Epistaksis (Nosebleed), Darah Hidung yang Tidak Bisa Dihentikan
dijawab oleh dr. Roni Januardi, Sp.T.H.T.B.K.L
Pertanyaan dari Fulan
Assalamu’alaikum, Dok. Kadang saya mimisan muncul tiba-tiba tanpa benturan apapun, bahkan saat santai ataupun saat tidur. Apa yang menyebabkan paling sering terjadinya kondisi seperti itu? Apakah yang menyebabkannya seperti kondisi-kondisi yang disebutkan sebelumnya atau apakah ada kondisi-kondisi yang memengaruhi saat tidur terus, Dok?
Jawaban:
Untuk mengetahui lebih jelasnya, harus dievaluasi terlebih dahulu, apakah ada inflamasi atau tidak, apakah ada gejala seperti bersin atau hidung tersumbat. Namun keluhan yang dirasakan seperti yang dikatakan, darah keluar tiba-tiba saat tidur, jika yang terjadi adalah epistaksis minor, darah tidak banyak namun sering berulang, setiap bulan atau setiap dua bulan.
Saya sarankan untuk memeriksakannya lebih lanjut pada Dokter THT dan melakukan pemeriksaan endoskopi. Jika ditemukan hasilnya tidak ada masalah, tidak ada hipertensi, tidak ada rinitis alergi dan usia pasien masih muda, namun epitaksisnya sering berulang, pasien masih terganggu dengan keluhan tersebut, bisa dilakukan laser (kaustik) pada pendarahannya atau di pembuluh darahnya.
Pertanyaan dari ART212-087101, Ummu Latifa, Denpasar (66 tahun)
Suami saya minum clopidogrel cukup lama dan saya cukup khawatir. Lalu, saya sekedar ingin berbagi pengalaman, Dokter Roni. Di rumah, kami selalu siapkan daun sirih, dan es batu. Zaman dahulu, kami sering pakai termos untuk menyimpan es batu, karena belum ada kulkas. Jadinya kami di rumah itu selalu menyiapkan es batu, Dok, dan ada daun sirih ditanam di rumah. Jadi, pada saat ada keponakan-keponakan atau keluarga kami yang mimisan, kami menggunakan daun sirih dan es batu untuk menghentikan mimisan.
Dokter Roni sebelumnya mengatakan untuk tunduk saat terjadi mimisan, tapi kami dahulu disuruh menengadah ke atas. Sebaiknya bagaimana, Dok?
Pertanyaan selanjutnya, kebetulan pada saat saya berangkat naik pesawat, ada seorang anak muda yang duduk di samping saya. Kebetulan dia berangkat sendiri dan saat itu ada darah yang mengalir dari hidungnya. Saya tanya kepada dia, kamu kenapa dan apakah kamu perlu bantuan untuk saya panggilkan pramugari untuk minta es batu atau sebagainya. Anak muda tersebut mengatakan bahwa ia memiliki riwayat leukemia, Dok. Ia katakan bahwa ia mempunyai obat untuk keluhannya saat itu. Apakah mimisan dengan leukemia ada kaitannya, Dok?
Jawaban:
Daun sirih masuk ke dalam jenis tanaman obat keluarga (toga). Daun sirih mengandung senyawa antimikroba alami yang memiliki aktivitas antibakteri. Penatalaksanaan medis untuk menghentikan pendarahan yaitu dengan menekan hidung. Apakah boleh menggunakan daun sirih saat darurat? Boleh-boleh saja, namun sebelum digunakan, sebaiknya daun sirih dicuci bersih agar terhindar dari infeksi bakteri. Walaupun dalam kaidah kedokteran, jika terjadi mimisan, sebaiknya hidung ditutup saja walau tanpa menengadah. Lebih simpel dan efektif, tanpa es batu, tanpa menyiapkan termos dan segala macam.
Selanjutnya, kita sama-sama tahu, bahwa leukimia adalah penyakit yang mengenai salah satu komponen darah atau leukosit di dalam tubuh kita. Nah, komponen leukosit yang terkena ini, berdampak terhadap komponen-komponen darah yang lain. Sementara kita tahu bahwa di dalam darah itu ada faktor pembekuan.
Nah, yang terganggu pada pasien leukemia adalah faktor pembekuannya. Faktor pembekuan itu ada beberapa dan kalau misal terganggu salah satu, Subhanallah, ya.. kalau misalnya dalam tubuh kita satu saja tidak berfungsi, darah kita tidak bisa berhenti mengalir. Maka jika kita diberi kesehatan kita senantiasa bersyukur. Banyak asatidz kita mengatakan bahwa nikmat sehat itu adalah nikmat yang kita tertipu dan kita lupa bersyukur.
Ada dua belas faktor pembekuan dalam darah kita, jika salah satunya terganggu atau tidak berfungsi maka darahnya tidak bisa berhenti. Contohnya seperti pada pasien dengan leukemia, karena produksi darahnya banyak dan faktor pembekuan ada yang terganggu, sehingga menyebabkan terjadinya perdarahan.
