Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmush shalihat.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat yang tidak terhitung. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Hari ini, hampir setiap orang memiliki ruang untuk berbicara. Dengan gawai di tangan, seseorang dapat menyampaikan pendapat kepada ribuan bahkan jutaaan orang. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Seseorang dapat memberikan komentar, menilai pendapat orang lain, membagikan informasi, bahkan ikut dalam perdebatan tentang berbagai persoalan. Kemudahan ini tentu merupakan nikmat. Namun, ia juga dapat menjadi ujian.
Kita mungkin pernah melihat seseorang membaca sebuah judul lalu merasa telah memahami isinya. Menonton potongan video lalu merasa mengetahui persoalannya. Membaca satu pendapat lalu merasa telah memahami seluruh permasalahan. Bahkan, terkadang seseorang baru mengetahui sedikit tentang suatu perkara, tetapi sudah merasa cukup untuk menilai orang lain yang telah mempelajarinya selama bertahun-tahun.
Potongan informasi dapat dilepaskan dari konteksnya. Sebuah komentar berkembang menjadi perdebatan. Perdebatan berubah menjadi fanatisme. Fanatisme dapat melahirkan permusuhan. Persoalan yang semula sederhana pun dapat menjadi rumit karena terlalu banyak orang ikut berbicara tanpa memahami persoalannya.
Fenomena seperti The Death of Expertise¹, Dunning-Kruger Effect², Toxic Online Disinhibition Effect³, Cyber-Cowardice⁴, Ad Hominem⁵, hingga Context Collapse⁶ menunjukkan berbagai sisi dari persoalan tersebut. Teknologi memang memberikan manfaat yang sangat besar, tetapi tanpa ilmu dan adab, kemudahan berbicara dapat berubah menjadi sarana memperluas kesalahan.
Persoalannya kemudian bukan sekadar berapa banyak yang kita ketahui, tetapi apakah kita menyadari batas dari apa yang kita ketahui.
Sebab, seseorang yang tidak mengetahui suatu perkara tetapi menyadari bahwa dirinya tidak tahu masih memiliki jalan keselamatan. Ia dapat bertanya dan belajar kepada orang yang lebih mengetahui. Yang berbahaya adalah ketika seseorang tidak mengetahui, tetapi juga tidak menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui. Ia dapat berbicara, memberikan penilaian, menyalahkan orang lain, bahkan merasa lebih mengetahui daripada orang yang telah bertahun-tahun mempelajari persoalan tersebut.
Padahal, tidak seorang pun mengetahui segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
Sebanyak apa pun ilmu yang dimiliki manusia, tetap saja ia hanyalah bagian yang sangat kecil dari ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan tentang munculnya ar-ruwaibidhah, yaitu orang yang tidak memiliki kapasitas tetapi berbicara mengenai urusan manusia. Beliau juga memperingatkan tentang keadaan ketika orang-orang bodoh dijadikan sebagai rujukan. Mereka memberikan jawaban tanpa ilmu sehingga mereka sendiri tersesat dan menyesatkan orang lain.
Karena itu, seorang muslim diajarkan untuk bertanya kepada orang yang berilmu ketika tidak mengetahui, berkata yang baik atau diam, serta tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki ilmu tentangnya.
Bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, Al-Qur’an mengajarkan sikap yang sangat indah,
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan perkataan yang tidak baik, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)
Ini bukan berarti seorang muslim membiarkan kebatilan. Namun, tidak setiap perkataan harus dilayani, tidak setiap komentar harus dijawab, dan tidak setiap perdebatan akan menghasilkan kebaikan.
Sejarah umat Islam juga memberikan pelajaran tentang akibat ketika kebodohan bercampur dengan fanatisme dan semangat yang tidak dibimbing oleh ilmu. Tragedi terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu peristiwa besar yang perlu dipelajari melalui riwayat dan penjelasan para ulama. Demikian pula al-‘abid al-jahil, orang yang banyak beribadah tetapi tidak memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, menunjukkan bahwa semangat beragama saja tidak cukup apabila tidak dibimbing oleh ilmu.
Di sinilah kita perlu kembali melihat kedudukan ilmu. Ilmu bukan hanya membuat seseorang mengetahui banyak hal. Ilmu juga mengajarkan seseorang untuk mengetahui batas dirinya, menerima nasihat, bertanya ketika tidak tahu, dan menahan diri ketika belum memiliki pengetahuan yang cukup.
Melalui edisi ini, Majalah HSI mengajak pembaca melakukan perjalanan tersebut: dari melihat kebodohan di sekitar kita, kemudian bercermin kepada diri sendiri, lalu belajar bagaimana Islam mengajarkan kita menyikapinya.
Dalam Rubrik Utama, pembaca diajak memahami mengapa kebodohan dapat menjadi pangkal berbagai kerusakan.
Mutiara Al-Qur’an membahas perintah berpaling dari orang-orang bodoh, sedangkan Mutiara Hadits mengangkat peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang munculnya ruwaibidhah.
Pada Rubrik Fiqih, pembaca diajak memahami pentingnya mengetahui batas diri dan bertanya kepada orang yang berilmu. Sementara Tarbiyatul Aulad membawa tema ini ke dalam kehidupan keluarga, terutama bagaimana membiasakan anak untuk bertanya, belajar, menerima koreksi, dan memahami bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah sebuah aib.
Pembahasan sejarah hadir melalui Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, yang mengajak kita melihat bagaimana fitnah dapat berkembang menjadi kerusakan besar. Khutbah Jumat membahas konsekuensi kebodohan yang dibiarkan, sedangkan Tanya Ustadz memberikan pembahasan terkait berbicara tanpa ilmu dan batas seseorang dalam menyampaikan sesuatu.
Semua pembahasan tersebut pada akhirnya membawa kita kepada satu kesadaran: ilmu bukan sekadar apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita bersikap ketika mengetahui dan ketika tidak mengetahui.
Orang yang berilmu akan mengetahui bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui. Ia tidak tergesa-gesa berbicara, tidak malu bertanya, dan tidak merasa rendah ketika mengatakan “saya tidak tahu.” Sebaliknya, salah satu tanda kebodohan adalah ketika seseorang merasa tidak membutuhkan ilmu lagi.
Karena itu, jangan sampai kita membaca edisi ini hanya untuk menemukan siapa yang termasuk orang bodoh. Jangan sampai kita sibuk mencari ruwaibidhah di luar diri kita, sementara lupa memeriksa lisan dan jari-jari kita sendiri.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya, serta melindungi kita dari berbicara tanpa ilmu. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang rendah hati terhadap kebenaran, senang menerima nasihat, tidak malu mengatakan “saya tidak tahu” ketika memang tidak mengetahui, dan senantiasa bersemangat untuk belajar. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.