🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Di Balik Formulir Ta'aruf: Menyingkap Alur Kerja HSI Sakinah

Reporter: Muhammad Wildan Zidan

Redaktur: Rizky Aditya Saputra


وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."

[QS. Ar-Rum: 21]

Formulir sudah dikirim. Kolom demi kolom pertanyaan sudah diisi, syarat sudah dipenuhi, tombol kirim sudah ditekan. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi setelah itu?

Bagi banyak santri yang mendaftarkan diri sebagai peserta ta'aruf di HSI Sakinah, pertanyaan itu sering kali menggantung tanpa jawaban jelas. Siapa yang memproses data mereka? Bagaimana calon pasangan diperkenalkan? Apakah mereka benar-benar bebas memilih, atau sekadar menunggu ditentukan? Dan ketika dua hati mulai saling mengenal, bagaimana batas syariat dijaga agar prosesnya tidak melenceng dari niat awal?

Untuk menjawabnya, Majalah HSI mendapat kesempatan berharga untuk berbincang dengan Akhuna Muhammad Syawwal (ARN182-27166), Ketua Divisi HSI Sakinah, yang membuka alur kerja lembaga dari balik layar, serta Akhuna Ashadi Ilham (ARN201-28200), peserta yang saat wawancara ini berlangsung tengah bersiap menghadapi salah satu momen paling menegangkan dalam ta'aruf: nazhor.

Pintu Masuk yang Tidak Sesederhana Kelihatannya

Sebelum masuk ke hal teknis, Pak Syawwal lebih dulu meluruskan cara pandang tentang HSI Sakinah itu sendiri. Dulu, lembaga ini dikenal lewat tagline "Wasilah Menikah Sesuai Sunnah". Namun seiring waktu, cakupannya melebar jauh melampaui urusan mencari jodoh semata. "Pernikahan bukanlah tujuan akhir. Pernikahan justru merupakan awal dari perjalanan yang panjang," ujarnya. Karena itu, tagline yang kini diusung adalah "HSI Sakinah — Menuju Keluarga Sakinah", mencakup empat fase: pranikah, pascanikah, pembinaan keluarga dan generasi, hingga bekal menuju akhirat.

Ta'aruf tetap menjadi pintu masuk yang paling banyak dilalui. Tapi mengisi formulir pendaftaran ternyata baru langkah pertama. "Setiap pendaftar akan melalui proses verifikasi oleh tim khusus," jelas Pak Syawwal. Data diperiksa kelengkapannya, statusnya divalidasi, dan bila ada yang perlu diklarifikasi, tim akan menghubungi kembali peserta sebelum akhirnya dinyatakan memenuhi syarat dan masuk Bursa Ta'aruf, atau masih membutuhkan kelengkapan data, atau bahkan belum memenuhi ketentuan. "Proses ini dilakukan bukan untuk mempersulit peserta, tetapi sebagai bentuk amanah dan kehati-hatian," tegasnya, sebab Bursa Ta'aruf mempertemukan seseorang dengan calon pasangan untuk sebuah perkara yang serius: pernikahan.

Kehati-hatian yang sama berlaku saat tim menggali profil peserta. Hal ini bukan untuk mencari sosok sempurna, melainkan memastikan kejujuran sejak awal. "Data sebagai pintu awal, bukan satu-satunya dasar keputusan," tegas Akhuna Syawwal, karena keputusan akhir tetap membutuhkan ta'aruf, komunikasi, pertimbangan wali, istikharah, dan tawakal. Kerahasiaan data pun dijaga ketat. Akses dibatasi hanya untuk pengurus berwenang, dan informasi dibagikan bertahap sesuai kebutuhan proses. "Kami berusaha menghindari penyampaian informasi yang dapat menimbulkan fitnah, prasangka, atau membuka aib seseorang," ujarnya.

