
0