Dari Stan HSIBS : Membaca Pilihan Ayah-Bunda Demi Pendidikan Ananda
Kontributor: Rythma Febiyanti
Redaktur: Dian Soekotjo
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
[QS At Tahrim: 6]
Memilih sekolah berarti menitipkan sebagian waktu, pendidikan, dan proses tumbuh anak kepada sebuah lingkungan. Karena itu, banyak hal menjadi tinjauan. Orang tua tentu menginginkan pendidikan terbaik versi mereka untuk buah hati. Pertimbangannya pun tidak berhenti pada ihwal kurikulum dan fasilitas.
Beragam pertanyaan muncul dalam pertemuan HSI Boarding School (HSIBS) dengan para pengunjung stan di Muslim Life Fest 2026 dan Edu Nation Fest 2026, akhir Agustus lalu. Ada yang ingin mengetahui program sekolah, biaya, dan kehidupan boarding, ada pula yang lebih jauh mempertanyakan lingkungan pendidikan, pembinaan agama dan adab, hingga bekal keterampilan untuk anaknya menyongsong masa depan.
Bagi HSIBS, dua pameran tersebut bukan hanya kesempatan memperkenalkan sekolah. Percakapan dengan para calon wali murid justru menjadi ruang untuk mendengar apa yang sedang dicari orang tua ketika memilih pendidikan untuk anak.
Hadir di Tengah Pencarian Sekolah
Keikutsertaan HSIBS dalam Muslim Life Fest dan Edu Nation Fest 2026, merupakan kesempatan kali pertama. Salah satu tujuannya ialah mendekatkan informasi pendidikan kepada masyarakat yang sedang mencari sekolah untuk anak.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Keasramaan HSIBS, Ustadzah Nabila Widya Syafitri, mengatakan, melalui pameran, orang tua dapat memperoleh informasi secara langsung mengenai pilihan pendidikan yang mungkin sesuai dengan kebutuhan mereka. “Kami mencoba membuat interaksi yang bukan hanya sekadar kasih brosur atau menjelaskan program kemudian pulang, tapi kami juga menggali kebutuhan mereka,” ujarnya.
Di sisi lain, HSIBS juga mencoba merealisasikan agenda publikasi sekolah demi memperkenalkan keberadaannya. Selama pameran, tim menemukan sejumlah pengunjung yang baru mengetahui bahwa HSI memiliki boarding school. Bahkan, menurut Ustadzah Nabila, beberapa penyelenggara pameran pun mengetahuinya baru pada hari itu.
“Ini menjadi insight buat kami bahwa ternyata keberadaan HSI Boarding School sendiri masih perlu lebih banyak dikenalkan kepada masyarakat,” ujarnya kepada Majalah HSI melalui chat WhatsApp.
Demi Pilihan yang Tepat
Dari percakapan bersama para pengunjung stand selama pameran, HSIBS mengantongi beragam pertanyaan. Ada pengunjung yang ingin mengetahui program sekolah, jadwal penerimaan peserta didik baru (PSB), biaya pendaftaran, kehidupan santri sehari-hari, hafalan dan target hafalan, hingga beasiswa.
Beragamnya pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki pertimbangan yang berbeda. Namun, ketika percakapan bergerak lebih jauh dari sekadar informasi teknis, muncul persoalan yang lebih mendasar tentang metode pendidikan yang diharapkan orang tua untuk anak mereka.
Ummu Maryam misalnya, salah seorang pengunjung stan, datang karena ingin mencari referensi pondok pesantren. Ia selama ini mengenal HSI sebagai platform pembelajaran agama Islam dan tertarik mengetahui lebih jauh ketika mengetahui HSI memiliki boarding school.
Baginya, keselarasan visi dan misi sekolah dengan pendidikan di rumah menjadi pertimbangan penting. “Sebagai orang tua tentu ingin pendidikan yang diberikan di sekolah sejalan dan konsisten dengan yang ditanamkan di rumah sehingga anak tidak bingung,” tuturnya.
Ummu Maryam yang datang ke pameran bersama dua putranya, memiliki kekhawatiran ketika pendidikan anak terlalu berfokus pada persiapan kehidupan dunia, sementara bekal akhirat kurang diperhatikan. Di sisi lain, ia tetap menginginkan anak-anaknya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan mereka di masa depan.
