Dinamika Penggunaan Telegram di Program Reguler Grup ART
Reporter: Gema Fitria
Redaktur: Dian Soekotjo
Salah satu media belajar yang digunakan dalam Program Reguler HSI AbdullahRoy, adalah grup Whatsapp. Selama bertahun-tahun sejak HSI dimulai pada tahun 2013, WA digunakan oleh ratusan ribu santri tanpa kendala berarti. Namun, Qadarullahi wa maa syaa-a fa’ala, sekitar pertengahan 2024 lalu, untuk pertama kalinya grup-grup Diskusi santri diblokir pihak Whatsapp. Kemelut ini menimpa angkatan baru yang notabene memerlukan intensitas komunikasi tinggi.
Pemblokiran yang terus menerus tanpa solusi meski HSI telah mengupayakan berbagai cara, melahirkan keputusan alih fasilitas. Setelah koordinasi terbilang panjang dan cukup teliti, aplikasi Telegram akhirnya dipilih dan resmi menjadi pengganti. Berikut laporan khas Rubrik KBM seputar kabar terbaru penggunaan Telegram untuk angkatan baru yang telah dimulai akhir 2024 lalu.
Belajar Otodidak
Salah satu Penanggung Jawab ART251, Ukhtunaa Ulfa Hasana, mengungkapkan bahwa perpindahan ke Telegram adalah keputusan berat yang harus diambil. “Akan tetapi, saat itu tidak ada solusi terbaik dari drama banned grup WA yang terus menerus terjadi di ART242,” ujarnya.
Ukhtuna Ulfa mengatakan pengalaman yang tak ternilai dan paling berkesan pada masa awal beralih ke Telegram adalah proses mengatasi keawaman sendiri dalam menggunakan aplikasi tersebut.
“Di sanalah kami dituntut belajar otodidak mengeksplor secara mandiri, saling memberikan masukan, trial and error, membuat panduan telegram ala kadarnya, terus menerus membiasakan diri kami dengan pengelolaan Telegram,” sambungnya merinci.
Kondisi seperti itu disebutnya justru mendatangkan hikmah besar dari Allah. “Alhamdulillah kami semakin solid,” ucapnya bersyukur menggambarkan kondisi tim pengelola KBM grup akhwat akibat terpaan kendala tersebut.
Penanggung jawab ART251 lainnya, Ukhtunaa Nopi Ummu Fathan menceritakan kisah yang kurang lebih sama. Santri yang telah belajar di HSI sejak awal 2015 ini, mengaku sebelumnya jarang menggunakan Telegram dalam aktivitas sehari-hari, bahkan pernah menghapus aplikasi itu dari ponselnya. Namun, wanita yang akrab dipanggil Bunda Nopi ini menjadikan hal tersebut sebagai tantangan dalam menjajaki hal baru. “Berawal dengan mempelajari step by step panduan Telegram yang sudah disiapkan oleh tim KBM Reguler ART, dimulai dari membuat grup tes buat coba fitur-fitur di Telegram, berlanjut dengan membuat channel ART251,” ulasnya berbagi perjalanan memulai penggunaan Telegram Grup ART.
Tantangan berlanjut saat membuat grup kecil Muraqibah (GK-MQ) dan Grup Kecil Musyrifah (GK-MS). “Di situlah kami belajar bareng mengutak-atik atau mencoba-coba fitur-fitur yang belum disentuh sebelumnya. Ada yang di satu berhasil tapi di lain belum, jadi membuat kita tambah penasaran di mana letak salahnya,” tukas warga Kalimantan Barat ini.
Setelah proses adaptasi dirasa cukup, para Muraqibah kompak menolak ketika ditawari untuk pindah grup ke Whatsapp. “Mereka malah tidak mau karena sudah asyik dengan TG sekarang hehe..,” ucap Bunda Nopi diakhiri tawa.
Pengalaman Para Muraqibah
Muraqibah ART251 dan ART242, Ukhtuna Arin, mengatakan, aplikasi Telegram dan Whatsapp sama-sama memiliki kelebihan, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Ukhtuna Arin sendiri mengaku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang segala menu di aplikasi tersebut karena sebelumnya merasa Telegram tidak semenarik Whatsapp.
Dalam penggunaannya, kesulitan yang sering dikeluhkan para santri adalah sulitnya mendaftar sebagai pengguna. “Saat unduh merasa tidak ada masalah, tetapi ketika daftar/masuk, beberapa kendala terjadi, seperti tidak diterimanya kode verifikasi oleh pihak Telegram, juga password yang kadang menjadi kendala utama. Hal ini sering dialami beberapa santri yang sudah pernah menggunakan aplikasi Telegram kemudian menghapusnya karena saat itu tidak membutuhkannya lagi,” paparnya menjelaskan.
