Mutiara Nasihat Muslimah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Di Balik Rindu yang Terhalang Mahram, Ada Secarik Harapan untuk Muslimah yang Mendamba Tanah Haram

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Ada rasa rindu yang tidak semua orang mampu menjelaskannya, yaitu rindu untuk berdiri di hadapan Ka’bah, menengadahkan tangan di tanah suci, dan menangis dalam doa yang paling tulus. Namun, tak semua rindu-rindu ini langsung menemukan jalan perjumpaannya.

Barangkali, ada di antara kita yang sudah lama memendam kerinduan akan Tanah Haram di dalam hatinya—sebuah rindu yang belum berbalas. Dengan berbekal kesungguhan, niat, tekad, dan saldo tabungan  yang sudah memadai; maka rasa rindu yang kian menguat, akan tetapi, manakala belum ada mahram yang mampu mendampingi atau bahkan ada mahram namun tabungan belum cukup untuk berangkat bersama, maka di situlah letak ujian keimanan bagi seorang muslimah. Lantas, masihkah ada harapan?

Antara Kemuliaan, Penjagaan dan Kemampuan

Akhawati fillah, sebelum kita membahas lebih jauh tentang ibadah haji dan umrah bagi wanita yang “terhalang” syarat mahram, hendaknya kita lebih dahulu memahami di antara hikmah disyariatkannya mahram bagi wanita.

Saudariku ahabbakunnallah, dalam syariat Islam, keberadaan mahram bagi wanita dalam safar tentu bukanlah tanpa alasan, dan bukanlah sebagai penghalang, melainkan sebagai bentuk penjagaan dan kemuliaan bagi wanita. Sebuah penjagaan terhadap kehormatan, keamanan, dan kemaslahatan wanita itu sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌لَا ‌يَحِلُّ ‌لِامْرَأَةٍ، ‌تُؤْمِنُ ‌بِاللَّهِ ‌وَالْيَوْمِ ‌الْآخِرِ، ‌أَنْ ‌تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari no. 1038 dan Muslim no. 1339)[1]

Para ulama juga menjelaskan bahwa jika seorang wanita tidak/belum memiliki mahram yang mampu menemaninya untuk bersafar dalam rangka haji ataupun umrah, maka kewajiban haji (maupun sunnah melaksanakan umrah) belum jatuh kepadanya, karena adanya mahram adalah salah satu bentuk istitha’ah (kemampuan) bagi wanita.[2] 

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Akhawati fiddin, poin yang digarisbawahi di sini adalah “kemampuan” bagi seorang muslimah dalam melaksanakan haji maupun umrah ke Baitullah bukan hanya pada kemampuan fisik dan finansial semata, tetapi juga mencakup salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh muslimah dalam bersafar ialah bersama mahramnya—jika memang jarak antara tempat tinggalnya menuju Baitullah memenuhi kriteria safar yang diwajibkan bersama mahram dalam Islam.

Menanti dengan Sabar dan Ikhtiar

Saudariku hafizhakunnallah, bagi kita yang berada dalam kondisi ini, maka kita perlu menyeimbangkan antara kesabaran dan ikhtiar. Beberapa langkah yang bisa ditempuh ialah:

  • Menunda dengan sabar, bukan menyerah;
  • tetap menjaga niat untuk berangkat haji atau umrah;
  • terus menabung sedikit demi sedikit; serta
  • memperbanyak doa agar Allah Ta’ala mudahkan jalannya

Selain itu, tentu ikhtiar bersama keluarga juga diperlukan, dengan membicarakan rencana secara terbuka dengan suami atau mahram-mahram yang ada. Sungguh kita tak pernah tahu, boleh jadi, dengan kegigihan kita dan kejujuran niat kita kepada Allah, di sanalah Allah hadirkan solusi yang tak terduga. Ketahuilah, perjalanan ibadah ini bukan tentang cepat atau lambat, tetapi tentang kesungguhan dalam menjalankan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara yang Dia ridhoi.

