Mutiara Hadits

Harta Terbaik

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Athirah Mustadjab


عَنْ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «يَا عَمْرُو، ‌نِعْمَ ‌الْمَالُ ‌الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ»

Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai ‘Amr, sebaik-baik harta yang shalih adalah untuk orang yang shalih.’”

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih, diriwayatkan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad-nya no. 299 sesuai lafazhnya, Ahmad dalam Musnad-nya no. 17763 dan 17801, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 3210 dan 3211, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 2130 dan 2926, Ath-Thabarani dalam Mu’jamul Ausath no. 3189, Ath-Thahawi dalam Syarh Musykilil Atsar no. 6056, Al-Baihaqi dalam Al-Adab no. 791 dan dalam Syu’abul Iman no. 1190, dan Al-Baghawi dalam Syarhussunnah no. 2496. Dari sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu.

Al-Hakim rahimahullah dalam Al-Mustadrak berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim,” dan Adz-Dzahabi menyetujuinya, 2:3 dan 2:257. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah dalam Takhrij terhadap Musnad Imam Ahmad, 29:299 berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.” Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Takhrij Adabil Mufrad no. 229 berkata, “Shahih.”

MAKNA UMUM HADITS

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengajari para sahabatnya tentang jalan-jalan petunjuk, akhlak yang mulia, cara menaklukkan dunia untuk amal akhirat, dan berinfak di jalan Allah. Dalam hadits ini ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai ‘Amr, aku ingin mengutusmu untuk memimpin pasukan untuk berperang, lalu Allah berikan ghanimah (harta rampasan perang) kepadamu atas kemenanganmu, dan aku akan berikan bagian untukmu dari harta tersebut.” Aku (‘Amr) menjawab, “Aku masuk islam bukan sebab berhasrat pada harta namun aku masuk Islam supaya bisa bersama Rasullah,” maka Nabi pun bersabda, “Harta yang shalih adalah untuk orang yang shalih.”[1]

SYARAH HADITS

  • نِعْمَ ‌الْمَالُ ‌الصَّالِحُ: Maksudnya adalah harta yang didapatkan dengan cara yang halal dan diinfakkan diberbagai sisi kebaikan.[2]
  • ‌لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ: Maksudnya adalah orang yang tahu kebaikan dan mengerjakannya.[3] Menginfakkan harta dimulai dari infak untuk kebutuhan pribadi. Apabila ada kelebihan, maka untuk saudara dan kerabatnya yang miskin. Jika masih ada kelebihan, maka diinfakkan untuk berbagai kebaikan yang lain.[4] Semua itu harus dilandasi keinginan untuk mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla supaya kebaikan dan keberkahannya kembali pada dirinya dan keluarganya, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

“Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 272)

Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim hafizhahullah berkata, “Harta yang berbarakah adalah harta yang kebaikannya banyak, manfaatnya beragam, dan disalurkan di berbagai jalan kebaikan dengan mengharap ridha Allah. Barang siapa yang qanaah dengan keuntungan yang sedikit lagi halal dan berusaha jujur di setiap aktivitasnya, maka keberkahan akan tampak pada harta dan anak-anaknya.”[5]

Harta, pada hakikatnya, adalah bentuk ujian pada seseorang, sebagaimana firman-Nya,

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).” (QS. At-Taghabun: 15)

Oleh karena itu, harta bisa membawa efek positif maupun negatif dalam kehidupan seseorang, tergantung cara mendapatkannya dan menginfakkannya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ هَذَا الْمَالَ ‌خَضِرٌ ‌حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

“Sungguh harta itu hijau lagi manis. Barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya, maka harta itu akan memberkahinya. Namun, barang siapa yang mencarinya untuk keserakahan (ambisi atau ketamakan) maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang.” (HR. Bukhari no. 2750 dan 3143)

FAEDAH HADITS

  1. Efektivitas metode Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik para sahabatnya untuk menaklukkan dunia demi kepentingan akhirat.
  2. Pentingnya keikhlasan pada setiap amal yang dikerjakan.
  3. Manfaat dunia yang paling berharga adalah keberkahan.
  4. Harta yang shalih adalah harta yang didapat dari cara yang halal dan diinfakkan di jalan Allah.
  5. Orang yang shalih adalah orang yang mengerti kebaikan dan mengerjakannya.
  6. Pada hakikatnya, harta adalah ujian yang bisa membawa kepada efek positif atau negatif.

Referensi:

  1. Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  2. Al-Adab Al-Mufrad, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Takhrij sesuai hukum Syaikh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif-Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1419 H/1998 M.
  3. Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Tahqiq Syu’aib Al-Arnāuth, Mu’asasah Ar-Risalah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1996 M/ 1416 H.
  4. Syarh As-Sunnah, Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Tahqiq Syaikh Syu’aib Al-Arnauth-Muhammad Zuhair Asy-Syawisy, Al-Maktab Al-Islami-Beirut, Cet. 2, Tahun 1403 H/1983 M.
  5. Syu'ab Al-Iman, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi Al-Khurasani, Tahqiq DR. Abdul Ali Abdul Hamid, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1423 H/2003 M.
  6. Al-Adab, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali bin Musa Al-Baihaqi, Muasasah Al-Kutub Ats-Tsaqafiyah-Beirut-Lebanon, Cet. 1, Tahun 1408 H/1988 M.
  7. Shahih Ibnu Hibban, Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti, Tahqiq Muhammad ‘Ali Sunmuz dan Khalish Ay Damir, Dar Ibn Hazm-Beirut, Cet. 1, Tahun 1433 H/2012 M.
  8. Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Hakim, Tahqiq Mushtafa Abdul Qadir ‘Atha, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1411 H/1990 M.
  9. Al-Mu’jam Al-Ausath, Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabarani, Tahqiq Thariq bin ‘Iwadhullah dan Abdul Muhsin Al-Husaini, Dar Al-Haramain-Kairo-Mesir, Cet. Tahun 1415 H/1995 M.
  10. Syarh Musykil Al-Atsar, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Ath-Thahawi, Tahqiq Syaikh Syu’aib Al-Arnauth, Muasasah Ar-Risalah, Cet. 1, Tahun 1415 H/1994 M.
  11. Al-Kasyif ‘An Haqaiq As-Sunan Syarh ‘Ala Misykah Al-Mashabih, Syarafuddin Al-Husain bin Abdullah Ath-Thibi, Tahqiq DR. Abdul Hamid Handawi, Maktabah Nizar Mushtafa Al-Baz-Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1417 H/1997 M.
  12. Situs web https://kalemtayeb.com/safahat/item/48462. Diakses tgl. 18/10/2024.
  13. Website https://dorar.net/hadith/sharh/118559. Diakses tgl. 18/10/2024
0