Dari Redaksi Edisi 92
Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmush shalihat.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih menjadi sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tabiat mencintai harta. Kecintaan itu bukanlah sesuatu yang tercela pada asalnya. Dengannya manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, menjaga keluarganya, dan membangun kehidupannya di dunia. Akan tetapi, pada saat yang sama, harta juga menjadi salah satu ujian terbesar yang memperlihatkan kualitas keimanan seorang hamba. Melalui harta, Allah membedakan siapa yang lebih mencintai ridha-Nya dan siapa yang lebih mengutamakan kehidupan dunia.
Tidak mengherankan apabila Al-Qur'an berulang kali mengaitkan pembahasan tentang iman dengan perintah zakat, infak, dan juga sedekah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai burhan (bukti). Artinya, harta bukan sekadar nikmat yang patut disyukuri, melainkan sarana yang dengannya keimanan seseorang tampak nyata. Apa yang keluar dari tangan seorang mukmin sering kali menjadi cerminan dari apa yang hidup di dalam hatinya.
Inilah salah satu keindahan syariat Islam. Islam tidak membiarkan keimanan berhenti sebagai keyakinan yang tersembunyi di dalam dada. Keimanan harus melahirkan ibadah, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama. Dari hati yang dipenuhi iman lahirlah zakat yang membersihkan harta, sedekah yang menumbuhkan kasih sayang, infak yang menguatkan dakwah, serta wakaf yang manfaatnya terus mengalir lintas generasi.
Seluruh amalan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan antarsesama manusia. Syariat membangun sebuah budaya saling memberi, saling menguatkan, dan saling menanggung beban. Dalam istilah yang banyak digunakan pada masa kini, semangat tersebut dikenal sebagai filantropi Islam.
Filantropi dalam Islam memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas sosial. Ia bukan hanya tentang membantu orang yang sedang membutuhkan, tetapi juga merupakan bentuk penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang muslim berbagi bukan semata-mata karena tersentuh oleh penderitaan manusia, melainkan karena mengharap pahala dari Rabbnya, meyakini janji-Nya, dan berharap keselamatan pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.
Sejarah Islam menjadi saksi bagaimana semangat filantropi telah melahirkan peradaban yang agung. Masjid-masjid dibangun dengan harta kaum muslimin. Madrasah dan pusat-pusat ilmu berkembang melalui wakaf. Rumah sakit, sumur, jalan, hingga berbagai fasilitas umum hadir sebagai buah dari kedermawanan orang-orang yang mengharapkan wajah Allah semata. Dari generasi para sahabat hingga kaum muslimin setelah mereka, semangat berbagi menjadi salah satu kekuatan yang menjaga kehidupan umat dan mengokohkan dakwah Islam.
Semangat yang sama tetap relevan hingga hari ini. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kaum muslimin, kebutuhan terhadap ilmu, dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat tidak pernah berhenti. Semua itu membutuhkan sinergi, amanah, dan kepedulian dari setiap muslim sesuai kemampuan yang Allah karuniakan kepadanya. Ada yang Allah lapangkan dengan harta, ada yang diberi keluasan ilmu, tenaga, waktu, maupun keahlian. Seluruhnya dapat menjadi jalan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Berangkat dari semangat tersebut, Majalah HSI Edisi 92 hadir mengangkat tema "Filantropi dalam Islam: Dari Iman Menuju Kepedulian Global." Melalui tema ini, kami ingin mengajak para pembaca memahami bahwa filantropi bukan sekadar budaya memberi, tetapi merupakan bagian dari ajaran Islam yang berakar pada aqidah yang benar. Dari keimanan lahir kepedulian, dan dari kepedulian lahir berbagai amal yang menghadirkan manfaat bagi sesama serta menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.
Dalam Rubrik Utama, pembaca akan diajak menelusuri konsep filantropi Islam sejak landasan Al-Qur'an dan Sunnah, praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, hingga perannya dalam membangun peradaban Islam sepanjang sejarah. Rubrik Aqidah mengupas bagaimana sedekah menjadi bukti keimanan seorang mukmin, sementara Rubrik Tausiyah Ustadz mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati justru lahir ketika seorang hamba ringan tangan dalam berbagi karena Allah.
Melalui Rubrik Mutiara Al-Qur'an, Mutiara Hadits, Tanya Ustadz, serta rubrik-rubrik diniyah lainnya, pembaca akan menemukan berbagai dalil, penjelasan ulama, dan bimbingan praktis mengenai zakat, infak, sedekah, wakaf, serta adab-adab dalam berbagi. Sementara itu, rubrik-rubrik keluarga dan pembinaan generasi menghadirkan inspirasi agar nilai kepedulian dan semangat memberi dapat tumbuh sejak dini dalam lingkungan rumah tangga muslim.
Pada Rubrik Kabar Yayasan, kami mengangkat perjalanan filantropi yang tumbuh di lingkungan HSI AbdullahRoy. Berawal dari semangat saling membantu di antara para penuntut ilmu, lahirlah HSI Peduli yang kemudian berkembang menjadi HSI Berbagi, hingga akhirnya bertransformasi menjadi LAZNAS HSI Berbagi. Perjalanan ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dibangun melalui penyebaran ilmu, tetapi juga melalui budaya ta'awun yang diwujudkan dalam pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan berbagai program pemberdayaan umat secara amanah, profesional, dan berkelanjutan.
Kami berharap seluruh rangkaian pembahasan dalam edisi ini tidak hanya menambah wawasan tentang filantropi Islam, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa setiap bentuk kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas merupakan investasi terbaik untuk kehidupan akhirat. Tidak semua orang diberi kemampuan yang sama, namun setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam amal shalih sesuai nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya.
Akhir kata, filantropi bukan sekadar tentang memberi, melainkan tentang menghadirkan bukti keimanan dalam kehidupan nyata. Ketika seorang muslim mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah, sesungguhnya ia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar membantu sesama. Ia sedang membersihkan jiwanya, menguatkan dakwah, menebarkan kasih sayang, dan meletakkan batu bata bagi tegaknya peradaban Islam yang dibangun di atas iman dan ketakwaan.
Semoga seluruh artikel yang tersaji dalam Majalah HSI Edisi 92 ini dapat menjadi penambah ilmu, penguat keimanan, penyubur semangat berbagi, serta pendorong bagi kita semua untuk terus berlomba-lomba dalam berbagai bentuk kebaikan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal-amal kita, melapangkan hati kita untuk senantiasa memberi, memberkahi setiap harta yang Dia titipkan kepada kita, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memperoleh naungan pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.