Sirah

Dua Peristiwa Historis yang Terjadi pada Bulan Ramadhan

Penulis: Azhar Rizki, Lc.

Editor: Athirah Mustadjab


Perang Badar Kubra (17 Ramadhan 2 H)

Sebulan semenjak Allah memfardhukan puasa Ramadhan pada bulan Sya’ban tahun 2H, kaum muslimin bersiap untuk sebuah peristiwa monumental yang akan mengubah wajah Islam. Kalimat tauhid dan fanatisme jahiliyah akan beradu di antara ayunan pedang.

Sebelum Perang Badar tersulut, kaum muslimin pernah mencoba menyergap kafilah dagang Quraisy yang hendak bertolak menuju Suriah. “Ini kafilah Quraisy. Ada banyak harta bersama mereka. Keluarlah! Semoga Allah berkenan menjadikannya ganimah untuk kalian,” pesan Nabi kepada para sahabatnya. Akan tetapi, misi di daerah Usyairah tersebut gagal, sehingga perjalanan kafilah Quraisy tetap mulus hingga ke negeri tujuannya.

Di Suriah, kafilah Quraisy berhasil meraih untung besar. Sebagai gambaran, harta dagangan yang dibawa oleh Abu Sufyan, salah seorang pebisnis ternama di kalangan Quraisy, ditaksir mencapai 1.000 ekor unta yang mengangkut sekitar 50.000 keping dinar emas. Saking banyaknya harta yang harus dijaga, diperlukan empat puluhan orang sebagai pengawal.

Peta Perang Badar

(Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/ wiki/Pertempuran_Badar).

Kali kedua, kaum muslimin mencoba pencegatan dalam perjalanan pulang kafilah Quraisy dari Suriah menuju Mekkah. Demi menyukseskan misinya, kaum muslimin menghimpun.

tiga ratusan orang dengan senjata ala kadarnya, dua ekor kuda, dan tujuh puluhan unta yang ditunggangi secara bergantian. Pada asalnya, penyergapan itu mereka tujukan untuk merampas harta kafilah Quraisy, bukan untuk berperang. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil para sahabatnya, “Siapa saja yang hadir di sini, hendaklah ia ikut bersama kita.” Kendati demikian, ada sahabat yang meminta izin untuk memanggil kawan-kawannya yang tinggal di bagian atas Madinah, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

***

Lembah Badar, yang berjarak 150 kilometer dari Madinah, adalah titik yang diwaspadai oleh Abu Sufyan. Di tengah perjalanan pulang, dia mengutus seseorang untuk memberitahu para pembesar Quraisy di Makkah agar mengirim bala bantuan guna menjaga harta dagangan yang dibawa. Segera saja Abu Jahal dan kawan-kawannya berangkat bersama 1.300-an orang menuju Lembah Badar. Jika pun ada yang tak bisa ikut serta, mereka akan mengirim orang lain sebagai gantinya.

Persiapan sedemikian matang, tetapi sampai detik terakhir, keadaan masih aman. Karenanya, Abu Sufyan memutuskan untuk mengabari rombongan dari Mekkah agar berbalik pulang saja. Akan tetapi, hati Abu Jahal dan kawanannya kadung diliputi kepongahan. Mereka memutuskan untuk terus maju hingga ke Lembah Badar.

Berbeda pula dengan Bani Zuhrah dan Bani Adi yang memilih undur diri karena tujuan menyelamatkan kafilah sudah tercapai. Mengetahui itu, Abu Jahal berang. Bahkan, amarahnya memuncak tatkala mengetahui Bani Hasyim juga ingin ikut bersama orang-orang yang akan kembali. “Jangan ada yang berpisah sampai kita kembali ke Mekkah!” hardiknya.

***

Rencana Abu Jahal sampai ke telinga Nabi. Dilema pun menghinggapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akankah kaum muslimin berhadapan dengan 1.000 pasukan Mekkah dalam perang tanpa persiapan? Ataukah mereka sebaiknya kembali ke Madinah dan membiarkan pasukan Abu Jahal bersorak-sorai di Badar? Jika Nabi mengambil pilihan pertama, nyatanya peralatan mereka tak cukup untuk siap tempur. Jika yang diambil adalah pilihan kedua, tak ada jaminan bahwa pasukan Abu Jahal akan langsung pulang ke Mekkah, tanpa menimbulkan kekacauan di kota Madinah.

