Perawi Hadits yang Berbakti
Penulis: Azhar Abi Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Terlahir dengan nama Abdusyams bin Shakhr di tengah-tengah suku Daus di daerah Yaman, ia mengalami pengembaraan panjang untuk sampai pada titik mendapatkan hidayah Islam. Dialah yang diganti namanya menjadi Abdurrahman oleh Rasulullah, dan diberi julukan (kun-yah) “Abu Hurairah” (bapak kucing-kecil). Abu Hurairah tiba di kota Madinah setelah Perang Khaibar yang terjadi pada tahun 7 H. Semenjak itu, dia selalu menyertai Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keseharian beliau, juga dalam berbagai pertempuran.
Pertemuannya dengan Nabi terhitung sangat singkat, tetapi Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tetap bisa mengejar ketertinggalannya. Semangatnya patut diacungi jempol. Kesungguhannya dalam belajar dan mengajar layak mendapat apresiasi mendalam. Kontribusi Abu Hurairah dalam menjaga syariat memang luar biasa, sampai banyak ulama kagum saat menceritakan sejarah hidupnya. Bahkan, Imam Adz-Dzahabi menyebut beliau sebagai, “Sang Imam, Faqih, Mujtahid, Al-Hafizh, sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Hurairah Al-Yamani. Pemimpin para hafizh yang kokoh.” Tak berlebihan, bahkan Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyatakan, “Abu Hurairah adalah perawi yang paling hafal terhadap hadits pada zamannya.”
Semangat dan kesungguhan beliau dalam menjaga ilmu syariat tak berhenti sampai di situ. Disebutkan pula bahwa murid Abu Hurairah yang mengambil hadits dari beliau mencapai 800 orang!
Tak mengherankan apabila di kemudian hari berbagai gelar kehormatan itu didapatkannya karena setelah taufik dan kemudahan dari Allah, beliau berusaha sekuat tenaga bermulazamah kepada Nabi, di mana pun dan kapan pun beliau berada.
Berkah Melimpah
Apabila dihitung dengan angka, waktu kebersamaan Abu Hurairah dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya sekitar 4 tahun. Namun, Abu Hurairah termasuk para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi. Banyak kalangan yang menyangsikan hadits-hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah, hingga ada yang berprasangka jelek bahwa Abu Hurairah telah berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal itu ditampik sendiri oleh Abu Hurairah semasa hidupnya.
Disebutkan oleh Adz-Dzahabi, bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abu Hurairah, “Tidakkah engkau meminta jatah harta rampasan perang ini dariku, sebagaimana yang para sahabatmu lakukan?” Abu Hurairah menjawab, “Aku hanya ingin meminta darimu (wahai Nabi) untuk mengajari diriku ilmu yang telah Allah ajarkan padamu!” Seketika itu Rasulullah meraih selendang dari punggung Abu Hurairah. "Beliau bentangkan kain itu tepat di antara kami berdua, hingga seakan aku bisa melihat semut yang berjalan di atas kain itu. Setelah itu beliau mengatakan sesuatu kepadaku. Selesai aku mendengar hadits dari beliau itu, Nabi berkata, 'Kumpulkanlah kain itu dan lipatlah!'” Sejak saat itu Abu Hurairah mengaku bahwa dia tidak pernah lupa satu huruf pun dari hadits yang dia dengar maupun ceritakan.
Di samping itu, riwayat yang dia ceritakan kepada muridnya melebihi hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat yang lebih dahulu masuk Islam karena keadaan Abu Hurairah saat itu mendukung aktivitasnya untuk mendengar lebih banyak hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Abu Hurairah menceritakan, “Ada di antara kalian yang mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi mengapa para sahabat Muhajirin dan Anshar tidak melakukan hal yang sama? (Ketahuilah) bahwa saudara-saudaraku kaum Muhajirin disibukkan oleh mencari rezeki di pasar, sedangkan saudara-saudara Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku sendiri adalah seorang miskin dari kalangan ahli shuffah.[1] Aku selalu ikut dan menyertai Rasulullah untuk mencukupi kebutuhan perutku.[2] Aku selalu hadir saat mereka tidak bisa hadir. Aku masih bisa mengingat ketika mereka semua lupa. Rasulullah pun pernah bersabda padaku, ‘Sesungguhnya tidak ada orang yang membentangkan kainnya hingga aku menyelesaikan ucapanku, lalu dia lipat lagi kainnya itu, kecuali ia akan hafal apa yang aku ucapkan.’ Lalu aku bentangkan kainku, sehingga saat Nabi menyelesaikan ucapannya, aku dekapkan kain itu ke dadaku. Setelah itu, aku sama sekali tak pernah lupa ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”
Benar-benar perjuangan yang melelahkan. Kendati demikian, Abu Hurairah akan selalu ingat masa-masa sulit ketika beliau menuntut ilmu walaupun hidup beliau telah berubah menjadi lapang dan berkecukupan. Momentum beliau pingsan tatkala tak bisa mendapatkan makanan untuk dimakan di dekat rumah ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha tak bisa terlupa begitu saja.
