Fokus Belajar di Tengah Godaan Layar

Reporter: Dian Pujayanti

Redaktur: Dian Soekotjo


Di era layar berada dalam genggaman hampir sepanjang hari, menjaga fokus bukan lagi perkara mudah. Notifikasi datang silih berganti tanpa permisi, dan relasi di dunia maya menawarkan interaksi yang selalu terasa mendesak. Dalam hitungan detik, buyar perhatian yang semula utuh kadang tanpa sempat disadari. Distraksi lagi dan lagi..

Pengalih perhatian itu menghinggapi siapa saja. Tak terkecuali para penuntut ilmu ketika belajar. Kalau sudah begini, sabda Rasulullah ﷺ terasa semakin relevan menjadi pengingat sekaligus referensi. Beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh)” (HR. Al-Baihaqi)[1]. Menuntut ilmu tentu perlu kesungguhan dan fokus.

Kemudahan Sistem Bertahap di HSI

Belajar membutuhkan kehadiran hati dan pikiran secara utuh. Ketika perhatian terpecah, pemahaman menjadi dangkal dan hafalan cepat hilang. Karena itu, fokus adalah pintu pertama agar ilmu benar-benar terserap dengan baik.

Tampaknya, HSI telah mengupayakan para santri agar mudah dalam belajar. Salah satu buktinya, sistem pembelajaran dibuat bertahap. Materi disusun sedikit demi sedikit agar mudah dicerna dan tidak memberatkan. Jadwal yang terstruktur membantu santri membangun ritme belajar yang konsisten.

HSI cukup memahami bahwa kesibukan santri beragam, dari anak-anak hingga orang tua, bahkan kakek-nenek, dari pelajar hingga para pegawai yang sibuk. Luasnya rentang usia, latar belakang pendidikan, dan pekerjaan membuat dinamika belajar setiap santri berbeda. Keberagaman ini pun diikuti oleh kesibukan yang tidak sama.

Koordinator KBM HSI Grup ARN, Akhuna Addo Wijaya, menjelaskan alasan di balik konsep tersebut. Beliau menyatakan, “Kemasan belajar bertahap dengan audio materi yang singkat dan padat memang disengaja oleh KBM Reguler karena luasnya rentang keberagaman santri, dari usia, pendidikan, dan pekerjaan.”

Pak Addo menambahkan, “Keberagaman ini diikuti oleh kesibukan santri yang beragam juga. Bagaimana mereka bisa termotivasi dan konsisten sehingga akhirnya istiqamah belajar, adalah dengan mengemas proses belajar secara bertahap, sistematis, dengan materi ringkas.”

Menetapkan Waktu Khusus dan Menjaganya

Salah satu kunci fokus adalah menentukan waktu belajar yang jelas. Tanpa jadwal yang pasti, aktivitas belajar sering kali kalah oleh notifikasi dan berbagai distraksi lain. Waktu khusus membantu pikiran bersiap dan membentuk ritme yang lebih stabil dari hari ke hari.

Idealnya, pilih waktu ketika energi masih dalam kondisi baik, seperti selepas shalat Subuh atau shalat Isya. Pada jam tersebut, kita bisa menjauhkan diri dari aktivitas lain dan menepati janji penting yang tidak mudah dibatalkan, yaitu komitmen belajar.

Akhuna Nasrudin, yang telah tiga tahun belajar di HSI, mengaku merasakan perubahan besar setelah menetapkan waktu khusus. “Dulu saya belajar kalau sempat saja. Kadang sambil membuka hp atau sembari membalas pesan,” ujarnya. “Akhirnya tidak benar-benar fokus. Materi selesai, tapi rasanya tidak melekat,” imbuhnya.

Kini ia menyediakan 30 menit khusus tanpa gangguan. Ponsel disenyapkan dan diletakkan agak jauh dari jangkauan. “Ternyata beda sekali. Dalam waktu yang lebih singkat justru lebih banyak yang saya pahami. Karena sudah terbiasa, kalau belum belajar di jam itu rasanya seperti ada yang kurang,” tutur warga Sleman tersebut.

