Daurah Akidah Ta’shiliyah : Menjaga Warisan Ilmu dan Menempa Para Pewaris
Reporter: Dian Pujayanti
Redaktur: Dian Soekotjo
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ
"Semoga Allah mencerahkan (wajah) seseorang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya hingga dia menyampaikannya kepada orang lain..."[1]
Warisan ilmu para ulama tidak bertahan hanya karena tertulis dalam lembaran kitab. Sepanjang sejarah Islam, ilmu hidup dari generasi ke generasi karena selalu ada orang-orang yang mempelajarinya, menghafalnya, memahaminya, lalu mengajarkannya kembali melalui rantai transmisi yang kokoh. Tradisi luhur inilah yang menjadi benteng penjaga kemurnian dan keaslian ajaran Islam hingga tak luntur oleh zaman, biidznillah.
Di HSI AbdullahRoy, ikhtiar mulia menjaga tradisi tersebut terus dihidupkan secara konsisten. Salah satunya melalui Daurah Akidah Ta’shiliyah sebagai wadah belajar khusus. Daurah ini mempelajari syarah karya-karya ulama yang diikuti para penuntut ilmu dari berbagai usia, profesi, dan daerah yang tersebar luas. Meskipun terpisah jarak geografis dan sekat kesibukan dunia, mereka semua dipersatukan oleh satu cita-cita yang sama, yaitu menjadi bagian dari estafet penjaga ilmu Islam di masa depan.
Mengenal Daurah Akidah Ta'shiliyah
Program Hifzhul Mutun, yang berada di bawah naungan Divisi Tartil Akademi HSI, merupakan wadah bagi para penuntut ilmu yang ingin mendalami ilmu syar'i melalui hafalan matan-matan ilmiah karya para ulama. Dalam perkembangannya, program ini mengalami transformasi kurikulum yang cukup signifikan. Berdasarkan keterangan Koordinator Hifzhul Mutun Akhwat, Ustadzah Maryati Warsodiharjo, materi hafalan kini telah disusun mengikuti jenjang yang diterapkan di halaqah-halaqah Masjid Nabawi.
"Pada awalnya, tujuan utama program ini adalah membantu peserta menghafalkan matan-matan Aqidah yang telah dipelajari dalam program HSI Reguler. Namun, alhamdulillah, mulai tahun ini, materi yang dihafalkan tidak lagi terbatas pada kurikulum tersebut, melainkan sudah mengikuti jenjang hafalan yang berlaku di Masjid Nabawi," terang Ustadzah Maryati.
Perubahan kurikulum tersebut melahirkan kebutuhan baru dalam pelaksanaan program. Salah satunya adalah penyelenggaraan Daurah Aqidah Ta'shiliyah sebagai program transisi sebelum kurikulum baru diterapkan secara penuh.
Insyaallah, daurah akan dimulai pada 24 Agustus 2026. Waktu pelaksanaannya dipilih untuk mendukung rencana penyeragaman jadwal pembelajaran seluruh angkatan. Melalui kebijakan ini, seluruh angkatan akan memulai pembelajaran, melaksanakan tasmi', hingga mengikuti ujian akhir pada waktu yang sama.
Sebelum penyeragaman tersebut diberlakukan, terdapat dua angkatan yang memiliki masa jeda. Agar waktu tersebut tetap produktif dan para peserta tidak berhenti belajar, mereka mengikuti Daurah Akidah Ta'shiliyah sebagai program pengisi masa transisi.
Meskipun waktu persiapannya hanya sekitar dua pekan, penyelenggaraan daurah ini berjalan dengan lancar. "Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, seluruh persiapan dapat diselesaikan dengan baik. Selain menjadi solusi atas masa jeda, daurah ini juga menjadi langkah awal bagi pengembangan Program Hifzhul Mutun ke depan," ungkap Ustadzah Mary, demikian sapaan akrabnya.