***

Pada saat genting itulah, Allah perlihatkan janji dan pertolongan-Nya kepada Nabi. Abu Bakar, Umar, Al-Miqdad, dan seluruh kaum Muhajirin serempak memilih maju melawan Quraisy tanpa ragu. Gembiralah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kekompakan dan keberanian mereka. Hanya saja, tersisa satu hal yang mengganjal: Setengah dari jumlah pasukan kaum muslimin adalah orang-orang Anshar. Pada Perjanjian ‘Aqabah dahulu mereka semata berjanji untuk menjaga Nabi di dalam kota Madinah, tetapi sekarang mereka akan ikut bertaruh nyawa bersama Al-Musthafa di Lembah Badar.

Sa’d bin Mu’adz, salah satu pemimpin Anshar menepis keraguan Nabi, “Wahai Rasulullah, Anda ingin mendengar pendapat kami? Sepertinya Anda mengira kaum Anshar tak akan mau membela kecuali di kampung halaman mereka. Ketahuilah, aku sekarang berbicara atas nama mereka. Silakan pergi ke mana pun engkau mau. Sambunglah atau putuskan hubungan dengan siapa pun sekehendakmu. Ambil harta kami atau tinggalkanlah semaumu, sedangkan yang engkau ambil itu lebih kami sukai dibanding yang engkau biarkan. Apa saja yang diperintahkan kepadamu, maka kami akan selalu ikut serta. Demi Allah, andai engkau diperintah berjalan hingga Bark Ghamdan, niscaya kami akan ikut. Andai engkau diperintah menyelami lautan, pasti kami akan bersamamu menyelaminya.”

Allahu Akbar! Hati mana yang tak bergemuruh mendengar kalimat seperti itu. Hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun lega. Inilah yang diperlukan oleh beliau untuk menjemput janji kemenangan dari Allah. Yaitu kekuatan iman untuk menambal kelemahan di sektor materi dan peralatan. Nabi memperkokoh jiwa pasukannya dengan kalimat penutup, “Berjalanlah kalian dan bergembiralah! Sesungguhnya Allah telah berjanji memberikan salah satu dari dua kelompok itu. Sungguh aku telah bisa melihat tempat terbunuhnya mereka (besok).”

***

Ada satu hal yang dimiliki oleh pasukan muslimin, tetapi tidak dimiliki oleh pasukan kafirin. Ialah sebab-sebab syar’i yang ‘kan sanggup melampaui sebab-sebab kauni: beriman kepada Allah, merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan-Nya, serta memohon pertolongan dan belas kasih-Nya.

Terlebih lagi, pasukan muslimin direkatkan oleh ukhuwah keimanan. Tak seperti kaum kafirin yang mengikat hubungannya dengan kepentingan duniawi yang sangat rapuh. Sa’d bin Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami membuatkan tenda kecil untukmu dan menyiapkan kendaraan di belakang? Setelah itu barulah kita hadapi musuh. Jika Allah memenangkan kita, itulah yang kita inginkan. Namun, jika keadaan berbalik, engkau bisa duduk mengendarai untamu dan kembali ke Madinah. Sungguh, mereka yang tak ikut itu tidak kurang cintanya padamu dibandingkan kami. Seandainya mereka tahu bakal ada peperangan, niscaya mereka akan ikut serta untuk dijadikan oleh Allah sebagai pelindungmu, membantu dan berjihad bersamamu.” Pasukan memikirkan panglimanya, dan Sang Panglima pun memikirkan nasib pasukannya.

Semalam sebelum peperangan terjadi, para sahabat tidur sangat nyenyak dengan diselimuti keamanan dan keimanan terhadap janji Allah. Namun, tidak bagi Nabi. Sepanjang malam beliau habiskan untuk bermunajat kepada-Nya agar Dia berkenan menurunkan pertolongan dan kemenangan. Ali bin Abi Thalib mengisahkan, “Tak ada satu pun dari kami kecuali tertidur. Hanya Rasulullah yang terus shalat di bawah pohon hingga fajar tiba.”

Selama peperangan terjadi, tak henti-hentinya Nabi berdoa kepada Rabbnya, “Ya Allah, berikanlah padaku apa yang telah Engkau janjikan. Ya Allah, sungguh aku benar-benar memohon janji-Mu.”

Demikian pula tatkala peperangan semakin memanas, beliau shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam tenda kecil lalu menengadahkan tangan ke langit seraya mengetuk pintu ijabah dari Yang Maha Kuasa, “Ya Allah, andai Engkau binasakan sekelompok kecil pasukan (kami) ini, niscaya Engkau tidak akan diibadahi lagi di bumi.” Demikian salah satu bunyi doa baginda Nabi. Tak terasa selendang Nabi terjatuh karena tingginya beliau mengangkat tangannya. Abu Bakar yang ada di sana menaruh iba. Hatinya berkecamuk. “Cukup, wahai Rasulullah! Anda telah ‘mendesak’ Allah (dengan doa),” pinta Abu Bakar.

