Formula Emas para Santri Mumtaz
Reporter: Anastasia Gustiarini
Redaktur: Dian Soekotjo
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)[1]
Pada setiap sesi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), ratusan ribu santri HSI memulai perjalanan yang sama. Menyimak audio, mencatat materi, muraja'ah, dan mengerjakan evaluasi adalah jadwal lumrah para pemburu ilmu di HSI AbdullahRoy. Namun, ketika sesi berakhir, segelintir nama saja yang muncul menjadi santri-santri terbaik. Merekalah peraih predikat mumtaz murtafi’ dan mumtaz berkat perpaduan nilai sempurna serta kecepatan menjawab soal-soal evaluasi.
Tingkat keberkahan ilmu jelas tak bisa diukur dari sekadar perkara nilai. Meski demikian, di balik capaian para santri tersebut, tentu ada ikhtiar yang menginspirasi. Apa yang membedakan mereka dengan kita? Apakah mereka memiliki daya ingat luar biasa dan menghabiskan waktu belajar berjam-jam per hari? Atau justru menerapkan kebiasaan belajar yang dapat ditiru siapa saja?
Majalah HSI edisi kali ini hendak mengintip "dapur” belajar para santri terbaik. Mari telusuri jejaknya lalu petik hikmah dan teladani yang dapat kita terapkan.
Bukan Sekadar Mendengar
Mendengarkan audio memang menjadi pintu masuk pembelajaran di HSI. Namun, bagi para santri terbaik, belajar ternyata tidak berhenti ketika audio selesai diputar. Mereka seperti berusaha “berdialog” dengan ilmu melalui ragam lini. Ada yang mengupayakan sumber bacaan lain, ada yang bekerja keras dengan catatan, bahkan ada yang meringkas evaluasi agar materi mudah dipahami.
Pola ini tampak diterapkan Ukhtuna Nansiti Sabana Anugerah yang tengah belajar Silsilah Pembahasan Kitab at-Tauhid. Ukhtuna Nansiti adalah salah satu dari tiga santri terbaik Angkatan 134 pada sesi ketiga tahun ini. Ia meraih predikat mumtaz murtafi' dengan catatan waktu 2193 detik.
Menurut Ukhtuna Nansiti, mendengarkan audio saja ternyata belum cukup. Pada silsilah-silsilah pembahasan kitab, ia selalu menyiapkan kitab syarah terlebih dahulu agar dapat menyimak sambil membaca.
"Walaupun diberikan PDF kitabnya, tapi karena kemampuan bahasa Arab saya kurang, jadi saya cari buku terjemahannya (syarah, red)," ujarnya.
Di kitab yang telah dibelinya, Ukhtuna Nansiti akan memberi tanda pada bagian yang sesuai dengan penjelasan Ustadz Abdullah Roy hafizhahullah. Sementara, penjelasan yang belum terdapat di buku, ia tambahkan dalam bentuk catatan. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut memudahkan mengikuti alur pembahasan sekaligus membantunya memahami materi ilmu.
Jika Ukhtuna Nansiti membubuhkan catatan di kitab syarah yang dimilikinya, beberapa santri gemilang lain mempunyai trik juga dalam mencatat. Ibu Herlina, peserta HSI berusia 63 tahun asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, misalnya. Beliau mengaku selalu menuliskan poin-poin penting lalu menggarisbawahi bagian paling penting. “Cara belajar saya biasa aja. Mendengar audio, mencatat yang penting, kemudian menggaris bawahi yang sangat penting dengan tinta merah,” ungkapnya.
Sementara itu, Umi Susi Sutedjo memilih menyimpan seluruh materi ke dalam doc sheet atau lembar dokumen sehingga catatan digital tersebut dapat diakses kapan pun dibutuhkan. Umi Susi tampaknya enggan melewatkan proses mencatat meskipun aktivitasnya padat. Di tengah kesibukan belajar, warga Bekasi berusia 56 tahun ini, masih sempat membersamai teman belajar Al-Qur’an dalam sebuah program yang diselenggarakan secara online. Padahal tanggung jawab harian dalam urusan rumah tangganya juga terbilang spesial. Qadarullah, Umi Susi dianugerahi putra bungsu berkebutuhan khusus.
Muraja'ah, Kunci Materi Melekat di Ingatan
Bagi para peraih predikat terbaik, belajar sekali ternyata belum cukup. Muraja'ah menjadi salah satu kebiasaan yang terus mereka lakukan agar materi benar-benar melekat sebelum mengerjakan evaluasi.
Ukhtuna Nansiti, misalnya, membiasakan diri mendengarkan rekaman materi sedikitnya dua kali. Kesempatan pertama digunakan untuk mencatat, sedangkan kesempatan berikutnya dipakai untuk memeriksa kembali catatan agar tidak ada poin penting yang terlewat.
Hal serupa dilakukan Ukhtuna Erna Puji Astuti. Peraih predikat mumtaz murtafi' pada empat silsilah ini mengaku selalu mengulang materi dan membuat ringkasan dari setiap evaluasi.
"Muraja'ah materi berulang, dan buat ringkasan materi dari setiap evaluasi," tuturnya.
