Dari Redaksi
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Dari Redaksi

Menjaga Fitrah, Menyelamatkan Generasi

Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmush shalihat. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, serta orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.

Hari ini, anak-anak kita tumbuh di tengah dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang pernah kita kenal. Melalui sebuah gawai, mereka dapat menjelajahi berbagai informasi, menyaksikan beragam tayangan, berkenalan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, bahkan bergabung dengan komunitas yang tidak pernah kita ketahui keberadaannya.

Tidak semua yang hadir di hadapan mereka membawa kebaikan. Ada berbagai gagasan dan gaya hidup yang dahulu dianggap menyimpang, kini ditampilkan sebagai sesuatu yang biasa. Ada konten yang dikemas dengan cerita persahabatan, cinta, penerimaan diri, dan kebebasan, sehingga batas antara sesuatu yang benar dan salah perlahan dapat menjadi kabur.

Salah satu persoalan yang perlu kita perhatikan adalah fenomena LGBT. Persoalan ini bukan lagi sekadar pembahasan tentang perilaku individu. Ketika suatu penyimpangan mulai dinormalisasi, dipromosikan, bahkan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai sesuatu yang harus diterima, kita perlu bertanya: bagaimana semua ini dapat terjadi? Mengapa sebagian anak dan remaja bisa terpapar? Dan apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga mereka?

Dalam Islam, persoalan ini memiliki landasan yang jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kaum Nabi Luth 'alaihissalam sebagai pelajaran bagi manusia. Mereka bukan hanya melakukan kemungkaran, tetapi juga melampaui batas dan menolak nasihat. Allah berfirman melalui perkataan Nabi Luth 'alaihissalam:

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ ۝ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabb-mu untukmu? Bahkan, kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara: 165–166)

Namun, mengetahui bahwa suatu perbuatan dilarang tidak serta-merta membuat seseorang mampu me njauhinya. Ada hawa nafsu yang harus dikendalikan, lingkungan yang dapat memengaruhi, paparan konten yang tidak sesuai usia, serta berbagai persoalan pribadi yang mungkin tidak diketahui orang lain. Karena itu, pembahasan ini tidak cukup berhenti pada penjelasan hukum. Kita juga perlu memahami bagaimana persoalan dapat tumbuh, bagaimana mencegahnya, dan bagaimana membimbing orang yang sedang berusaha keluar dari keadaan tersebut.

Di sinilah kita perlu bercermin. Apakah kita sudah sungguh-sungguh memperhatikan apa yang ditonton anak-anak kita? Sudahkah kita mengetahui dengan siapa mereka bergaul dan kepada siapa mereka mencurahkan isi hati? Sudahkah rumah menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk bertanya tentang tubuh, perasaan, dan berbagai persoalan yang mereka hadapi?

Jangan sampai kita merasa anak-anak aman hanya karena mereka berada di rumah atau bersekolah di lembaga agama. Bisa jadi, secara fisik mereka berada dekat dengan kita, tetapi pikiran dan pandangan hidup mereka setiap hari dibentuk oleh sesuatu yang tidak kita ketahui.

Orang tua tidak cukup hanya menyediakan kebutuhan materi dan memilihkan sekolah yang baik. Anak juga membutuhkan pendidikan iman, adab, penjagaan aurat, pemahaman tentang fitrah, komunikasi yang terbuka, serta pendampingan dalam menggunakan teknologi. Mereka perlu mengetahui bahwa tidak semua perasaan harus diikuti, tidak semua keinginan harus dipenuhi, dan tidak semua informasi yang mereka temukan dapat dijadikan pedoman.