Ke depan, Divisi Tartil Akademi melalui Program Hifzhul Mutun berkomitmen untuk menyelenggarakan berbagai daurah syarah (penjelasan) matan sebagaimana sistem yang diterapkan di Masjid Nabawi. Dengan demikian, para peserta tidak hanya menghafalkan matan, tetapi juga memahami kandungannya secara lebih mendalam.
Sebagai langkah awal, Daurah Akidah Ta'shiliyah akan menggunakan rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullah sebagai materi syarah. Matan yang dibahas merupakan bagian dari kurikulum resmi Hifzhul Mutun sehingga pembahasannya diharapkan dapat memperkuat hafalan sekaligus memperdalam pemahaman para santri.
Bukan Daurah Biasa
Salah satu keistimewaan Daurah Akidah Ta'shiliyah adalah tidak hanya menghadirkan pembelajaran syarah matan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mulai berlatih menghafal matan. Program hafalan ini ditujukan khususnya bagi peserta yang selama ini belum terbiasa menghafal matan atau masih merasa ragu untuk memulai. Sebab, tidak sedikit penuntut ilmu yang telah mengikuti berbagai kajian, tetapi belum memiliki kebiasaan menghafal ringkasan ilmu yang disusun para ulama. Padahal, hafalan matan merupakan salah satu sarana penting untuk mengokohkan ilmu.
“Oleh karena itu, peserta diajak menghafal memulai dari matan yang paling ringkas, yaitu Matan Nawaqidhul Islam, sehingga lebih mudah dihafalkan oleh pemula sesuai dengan kemampuan masing-masing. Selama masa daurah, peserta memiliki waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan target hafalan. Untuk membantu proses tersebut, disediakan grup-grup hafalan yang dibimbing oleh para mu'allim dan mu'allimah. Mereka akan menyimak setoran hafalan, memberikan koreksi, serta mendampingi peserta hingga terbiasa menghafal matan,” urai Ustadzah Mary dalam komunikasi bersama Majalah HSI melalui chat WhatsApp.
Daurah Aqidah Ta'shiliyah berfokus pada penguasaan empat matan aqidah fundamental, yaitu Matan Nawaqidhul Islam, Matan Al-Qawa'idul Arba', Matan Tsalatsatul Ushul, dan Matan Ushulus Sittah. Keempat matan tersebut tidak hanya ditargetkan untuk dihafalkan, tetapi juga dipelajari melalui 15 sesi syarah yang diselenggarakan sepanjang daurah. Perpaduan antara hafalan matan dan pemahaman terhadap maknanya diharapkan dapat membentuk fondasi akidah yang lebih kokoh, sistematis, dan berkelanjutan bagi para peserta.
Seluruh proses pembelajaran dan administrasi akademik difasilitasi secara digital melalui Web HSI Edu. Melalui sistem ini, peserta dapat mengakses materi pembelajaran sekaligus mengikuti 15 kali evaluasi yang dilaksanakan secara berkala untuk mengukur capaian belajar. Bagi peserta program hafalan, tersedia pula sistem penjadwalan tasmi' yang fleksibel sehingga waktu setoran dapat dipilih secara mandiri sesuai dengan ketersediaan waktu peserta maupun mu'allim atau mu'allimah yang bertugas.
Adapun mengenai ketentuan kelulusan, penyelenggara daurah mensyaratkan nilai rata-rata minimal 70 serta keikutsertaan dalam sedikitnya 10 dari 15 sesi evaluasi untuk memperoleh e-sertifikat Keikutsertaan Daurah. Selain itu, panitia juga menyediakan e-sertifikat Hafalan Matan yang diberikan secara terpisah untuk setiap kitab yang berhasil dituntaskan dengan nilai tasmi' minimal 70 atau predikat Jayyid. Dengan demikian, peserta yang berhasil menyelesaikan seluruh target hafalan berkesempatan memperoleh hingga empat sertifikat hafalan sebagai bentuk apresiasi atas capaian belajarnya.