Jika Tidak Ada Mahram Sama Sekali

Setelah memohon dalam doa yang diiringi air mata, namun— qaddarallah wa maa sya-a fa’al—syarat bersafar dengan mahram belum terpenuhi, mungkin ini menjadi kondisi yang paling rentan membuat hati merasa sedih. Namun, ingatlah duhai shalihati, bahwa yang paling penting untuk dijaga adalah kejujuran niat. Sejatinya, agama ini memandang niat dengan kedudukan yang agung. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak asing di telinga kita,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Maka akhawati fillah, selama niat itu tulus, selama keinginan itu jujur, bi’idznillah tetap bernilai kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Jangan Padamkan Niat Itu

Tidak berangkatnya kita di Dzulhijjah tahun ini, tak serta-merta memupus husnudzhan kita untuk berangkat pada Dzulhijjah di tahun berikutnya. Maka, rawatlah niat tulus ini dengan doa yang terus dipanjatkan, harapan yang tidak dipadamkan dan keyakinan bahwa Rabbunaa Tabaraka wa Ta’ala—Rabb Pemilik Tanah Haram—yang kelak akan memberikan kita jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka. Ucapkanlah dengan lirih di dalam doa-doa kita dengan penuh tadharru’, “Ya Allah, mudahkan aku sampai ke Baitullah untuk menunaikan ibadah kepada-Mu dalam keadaan ‘afiyah.”

Seorang yang beriman akan menjadikan doa sebagai opsi pertama untuk setiap keadaan yang ia rasakan. Dengan doa, jalan yang hari ini tampak tertutup, sangat mudah bagi Rabb semesta alam untuk Dia buka dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Secarik Harapan: Amalan “Pengisi” tatkala Menanti

Saudariku ahabbakunnallah, selama belum mampu berangkat dan di masa menanti “panggilan” Allah Subhanahu wa Ta’ala, tenangkan hati kita dengan mengingat betapa banyaknya amalan yang dapat dilakukan untuk taqarrub (red: mendekat) kepada Rabb kita. Beberapa amalan yang bisa dilakukan di bulan-bulan haram ini di antara lain dengan memperbanyak sedekah, menjalankan puasa-puasa sunnah, mengedukasi dan memotivasi keluarga dan orang-orang terdekat kita tentang ibadah haji, dan lain sebagainya.

Semua ini adalah bentuk kesungguhan dalam beribadah. Lalu, ingatlah saudariku sayang, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla melihat setiap usaha kita, sekecil apa pun itu.

Rindu itu Tidak Akan Sia-sia

Wahai muslimah, jika hari ini raga kita belum mampu untuk sampai di Baitullah, janganlah bersedih, janganlah hilang harapan! Akan tetapi, tersenyumlah dan kuatkan prasangka baik kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebab boleh jadi, Dia sedang mempersiapkan perjalananmu agar lebih indah, lebih matang, dan lebih bermakna.

Rindu itu tidak akan sia-sia. Niat itu tidak akan terabaikan. Teruslah berharap, teruslah berdoa, teruslah berikhtiar, dan teruslah menjaga niat. Kabar baiknya, “undangan” dari-Nya tak pernah “salah alamat”, melainkan ia akan datang di waktu yang paling tepat.

Kelak, engkau akan menyadari bahwa masa-masa penantian tersebut nyatanya adalah bagian dari keindahan perjalanan itu sendiri—dan sampai hari itu tiba, teruslah pupuk prasangka baik kepada Rabbul’aalamiin dan berbisiklah di dalam hatimu, “Jika bukan di Dzulhijjah tahun ini, boleh jadi di Dzulhijjah berikutnya.”

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Imam al-Bukhari, Shahihul Bukhari, Dar Ibnu Katsir: Damaskus, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syarh ‘Umdatil Fiqh, Dar Ibnu Hazm: Beirut, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah (Al-Majmu’atul Ula), Al-Maktabah asy-Syamilah.


27