Muraqibah lain yang juga bertugas di dua angkatan, ART251 dan ART242, Ukhtunaa Kania Verawaty Wahab, membagikan cerita seru memandu dua GK di Telegram. Meski sebelumnya memiliki pengalaman mengelola beberapa grup Telegram, tetapi diakuinya, itu tidak sebesar HSI yang anggota grupnya mencapai ratusan orang.
Dikisahkan Ukhtuna Kania, sapaan akrabnya, mayoritas Musyrifah di GK-nya tidak terbiasa menggunakan Telegram. Kalau pun punya, hanya sekadar untuk membaca pesan, menyalin pesan tertentu, dan menempelkannya di pesan Whatsapp.
Saat ART242 diputuskan berpindah ke Telegram, Ukhtuna Kania memberi contoh kepada Musyrifahnya cara mengedit nama di Whatsapp yang otomatis sinkron dengan nama di Telegram. “Ana tambahkan kata ‘Coba Edit’ di depan nama Musyrifah, agar mudah terlihat. Nah kalau di Telegram, ketika kita mention orang, maka akan terlihat namanya yang kita simpan. Setelah eksperimen dan sharing, coba edit nama di google contact agar WA dan Telegram sinkron namanya. Jadi, waktu ana mention Musyrifah tersebut di GD Telegram, nama ‘Coba Edit’-nya masih ada dan muncul di depan nama Musyrifah tersebut, hahaha..” katanya terkekeh.
Muraqibah ART251 lainnya, Ukhtunaa Anindhita, mengaku sebelumnya juga jarang menggunakan Telegram. “Awal-awal agak bingung karena belum terbiasa, jadi banyak nanya dan mesti ngulik-ngulik fitur sambil bolak balik nyontek di YouTube, tapi Alhamdulillah ga ada yang sampai jadi masalah besar sih,” tuturnya santai.
Meski mengaku sempat kebingungan, wanita yang telah menetap di Swedia ini tetap bersyukur. “Alhamdulillah dikasih kesempatan membantu santri dari Telegram, sementara sebenernya ana juga jarang pakai Telegram kecuali untuk kelas, ya. Jadi masih awam banget, mesti banyak belajar,” tambahnya.
Grup Diskusi Relatif Sepi
Pengakuan serupa datang dari salah satu Musyrifah ART251, Ukhtunaa Nuryani. Santri Angkatan 202 ini baru mengenal Telegram di Angkatan 251. “Sebelumnya Telegram hanya untuk membaca postingan beberapa channel saja, jadi pas dipakai untuk komunikasi, harus belajar lagi,” ujarnya.
Ukhtuna Nuryani mengungkapkan ada sedikit kendala yang dialaminya waktu itu. “Dari awal kan kita suruh join GD Telegram. Ada yang ga respon, ada yang langsung mengundurkan diri karena hpnya gak support Telegram, ada juga yang lama baru respon di Telegram. Ada juga yang gak ngerti gimana cara pakai Telegram, minta dipandu untuk instal Telegram,” sambungnya lagi.
Ukhtuna Nuryani juga mengatakan sulit memantau santri yang sudah bergabung ke Grup Diskusi. “Dengan menggunakan Telegram, sebagai Musyrifah kami agak kesulitan memantau santri yang sudah join GD, karena ternyata nama yang sudah kami save di kontak tidak otomatis tersimpan di kontak Telegram. Harus kami konfirmasi satu per satu nama yang belum terdeteksi Telegram,” terang santri yang berdomisili di Bandung ini.
Menurutnya lagi, kebanyakan santri di grup yang diampunya jarang menggunakan Telegram untuk berkomunikasi. Hal ini membuat Grup Diskusi relatif sepi. “Sebagian besar hanya masuk GD tapi jarang melihat postingan Musyrifah, sehingga mereka kembali chat Musyrifah lewat WA,” ujarnya.
Ukhtuna Nuryani sendiri merasa berkomunikasi menggunakan Telegram sama nyamannya dengan Whatsapp. Berbeda dengan sebagian santri yang sepertinya lebih nyaman menggunakan Whatsapp. Hal ini diketahui dari respon mereka yang lebih cepat. “Kadang kalau ana chat di Tele itu lama baru balas, bahkan ada chat ana ke santri 3 pekan baru dijawab..hihi….,” katanya.
Tidak Harus Masuk Grup Diskusi
Musyrifah selanjutnya adalah Tri Okmawati. Ukhtuna Okma, begitu ia biasa disapa, sebetulnya tidak bertugas di ART251. “Saya bertugas menggantikan teman yang sedang cuti melahirkan, jadi saya tidak dari awal mengenal atau berkenalan dengan semua santriwati yang jumlahnya Masyaallah sekitar 800-an santriwati,” kenang Ukhtu Okma.