Pewaris Ilmu dari Berbagai Penjuru
Sebanyak 958 peserta dengan berbagai latar belakang menyatakan kesiapannya untuk berkumpul dalam satu ruang belajar virtual. Itulah pemandangan luar biasa yang terjadi pada Daurah Akidah Ta'sisiyah kali ini. Diikuti oleh ratusan peserta ikhwan dan akhwat, program ini tampaknya menjadi magnet bagi mereka yang haus ilmu agama. Meski panitia masih merapikan data administrasi untuk rincian gender yang lebih spesifik, satu hal yang pasti, atmosfer semangat belajar dari seluruh peserta sudah terasa begitu membara sejak hari pertama pendaftaran dibuka.
Secara umum, daurah didominasi oleh peserta dari kalangan anak muda di rentang usia produktif 20 - 40 tahun, seperti Ukhtuna Aisyah (30 thn) asal Semarang dan Ustadzah Nuril Wajhi (31 thn) dari Lombok Barat. Namun, siapa sangka jika ruang belajar ini juga dihadiri oleh semangat emas dari generasi senior. Tengok saja kisah inspiratif Ummu Mahi, seorang ibu rumah tangga kelahiran 1971 asal Magelang, yang tetap maju pantang mundur memperdalam sunnah. “Mengikuti daurah ini, untuk menghilangkan kejahilan pada diri Umi karena dilahirkan dari keluarga yang awam. Dan qadarullah mengenal sunnah ini ketika sudah berumah tangga. Jadi Umi semangat terus memperdalam ilmu, belajar, meskipun dengan terbata-bata,” terangnya. Fakta ini menjadi tamparan positif bagi kita semua bahwa usia hanyalah angka, dan selama hayat di kandung badan, semangat belajar harus tetap muda untuk meraih bekal akhirat.
Menariknya, kesibukan harian yang padat terbukti bukan menjadi alasan untuk ‘pensiun’ belajar bagi para peserta yang berprofesi sebagai mahasiswa, pelajar, pegawai, hingga Ibu Rumah Tangga (IRT). Simak saja perjuangan Ukhtuna Nuril Wajhi yang harus mengasuh dua putri sekaligus muqim mengurus santriwati sambil mengajar Tahsin di Ponpes Imam Syafi'i Praya, Lombok Tengah. Di tengah segudang aktivitas siang hari, ia menyiasatinya dengan menyimak materi daurah pada malam hari sebelum tidur. “Ana mengikuti daurah ini, karna ana ingin menghafal matan serta menambah wawasan mengenai kitab-kitab yang memang seharusnya kita pelajari dan ketahui. Meski di tengah kesibukan sehari-hari, bukan berarti membuat ana harus vakum dalam belajar dan terus belajar. Ana membagi waktu ketika malam hari dengan menyimak daurah dan materi yang telah disediakan sebelum tidur,” terang Ukhtuna Nuril
Pola ini serupa dengan pilihan Ukhtuna Aisyah dan Ummu Mahi yang berkomitmen menyusun prioritas harian, mendahulukan ridha suami bagi yang telah menikah, serta mengetuk pintu langit dengan memohon pertolongan Allah agar diberi keberkahan waktu di tengah jadwal tasmi' malam hari.
Daurah ini terbukti sekaligus menjadi jembatan emas, baik bagi para alumni berbagai lembaga pendidikan Islam atau ma'had yang ingin melengkapi proses belajar lewat hafalan matan terstruktur, maupun bagi para pemula. Bagi Ukhtuna Aisyah yang baru pertama kali ikut daurah intensif seperti ini, sistem yang berjalan memicu antusiasme besar untuk bisa menghafal sekaligus memahami makna kitab secara terarah. Sementara bagi Ukhtuna Nuril yang sebelumnya sempat mencicipi daurah tiga bulan di HSI Akademi, waktu belajar yang fleksibel yang diadopsi, sangat membantu dirinya menuntaskan tugas meski di tengah waktu yang mepet.