Hal serupa disampaikan Ukhtuna Azizah dari Angkatan 212. Ia memilih waktu malam hari untuk belajar HSI, setelah Isya hingga menjelang tidur. “Saya sengaja mengosongkan waktu itu hanya untuk HSI. Kalau dicampur dengan aktivitas lain, biasanya jadi tidak maksimal,” katanya.

Mahasiswi yang tengah menempuh studi Bahasa Arab ini mengakui bahwa menjaga konsistensi tidak selalu mudah. “Kalau terlewat jadwal, sulit sekali mencari pengganti. Waktu lain sudah dipakai untuk tugas kuliah atau membantu Mama di rumah. Jadi saya berusaha menjaga jam itu,” ungkapnya. Baginya, ketaatan pada jadwal justru melatih kedisiplinan diri.

Ukhtuna Humaira yang merupakan seorang staf klinik dokter dan baru menikah, juga mempunyai pengalaman yang sama. Perempuan 24 tahun ini membagikan kebiasaan belajarnya kepada Majalah HSI. “Saya wajib mendengarkan materi selepas Subuh, Kak. Pas banget setelah Kakak Musyrifah membagikan audio ke Grup Materi,” ungkap santri Angkatan 192 itu. Ia mewajibkan dirinya sendiri agar jadwal hariannya tidak berantakan dan tetap bisa dengan baik memahami materi ilmu.

“Biasanya pagi itu saya dengarkan dulu sekali, kemudian langsung mencatat. Catatan ini yang saya muraja’ah di beberapa kesempatan, misalnya pas di angkot atau di tempat kerja. Lebih mudah,” paparnya. Ukhtuna Humaira ternyata sudah lama menerapkan pola memilih jam fokus belajar. Dengan keteraturan itu, terbukti ia dapat istiqamah menuntut ilmu bahkan sejak 2019.

Membatasi Gangguan Digital

Layar bukanlah musuh, tetapi ia mudah menjadi pengalih perhatian. Notifikasi, pesan masuk, dan aplikasi hiburan dapat memecah konsentrasi dalam hitungan detik. Mengaktifkan mode pesawat, menonaktifkan notifikasi sementara, atau menutup aplikasi yang tidak berkaitan adalah cara sederhana yang berdampak besar. Saat ruang digital lebih bersih, pikiran pun terasa lebih tenang.

Akhuna Fajar, seorang karyawan swasta sekaligus santri HSI, mengaku pernah merasa kesulitan menjaga konsentrasi. “Saya pikir bisa kontrol, tapi ternyata setiap ada notifikasi tangan refleks ingin membuka,” katanya. Ia kemudian membuat aturan pribadi untuk tidak menyentuh ponsel selama sesi belajar berlangsung.

“Sekarang ponsel saya silent dan saya letakkan agak jauh. Awalnya terasa tidak nyaman, seperti ada yang tertinggal. Tapi lama-lama justru terasa lebih ringan. Belajar jadi tidak terputus-putus,” tuturnya. Ia menyadari bahwa yang perlu diubah bukan perangkatnya, melainkan kebiasaannya.

Ukhtuna Dewi yang tinggal di Bekasi, turut membenarkan poin ini. Ia mengaku punya cara jitu tersendiri. “Lagi belajar sambil hp ada di sebelah, memang kayak enggak mungkin. Mau enggak mau saya silent notifikasi biar gak tang ting tang ting, ganggu konsentrasi,” tutur ibu dari satu putra tersebut.

“Kalau enggak di-silent, saya belum bisa. Ada aja pikiran di kepala takut itu kabar penting atau something urgent,” papar pemilik bisnis ekspedisi ini. Biasanya, Ukhtuna Dewi juga mengkhususkan waktu malam selain mengondisikan ponselnya, demi ketenangan selama proses belajar.

Mengatur Pola Interaksi dengan Media Sosial

Godaan layar sering kali lahir dari kebiasaan, bukan kebutuhan. Misalnya membuka media sosial yang awalnya diniatkan hanya sebentar, dapat berubah menjadi waktu yang jauh lebih lama tanpa disadari. Dalam kondisi seperti ini, fokus belajar menjadi korban pertama.

Menetapkan aturan waktu khusus untuk membuka media sosial bisa menjadi solusi. Dengan cara ini, santri tetap dapat mengaksesnya, tetapi dalam batas yang terkontrol dan tidak bercampur dengan waktu belajar.

