Di Balik Kebiasaan Lebaran di Tanah Suci
Reporter: Ridzky Aditya Saputra
Redaktur: Dian Soekotjo
Sore hari, langit kota Madinah diselimuti lembayung senja. Cahaya keemasan perlahan meredup, mengakhiri indahnya Ramadhan tahun itu. Perpisahan yang berat, tetapi tetap menyisakan asa untuk berjumpa kembali di waktu mendatang.
Di Kota Nabi, hari raya Idulfitri bukan tentang euforia yang meriah. Ia datang membawa pesan syahdu tentang kepergian tamu istimewa bernama Ramadhan. Tak ada bunyi letup petasan atau kembang api sepanjang malam. Tak pula ditemui konvoi takbir keliling di atas kendaraan.
Lebaran di kota suci agaknya terasa teduh dan khidmat. Air mata akan mudah menetes di balik lirihnya alunan takbir. Ada tangan-tangan yang tetap menengadah ke langit. Ada pula lisan yang saling mendoakan kebaikan bagi sesama.
Bagaimana sebenarnya suasana Idulfitri di tanah suci? Untuk menghadirkan gambaran yang lebih utuh, Majalah HSI berbincang dengan Pendamping Program Takhassus HSI, Ustadz Muhammad Jauhari, yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di sana.
Tak Lebih Meriah, Namun Tenang dan Sederhana
“Secara umum, suasana Idulfitri di Saudi Arabia terasa lebih tenang, sederhana, dan berorientasi pada ibadah serta kekeluargaan inti. Di Madinah perayaan dimulai dengan Sholat Id berjamaah di masjid besar seperti Masjid Nabawi, Masjid Quba, Masjid Uhud, Masjid Qiblatain, dan lainnya,” ujar Pendamping Peserta Takhassus HSI, Ustadz Muhammad Jauhari kepada Tim Majalah HSI.
Saat ini, Ustadz Jauhari tengah melanjutkan pendidikan doktoralnya di Madinah. Dari pengalaman beliau, lebaran di Arab Saudi memang tidak semeriah layaknya di Indonesia.
Mayoritas masyarakat lebih berfokus pada perayaan bersama keluarga inti, dan semuanya dilakukan di kota masing-masing. Tidak ada tradisi mudik ke kampung halaman seperti yang telah menjadi budaya berlebaran di Indonesia.
“Banyak keluarga yang memilih beristirahat setelah Shalat Id, dan perayaan lebih terpusat pada rumah atau keluarga inti. Tidak ada mudik, karena jarang yang merantau jauh, silaturahmi lebih terbatas pada keluarga inti, dan paling saling memberikan tahniah, ucapan selamat Idul Fitri kepada teman dan kenalan melalui medsos,” kata Ustadz Jauhari.
Indah dengan Caranya Masing-Masing
Lebaran di Indonesia kental dengan unsur budaya dan sosial, seperti tradisi maaf-maafan, bagi-bagi THR, hingga hidangan khas yang tersaji di setiap rumah. Sementara itu, di Arab Saudi, perayaan Idulfitri lebih menitikberatkan pada tuntunan sunnah. Euforia hari raya pun biasanya berlangsung lebih singkat.
“Indonesia sangat kental unsur budaya dan sosial seperti, maaf-maafan, pembagian THR, kue lebaran, dan tradisi halal bihalal. Di Madinah fokus pada sunnah Nabi, durasi pun singkat dan cepat kembali normal. Kalau di Indonesia, Lebaran bisa terasa seminggu lebih,” ucap Ustadz Jauhari.
Perbedaan cara dalam perayaan Idulfitri ini bukan tentang menilai mana yang lebih baik. Akan tetapi, ia menjadi gambaran bagaimana perbedaan kultur menghadirkan ragam warna dalam merayakan hari raya. Selama norma, adab, dan batasan syari'at tetap dijaga, esensi Idulfitri tetap terpelihara.
“Namun keduanya indah dengan caranya masing-masing. Dengan tetap menjaga norma, adab, dan batasan syariat yang sudah diajarkan dalam berhari raya,” ungkap alumni Pesantren Al-Irsyad Salatiga ini.
Tamu Mulia Itu Pergi, Namun…
Kehilangan Ramadhan adalah ujian bagi setiap muslim. Bulan penuh ampunan dan keberkahan itu berlalu, tanpa ada jaminan kita akan kembali berjumpa dengannya di tahun berikutnya. Karena itu, Idulfitri semestinya bukan menjadi titik akhir, melainkan awal dari kesinambungan ketaatan.
“Ramadhan seperti tamu mulia yang datang setahun sekali membawa kemudahan ibadah. Saat ia pergi, hati mudah kembali kosong atau tergoda dunia. Maka jadikan Idulfitri sebagai pintu masuk istiqamah sepanjang tahun, bukan penutup Ramadhan,” Ustadz Jauhari menuturkan.