Semua peserta dipersatukan oleh target mulia yang sama, tidak sekadar lulus, melainkan istiqamah menjaga hafalan, memahami materi, dan siap melanjutkan ke tahapan matan-matan ilmiah berikutnya.
Gaung daurah ini ternyata menggema demikian luas melintasi batas-batas geografis. Walau mayoritas peserta domestik berasal dari Pulau Jawa, sekitar 30% di antaranya datang dari luar Pulau Jawa seperti Nusa Tenggara Barat, bahkan diikuti pula oleh peserta luar negeri yang berdomisili di Malaysia, Arab Saudi, hingga Jerman. Jarak ribuan kilometer runtuh oleh satu visi pasca daurah, yaitu keinginan kuat untuk mengamalkan ilmu serta mendakwahkannya kembali di lingkungan keluarga, kerabat, maupun kawan sekitar. Ada pesan demikian menggugah disampaikan Ukhtuna Aisyah kepada pembaca Majalah HSI, "Jangan menunggu waktu luang untuk belajar agama, tetapi luangkanlah waktu untuk agama karena ilmu syar'i adalah jalan menuju hidayah, amal, dan keselamatan.”
Ilmu yang Masih Relevan
Dalam khazanah keilmuan Islam, tradisi menghafal menjadi pilar dan fondasi sangat penting. Para ulama terdahulu menyusun resume ilmiah ini dari berbagai kitab dan majelis. Disusun melalui proses panjang yang terstruktur.
"Tujuan matan itu agar terpelihara ilmu dari generasi ke generasi dengan menghadirkan pokok atau ringkasan dari ilmu di masing-masing bidang, agar umat bisa menghafalnya. Bisa dikatakan seperti rumus. Polanya seperti ini, agar tahapan-tahapan untuk memahami sebuah ilmu itu mudah," terang Direktur sekaligus Pembina Divisi Tartil Akademi, Akhuna Kurnia Adhiwibowo. Sebagai pelaksana sementara Daurah Aqidah Ta’shiliyah, Mas Kurnia, demikian beliau akrab disapa, menyatakan bahwa metode belajar diadopsi secara sistematis agar umat memiliki pijakan yang runtut sebelum menyelami syarah yang lebih luas dan kompleks.
Menghafal matan menjadi kunci utama yang membantu pemahaman ilmu secara mendalam, karena hafalan yang kuat bertindak sebagai penyimpan dasar-dasar ilmiah di dalam dada. Proses ini menanamkan kerangka berpikir logis yang membuat keterkaitan antardalil menjadi jauh lebih mudah dicerna. "Tradisi kita di Islam, menghafal itu adalah gerbang memahami sesuatu. Karena kalau kita menghafal, kita lebih mudah memahami, karena dalam proses ini akan menempel di pikiran kita. Ini adalah kunci dasar," ulas Mas Kurnia. Beliau menambahkan bahwa dalam pembelajaran Islam, penuntut ilmu dianjurkan untuk menghafal terlebih dahulu, lalu memahami, lantas mengamalkan. Seluruh proses demikian saling melengkapi.
Di era modern, ketika kajian tematik instan lebih populer dan fenomena kajian kitab semakin berkurang, urgensi gerakan Hifzhul Muthun menjadi sangat relevan bahkan sangat dibutuhkan. Di tengah deras arus informasi digital, umat justru membutuhkan informasi terstruktur berupa pokok-pokok agama yang kokoh. "Ibarat sebuah rumah, matan itu seperti fondasi-fondasi di bawah rumah itu sendiri. Lalu ketika itu kokoh, ke atasnya semakin mudah," tambah Mas Kurnia memaparkan pentingnya muatan materi daurah tersebut. Ibaratnya, Sub Divisi Hifzul Muthun di bawah naungan Akademi Tartil, tengah menghidupkan kembali tradisi ilmiah nan mulai langka. Hifzhul Mutun tengah membangun tameng intelektual menghadapi tantangan zaman.