Ukhtuna Dani dari Angkatan 211 menuturkan bahwa ia pernah terjebak dalam kebiasaan tersebut. “Saya sering bilang ke diri sendiri, cuma lima menit. Tapi tahu-tahu sudah setengah jam,” ujarnya. Ia lalu berkomitmen tidak membuka media sosial sebelum sesi belajar selesai.

“Sekarang rasanya lebih tenang. Saya tidak lagi belajar sambil memikirkan notifikasi. Ada waktunya sendiri untuk membuka media sosial, jadi tidak merasa kehilangan,” ungkapnya.

Ukhtuna Nabila juga merasakan manfaat serupa. Ia menjadikan akses media sosial sebagai ‘hadiah’ setelah target belajar tercapai. “Kalau menyimak materi dan mengerjakan evaluasi sudah selesai, baru saya buka. Rasanya lebih puas, karena bukan lagi mengganggu, tapi jadi motivasi,” kata mojang Priangan ini.

Mengelola Dorongan untuk Selalu Terhubung

Tantangan lain di era digital adalah dorongan untuk selalu terhubung alias eksis online. Ketika ponsel tidak berada dalam genggaman, muncul rasa khawatir tertinggal informasi. Padahal, sebagian besar pesan dan notifikasi umumnya tidak bersifat mendesak.

Belajar membedakan antara mana prioritas utama dan bukan menjadi langkah penting dalam menjaga fokus. Tidak semua pesan harus dibalas saat itu juga, dan tidak semua informasi harus dibaca seketika itu juga.

Ukhtuna Aisyah dari Angkatan 221 mengakui bahwa ia dulu merasa gelisah jika tidak segera mengecek pesan. “Seolah-olah ada yang kurang kalau belum membuka notifikasi,” ujarnya. Namun, ia bertekad melatih diri untuk menunda membuka pesan selama sesi belajar belum selesai.

“Awalnya berat, karena sudah biasa langsung menjawab pesan atau istilahnya eksis. Kalau ponsel sudah berbunyi notifikasi, berat mau dilewatkan,” jelasnya. “Tapi setelah dicoba memilah dan benar-benar jujur, ternyata sebenarnya jarang yang darurat,” akunya. Setelah menjalankan tekad tersebut, ia merasa lebih bisa berkonsentrasi dalam belajar. “Justru belajar jadi lebih khusyuk,” imbuhnya.

Akhuna Muhammad pun menyampaikan refleksi yang hampir serupa. “Ketika saya coba matikan notifikasi selama mencatat materi HSI, saya baru sadar ternyata gangguan terbesar itu bukan sulitnya materi, tapi kebiasaan saya sendiri. Setelah fokus dijaga, materi rasanya lebih mudah dipahami dan mudah-mudahan waktu lebih berkah,” ungkap penggiat konservasi lingkungan ini.

Godaan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Godaan layar tampaknya tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan selalu hadir selama layar menyala dalam genggaman kita. Ada koneksi instan yang menggoda, ada arus informasi yang tak pernah berhenti. Memang sudah zamannya. Terkadang terasa sulit kita mengelak. Namun di tengah semua itu, sebagai penuntut ilmu, kita tetap memiliki pilihan. Membiarkan diri terseret atau melatih diri untuk lebih disiplin.

Fokus dalam belajar bukan sekadar teknik mematikan notifikasi atau menjauhkan ponsel. Ia adalah bentuk kesungguhan dalam menimba ilmu. Ketika waktu dijaga, gangguan dibatasi, dan niat diluruskan, belajar tidak lagi menjadi rutinitas ala kadarnya, melainkan bagian dari ibadah yang dijalani dengan sadar dan kesungguhan. Mudah-mudahan Allah ridha dengan upaya ini.

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memberi perhatian penuh pada ilmu adalah kekuatan tersendiri. Semoga setiap upaya kecil menjaga fokus menjadi jalan kemudahan dari Allah bagi kita, menuju keberkahan dan kemuliaan. Semoga Allah kokohkan kita senantiasa menuntut ilmu.. aamiin. Semangat selalu menuntut ilmu, teman-teman. Baarakallahu fiikum.

10