“Jika amal Ramadhan diterima, tanda-tandanya adalah dilanjutkan dengan amal shalih setelahnya. Jadi, Idulfitri bukanlah akhir, melainkan awal baru untuk lebih dekat kepada Allah,” imbuhnya.
Menuntut Ilmu di Kota Nabi
Menuntut ilmu merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang muslim. Ia bukan sekadar aktivitas belajar, melainkan jalan panjang untuk memahami agama dengan benar. Namun semangat saja tidak cukup. Ia harus ditopang oleh sumber yang lurus dan lingkungan yang mendukung. Bagi banyak penuntut ilmu, Madinah menjadi salah satu jawabannya.
Salah satu yang Allah beri kesempatan itu adalah Ustadz Jauhari, pria asal Ngawi, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah (UIM). Setelah lulus dari Pesantren Al-Irsyad Salatiga pada 2007, beliau sempat melanjutkan studi di LIPIA Jakarta.
Di LIPIA, beliau menempuh studi hingga semester enam. Menjelang semester akhir, biidznillah, ia diterima di UIM pada 2011. Sejak 2012, beliau menetap di Madinah untuk menempuh pendidikan S-1, S-2, hingga kini melanjutkan S-3 jurusan Aqidah.
“Ana sempat melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta sampai semester enam, kemudian alhamdulillah atas taufiq dan nikmat dari Allah diterima di UIM. Tahun 2012 ana berangkat ke Madinah untuk kuliah S-1, S-2 dan sekarang Allah berikan taufiq, nikmat, serta amanah untuk melanjutkan kuliah S-3 jurusan Aqidah,” katanya.
Belajar di negeri seberang kerap terlihat mengagumkan. Namun di balik itu ada ikhtiar dan pengorbanan agar ilmu yang diraih benar-benar membawa keberkahan. Salah satu ujian yang beliau rasakan adalah harus tinggal berjauhan dari kedua orang tua.
“Yang pasti jauh dengan kedua orang tua, terlebih keduanya sudah berumur ya. Itu yang membuat berat dan rindu bagi ana. Adapun keluarga, alhamdulillah dengan kemudahan dari Allah, sudah ikut tinggal di Madinah,” ucapnya.
Ustadz Jauhari menambahkan, “Adapun amanah dakwah, sebagai penuntut ilmu bisa menggabungkan antara tholab (menuntut ilmu) dan al-Ada’ (menyampaikan ilmu), mengajarkan kepada orang lain. Keduanya adalah ibadah yang tidak bisa dipisahkan, dan setiap ilmu ada zakatnya, yaitu dengan diajarkan kepada orang lain.”
Salah satu bentuk al-Ada’ yang beliau jalankan adalah melalui program Takhassus HSI. Meski terdapat perbedaan waktu Indonesia dan Arab Saudi, beliau tetap meluangkan waktu untuk mendampingi peserta saat live session muroja’ah. Takhassus HSI sendiri merupakan program kelas khusus belajar Aqidah yang intensif dan terarah.
“Ana di Takhassus HSI sebatas mendampingi peserta ketika live session muraja’ah sebelum evaluasi akhir. Kemudian, memberikan jawaban atas pertanyaan peserta yang masuk, baik yang berkaitan dengan materi Takhassus, maupun materi Aqidah dan Tauhid secara umum,” jelasnya.
Di tengah padatnya jadwal studi doktoral, beliau justru merasakan banyak manfaat dari keterlibatannya di Takhassus HSI.
“Setiap ada kesempatan mendampingi peserta HSI, itu adalah momen yang berharga bagi ana. Karena sebenarnya ana yang pertama mendapatkan manfaat dengan ikut muroja’ah. Lalu ikut membaca materi dan menyampaikan kepada peserta,” Ustadz Jauhari mengungkapkan.
“Harapannya, semoga program Takhassus HSI bisa lebih maju dan berkembang lagi. Serta berlanjut ke materi yang lebih mendalam, karena hemat ana, materi yang ada sudah sangat cukup sebagai pondasi awal untuk program lanjutan.” Beliau mengungkapkan harapannya di akhir sesi wawancara.
Lebaran di Madinah mungkin tidak dipenuhi gemerlap dan hiruk-pikuk perayaan. Namun dari sana, ada pelajaran tentang makna yang dijaga lebih kuat daripada suasana, tentang kesederhanaan yang tetap hangat dalam lingkar keluarga inti, dan tentang ibadah yang tetap menjadi poros.
Kisah Ustadz Jauhari mengingatkan bahwa hari raya bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk menakar kembali sejauh mana Ramadhan membekas dalam diri. Di tengah ragam kebiasaan Lebaran yang kita miliki, selalu ada ruang untuk meluruskan niat dan menata cara merayakannya agar tetap berpijak pada tuntunan sunnah.
Selamat Lebaran, teman-teman santri HSI di mana pun antum berada. Taqabbalallahu minna wa minkum.