Melalui Daurah Akidah Ta'shiliyah ini, besar harapan lahir kembali semangat baru di kalangan penuntut ilmu untuk melazimkan aktivitas menghafal. Tidak hanya menghafal Al-Qur'an, tetapi juga matan-matan ilmiah. Ada harapan program ini tidak berhenti pada hafalan semata, melainkan menjadi langkah awal mengubah cara belajar dan berpikir umat. "Pastinya jangan berhenti hanya menghafal saja, tetapi menjadi fondasi dan gerbang awal yang berkaitan dengan agama kita, dan ketika kita diminta kelak berdakwah kita telah memiliki kerangka-kerangka yang telah dipelajari," tutur Mas Kurnia. Melalui komitmen belajar bersama ini, para alumni diharapkan mampu memahami kaidah Islam yang syar'i secara utuh dan menjadi lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di Balik Penyelenggaraan
Keberlangsungan dan kelancaran Daurah Akidah Ta'sisiyah di bawah Hifzhul Mutun tidak berjalan instan. Ada gerak kolektif yang kokoh dari berbagai pihak di balik layar. Program ini berada di bawah koordinasi Divisi Tartil Akademi.
Sinergi tanpa lelah ini juga melibatkan peran pemateri utama, Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah. Materi rekaman syarah telah disiapkan secara khusus untuk program daurah. Mutu ilmiah dijaga ketat oleh para asatidz serta muhaffiz dan muhaffizah sebagai penyimak, pengoreksi, dan penguji setoran hafalan peserta.
Dedikasi diperkuat oleh kesigapan operasional tim lapangan. Total ada 37 panitia akhwat dan sekitar 15 hingga 20 panitia ikhwan yang telah ditugaskan mengelola kendala administrasi serta sistem digital, baik siang dan malam.
Di balik penyelenggaraan daurah ini, terdapat dukungan pendanaan yang dikelola secara terstruktur sehingga pelaksanaan majelis ilmu dapat berjalan dengan baik. Salah satu sumber pendanaan berasal dari Yayasan HSI AbdullahRoy sebagai bentuk dukungan terhadap berbagai program yang diselenggarakan Divisi Tartil Akademi. Selain itu, operasional program juga ditopang oleh kontribusi biaya pendaftaran dari peserta di luar Program Hifzhul Mutun, yakni santri HSI Reguler maupun peserta umum yang turut bergabung. Sebaliknya, sebagai bentuk apresiasi atas kesungguhan dalam mengikuti program hafalan matan, seluruh santri dan santriwati internal Program Hifzhul Mutun dibebaskan dari biaya pendaftaran. Sistem subsidi silang dan kedermawanan akan menjadi elemen krusial yang menjaga motor operasional dakwah tetap berputar stabil, sehingga program berkualitas tinggi dapat terus dinikmati oleh kaum muslimin dari berbagai latar belakang ekonomi.
Sinergi kolektif yang harmonis ini membuka peluang bagi setiap muslim untuk ikut andil menanam investasi akhirat dalam proyek pelestarian ilmu agama. Pada hakikatnya, setiap individu dapat mengambil bagian dalam menjaga warisan ilmu sesuai dengan kapasitas yang telah Allah titipkan, baik sebagai pembelajar, pengajar, pengelola teknis, maupun pendukung dakwah. Bagi pihak yang memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penyelenggaraan daurah atau koordinasi program, komunikasi resmi dapat dijalin melalui Divisi Tartil Akademi. Melalui estafet kontribusi yang terus tersambung ini, beban dakwah yang berat terasa lebih ringan sekaligus memastikan warisan ilmu para ulama tetap hidup dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi generasi demi generasi ke depan.
Semoga Allah Jalla Jalaluh memberikan kemudahan, keberkahan ilmu, dan menjadikan ilmu yang dipelajari bermanfaat serta diamalkan. Aamiin.