Pertimbangan serupa muncul dari pengunjung lain. Akhuna Muhammad Iqbal bersama sang istri kompak berpendapat bahwa keseimbangan antara penanaman pemahaman agama yang shahih berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para salaf, dengan pendidikan akademik menjadi salah satu pertimbangan mereka. “Justru karena ini di bawah bendera HSI dan ada nilai plus pemberian skill IT yang booming saat ini, makanya kami tertarik mencari info lebih lanjut,” ujar Pak Iqbal. “Iklannya mencetak generasi yang jago IT dan pinter ngaji. Ini cukup menjanjikan,” timpal sang istri. Keduanya adalah santri HSI, sehingga mengaku sudah lama mengetahui keberadaan HSIBS dari BC pesan yang dibagikan ke GD santri HSI Reguler. “Sejak tahu ada HSIBS, memang ingin sekali menyekolahkan anak kemari. Pas sekali tempatnya juga dekat. Kami sengaja kesini karena baca flyer HSIBS yang dibagikan ke GD juga kemarin, dan alhamdulilah jadi ada kesempatan untuk tanya-tanya,” terang Pak Iqbal kembali.
Bukan saja materi pembelajaran yang menjadi perhatian, ternyata lingkungan pergaulan dan paparan media digital juga menjadi pertimbangan orang tua. Seperti Ibu Rena yang menyoroti persoalan keamanan lingkungan pendidikan. Ia ingin mengetahui bagaimana sekolah menangani bullying dan berbagai penyimpangan yang saat ini memang menjadi kekhawatiran sebagian orang tua. “Karena kami menitipkan anak kami di situ dan kami tidak bisa menjangkau atau memastikan keadaannya setiap saat,” ujarnya.
Bagi Ibu Rena, kejelasan visi dan misi sekolah, kurikulum, program unggulan, serta peran para pengajar dan musyrif dalam menjaga lingkungan menjadi bagian dari pertimbangan sebelum menitipkan anak.
Agama, Adab, dan Bekal Menghadapi Masa Depan
Di tengah beragam pertimbangan tersebut, berbagai kebutuhan tampaknya bertemu di satu titik, yaitu bahwa orang tua ingin anak memiliki pondasi agama yang kuat tanpa kehilangan bekal untuk menghadapi perkembangan zaman.
Hal ini telah teramati oleh Kepala Sekolah HSI Boarding School, Ustadz Fauzi M. Noor. Menurutnya, orang tua kini tidak hanya mencari sekolah yang kuat dalam agama dan akademik, tetapi juga ingin anak memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal menghadapi masa depan. Salah satu keterampilan yang cukup banyak ditanyakan adalah IT.
“IT sudah bukan lagi sekadar tambahan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan mereka,” jelasnya.
Menurut Ustaz Fauzi, tantangan bagi keluarga Muslim adalah bagaimana anak dapat mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai agama dan adab. “Jangan sampai anak memang hebat secara teknologi, tetapi lemah dalam agama. Sebaliknya, jangan juga hanya kuat dalam agama tetapi tidak memiliki bekal untuk menghadapi dunia yang terus berubah,” lanjutnya.
Karena itu, HSIBS memadukan pendidikan Qur’ani, bahasa, dan IT.
Ketika Pendidikan Berlangsung Sepanjang Hari
Bagi HSIBS, pembentukan anak juga tidak bisa berhenti di ruang kelas. Ustadz Fauzi menjelaskan bahwa boarding bukan sekadar tempat anak tinggal. Lingkungan akan menjadi bagian dari proses pendidikan karena anak dapat dibimbing dalam kesehariannya.
“Anak belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, bergaul, sekaligus membiasakan ibadah dan adab,” papar beliau.
Pembiasaan tersebut diharapkan membuat agama dan adab tidak berhenti sebagai pengetahuan. Anak diharapkan bisa belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, capaian pendidikan yang diusung HSIBS bukan hanya menghasilkan anak yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki iman, akhlak, kemandirian, dan kesiapan menghadapi perubahan.
