Doa Berlindung dari Hawa Nafsu yang Tercela
Penulis: Fadhila Khasana
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ منْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ، وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemungkaran akhlak, amalan-amalan, hawa nafsu dan penyakit-penyakit.”
Makna Lafal[1]
المُنٌكَرَاتُ adalah bentuk jamak dari المُنٌكَرَةُ yang berarti kemungkaran. Al-mungkar artinya segala sesuatu yang diketahui keburukannya dari sisi syariat.
Ar-Raghib berkata, “Kemungkaran adalah lawan dari kebaikan. Ia berarti segala sesuatu yang disepakati keburukannya dan dianggap baik oleh akal manusia, akan tetapi dianggap buruk oleh syariat."
Kemungkaran terbagi dalam beberapa jenis:
- Kemungkaran yang terkait dengan akhlak, yaitu hal-hal yang diingkari dari amalan-amalan batin seperti hasad, dendam, sombong dan yang semisalnya.
- Kemungkaran yang terkait dengan dosa-dosa besar, seperti zina, membunuh, meminum khamar, mencuri, dan semisalnya.
- Kemungkaran yang terkait dengan hawa nafsu, yaitu kecondongan seseorang terhadap kesesatan dan tenggelamnya seseorang di dalam maksiat. Hawa nafsu yang buruk bisa melalaikan seseorang dari ketaatan kepada Allah dan membuat manusia menuju kepada kesombongan.
- Kemungkaran yang terkait dengan penyakit, seperti penyakit kusta, lepra, dan lain-lain.
Ulasan Doa
- Doa ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat beliau, bukan karena beliau terjatuh pada kemungkaran. Namun, agar umat beliau berbekal dengan doa ini agar terhindar dari berbagai macam kemungkaran.[2]
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan dari kemungkaran yang terkait dengan akhlak, amalan, hawa nafsu dan penyakit-penyakit karena semua hal ini tidak bisa luput dari manusia siang dan malam.[3]
- Doa ini berisi permintaan perlindungan kepada Allah dari akhlak yang buruk, yang diingkari oleh hamba-hamba Allah yang lain, misalnya iri dengki, kesombongan, kebakhilan, dan sifat pengecut. Selai itu, doa ini juga mencakup perlindungan dari lisan yang buruk, misalnya mencela dan memfitnah. Seorang Muslim dianjurkan untuk meminta perlindungan dari berbagai kelakuan yang buruk sebab buruknya akhlak bisa menyeret seseorang kepada semua keburukan. [4]
Referensi
- Mashabihut Tanwir ‘Ala Shahihi Jami’ish Shaghir, Abu Ahmad Mu’taz Ahmad.
- https://dorar.net/hadith/sharh/70495
- Syarhud Du’a` minal Kitabi was sunnah, Mahir bin Abdul Hamid bin Muqaddam.
Lanjut baca? 0%