Doa

Doa agar Hati Istiqamah di Atas Islam

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Za Ummu Raihan

Lafal Doa

يَا ‌مُقَلِّبَ ‌الْقُلُوبِ ‌ثَبِّتْ ‌قَلْبِي ‌عَلَى ‌دِينِكَ

"Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. Ahmad no. 12107, At-Tirmidzi no. 2140, dan Ibnu Abi Syaibah di Al-Mushannaf no. 31157. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani di Misykatul Mashabih no. 102.)

MAKNA LAFAL[1]

  • (يَا ‌مُقَلِّبَ ‌الْقُلُوبِ): Yang membalikkan hati menuju ketaatan pada suatu waktu, menuju kemaksiatan pada waktu yang lain, menuju keshalihan pada suatu masa, dan menuju kelalaian pada masa yang lain.
  • (‌ثَبِّتْ ‌قَلْبِي ‌عَلَى ‌دِينِكَ): Jadikanlah hatiku tetap di atas agama-Mu, tanpa menyimpang dari agama yang kokoh dan jalan yang lurus.

ULASAN DOA

  1. Seorang muslim hendaklah menyandarkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dan memohon kepada-Nya agar diberi ketetapan hati di atas kebenaran dalam segala urusan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat sering memanjatkan doa tersebut agar hatinya senantiasa kokoh di atas agama-Nya.[2]
  2. “Keberpalingan hati” merupakan makhluk Allah.[3]
  3. Bolehnya menamai Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan nama yang disebutkan dalam hadits, meskipun hadits tersebut tidak sampai derajat mutawatir.
  4. Allah Subhanahu wa Ta'ala menguasai hati hamba-hamba-Nya. Dia tidak mewakilkan kekuasaan itu kepada siapa pun di antara hamba-Nya.
  5. Di dalam doa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini terdapat isyarat bahwa doa tersebut mencakup seluruh hamba, termasuk juga para nabi. Selain itu, juga terdapat pengingkaran bagi orang yang menganggap bahwa doa tersebut khusus bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena beliau saja, yang jelas-jelas suci jiwanya, jika berbuat dosa maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam segera berlari menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka apatah lagi orang-orang yang derajat kesucian dirinya di bawah beliau, tentu mereka lebih butuh untuk memanjatkan doa tersebut. Wallahu a’lam.[4]

Referensi:

  1. Sunan At-Tirmidzi. Al-Imam At-Tirmidzi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  2. Al-Musnad. Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  3. Al-Mushannaf. Al-Imam Ibnu Abi Syaibah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  4. Misykatul Mashabih. Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  5. Tuhfatul Ahwadzi. Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  6. Mawaqif Halafa fiha An-Nabiyyu Shallallahu ‘Alaihi wa Alihi wa Sallam. Abu Muhammad Khamis As-Sa’id Muhammad Abdillah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  7. Fathul Mun’im. Dr. Musa Syahin. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
0