Doa di Tengah Fitnah
Memohon Ampunan, Keteguhan, dan Kemenangan
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
ุฑูุจููููุง ูฑุบูููุฑู ููููุง ุฐููููุจูููุง ููุฅูุณูุฑูุงููููุง ูููู ุฃูู ูุฑูููุง ููุซูุจููุชู ุฃูููุฏูุงู ูููุง ูููฑูุตูุฑูููุง ุนูููู ูฑููููููู ู ูฑูููููฐููุฑูููู
โWahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami serta tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.โ
(QS. Ali Imran: 147)
MAKNA LAFAL
(ุฑูุจููููุง ูฑุบูููุฑู ููููุง ุฐููููุจูููุง)
- Maksudnya, dosa-dosa kecil.[1]
- Maknanya adalah: tutupilah dan maafkanlah. Kata ighfir berasal dari al-mighfar, yaitu pelindung kepala yang dipakai prajurit untuk melindungi dirinya dari anak panah. Di dalam makna maghfirah terdapat dua unsur: menutupi dosa dan melindungi dari akibat dosa tersebut. Oleh sebab itu, jika Allah hanya menutupi dosa seorang hamba tetapi tidak memaafkannya, maka itu belum merupakan ampunan yang sempurna. Sebaliknya, jika Allah menghukumnya tetapi menyembunyikan dosanya dari manusia, itu juga belum merupakan ampunan yang sempurna. Ampunan yang sempurna adalah ketika Allah menutupi dosanya sekaligus memaafkannya.[2]
(ููุฅูุณูุฑูุงููููุง ูููู ุฃูู ูุฑูููุง)
- Maksudnya, dosa-dosa besar.[3]
- Israf berarti melampaui batas. Melampaui batas bisa terjadi dalam dua bentuk: berlebihan (ghuluw) atau meremehkan atau mengurangi kewajiban (taqshir). Jika seseorang melakukan yang haram, maka ia telah melampaui batas penghambaan kepada Allah, karena seorang hamba seharusnya menjauhi apa yang Allah haramkan. Jika seseorang meninggalkan kewajiban, ia juga termasuk melampaui batas, karena konsekuensi penghambaan adalah menunaikan kewajiban tersebut. Dengan demikian, seseorang dapat melakukan israf dalam: kewajiban, perkara haram, bahkan perkara mubah.[4]
(ููุซูุจููุชู ุฃูููุฏูุงู ูููุง)
- Maksudnya, teguhkanlah pendirian kami agar kami tidak tergelincir.[5]
- Maksudnya, teguhkan kami saat menghadapi musuh, tatkala menghadapi syubhat, dan ketika menghadapi syahwat. Manusia sangat membutuhkan keteguhan dari Allah. Dalam peperangan, jika Allah tidak meneguhkannya, ia akan lari. Dalam menghadapi syubhat, jika Allah tidak meneguhkannya, ia akan menyimpang. Dalam menghadapi syahwat, jika Allah tidak meneguhkannya, ia akan binasa. Banyak orang memiliki keyakinan yang kuat, tetapi ketika syubhat kecil datang, mereka terpengaruh karena tidak diberi keteguhan. Ada pula yang memiliki ilmu dan keyakinan, tetapi syahwat mengalahkannya sehingga ia tidak mampu bertahan. Oleh karenanya, permohonan agar Allah meneguhkan langkah mencakup setiap keadaan yang berpotensi membuat seseorang tergelincir: dalam peperangan, menghadapi syubhat, maupun menghadapi syahwat.[6]
(ูููฑูุตูุฑูููุง ุนูููู ูฑููููููู ู ูฑูููููฐููุฑูููู)
- Maksudnya: Jadikan kemenangan berada di pihak kami. Nashr berarti kemenangan dan keunggulan. Yang dimaksud dengan kaum kafir adalah orang-orang yang kafir kepada Allah. Termasuk dalam makna doa ini adalah memohon agar Allah menolong seseorang untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Alasannya, jika Allah tidak menolongnya menghadapi nafsunya, maka nafsu itu akan memerintahkannya kepada keburukan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah di Surah Yusuf ayat 53.[7]
ULASAN DOA[8]
- Orang-orang shalih berperang bersama para nabi telah menyempurnakan sisi perbuatan dan ucapan mereka. Dari sisi perbuatan, mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak pula menyerah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 146. Adapun dari sisi ucapan, mereka berlindung kepada Allah dengan memohon ampunan atas dosa-dosa dan sikap berlebih-lebihan mereka karena mereka mengetahui bahwa musibah yang menimpa mereka terjadi akibat dosa-dosa.
- Dianjurkan bagi seseorang untuk berdoa kepada Allah dengan doa yang disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 147 ini, terutama ketika menghadapi orang-orang kafir agar memperoleh kemenangan atas mereka.
- Manusia sangat membutuhkan ampunan Allah.
- Manusia tidak akan terlepas dari sikap berlebih-lebihan (isrฤf) terhadap dirinya, baik dalam bentuk berlebihan maupun meremehkan.
- Manusia sangat membutuhkan keteguhan dari Allah.
Ketika seseorang memohon sesuatu kepada Allah, ia juga dituntut untuk berusaha mewujudkannya. Misalnya, jika seseorang memohon surga kepada Allah, maka ia harus beramal untuk mendapatkannya. Tidak cukup hanya berkata, โYa Allah, aku memohon surga kepada-Mu,โ lalu meninggalkan amal. Demikian pula, jika kita memohon kepada Allah agar memenangkan kita atas kaum kafir, maka kita wajib melakukan sebab-sebab yang mampu kita lakukan, baik sebab-sebab yang bersifat maknawi (spiritual) maupun materiil.
Referensi:
- Tafsir Al-Baghawi, Imam Al-Baghawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Al-โUtsaimin, Muhammad bin Shalih Al-โUtsaimin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.