Setelah itu, janji Allah mulai tampak. Kemudahan berangsur-angsur datang setelah badai kesulitan. Malaikat turun, kaum muslimin berperang tanpa takut dan kaum Quraisy tumbang dihantam ketakutan.

Kemasyhuran peristiwa ini tak perlu dipertanyakan lagi. Siapa saja yang membuka lembaran Sirah Nabawiyah, tentu dapat menemukannya dengan mudah. Seluruh kaum muslimin yang turut serta di dalamnya mendapat jaminan Allah berupa surga dan pengampunan. Bahkan, seandainya mereka berbuat salah dan berdosa, pasti mereka akan dimudahkan jalannya oleh Allah Ta’ala untuk menuju taubat nasuha.

Lihatlah, pengorbanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kasih sayang beliau terhadap kita! Beliau rela berada di barisan terdepan Perang Badar Kubra agar Islam tetap ada dan dinikmati oleh umat manusia setelah masa beliau. Dengannya, teranglah jalan manusia karena mereka bisa mengenal Allah, beriman kepada-Nya, serta menjalankan syariat-Nya, hingga akhirnya bisa memasuki surga. Inilah warisan yang diperjuangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama generasi pertama umat ini dengan sepenuh jiwa dan raga, dengan darah dan air mata.

Dari kisah Perang Badar pula kita menarik pelajaran bahwa untuk menjemput janji Allah dibutuhkan keteguhan iman dan kesabaran jiwa. Tak ada penyesalan atau saling menyalahkan tatkala keadaan yang sulit dan penuh keterbatasan sewaktu ujian berdatangan.

***

Fathu Makkah (20 Ramadhan 8 H)

Penaklukan Makkah menjadi salah satu pelengkap kolase kehidupan Rasulullah. Ia juga merupakan pertanda akan dekatnya akhir hidup sang Baginda. Tatkala semua orang berbahagia dengan kemenangan yang dicapai dan banyaknya manusia yang menerima Islam dengan sukarela, hanya sedikit yang mengerti bahwa di balik peristiwa indah itu tersirat pesan mendalam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan segera pergi untuk selamanya.

Lagi-lagi alur takdir membawa kaum muslimin menuju jalan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun dalam posisi tertekan dan sulit, titik balik terjadi saat Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani. Makar kaum kafir berbalik menjadi berkah bagi kaum muslimin. Berbekal salah satu isi perjanjian, yang menyebutkan bahwa kaum muslimin bebas mendakwahkan Islam, banyak manusia yang akhirnya tercerahkan.

Tak sampai di situ. Allah ingin melipatgandakan nikmat bagi kaum muslimin. Melalui pembatalan perjanjian oleh Quraisy, yang membantu Bani Bakar sewaktu menyerang Bani Khuza’ah (sekutu Nabi), Allah mengembalikan kota Makkah ke pangkuan kaum muslimin dan memulihkan fungsinya seperti semula yaitu sebagai kiblat yang disucikan oleh kaum muslimi sedunia

Saat Abu Sufyan merasa tak aman dari pengkhianatan yang dilakukan oleh Quraisy, ia bergegas menuju Madinah guna memperbarui akad perjanjian dan melakukan klarifikasi. Nahas, ia didahului oleh Budail bin Warqa’ dari Bani Khuza’ah.

Bertambah kecurigaan Abu Sufyan saat tiba di Madinah. Ia jumpai keadaan kota sangat tenang. Abu Sufyan menunggu Rasulullah di rumah Ummu Habibah, putrinya yang telah dinikahi oleh Nabi sewaktu masa hijrah di Habasyah. Alih-alih menawarkan bantuan atau simpati, Ummu Habibah justru menunjukkan sikap tegas kepada ayahnya. Bukan lantaran durhaka, tetapi posisinya kali itu adalah sebagai istri Nabi dan salah satu kaum muslimin yang tak menyetujui aksi keji kaum kafir.

Sewaktu Abu Sufyan hendak duduk, Ummu Habibah dengan sigap mengambil tikar milik Rasulullah seraya berkata, “Anda adalah seorang musyrik yang najis, sedangkan ini adalah tikar Rasulullah!” Ketika Nabi tiba, Abu Sufyan mencoba bicara dengan Rasulullah, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tak merespon. Demikian pula Abu Bakar, Umar, Ali, dan Fatimah yang juga berada di tempat itu.

Abu Sufyan kembali dengan tangan hampa. Dunia serasa kelam di pelupuk matanya. Ia hanya bisa berkata kepada para pembesar Quraisy bahwa mereka tinggal menunggu waktu penyerangan oleh kaum muslimin.