Pertanyaan dari Ersah Rijal (31 tahun)
Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Mohon izin, Dokter dan Ustadz, ana mau izin meminta saran second opinion. Saya umur 31 tahun, sering mimisan dari kecil tapi merasa tidak terganggu. Sejak setahun belakangan ini sedikit ada gejala baru, jika setiap terkena flu batuk, saya mulai kena anosmia dan rutin. Dua minggu lalu saya ke dokter THT, dan sudah melakukan pemeriksaan endoskopi. Dengan diagnosis deviasi septum dan hipertrofi konka. Dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan operasi pada keduanya, baik konka dan deviasi septumnya.
Untuk biaya operasi sendiri lumayan besar untuk kedua tindakan tersebut. Namun asuransi yang ditanggung oleh kantor hanya operasi untuk satu tindakan saja, yaitu hipertrofi konkanya, sedangkan deviasi septumnya tidak. Setelah diskusi bersama dokter, beliau mengatakan untuk operasi tindakan konka saja. Namun, setelah saya mencari tahu lebih lanjut, jika dilakukan hanya satu tindakan operasi saja pada konka, ternyata kurang efektif karena konkanya akan tumbuh lagi, dan kemungkinan akan operasi lagi 2-5 tahun mendatang.
Apakah saya tetap menjalankan operasi konka saja atau tidak usah operasi sama sekali, Dok? Keluhan sejauh ini yaitu mimisan walau tidak sering, biasanya karena perubahan cuaca, karena kelelahan, atau saat mengalami sakit flu dan batuk. Jazaakallahu khayran, Dok.
Jawaban:
Jika sudah terjadi keterbatasan, misalnya seperti mimisan atau hipertrofi turbin, orang itu biasanya tidurnya mendengkur kuat. Sebagai informasi, 50% penyumbang mendengkur saat tidur adalah penyakit pada hidung, kelainan hidung, bisa sinusitis, bisa septum deviasi atau hipertrofi turbin, atau sinusitis disertai dengan polip.
Kadang-kadang pasien sering bertanya kepada kami. Seorang keponakan badannya kecil, kurus, dan ceking, tetapi kok tidurnya mendengkur seperti orang dewasa. Jika ada gejala seperti itu, biasanya saat diperiksa hidungnya bermasalah.
Kalau septum deviasi biasanya tidak ada cara lain selain operasi. Jika sesuai penilaian dokter bapak tersebut, tindakan konkotomi atau turbenektomi aja sudah bisa membuat ruang udara itu masuk ke dalam hidung, tidak masalah jika septum deviasinya tidak dikerjakan.
Tetapi misalnya ditanya kepada kami, memang idealnya dikerjakan dua-duanya. Kenapa? Karena manfaatnya buat pasien, jadi dua-duanya dioperasi maka napasnya akan menjadi bagus dan seimbang.
Tapi izin, dengan pendeknya pengetahuan saya, saya juga pernah mempunyai pasien, waktu itu rencananya pasien akan ditindak operasi septoplasti dan turbinectomi atau konkotomi. Tapi setelah dilakukan turbinektomi, jadinya luas dan lapang. Akhirnya septoplastinya kami urungkan.
Ini satu pekan yang lalu, ada pasien saya, Pak. Pasien ini mengalami septum deviasi sampai menusuk konkanya, jadi kalau misalnya timbul keluhan flu atau pilek maka sakit berat di sebelah sisi yang kena tadi. Sakitnya hanya di sisi di sebelah kepala, maka yang seperti itu saya suruh potong (operasi). Semakin cepat semakin baik, kita kerjakan dua-duanya, jadi septumnya kita potong, konkanya kita potong. Maasyaa Allah itu jadi sebab sakit migrainnya hilang, biidznillah. Banyak pasien saya sampai skripsinya tidak beres bahkan sampai obat golongan morfin pun dipakai, migrainnya tidak hilang-hilang. Akhirnya setelah datang ke dokter THT, dilakukan CT scan, ketahuan ada septum deviasi.
Saran saya, bapak minta pendapat lagi dari dokter THT-nya. Kalau misal dengan turbin saja, apakah keluhan mimisannya akan berkurang atau hilang. Lalu apakah napasnya jadi bagus, terbuka, plong banget, dan tidak sempit.
Saat endoskopi kemarin, dokternya pasti melihat ada grading-nya. Jika tertutup pasti sempit, napasnya jadi tidak maksimal. Boleh bapak tanyakan lagi dengan dokter THT-nya, kalau misalnya dokter THT-nya mengatakan dengan melakukan turbinektomi saja bapak sudah mendapatkan manfaat, hidungnya bisa bernapas, insyaallah tidak mengapa, Pak. Laa ba’sa.
Tapi balik lagi ya, ideal dari saya itu dua-duanya dikerjakan, tapi disesuaikan dengan kondisi, jangan memaksakan diri. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari was-was syaitan, karena biasanya membuat kita terlalu khawatir, melakukan hal-hal yang terjerumus mungkin misalnya. Terlalu khawatir itu tidak boleh juga, Pak. Kalau dari saya pokoknya jangan terlalu dipaksakan. Konsultasi lagi sama dokternya, kalau misalnya kata dokternya dengan turbinektomi saja sudah cukup, insyaallah tidak apa-apa.