Ringkasan tersebut tidak berhenti sampai di situ. Menjelang evaluasi pekanan, Ukhtuna Erna kembali merangkum materi sekaligus menyimpan soal-soal evaluasi beserta jawabannya sebagai bahan belajar berikutnya.
Bagi Ukhtuna Putri, muraja'ah dilakukan dengan membaca kembali catatan sebelum mengerjakan evaluasi. Setelah evaluasi selesai, ia juga selalu membuka kembali hasilnya melalui aplikasi HSI untuk mengetahui bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.
Disiplin Mengelola Waktu
Di balik capaian mereka, tersimpan satu kesamaan lain, yakni kedisiplin menjaga waktu belajar. Mereka tidak menunggu waktu luang datang, tetapi justru menetapkan waktu khusus untuk belajar, lalu berusaha menjaganya secara konsisten.
Ukhtuna Putri misalnya, memasang alarm harian sebagai pengingat. Ia membiasakan diri menyimak materi antara pukul 14.00 hingga 16.00. Setelah itu, ia mencatat rangkuman materi, membaca ulang catatan sebelum evaluasi, lalu meninjau kembali hasil evaluasi sebagai bahan perbaikan.
Akhuna Muhammad Farid Irawan juga memiliki rutinitas serupa. Materi baru ia simak sejak pagi hari, kemudian kembali didengarkan pada siang dan sore. Adapun evaluasi ia kerjakan pada malam atau pagi hari ketika suasana lebih tenang.
"Pengerjaan evaluasi saya biasakan malam atau pagi saat suasana sunyi agar lebih fokus. Allah yang kasih kemudahan dalam ikhtiar karena sebelum mulai murajaah dibiasakan berdoa," ungkapnya.
Ibu Herlina pun memilih waktu subuh atau sore sebagai saat terbaik untuk belajar. Sementara itu, Umi Susi Sutedjo mengaku baru mampu belajar sebelum subuh, ketika anak bungsunya yang berkebutuhan khusus masih tertidur. Pengalaman memperoleh nilai jayyid pada silsilah sebelumnya membuatnya menyadari pentingnya manajemen waktu. Kini ia membagi waktu belajar menjadi beberapa tahap: mendengarkan audio selama sekitar 20 menit, mencatat poin-poin penting sekitar 10 menit, lalu mengulang kembali materi tanpa melihat catatan.
Niat Menjaga Konsistensi
Di balik berbagai metode belajar tersebut, para santri terbaik sepakat bahwa yang paling menjaga konsistensi mereka adalah niat dalam menuntut ilmu.
Akhuna Farid menuturkan bahwa semangat belajarnya lahir dari keinginan agar ilmu yang dipelajari dapat menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari berbagai penyimpangan akidah. Ia juga bersyukur karena materi HSI disusun secara bertahap, dimulai dari pokok-pokok agama yang paling mendasar dengan penjelasan yang ringkas dan mudah dipahami.
Sementara Ukhtuna Putri memandang menuntut ilmu sebagai perjalanan sepanjang hayat. Menurut guru di PKBM Albayan Sleman ini, hati manusia membutuhkan siraman ilmu agar senantiasa mengingat tujuan penciptaannya serta terdorong menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Bagi Ibu Herlina, usia bukan penghalang untuk terus belajar.
"Saya sangat senang menuntut ilmu agama, terutama di HSI, karena materi para ulama salaf sangat mudah dipahami sebagai bekal untuk akhirat."
Adapun Umi Susi meyakini bahwa belajar agama merupakan perintah Allah sekaligus jalan menuju kebaikan.
"Sangat butuh perkara akidah, mengingat amal tanpa ilmu bisa berujung sia-sia," ujarnya.
Menariknya, motivasi Ukhtuna Erna berawal dari hal yang sederhana. Ia mengaku pertama kali bersemangat mengerjakan evaluasi karena sang kakak menjanjikan hadiah apabila berhasil meraih nilai sempurna. Namun, seiring perjalanan menuntut ilmu, kebiasaan tersebut justru mengantarkannya berulang kali meraih predikat mumtaz murtafi'.
Dari kisah para santri terbaik, tampak bahwa tidak ada jalan pintas dalam menuntut ilmu. Mereka memang memiliki cara belajar beragam, tetapi benang merahnya sama yaitu mereka belajar secara aktif, membiasakan muraja'ah, disiplin mengelola waktu, serta menjaga niat agar tetap lurus. Kebiasaan-kebiasaan itulah yang, dengan izin Allah Ta'ala, mengantarkan mereka meraih hasil terbaik.
Pada akhirnya, predikat terbaik memang bukanlah tujuan utama seorang penuntut ilmu. Yang jauh lebih penting adalah ilmu yang dipelajari mampu menambah keimanan, memperbaiki amal, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Semoga kisah mereka menjadi penyemangat bagi kita untuk terus memperbaiki cara belajar, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, serta memohon kepada Allah agar mengaruniakan ilmu yang bermanfaat, hati yang istiqamah, dan keberkahan dalam setiap langkah menuntut ilmu. Semangat selalu menuntut ilmu, teman-teman. Baarakallahu fiikum..