Adapun urutan pertimbangan tim dalam mencarikan calon dimulai dari aqidah dan manhaj, disusul akhlak dan karakter, visi pernikahan, kondisi kehidupan masing-masing, hingga preferensi pribadi yang sifatnya lebih personal. "Jangan sampai kriteria yang bersifat duniawi atau preferensi pribadi justru mengalahkan pertimbangan agama dan akhlak," pesan Pak Syawwal.

Berkenalan Lewat Perantara

Begitu dinyatakan lolos, peserta masuk ke Bursa Ta'aruf, semacam etalase profil berisi gambaran umum tiap peserta: latar belakang, pendidikan, pekerjaan, karakter, hingga visi pernikahan. Pada tahap ini, peserta belum berkomunikasi langsung dengan siapa pun. "Peserta dapat mempelajari data dan gambaran kepribadian calon secara umum," terang Pak Syawwal. Bila tertarik, peserta mengajukan ketertarikan lewat mekanisme yang tersedia lalu menunggu respons dengan tanpa paksaan dari kedua sisi. "Apabila salah satu pihak menyatakan tidak tertarik, keputusan tersebut dihormati dan proses tidak dilanjutkan," jelasnya. Bila kedua pihak bersedia, proses berlanjut ke sesi ta'aruf yang akan dimediasi Tim Wasilah sebagai mediator yang menjembatani seluruh komunikasi, sesuai gender masing-masing.

Akhuna Ashadi Ilham, peserta yang kini tengah menjalani proses ini, merasakan sendiri bagaimana mekanisme itu bekerja. Informasi tentang calon pasangan ia terima secara bertahap: dari yang paling umum, sampai perlahan ke hal yang lebih personal. "Untuk menyatakan tertarik atau tidaknya, Ana pribadi menganggapnya bukan sesuatu yang langsung ada atau didapatkan utuh sekaligus, tetapi lebih ke terbentuk perlahan seiring dengan proses ta'arufnya," ungkapnya.

Selama mediasi, antara ikhwan dan akhwat sama sekali tidak berkomunikasi langsung. Setiap pertanyaan disampaikan lewat mediator, dan batasannya jelas. Sehingga tidak ada yang namanya bertukar nomor pribadi, tidak ada saling follow media sosial, dan tidak ada obrolan yang mengarah ke hal romantis. "Regulasinya juga cukup jelas dan menjaga agar tetap sesuai syariat, contohnya tidak bertanya tentang aib masa lalu," tutur lulusan Yangzhou Polytechnic Institute itu.

Menurut Pak Syawwal, yang paling utama untuk digali di sesi ini justru bukan sekadar data di atas kertas, melainkan bagaimana nilai agama benar-benar diterapkan dalam keseharian calon, kemudian karakter, dan visi misi rumah tangga. Saudara Ilham pun merangkumnya dalam satu kata: "kecocokan." Mulai dari visi hidup, kondisi agama, kebiasaan, cara berpikir, sampai keluarga masing-masing.

Di Ambang Keputusan

Titik paling menegangkan dalam ta'aruf biasanya datang ketika rasa cocok mulai tumbuh. Menurut Pak Syawwal, di sinilah pendampingan justru paling dibutuhkan, sebab munculnya rasa cocok biasanya diikuti keinginan untuk lebih dekat. "Jangan sampai rasa cocok tersebut justru membuat seseorang melupakan tujuan awal ta'aruf dan batasan yang harus dijaga," ingatnya. Bila kedua pihak dan keluarga merasa mantap, proses berlanjut ke nazhor, pertemuan keluarga, lalu khitbah. Dan HSI Sakinah tetap mendampingi hingga ke titik itu, bahkan dengan melibatkan perwakilan yang terdekat dari domisili peserta. "Kami berusaha tetap mendampingi sampai proses berikutnya," tegasnya.

