Doa

Doa Agar tidak Termasuk dalam Kelompok Orang-Orang Bodoh

Penulis: Fadhila Khasana

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc,. M.A.


أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang bodoh.”

(Q.S Al-Baqarah: 67)


Makna Lafal

الْجَاهِلِينَ

  • Al-jahlu bermakna: tidak punya ilmu, berkeyakinan tentang sesuatu yang menyelisihi aslinya, dan mengerjakan sesuatu tidak pada tempatnya. [1]
  • Ada pula yang mengatakan bahwa al-jahil bermakna orang yang berkata atau berbuat sesuatu yang tidak pantas. [2]
  • Dalam artian lain, al-jahil yaitu orang yang mengucapkan perkataan yang tidak ada faedahnya dan dia mengolok-olok orang lain. [3]

Ulasan Doa

  1. Doa Nabi Musa ‘alaihissalam

    Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam saat beliau memberitahu Bani Israil, bahwa mereka diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih sapi betina yang akan digunakan untuk mengetahui siapa pembunuh seorang lelaki yang banyak hartanya lagi mandul yang jasadnya diletakkan di depan rumah seseorang.

    Ketika masyarakat mengetahui ada jasad di depan rumah orang tersebut, mereka menuduh dialah pembunuhnya. Namun, orang itu mengelak tuduhan itu dan terjadilah pertikaian di antara mereka. Lalu, salah seorang di antara mereka mengusulkan agar mereka menemui Nabi Musa ‘alaihissalam untuk memecahkan persoalan ini.

    Nabi Musa 'alaihissalam mendapatkan wahyu yang memerintahkan agar Bani Israil menyembelih sapi betina. Mereka menganggap Nabi Musa mengolok-olok mereka karena mereka merasa jawaban beliau tidak ada kaitannya dengan apa yang mereka tanyakan. Di situlah beliau memohon agar Allah melindunginya agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang bodoh. [4]

    Nabi Musa memohon perlindungan kepada Allah agar tidak termasuk dalam golongan orang bodoh karena menjawab pertanyaan dengan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan tersebut dan dimaksudkan untuk mencela itu termasuk kebodohan. Seorang Nabi tidak mungkin melakukan hal demikian. [5]

  2. Allah memerintahkan Nabi Nuh 'alaihissalam agar tidak meminta sesuatu tanpa ilmu karena hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh. Saat itu, Nabi Nuh 'alaihissalam meminta agar anaknya diselamatkan dari banjir bandang. Padahal, anaknya bukan orang yang beriman. Janji Allah untuk menyelamatkan keluarga Nabi Nuh hanya diberikan untuk keluarganya yang beriman.

    Begitu pula, Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak menjadi orang bodoh dengan; sebab beliau sangat ingin kaumnya beriman, padahal Allah belum mengizinkan mereka beriman. Allah Ta’ala mengingatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak terlalu sedih dan tidak terlalu ingin kaumnya beriman karena Allah yang mengatur semuanya. Dialah yang Maha mengetahui segalanya, baik yang tampak maupun yang tidak. Allah yang paling mengetahui mana yang bermaslahat dan mana yang tidak. [6]

  3. Allah Ta’ala memperingatkan kepada para hamba-Nya bahwa setiap orang yang bermaksiat itu adalah orang yang bodoh. [7] Orang yang bermaksiat kepada Allah adalah orang yang tidak tahu kedudukan Allah dan azab-Nya; karena orang seperti itu tidak menyadari akibat dari perbuatan sering menuruti hawa nafsu. [8]

    Sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf, tatkala mereka membuang Nabi Yusuf di sebuah sumur. Nabi Yusuf menyebut mereka orang-orang bodoh karena mereka mempertaruhkan diri mereka sendiri untuk menerima resiko besar atas tindakan maksiat mereka. [9]

  4. Dalam menghadapi orang-orang yang bodoh, orang-orang beriman selalu bersikap dan berkata baik. Tidak membalas jika diperlakukan buruk. Mereka suka memaafkan.[10]. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

    وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

    “Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqan: 63)

    Hasan Al-Bashri berkata bahwa yang dimaksud dengan سَلَامًا adalah jika dizalimi, mereka memaafkan. Jika diputus silaturrahminya, mereka menyambungnya. [11]

    Allah Ta’ala juga memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpaling dari orang-orang zhalim dan tidak melayani perdebatan dengan orang-orang bodoh. [12]

  5. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

    لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ

    Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu (yang hakiki) adalah rasa takut (kepada Allah). [13]

    كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا، وَكَفَى بِاغْتِرَارٍ بِاللَّهِ جَهْلًا

    Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan seseorang, dan cukuplah tertipu (merasa aman) dari hukuman Allah sebagai bukti kebodohan seseorang. [14]

Referensi

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an Lir Raghib Al Ashfaniy, Ar-Raghib Al Ashfaniy, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Aisarut Tafasir, Al-Jaza`iry.
  • Taisiru Karimir Rahman, Abdurrahman As-Sa’di.
  • Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, Muhammad Sayyid, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsirul Qur’anil ‘Azhim ,Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Al Qurthubi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Fathul Qadir, Asy-Syaukani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Abi Su’ud, Abu Su’ud Al-Imadi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ruhul Ma’ani, Al-Alusi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
14