Doa
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Doa Memohon Husnul Khatimah dan Keselamatan di Akhirat

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.


رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ •رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.’”

(QS. Ali Imran 193-194)

MAKNA LAFAL[1]

(رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ)

  • Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru yang menyeru kepada iman.” Maksudnya, seseorang yang mengajak kepada keimanan, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا)

  • “Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian, maka kami pun beriman.” Maksudnya, ia mengatakan, “Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian,” maka kami pun beriman. Yakni, kami memenuhi seruannya dan mengikutinya.

(رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا)

  • “Ya Tuhan kami, maka ampunilah dosa-dosa kami.” Maksudnya, dengan keimanan kami dan dengan mengikuti nabi-Mu, maka ampunilah dosa-dosa kami. Yaitu, tutupilah dosa-dosa tersebut.

(وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا)

  • “Dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami.” Maksudnya, kesalahan-kesalahan yang terjadi antara kami dan Engkau.

(وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ)

  • “Dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.” Maksudnya, gabungkanlah kami dengan orang-orang yang shalih.
  • “Al-abrar” (الأبرار) merupakan bentuk jamak dari kata “barr” (بَرّ). Adapun al-barr berarti orang yang banyak melakukan kebaikan (lihat maknanya di surah At-Thur: 28). Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang berada di atas kebenaran dan mengerjakan amal-amal shalih adalah orang-orang yang banyak melakukan berbagai kebaikan. Oleh karena itu, mereka disebut al-abrar (orang-orang yang banyak berbuat kebaikan).[2]

(رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ)

  • “Ya Tuhan kami, dan berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui para rasul-Mu.”
  • Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah: “Apa yang telah Engkau janjikan kepada kami karena keimanan kepada para rasul-Mu.”
  • Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah: “Apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui lisan para rasul-Mu.” Pendapat ini lebih jelas (lebih kuat).

(وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ)

  • “Dan janganlah Engkau menghinakan kami pada hari Kiamat.” Maksudnya, janganlah Engkau mempermalukan atau menghinakan kami di hadapan seluruh makhluk.

(إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ)

  • “Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji.” Maksudnya, janji yang telah Engkau kabarkan kepada para rasul-Mu pasti akan terjadi. Yaitu, berdirinya manusia pada hari Kiamat di hadapan-Mu.

ULASAN DOA[3]

  1. Seseorang hendaknya mengakui nikmat Allah yang diberikan kepadanya, tanpa merasa berjasa kepada Rabb-nya atas nikmat tersebut. Hal ini berdasarkan ucapan mereka:
  2. Dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dakwah menuju keimanan.
  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerahkan segala upaya dalam mengajak manusia kepada kebenaran. Nida’ (seruan) dilakukan dengan mengeraskan suara. Seakan-akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia dengan suara yang paling keras, mengajak mereka untuk beriman.
  4. Terkadang suatu perkataan dapat mencakup seluruh perinciannya melalui kandungannya, sehingga tidak perlu disebutkan satu per satu. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang Allah kabarkan, lalu kami membenarkan dan mengakuinya, termasuk dalam keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  5. Ayat ini menunjukkan isyarat tentang alasan seseorang harus beriman, sebab Ar-Rabb adalah Zat yang memang layak diimani oleh manusia. Dia adalah Rabb yang menciptakan, memiliki, dan mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, Dia layak untuk diimani oleh seorang hamba.
  6. Menyebutkan amal shalih yang telah dilakukan seseorang tidak membatalkan atau menghapus pahala amal tersebut. Misalnya, seseorang berkata, “Rabb-ku memerintahkanku untuk mendirikan salat, maka aku pun salat; Dia memerintahkanku untuk menunaikan zakat, maka aku pun menunaikan zakat; atau memerintahkanku untuk berhaji, maka aku pun berhaji.” Hal ini tidak membatalkan amal tersebut.
  7. Bolehnya bertawassul dalam doa dengan amal-amal shalih.
  8. Orang yang berdoa hendaknya memperbanyak pujian kepada Allah Ta‘ala dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena hal ini termasuk salah satu sarana agar doa dikabulkan.
  9. Orang-orang yang disebutkan di ayat tersebut memiliki keimanan yang sempurna terhadap janji Allah karena seandainya mereka ragu terhadap janji Allah, tentu mereka tidak akan memanjatkan doa yang lafalnya disebutkan di ayat itu.
  10. Para rasul merupakan perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa para rasul merupakan perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Di antara hikmah Allah adalah menjadikan para rasul dari kalangan manusia, karena tidak mungkin terjadi keselarasan antara para rasul dan manusia jika mereka bukan dari jenis yang sama.
  11. Oleh karena itu, Allah Ta‘ala berfirman sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang berkata, “Seandainya Muhammad adalah seorang malaikat, niscaya kami akan beriman kepadanya.” Allah سبحانه وتعالى berfirman:
  12. Penetapan bahwa Allah mengutus lebih dari satu rasul kepada manusia. Kata rusul (رُسُل) merupakan bentuk jamak dari rasul.
  13. Orang-orang yang berbakti ini beriman kepada hari Kiamat dan kepada kehinaan serta kerendahan yang akan menimpa manusia pada hari tersebut.
  14. Rasa takut terhadap azab Allah tidak bertentangan dengan sifat kebajikan dan keshalihan. Bahkan, rasa takut terhadap azab Allah justru menambah kebajikan dan kesalehan, karena rasa takut tersebut semakin menguatkan pembenaran terhadap apa yang telah Allah kabarkan.
  15. Kesempurnaan kejujuran dan kekuasaan Allah.
  16. Allah Ta‘ala tidak pernah mengingkari janji-Nya sama sekali. Kendati demikian, Allah ‘Azza wa Jalla juga telah mengancam orang-orang yang bermaksiat dengan hukuman yang sesuai dengan dosa-dosa mereka.

Referensi:

  • Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, Imam Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Al-‘Utsaimin li ‘Ali Imran, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.


8