Doa
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Doa Agar Dijauhkan dari Sifat Kikir

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.


ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ู‚ูู†ููŠ ุดูุญูŽู‘ ู†ูŽูู’ุณููŠ ูˆูŽุง ุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ููŠ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููŠู†ูŽ

โ€œYa Allah, lindungilah aku dari kekikiran jiwaku dan jadikanlah aku termasuk orang yang beruntung.โ€

(Doa ini biasa dipanjatkan oleh Abdurrahman bin Auf, yang berkaitan dengan firman Allah di Surah Al-Hasyr ayat 9. Lihat Amradhul Qulub, hlm. 23)

MAKNA LAFAL[1]

ุดูุญูŽู‘

  • Asy-syuh (ุงู„ุดุญ) adalah kekikiran yang disertai kerakusan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ash-Shihah.
  • Ada pula yang mengatakan bahwa asy-syuh lebih parah daripada al-bukhl (bakhil/kikir).
  • Ibnu Zaid berkata, "Barang siapa tidak mengambil sesuatu yang Allah larang untuk diambil, dan tidak menahan sesuatu yang Allah perintahkan untuk ditunaikan, maka ia telah dijaga dari syuh dirinya."
  • Thawus berkata, "Orang bakhil adalah orang yang kikir terhadap apa yang ada di tangannya. Sedangkan syuh adalah ketika seseorang tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain; ia ingin memiliki apa yang mereka miliki, baik dengan cara yang halal maupun haram, dan ia tidak pernah merasa cukup."
  • Adapun makna yang tampak dari ayat tersebut adalah bahwa keberuntungan (al-falah) bergantung pada terbebasnya seseorang dari sifat syuh terhadap berbagai perkara yang menurut syariat tercela untuk dikikirkan, seperti zakat, sedekah, menyambung silaturahmi, dan amalan-amalan sejenisnya. Hal ini dipahami dari penyandaran kata syuh kepada jiwa dalam ayat tersebut ("syuhha nafsih"), yang menunjukkan bahwa sifat itu bersumber dari dorongan jiwa manusia sendiri.
  • Orang yang memiliki sifat syuh akan sangat tamak terhadap kepentingan diri sendiri, enggan berkorban untuk orang lain, serta tidak menyukai kebaikan yang diperoleh kaum mukminin.[2]

ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููŠู†ูŽ

  • Orang yang mendapatkan keberuntungan dan berhasil mencapai seluruh tujuan yang dicita-citakan.
  • Al-falah (ุงู„ูู„ุงุญ) adalah keberhasilan dan tercapainya apa yang diinginkan. Al-falah terbagi menjadi dua. Pertama, keberhasilan duniawi, yaitu memperoleh berbagai kebahagiaan yang membuat kehidupan dunia menjadi baik dan menyenangkan. Kedua, keberhasilan ukhrawi, yang tingkatan tertingginya adalah meraih kemenangan dengan memasuki surga-surga yang paling tinggi.

ULASAN DOA

Terjaga dari Syuh[3]

Terjaganya seseorang dari syuh (kekikiran dan ketamakan) jiwanya mencakup perlindungan dari sifat tersebut dalam seluruh perkara yang diperintahkan Allah Taโ€™ala. Apabila seorang hamba dijaga dari syuh jiwanya, jiwanya akan dengan lapang menerima perintah-perintah Allah Taโ€™ala dan Rasul-Nya; ia melaksanakannya dengan penuh ketaatan, ketundukan, dan hati yang terbuka.

Jiwanya juga akan lapang untuk meninggalkan segala yang dilarang Allah, meskipun hal itu dicintai oleh hawa nafsu, mengundang keinginan, dan sangat didambakan olehnya. Demikian pula, jiwanya akan rela menginfakkan harta di jalan Allah dan dalam rangka mencari keridaan-Nya. Dengan cara itulah diperoleh keberuntungan (al-falah) dan kemenangan (al-fauz).