Suatu ketika Abu Hurairah meludah, lalu membersihkannya dengan pakaian atas beliau sambil berkata, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah (membuat) Abu Hurairah bisa membersihkan ludah dengan kain. Sungguh, aku dahulu ingat pernah jatuh pingsan antara rumah Aisyah dan mimbar Masjid Nabawi karena lapar. Lalu ada orang yang datang untuk meruqyahku (lantaran dianggap kesurupan). Aku berkata, ‘Ini bukanlah seperti yang kau kira. Aku jatuh hanya karena lapar .…’” Padahal perut beliau sudah disumpal batu dan berharap ada orang yang menawarinya untuk ke rumah mereka dan memberinya makanan. Namun, nihil, tak ada yang tahu rasa lapar yang mendera perut Abu Hurairah, hingga Rasulullah lewat dan mengetahui perubahan wajah Abu Hurairah itu, lantas beliau mengajaknya ke rumah. Susu dihidangkan untuk Abu Hurairah dan kawan-kawannya, ahli shuffah. Keberkahan terlihat lagi; susu yang tak seberapa jumlahnya cukup bagi seluruh ahli shuffah, Abu Hurairah dan Rasulullah sebagai orang yang terakhir minum.
Ketika hidup Abu Hurairah sudah lapang, beliau dikenal sebagai orang yang selalu melayani tamunya dengan baik. Mungkin saja beliau mengingat perlakuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada dirinya dan para ahli shuffah, sehingga beliau melakukan hal yang sama tatkala melihat orang-orang yang menjadi tamunya atau orang lain yang membutuhkan bantuan.
Bakti kepada Orang Tua
Ada lagi yang menarik dari sosok Abu Hurairah, yaitu perihal bakti kepada ibu. Banyak cerita seru yang merekam birrul walidain Abu Hurairah.
Kejadian pertama ialah saat Abu Hurairah dan kawan-kawan mendapatkan dua butir kurma dari pemberian Rasulullah. Nabi mengatakan, “Makanlah dua butir kurma ini lalu minumlah air setelahnya. Dua butir ini akan mencukupi kebutuhan kalian untuk hari ini.” Abu Hurairah memakan sebutir, lalu menyembunyikan yang lainnya. Hal itu terpantau oleh Rasulullah sehingga beliau bertanya, “Abu Hurairah, mengapa kamu sisihkan (tidak kamu makan)?” “Aku sisakan untuk ibuku,” jawabnya. Rasulullah yang amat paham betapa cintanya Abu Hurairah terhadap sang ibu, beliau pun mengatakan, “Makanlah keduanya! Nanti aku akan berikan lagi dua butir untuk ibumu.”
Kejadian lain yang menunjukkan betapa besar cinta dan bakti Abu Hurairah terhadap ibundanya ialah saat ia mendoakan ibunya agar mau masuk Islam. Saking tulusnya hati Abu Hurairah, ia tak rela jika kebersamaan itu hanya beliau dapatkan selama hidup di dunia. Baginya, cinta dalam pemikiran beliau haruslah langgeng, bukan sementara. Inilah mungkin yang menyebabkan ia dicintai oleh semua orang mukmin sepanjang zaman di seluruh dunia.
Abu Hurairah pernah mengisahkan, “Demi Allah, tidaklah Dia menciptakan seorang mukmin pun yang mendengar namaku, melainkan pasti orang itu akan mencintaiku.” Ada yang bertanya, “Bagaimana kau tahu hal itu?” Abu Hurairah melanjutkan, “Ibuku dahulu masih musyrik. Aku terus mendakwahinya agar masuk Islam, tetapi ia enggan. Pada suatu hari, seperti biasa, aku mengajaknya untuk masuk Islam. Akan tetapi, ia malah mengomentari Rasulullah dengan sesuatu yang aku benci mendengarnya. Aku lalu mendatangi Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku kabari beliau tentang kejadian tadi dan aku minta agar beliau mendoakan ibuku (agar masuk Islam). Rasulullah bersabda, ‘Ya Allah, berilah hidayah untuk ibunda Abu Hurairah ….’ Aku lantas berpamitan hendak memberi kabar gembira pada ibuku (mengenai doa yang Rasul panjatkan). Ketika aku sampai di depan rumah, pintu sudah terbuka. Samar-samar aku mendengar gemericik air dari dalam. Ibuku, yang menyadari keberadaanku di luar rumah, berkata, ‘Berhenti di situ!’ Ibuku lalu membuka pintu rumah. Ia sudah memakai kerudung dan baju kurung. Setelah itu, ia ucapkan dua kalimat syahadat. Tanpa berpikir lama, aku kembali ke hadapan baginda Rasul. Kali ini aku menangis karena bahagia, bukan sedih. Aku ceritakan kisah masuk Islamnya ibuku kepada beliau, lalu aku meminta sesuatu kepada Nabi, ‘Tolong, doakan kepada Allah agar Dia menjadikan diriku serta ibuku dicintai oleh hamba-Nya yang beriman.’ Rasulullah bersabda, ‘Ya Allah, jadikanlah para hamba-Mu yang beriman mencintai orang ini serta ibunya. Juga jadikanlah kedua orang ini mencintai hamba-Mu yang beriman.’”
Demikianlah, Abu Hurairah memberikan pelajaran bagi kita bahwa puncak dari bakti anak kepada orang tua ialah sewaktu anak berusaha keras agar orang tuanya turut masuk surga bersama-sama. Anak menjauhkan orang tua dari bahaya, terutama bahaya api neraka.
Tatkala Abu Hurairah mengalami sakit parah menjelang wafatnya, ada yang mendoakan beliau supaya lekas sembuh. Beliau pun memberikan klarifikasi, lalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai pertemuan dengan-Mu, maka dari itu cintai pula pertemuan-Mu denganku.” Beliau wafat pada tahun 59 H. Semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita semua di dalam surga-Nya. Amin.
Referensi:
- Siyaru A’lamin Nubala’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
Tadzkiratul Huffazh, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Lebanon (Al-Maktabah Asy-Syamilah). - Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (Al-Maktabah Asy-Syamilah).