Pada saat yang sama, kita juga harus memahami bahwa tidak setiap orang yang mengalami kecenderungan atau pergulatan tertentu otomatis melakukan perbuatan yang dilarang. Ada orang yang sedang diuji dan berusaha menjaga dirinya. Ada yang membutuhkan bimbingan, ada yang ingin bertaubat, dan ada pula pihak yang secara aktif mempromosikan serta menormalisasi penyimpangan. Semua keadaan tersebut membutuhkan sikap yang tepat. Kita tidak boleh membenarkan kemaksiatan, tetapi juga tidak boleh menutup pintu nasihat, pertolongan, dan taubat.

Melalui Edisi 95 ini, Majalah HSI mengajak pembaca memahami persoalan tersebut secara lebih utuh. Dalam Rubrik Utama, kita akan membahas bagaimana penyimpangan dapat tumbuh dan dinormalisasi, berbagai faktor yang dapat memengaruhinya, serta peran keluarga, sekolah, pesantren, masyarakat, pemerintah, dan tenaga profesional dalam pencegahan maupun penanganannya.

Mutiara Al-Qur’an mengajak kita mendalami teguran Nabi Luth 'alaihissalam kepada kaumnya. Sementara Mutiara Hadits mengangkat kekhawatiran Rasulullah ﷺ terhadap perbuatan kaum Luth dan pentingnya menjaga umat dari pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya.

Dalam Rubrik Aqidah, kita diajak merenungkan pertanyaan mendasar: Hak Atas Tubuh: Milik Siapa? Pembahasan ini mengembalikan pemahaman kita bahwa tubuh adalah ciptaan sekaligus amanah dari Allah, bukan sesuatu yang dapat digunakan tanpa batas sesuai keinginan manusia. Adapun Rubrik Fiqih membahas langkah-langkah menjaga diri dan keluarga melalui kaidah menutup pintu menuju keharaman.

Melalui Rubrik Sirah, kita kembali menyimak dakwah Nabi Luth ‘alaihissalam di tengah masyarakat yang mengalami kerusakan moral. Mutiara Nasihat Muslimah mengajak para muslimah lebih cermat menyaring berbagai narasi tentang tubuh, perasaan, identitas, dan penerimaan diri yang banyak beredar di media sosial.

Tidak kalah penting, Tarbiyatul Aulad membahas pendidikan seks anak sebagai bagian dari menjaga fitrah sejak dini. Para orang tua diajak memahami pentingnya mengenalkan aurat, privasi tubuh, batas pergaulan, perubahan masa pubertas, dan tempat bertanya yang benar bagi anak. Sementara itu, Khutbah Jumat mengingatkan kita agar tidak lengah menjaga anak-anak dari berbagai pengaruh yang dapat merusak fitrah mereka.

Edisi ini juga dilengkapi dengan Rubrik Doa tentang berlindung dari hawa nafsu yang tercela, Tausiyah Ustadz tentang kesucian hati sebagai landasan ketaatan lahiriah, serta Tanya Jawab yang mengangkat persoalan taubat dari perbuatan liwat dan sikap terhadap teman yang apatis terhadap Islam.

Pembaca Majalah HSI yang dirahmati Allah,

Menjaga fitrah generasi bukanlah tugas satu pihak. Orang tua harus menjaga rumahnya, guru menjaga anak didiknya, pesantren dan sekolah menjaga lingkungannya, masyarakat menjaga budayanya, dan setiap individu menjaga dirinya di hadapan Allah. Semua membutuhkan ilmu, kepedulian, dan kesungguhan.

Jangan menunggu sampai anak-anak kita terjerumus baru kita mulai memperhatikan mereka. Jangan sampai kita sibuk mempersiapkan masa depan dunia mereka, tetapi lalai membekali mereka dengan iman dan menjaga agama serta fitrah mereka.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga diri dan keluarga kita, melindungi anak-anak dan keturunan kita dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi, serta menganugerahkan kepada kita ilmu dan hikmah dalam mendidik dan membimbing mereka. Semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran, menjauhkan kita dari hawa nafsu yang tercela, dan senantiasa membimbing orang-orang yang ingin kembali kepada-Nya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

13