Sirah

Dari Tempat yang Baik, Tumbuhlah Lelaki yang Baik

Penulis: Fadhilah Hasanah

Editor: Athirah Mustadjab


Biografi Singkat Al-Hasan Al-Bashri

Di sebuah rumah yang penuh berkah, lahirlah seorang bayi lelaki. Bayi lelaki ini diberi nama Al-Hasan. Ayahnya bernama Yasar. Dia adalah budak Zaid bin Tsabit -- Zaid bin Tsabit adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus seorang penulis wahyu. Ibunya bernama Khairah, budak Ummu Salamah – Ummu Salamah adalah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ibunda Al-Hasan pergi untuk sebuah hajat sedangkan Al-Hasan menangis, Ummu Salamah akan menyusuinya. Banyak yang mengatakan bahwa dengan sebab itulah Al-Hasan mendapatkan keberkahan sehingga dia pun memiliki kefasihan yang mendalam. Al-Hasan dikenal sebagai salah satu tabi’in yang shalih. Dia belajar dari banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga -- dengan izin Allah -- ilmunya sangat luas. Dia tumbuh menjadi ahli tafsir, hadits, bahasa dan ilmu lainnya.[1]

Al-Hasan dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijriyah, pada dua tahun terakhir masa kekhalifahan Umar bin Khathab.[2] Dia banyak didoakan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk Umar bin Khathab. Umar mendoakan Al-Hasan, “Ya Allah, pahamkanlah ia tentang agama-Mu ini dan jadikanlah manusia mencintainya.”[3]

Salah seorang murid Al-Hasan, yang bernama Ar-Rabi’ bin Anas, berkata, “Selama 20 tahun aku bolak-balik mendatangi Al-Hasan. Setiap hari aku selalu mendapatkan ilmu baru. Dia adalah seseorang yang fasih, cerdas, dan tutur katanya santun.”[4]

Sungguh beruntung Al-Hasan. Dia lahir dari rahim seorang wanita shalihah. Ayahnya juga seorang yang shalih. Dia tumbuh di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5] Masa kecilnya juga ada di antara rumah-rumah para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berjumpa dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Al-Hasan termasuk dalam golongan tabi’in. Tak heran, ucapan yang keluar dari lisannya senantiasa penuh hikmah. Bukankah teko hanya akan mengeluarkan isinya?

Perjalanan untuk Menuntut Ilmu

Al-Hasan berada di Madinah hingga usianya 14 tahun. Di Madinah, dia berjumpa dengan 300 sahabat -- 70 di antara mereka adalah sahabat yang mengikuti Perang Badar. Dari merekalah Al-Hasan menimba ilmu agama.[6]

Hidupnya dihiasi dengan keindahan, zahir maupun batin. Dia cerdas, berakhlak baik, bertubuh kuat, berlisan fasih, sering beramar ma’ruf dan nahi mungkar, pemberani, berpenampilan bersih dan bagus, zuhud, serta rajin beribadah. Demikianlah pujian para ulama untuknya.[7]

Majelis Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang apabila berbicara, maka kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya ibarat mutiara. Ucapan yang keluar dari mulut Al-Hasan Al-Bashri itu seperti kalimat yang dituturkan oleh para Nabi. Di antara nasihatnya adalah sebagai berikut.

  1. Tidaklah seseorang mengagungkan sebuah dirham, kecuali Allah akan merendahkannya.
  2. Wahai Anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika ada satu harimu yang telah berlalu, maka berlalu pulalah sebagian dirimu.
  3. Seburuk-buruk teman adalah dinar dan dirham. Keduanya tidak memberi manfaat kepadamu hingga keduanya berpisah denganmu.
  4. Akhlak baik yang sebenarnya adalah memberikan pengorbanan berupa kebaikan, menahan untuk tidak menganggu, dan berwajah ceria.
  5. Mukmin itu selalu beramal dengan ketaatan dalam keadaan takut amalannya tidak diterima oleh Allah. Adapun para pendosa itu bermaksiat dalam keadaan merasa aman.

Referensi:

  1. Muqarrarus Sirah lish Shaffits Tsalits Al I’dadiy Bi Qathr.
  2. Siyaru A’lamin Nubala.
  3. Al-Hasan Al-Bashri Imamuz Zahidin.
  4. Kitab Durus Lisy Syaikh Al-Munajjid.
  5. Al-A’lam Az-Zarkali.
  6. Ad-Daulah Umawiyyah.
  7. Al-Waqtu wa Ahammiyatuhu fi Hayatil Islam.
  8. Ad-Daulatul Umawiyyah Awamilul Izdihar wa Tad’iyyat.
  9. Aunul Ma’bud.
  10. Tuhaful Khathibi was Sami’ min Khathbil Jawami’.
0