Akhuna Ashadi Ilham, saat wawancara ini berlangsung, tengah berada persis di ambang tahap tersebut, bersiap menjalani nazhor dalam waktu dekat. Ia bahkan sempat menyampaikan masukan kepada tim terkait salah satu klausul dalam formulir pengajuan nazhor yang menyebut "ikhwan & akhwat sudah sepakat akan menikah". Menurutnya, kata "sepakat" terasa terlalu mengikat. "Ana minta diksi sepakat diganti dengan bertekad dan berkeinginan kuat akan menikah, karena jika saat nazhor ada hal yang tidak sesuai dengan informasi saat mediasi, maka akan menjadi dilema antara mengingkari kesepakatan, atau melanjutkan dengan perasaan dibohongi," jelasnya.

Tatkala ditanya soal gejolak batin menjelang momen tersebut, jawabannya jujur dan manusiawi. Saudara Ilham menyampaikan bahwa, "Pergolakan yang paling Ana rasakan adalah campuran perasaan dan pertanyaan kepada diri sendiri, apakah Ana bisa menyesuaikan diri, apakah bisa menerima calonnya dengan lapang dada, apakah Ana bisa diterima, dan apakah Ana cukup pantas untuk disandingkan dengan calonnya." Meski begitu, ada satu keyakinan yang ia pegang teguh: "Selama merasa cocok dan tidak ada sebab dipalingkan dari proses ini, maka Ana yakin ketetapan Allah adalah yang terbaik."

Sebaliknya, jika di titik mana pun salah satu pihak merasa tidak cocok, proses dihentikan tanpa harus disertai alasan rinci. Peserta kembali ke Bursa Ta'aruf dan boleh mengajukan proses dengan calon lain. Satu hal yang ditegaskan Pak Syawwal bahwa privasi akan tetap dijaga tanpa kompromi apapun. "Setelah proses ta'aruf atau mediasi berakhir, masing-masing peserta diminta menghapus informasi atau data pribadi yang diperoleh," jelasnya. "Tidak cocok bukan berarti harus bermusuhan, apalagi kemudian membuka cerita pribadi kepada orang lain."

Pesan bagi yang Akan Memulai

Di penghujung wawancara, Pak Syawwal dan Saudara Ilham bersama menitipkan pesan bagi santri yang berencana mengikuti ta'aruf. Pak Syawwal menekankan pentingnya mengenali diri sendiri lebih dulu. "Jangan hanya bertanya, 'Saya ingin pasangan seperti apa?', tetapi juga tanyakan, 'Saya sendiri sudah siap menjadi pasangan seperti apa?'" pesannya. Ia juga mengingatkan agar peserta menyiapkan hati untuk dua kemungkinan sekaligus. "Kalau ternyata tidak cocok, jangan merasa gagal. Bisa jadi ketidakcocokan itu justru merupakan bentuk penjagaan Allah," ujarnya, sembari menekankan pentingnya tetap melibatkan orang tua sejak proses paling awal.

Dari sisi peserta, Akhuna Ashadi Ilham menitipkan catatan reflektif ihwal ego yang menurutnya kerap luput disadari. "Ego itu bisa muncul tidak hanya dengan perasaan mendahulukan kepentingan diri sendiri. Tapi bisa juga dengan perasaan ‘Aku mampu mengupayakan dan menyesuaikan diri untuk memenuhi semua permintaan dan keinginan sang calon’, lalu setelahnya muncul ego agar calonnya juga membalas," ungkapnya. Pesan beliau sederhana: jaga niat, perbanyak doa dan istikharah, serta ingat bahwa semua yang dilakukan semestinya karena Allah semata.

Bagi HSI Sakinah, keberhasilan ta'aruf tidak melulu diukur dari pernikahan yang terjadi. Menjaga adab, amanah, dan privasi setiap peserta, cocok atau tidak, dianggap sama pentingnya. Sebagaimana doa yang dititipkan Akhuna Syawwal di penutup wawancara: "Bagi yang telah dipertemukan dengan jodohnya melalui proses ini, semoga Allah menjaga rumah tangganya. Bagi yang masih menunggu, semoga Allah memberikan kesabaran. Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar menemukan pasangan, tetapi menemukan jalan untuk bersama-sama mendekat kepada Allah." Wallahu Waliyyut Taufiq.

14