Berbeda halnya dengan orang yang tidak dijaga dari syuh jiwanya, bahkan ditimpa sifat kikir terhadap kebaikan, yang merupakan akar dan sumber segala keburukan.

Jiwa Manusia yang Tergoda pada Dunia[4]

Barang siapa berhasil menaklukkan hawa nafsunya, menawannya, serta terhindar dari keburukannya, maka sungguh ia telah memperoleh keselamatan. Allah Ta'ala berfirman,

ูˆูŽู…ูŽู† ูŠููˆู‚ูŽ ุดูุญู‘ูŽ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ููŽุฃููˆู„ูŽูฐุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ

"Dan barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9).

Allah Taโ€™ala membatasi keberuntungan hanya bagi orang yang terlindungi dari sifat kikir yang ada dalam dirinya, dari keinginan jiwanya terhadap sesuatu yang dihalangi darinya, serta dari kerakusannya terhadap hal-hal yang sebenarnya membahayakannya namun tetap diinginkannya; seperti kedudukan tinggi, kebesaran, harta, kehormatan, keluarga, tempat tinggal, makanan, minuman, pakaian, dan berbagai kenikmatan lainnya.

Sesungguhnya jiwa manusia selalu menginginkan dan mendambakan semua itu. Padahal itulah hakikat kebinasaannya. Dari sifat tersebut lahirlah berbagai keburukan seperti kezaliman (melampaui batas), hasad (dengki), dan dendam yang terpendam.

Antara Sifat Kikir (Syuh), Kebakhilan (Bukhl), dan Dengki (Hasad)[5]

Terkadang seseorang suka memberi kepada orang yang dapat membantunya mencapai kepentingannya, namun ia tetap dengki kepada orang-orang yang setara dengannya. Terkadang pula seseorang bersifat bakhil tanpa memiliki rasa dengki kepada orang lain. Adapun syuh (kekikiran yang sangat kuat) merupakan akar dari semua itu. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya), โ€œBarang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.โ€ (QS. Al-Hasyr: 9).

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œJauhilah sifat syuh (kikir yang tamak) karena sifat itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Ia memerintahkan mereka untuk bakhil lalu mereka menjadi bakhil, memerintahkan mereka untuk berbuat zalim lalu mereka berbuat zalim, dan memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan silaturahmi lalu mereka memutuskannya.โ€

Doa Abdurrahman bin Auf[6]

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf sering berdoa ketika thawaf di Ka'bah dan ketika wukuf di Arafah, โ€œYa Allah, lindungilah aku dari kekikiran jiwaku.โ€

Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab, โ€œApabila aku dijaga dari kekikiran jiwaku, maka aku akan dijaga dari kezaliman, kebakhilan, dan memutuskan hubungan silaturahmi.โ€ Dalam riwayat lain darinya disebutkan bahwa ia berkata, โ€œAku khawatir termasuk orang yang binasa.โ€

Orang-orang bertanya, โ€œMengapa demikian?โ€ Ia menjawab, โ€œAku mendengar Allah berfirman, โ€˜Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.โ€™ Sedangkan aku adalah orang yang sangat kikir; hampir tidak ada sesuatu pun yang keluar dari tanganku.โ€

Lalu, seseorang berkata kepadanya, โ€œBukan itu yang dimaksud dengan syuh yang disebut Allah dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya syuh adalah ketika engkau memakan harta saudaramu secara zalim. Adapun yang ada padamu hanyalah kebakhilan (bukhl). Meskipun demikian, kebakhilan tetap merupakan sifat yang buruk.โ€

Referensi:

  • Az-Zuhd, Ibnu Taimiyyah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Amradhul Qulub, Ibnu Taimiyyah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Ibnu Rajab, Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Fathul Qadir, Asy-Syaukani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Syarh Duโ€™a minal Kitabi was Sunnah, Mahir bin Abdul Halim bin Muqaddam, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
13