Ukhtuna Okma mengisahkan, santri dibebaskan untuk tidak bergabung dengan Grup Diskusi di Telegram. Santri seperti ini disebut santriwati mandiri, maksudnya mandiri tanpa panduan Grup Diskusi dan Channel Informasi ART242. Konsekuensinya, tentu saja akan ketinggalan banyak informasi penting.
Ukhtuna Okma menerangkan, biasanya santri memilih mandiri karena alasan gawainya tidak mendukung untuk memasang aplikasi Telegram, akun Telegram dibajak, kode verifikasi tidak masuk, dan sebagainya.
Plus Minus Menggunakan Telegram
Untuk mengetahui pendapat mengenai kelebihan dan kekurangan aplikasi Telegram, Majalah mewawancarai santri ART251, Ukhtunaa Sitti Qana’ah Shalihah. Awalnya, Ukhtuna Sitti terkesan enggan dimintai keterangan.
“Saya sangsi apakah saya narasumber yang tepat untuk hal ini, karena pertama usia saya 50 tahun, sudah cukup ‘senior’ kalau gak mau dibilang tua, hehe.. Kedua, saya termasuk jarang menggunakan Telegram. Saya kurang dalam mengikuti info-info yang di-share karena begitu banyak dan cepat sharing-nya. Ketiga, saya lebih aktif dan lebih suka menggunakan WA. Menurut saya, Telegram itu cocok untuk akhwat yang lebih muda-muda dari saya. Tele itu lebih semrawut,” tegasnya beropini.
Ukhtuna Sitti mengenal HSI dari temannya. “Beliau bilang belajar lewat WA, ternyata sekarang lewat Telegram. Jadi, saya harus adaptasi menggunakan ini. Alhamdulillah selama ini tidak ada kesulitan, dan saya pakai Tele hanya untuk program reguler HSI saja. Pelajaran online lainnya saya pakai WA,” katanya.
Tersedianya aplikasi Edu HSI agaknya cukup membantu Ukhtuna Sitti dengan kondisinya yang jarang menggunakan Telegram. “Karena ada aplikasi HSI tersendiri, jadi saya tidak usah buka-buka Tele, tinggal masuk web dan kerjakan evaluasi setelah materi,” pungkasnya di akhir sesi wawancara.
Kelebihan Telegram dibanding Whatsapp menurut Ukhtuna Kania, antara lain, Telegram memiliki tab folder yang memudahkan memantau grup. Ini bermanfaat sekali bagi Muraqibah yang harus memegang beberapa Grup Diskusi dan Grup Kecil.
Kelebihan lainnya, mudah masuk dari gawai mana saja, keamanannya lebih terjaga asal benar-benar diaktifkan, satu akun bisa dimasuki beberapa pengguna, pesan di grup bisa dibaca oleh anggota yang baru masuk, bisa menyematkan pesan lebih banyak, bisa menyembunyikan nomor ponsel, dan lain-lain.
Ditambahkan Ukhtuna Anindhita, kelebihan Telegram adalah bisa menjadwalkan pesan buat pengingat supaya tidak lupa, dan bisa mengecek anggota grup sudah posting berapa kali sehingga memudahkan mengecek keaktifan Musyrifah.
Sementara itu, kekurangan Telegram seperti dikatakan Bunda Nopi, antara lain ketika meneruskan pesan dari Whatsapp yang dibuat dengan huruf miring atau dicetak tebal, harus diubah dulu ke format sesuai Telegram.
Selain itu, sebagian Musyrifah maupun santri sangat awam dengan Telegram. “Jadi di awal-awal, Musyrifah harus punya stok sabar lebih dalam mengajari santri, yang dasar aja, misal mengaktifkan two-step verification (2FA) atau verifikasi dua langkah untuk pengamanan akun TG,” urainya.
Tips Nyaman Belajar Menggunakan Telegram
Bunda Nopi memberi pesan agar santri fokus berada di Grup Diskusi dan membaca setiap info yang dibagikan di Channel Informasi, sebab untuk audio materi, santri bisa langsung mengunduhnya dari web atau aplikasi Edu HSI.
Sementara itu, Ukhtuna Ulfa mengatakan tidak ada saran terbaik selain sabar. “Terus belajar. Semoga semakin payah jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu, Allah semakin jadikan ilmu kita bermanfaat. Pahala beriring dengan tingkat kesulitan yang dihadapi. Al jazaa min jinsil ‘amal,” ucapnya menukil sunnatullah.
Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada teman-teman pengurus ART251 yang telah melakukan berbagai upaya agar KBM tetap berjalan dengan baik, mulai dari belajar mandiri hingga mendampingi para santri yang juga awam dengan aplikasi ini.
Alhamdulillah Allah berikan kemudahan, dari yang awalnya tidak terbiasa sampai akhirnya menikmati dan nyaman menggunakan Telegram. Semoga Allah istiqamahkan kita dalam menuntut ilmu syar’i, apapun metode yang dipakai. Barakallahufiikum.