Bagi Ustadz Fauzi, sekolah juga tidak bisa mengenyampingkan perannya sebagai pendamping orang tua dalam hal menyelenggarakan pendidikan bagi anak, bukan pengganti. “Sekolah itu bukan pengganti peran orang tua, tetapi partner orang tua dalam mendidik anak,” ujarnya.
Menampung Masukan Demi Perbaikan
Pameran akhirnya tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal HSIBS. Bagi sekolah, percakapan dengan pengunjung memberikan sejumlah catatan.
Salah satunya adalah kebutuhan untuk memperkuat pengenalan HSIBS kepada masyarakat. Banyaknya pengunjung yang baru mengetahui keberadaan boarding school menunjukkan bahwa informasi tentang sekolah masih perlu disampaikan melalui lebih banyak ruang pertemuan.
Evaluasi bersifat teknis ditemukan oleh Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum, Ustaz Zicko. Beliau mengemukakan bahwa ternyata ada celah perbaikan yang dapat dilakukan HSIB pada kesempatan ekshibisi ke depan. Salah satunya tentang informasi lokasi HSIBS.
“Yang sering ditanyakan oleh pengunjung adalah mengenai tempat, ini tempatnya dimana, seperti itu. Kami jelaskan, kita ada 3 tempat di Sukabumi, Purworejo, dan Bekasi. Ikhwan itu di Sukabumi dan Purworejo. Adapun akhwat di Bekasi. Seperti itu. Itu yang sering ditanyakan,” ujarnya. “Mungkin kami menyimpan nama tempat itu hanya di brosur jadi tidak di tempat yang mudah untuk dilihat,” imbuhnya. Mungkin informasi tersebut perlu dibuat lebih mudah terlihat agar pengunjung tidak harus mencarinya di brosur.
Ustadzah Nabila mengantongi catatan tersendiri selama pameran. Menurutnya beberapa pengunjung menanyakan HSIBS jenjang SMP. Bahkan salah seorang di antaranya menyampaikan masukan agar HSIBS segera membuka jenjang SMP. Ini disampaikan sang pengunjung karena menilai konsep pendidikan HSIBS cukup menarik dan berniat merekomendasikannya kepada sang keponakan yang akan segera tamat SD.
Masukan-masukan yang diperoleh selama pameran tentu demikian berharga untuk perbaikan HSIBS. Bagi Ustaz Fauzi, kebutuhan orang tua memang terus berkembang. Maka HSIBS dapat merumuskan langkah penyempurnaan dari sana. “Bukan berarti mengubah arah pendidikan, tapi lebih kepada menyempurnakan dan menyesuaikan apa yang sudah kami jalankan dengan kebutuhan anak dan orang tua saat ini,” ujarnya.
Pada akhirnya, dua pameran tersebut memperlihatkan bahwa memilih sekolah bukan sekadar mencari tempat anak memperoleh pelajaran. Di balik pertanyaan tentang kurikulum, biaya, fasilitas, lokasi, bahasa, atau IT, ada kegelisahan orang tua tentang siapa yang akan membersamai anak ketika mereka tidak berada di sisi.
Ada harapan agar anak memiliki pondasi agama dan adab yang kuat, tetapi juga mampu belajar, beradaptasi, mandiri, dan menghadapi dunia yang terus berubah.
Sebab, ketika orang tua memilih sekolah, yang mereka titipkan bukan hanya masa belajar anak. Mereka juga sedang mempertimbangkan lingkungan tempat anak bertumbuh dan bekal yang akan dibawanya ketika kelak melangkah keluar dari gerbang sekolah.
Semoga HSIBS terus tumbuh dan menjadi salah satu pilihan pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan anak-anak di tengah tantangan zaman, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Semoga HSI AbdullahRoy juga terus dimudahkan untuk mengembangkan HSIBS, baik dengan menghadirkan jenjang pendidikan lainnya maupun memperluas keberadaannya di berbagai kota.
Mari mendoakan dan mendukung ikhtiar HSI AbdullahRoy agar HSIBS dapat terus bertumbuh, sehingga semakin banyak keluarga yang memiliki akses terhadap pendidikan yang memadukan ilmu agama, pembentukan karakter, dan bekal untuk menghadapi perkembangan zaman. Baarakallahu fiikum.