Di sisi lain, Rasulullah memang sengaja merahasiakan niatan beliau untuk menaklukkan Makkah. Madinah saat itu benar-benar tenang. Hanya ada beberapa sahabat yang tahu perihal keinginan Nabi tersebut. Termasuk di antaranya ialah Hathib bin Abi Balta’ah. Seorang sahabat Muhajirin sekaligus alumni Perang Badar.

Mendengar niatan Nabi yang ingin menaklukkan Makkah, Hathib berencana untuk memberitahu Quraisy tentang rencana itu. Hanya saja ulah Hathib terbongkar melalui wahyu Allah. Setelah memegang bukti, Rasulullah memanggil Hathib untuk menginterogasinya, “Apa alasanmu melakukan ini, wahai Hathib?”

Hathib menjelaskan, “Jangan terburu-buru menghukumiku, wahai Nabi. Demi Allah, aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku juga tak berpikiran untuk murtad atau pindah agama. Akan tetapi, aku hanyalah orang yang hidup menumpang pada kaum Quraisy. Aku tidak memiliki orang yang bisa menjaga keluarga dan anakku di sana. Berbeda denganmu yang masih memiliki keluarga (yang dapat engkau andalkan) di tengah mareka. Siapa tahu dengan perbuatanku itu, aku bisa memiliki jasa atas Quraisy sehingga mereka akan menjaga kerabatku.”

Umar bin Khatthab naik pitam, “Wahai Rasulullah, biar aku penggal kepalanya! Sungguh, dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Dia telah menjadi munafik!” sergahnya pada Nabi dengan penuh emosi.

Rasulullah segera mengingatkan Umar yang telah terbakar amarah, “Hathib ikut serta dalam Perang Badar. Tahu apa dirimu, wahai Umar! Allah telah melihat hati orang-orang yang ikut dalam Perang Badar, lantas Dia berkata kepada mereka, ‘Berbuatlah sekehendakmu! Sungguh Aku telah mengampuni kalian.’” Seketika itu juga, mata Umar meleleh, lalu dia berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

***

Persiapan menuju Makkah relatif tak menemui hambatan berarti, selain surat dari Hathib yang hampir lolos. Rasulullah, dalam ekspansi ini, membawa serta 10.000-an pasukan dari beragam kabilah yang telah memeluk Islam.

Mendekati kota Makkah, Abu Sufyan menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di perkemahan. Setelah perdebatan alot dengan Nabi, dirinya menerima Islam sebagai agama. Bagaimana pun setiap pemimpin memiliki egonya sendiri, tetapi ia memaksa egonya untuk tunduk di hadapan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ketika Rasulullah memasuki Makkah, potret pemimpin sejati semakin tampak. Beliau memasuki kota dengan penuh ketawadhuan. Wajah beliau menunduk, menyiratkan bahwa kemenangan ini hanya lantaran kemudahan yang Allah berikan. Setelah itu, beliau memasuki Masjidil Haram dan mengusap Hajar Aswad, lalu beliau melakukan thawaf. Ketika dhuha, Nabi masuk ke rumah Ummu Hani’ dan melakukan shalat delapan rakaat di sana. Itulah shalat kemenangan yang secara turun-temurun dilakukan oleh para pemimpin Islam tatkala mendapatkan kemenangan.

***

Dari Perang Badar Kubra dan Fathu Makkah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita hanyalah hamba. Itu artinya, jangan sampai kita keluar dari status kita sebagai makhluk yang menghamba kepada Allah Ta’ala dan mengharap ridha-Nya.

Apabila kita berada di posisi yang sulit, senjata utama kita adalah kesabaran dan keyakinan. Kita yakin bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang berbuat baik. Pasti Allah akan menolongnya.

Ketika kita berada pada posisi yang lapang mendapatkan kenikmatan, jangan sampai kita meninggi dan lalai. Sejatinya, bukan kita yang hebat, tetapi Allah yang memudahkan semua. Kesulitan tak boleh membuat kita berputus asa dari rahmat-Nya, sebagaimana kenikmatan dan kelonggaran tak semestinya membuat kita pongah dan lupa. Dari kisah historis Perang Badar kita menyaksikan pentingnya kesabaran, sedangkan dari kisah Fathu Makkah kita melihat arti ketawaduan.

Referensi:

  1. Ar-Rahiq Al-Makhtum, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Mesir.
  2. Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairi Al-‘Ibad, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon.
  3. Mukhtashar As-Sirah An-Nabawiyyah, Dr. Akram Kassab, tanpa nama penerbit.
  4. Fiqhu As-Sirah, Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid, Dar At-Tadmuriyyah, Arab Saudi.
  5. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Abu al-Fida’ Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  6. Maqashid Surah Ash-Shaff, Dr. Abdul Malik Ramadhani Al-Jaza’iri, tanpa nama penerbit.
  7. Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Dar Al-‘Aqidah, Mesir.
0