Doa

Doa Agar Dimudahkan Urusan

Penulis: Ary Abu Ayyub

Editor: Za Ummu Raihan


Lafal Doa

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي* وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي* وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي * يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Wahai Rabbku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.

Penjelasan Doa

Kalimat di atas adalah doa yang dipanjatkan Nabi Musa 'alaihissalam kepada Allah Ta’ala ketika Beliau diperintahkan Allah untuk melaksanakan tugas yang sangat berat, yaitu mendakwahi Fir’aun. Bukan saja berat karena yang harus didakwahi adalah seorang diktator yang kuat, melainkan juga karena sebelumnya Nabi Musa 'alaihissalam telah memiliki hubungan yang kurang baik dengannya dan juga karena adanya kendala pada diri beliau, yaitu lisannya yang kelu.

Hal itu sebagaimana disebutkan Allah dalam Surah Asy’ Syu’ara: 13-14,

وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ ۝١٣ وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْۢبٌ فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِۚ ۝١٤

“Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku). Aku berdosa terhadap mereka. Maka, aku takut mereka akan membunuhku.”

Dalam kondisi yang berat itulah, Musa 'alaihissalam memohon kepada Rabbnya dengan mengatakan, di antaranya, kalimat-kalimat di atas.

رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى


“Wahai Rabbku, lapangkanlah dadaku.”

Syekh As-Si’dy berkata, “Maksudnya, luaskanlah ia dengan cahaya, dan iman, dan hikmah, sehingga aku dapat menanggung segala jenis beban, baik perkataan maupun perbuatan. Karena lapangnya dada akan mengubah kesulitan tugas menjadi ketenangan, kenikmatan, dan kemudahan.”[1]

Lapangnya dada juga bermakna mampu bersabar dari kejahatan orang lain yang ditujukan kepadanya dan mampu memikul tugas yang diembannya.[2] Kelapangan dada ini sangat dibutuhkan bagi seorang da’i agar dengannya ia dapat menyampaikan dakwahnya dengan mudah, orang-orang melihatnya dalam keadaan paling bahagia, sehingga semangat itu mengalir darinya kepada yang didakwahi, sehingga dengan demikian terwujudlah kebahagiaan yang merupakan salah satu tujuan utama dakwah. Adapun jika seseorang sempit dadanya, dan kesabarannya berkurang, maka dia tidak akan melakukan pekerjaan besar, dan tidak akan mengeluarkan kebaikan yang banyak.[3]

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

“dan mudahkanlah urusanku”

Maksudnya, mudahkanlah bagiku setiap urusan yang kutempuh, dan setiap jalan yang kutuju di jalan-Mu, mudahkanlah aku dari segala kesulitan yang aku hadapi. Di antara kemudahan urusan adalah Allah memudahkan bagi seorang dai untuk mendatangi semua perkara dari pintu-pintunya, dan berbicara kepada setiap orang dengan apa yang sesuai untuknya, dan mengajaknya dengan jalan terdekat yang mengantarkan kepada penerimaan ucapannya.[4]

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي * يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

Ini adalah permohonan agar diberikan taufik berupa perkataan yang baik ketika berdakwah ke jalan Allah, yaitu dalam berbicara kepada manusia, sehingga dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan mereka dengan hikmah dalam ucapan dan kelembutan dalam tindakan.[5]

Faedah Doa

  1. Pentingnya kesiapan mental dan emosional saat menghadapi tugas atau tantangan besar.
  2. Mengajarkan untuk bergantung kepada Allah dalam menyelesaikan hal-hal yang sulit.
  3. Doa ini mencerminkan kebutuhan akan pertolongan Allah, tetapi juga menunjukkan bahwa keberhasilan memerlukan upaya pribadi.
  4. Mengajarkan kerendahan hati dengan menyadari keterbatasan manusia dan meminta bantuan kepada Allah.
  5. Doa ini menunjukkan sikap positif bahwa Allah dapat memberikan kemudahan dan keberhasilan jika dimohon dengan tulus.
  6. Doa ini mencerminkan perhatian pada pemahaman orang lain, bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi bagaimana agar pesan dapat diterima dengan baik.
  7. Menunjukkan pentingnya komunikasi yang jelas dan efektif dalam menyampaikan pesan, terutama dalam dakwah atau tugas besar lainnya.

Maraji’:

  1. Al-Asyqar, Muhammad Sulaiman. 1416 H/1996 M. Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir Cet. I. Daar Al-mawyah.
  2. As-Si’dy, Abdurrahman bin Nashir. 1422 H/2002 M. Taisir Al-Karimir Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Riyadh: Darussalam.
  3. Mahir bin Abdul Hamid bin Miqdam. 1432 H/2011 M. Syarhu Ad-Du’āi Min Al-Kitabi wa As-Sunnati Lisy Syaikh Ad-Duktur Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthaniy. Kuwait: Maktabah Al-Imam Adz-Dzahaby.
  4. Muqbil, ‘Umar ibn Abdullah. 1431 H/2010 M. Liyadabbarū Āyātihi ḥaṣād ‘ām min al-Tadabbur Jilid III. Riyadh: Maktabah Al-Malik Fahd.
14