Doa
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Doa Ampunan untuk Diri Sendiri, Orang Tua, dan Kaum Mukminin


Penulis: Fadhila Khasana

Editor: Athirah Mustadjab


LAFAL DOA

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, dan dosa-dosa kaum mukminin pada hari ditegakkannya hisab.” (QS. Ibrahim: 41)

MAKNA LAFAL

(رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ)

Maknanya: Ya Allah, ampunilah aku dan dosa-dosaku yang telah berlalu, serta dosa-dosa kedua orang tuaku dan dosa-dosa kaum mukminin.[1]

(يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ)

Yaitu pada hari ditegakkannya hisab untuk seluruh makhluk.[2]

ULASAN DOA:

Doa ini adalah doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau belum mengetahui bahwa memintakan ampunan kepada Allah untuk orang tua yang kafir adalah perkara yang diharamkan.[3]

Pada awal kedatangan Islam, orang-orang muslim mendoakan orang tua mereka yang kafir karena mencontoh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun, Allah menurunkan ayat yang melarang beliau mendoakan ayahnya. Oleh sebab itu, beliau tidak lagi meneruskan perbuatannya.[4]

Doa ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah mengabulkan doa-doa beliau, kecuali doa ampunan untuk ayahnya. Ketika ayahnya terang-terangan menjadi musuh Allah, beliau pun berlepas diri dari ayahnya.[5]

Mendoakan muslim yang lain dalam keadaan muslim lain tersebut tidak tahu bahwa dirinya didoakan adalah termasuk sunnah para Nabi ‘alaihimussalam.[6]

Di Al-Qur’an surah Muhammad ayat 19 terdapat perintah dari Allah untuk mendoakan diri sendiri dan kaum mukimin (فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ) – senada dengan isi doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di atas.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang lafaz doa yang bersifat umum, misalnya “Ya Allah, ampunilah kaum muslimin”. Ada yang berpandangan bahwa doa ampunan yang bersifat umum adalah sesuatu yang mustahil karena orang yang melakukan dosa besar mungkin akan masuk neraka, sedangkan masuk neraka bertentangan dengan ampunan. Kendati demikian, ulama lain membantah pendapat tersebut, dengan berargumentasi bahwa yang bertentangan dengan ampunan adalah kekekalan (selamanya) di neraka. Adapun jika seseorang dikeluarkan dari neraka melalui syafaat atau karena Allah memaafkannya, maka itu tetap termasuk dalam kategori ampunan secara umum.[7]

Pendapat yang menyalahkan doa umum semacam itu juga dibantah dengan dalil dari doa Nabi Nuh ‘alaihissalam di surah Nuh ayat 28, “Wahai Rabbku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang memasuki rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan,” serta doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang disebutkan di surah Ibrahim ayat 41. Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan” (QS. Muhammad: 19). Kesimpulannya, permintaan (dalam doa) dengan lafaz yang bersifat umum tidak berarti harus mencakup setiap individu satu per satu secara spesifik (dengan penunjukan).[8]

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Tafsirusy Syaikh Al-Maraghi, Syaikh Al-Maraghi.
  • Tafsirul Qur’anil Azhim Al-Manshub lil Imam Ath-Thabrani, Ath Thabrani.
  • Tafsirul Qur’anil Azhim, Ibnu Katsir.
  • Taisir Karimir Rahman, Abdurrahman As-Sa’di.
  • Syarh Riyadhush Shalihin, Syaikh Al-Utsaimin.
  • Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani.
200