Doa

Doa Agar Amal Saleh Diterima Allah

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.


... رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ ٱلسَّمِيْعُ ٱلْعَلِيْمُ

“... Duhai Rabb kami, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

... وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“... Dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)

Makna Lafal

(رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ ٱلسَّمِيْعُ ٱلْعَلِيْمُ)

  • Pada asalnya, ucapan ini merupakan perkataan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an agar Nabi Muhammad dapat memperingatkan kaumnya tentang teladan pada perkataan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut.[1]
  • Tatkala membangun fondasi Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memohon agar Allah Ta’ala menerima amal shalih mereka tersebut melalui doa, “Duhai Rabb kami, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[2]
  • Rasa takut di dada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terhadap amal mereka merupakan karakter seorang mukmin yang ikhlas yang disebutkan oleh Allah Ta’ala di surah Al-Mu’ninun ayat 60. Dalam ayat tersebut tergambar betapa al-mu’minun al-mukhlishun tersebut khawatir jika amal shalih mereka--berupa pemberi nafkah, sedekah dan amal shalih lainnya—tidak diterima oleh Allah Ta’ala.[3]
  • Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail juga menyebutkan dua nama Allah dalam doa mereka, yaitu As-Sami’ dan Al-‘Alim. Penyebutan dua asmaul husna tersebut menunjukkan bahwa mereka memuji Allah sebagai Maha Mendengar doa mereka dan Maha Mengetahui ketulusan niat dalam hati mereka.[4]

(وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ)

  • Makna lafal doa ini adalah, “Ya Allah, berilah kami hidayah untuk bertobat kepada-Mu.”[5]
  • Bentuk tobat seorang hamba adalah meninggalkan kemaksiatan, kemudian menggantinya dengan ketaatan.[6]
  • Tatkala Allah Ta’ala menginginkan seorang hamba untuk bertobat, Dia akan memberinya hidayah untuk bertobat, lalu Dia akan menerima tobat tersebut.[7]

Ulasan Doa

  1. Doa yang disebutkan di surah Al-Baqarah ayat 127 dan 128 ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tatkala membangun fondasi Ka’bah. Hati mereka diselimuti oleh rasa takut (al-khauf) dan rasa harap (ar-raja’) terhadap amal mereka. Oleh sebab itu, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala agar amal ibadah mereka diterima. Hasilnya dapat kita lihat; keberadaan Ka’bah memberi manfaat yang luas bagi orang banyak.[8]
  2. Dalam lafal “Rabbana”, yang diucapkan seorang hamba ketika berdoa kepada Allah Ta’ala, tergambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap Rabb-nya. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam sampai mengulang-ulang kata “Rabbana.”[9]
  3. Manusia sangat bergantung kepada rububiyah Allah, utamanya yang berkaitan dengan pertolongan yang khusus Dia berikan bagi hamba-Nya yang beriman.[10]
  4. Disyariatkannya bertawasul dengan nama dan sifat Allah tatkala berdoa agar doa dapat lebih mudah terkabul. Contohnya adalah tatkala Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bertobat kepada Allah, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Engkau adalah At-Tawwab (Maha Penerima Tobat) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang).”[11]

Referensi

  • Tafsir Al-Fatihah wal Baqarah lil ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 1423 H, Riyadh: Dar Ibnul Jauzi. (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • Tafsir Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain Al-Baghawi, 1417 H, Riyadh: Dar Ath-Thaibah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida Ismail bin Katsir, 1420 H, Riyadh: Dar Ath-Thaibah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • Taisirul Karimir Rahman, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, 1420 H, Beirut: Muassasah Ar-Risalah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah).


15