Dari Redaksi
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmush shalihat.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih menjadi sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Bulan Muharram kembali hadir menyapa kaum muslimin. Ia merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan disandarkan kepada-Nya dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Syahrullah (bulan Allah). Kemuliaan ini tentu bukan sekadar keistimewaan dalam penanggalan, tetapi sebuah panggilan bagi setiap muslim untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal shalih, dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan serta kezaliman.

Namun, realitas yang kita saksikan menunjukkan bahwa pengagungan terhadap bulan Muharram tidak selalu dibangun di atas ilmu yang benar. Sebagian kaum muslimin mengisinya dengan berbagai amalan yang tidak memiliki tuntunan yang jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian lainnya terjebak dalam berbagai narasi sejarah yang dibangun lebih di atas emosi daripada petunjuk wahyu. Akibatnya, momentum yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru terkadang menjadi pintu masuk berbagai bentuk penyimpangan pemahaman.

Muharram memang tidak dapat dipisahkan dari sejumlah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Di antaranya adalah hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju Madinah, sebuah peristiwa monumental yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang kokoh di atas tauhid, ilmu, dan persaudaraan. Di bulan ini pula umat Islam mengenang tragedi terbunuhnya Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, sebuah musibah besar yang menyedihkan hati setiap muslim yang mencintai keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, sejarah juga mencatat bahwa kedua peristiwa tersebut sering dijadikan pintu masuk munculnya berbagai penyimpangan pemikiran. Sebagian manusia berlebih-lebihan dalam mengagungkan tokoh tertentu hingga mengangkat mereka melebihi kedudukan yang Allah tetapkan. Sebagian lainnya membangun kebencian terhadap generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sinilah lahir berbagai pemahaman yang menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menimbulkan kerusakan yang panjang dalam tubuh umat Islam.

Di tengah kondisi tersebut, kaum muslimin hari ini juga dihadapkan pada derasnya arus informasi mengenai berbagai konflik internasional yang terus bergulir di dunia Islam. Berita, opini, propaganda, dan analisis datang silih berganti tanpa henti. Tidak sedikit yang disajikan secara parsial, sarat kepentingan politik, bahkan sengaja dibangun untuk menggiring emosi publik. Akibatnya, sebagian kaum muslimin mudah terombang-ambing oleh berbagai narasi tanpa memiliki landasan ilmu yang cukup untuk menimbangnya secara adil dan proporsional.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian pemikiran yang memiliki akar penyimpangan aqidah justru tampil dengan wajah yang menarik dan simpatik. Mereka berbicara tentang perjuangan, persatuan, pembelaan terhadap kaum tertindas, atau perlawanan terhadap kezaliman. Namun di balik itu terdapat keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasuk sikap merendahkan dan mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di tengah berbagai fitnah pemikiran tersebut, umat Islam membutuhkan pijakan yang kokoh. Kita membutuhkan kompas yang mampu mengarahkan langkah agar tidak tersesat oleh gelombang informasi, fanatisme kelompok, maupun sentimen sesaat. Kompas itu tidak lain adalah Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami sebagaimana dipahami oleh generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itulah, ketika berbicara tentang hijrah, perhatian kita tidak boleh berhenti pada peristiwa perpindahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah semata. Yang jauh lebih penting adalah meneladani orang-orang yang hidup bersama beliau, membela beliau, berkorban demi agama ini, dan mewariskan Islam kepada generasi setelah mereka. Mereka adalah kaum Muhajirin dan Anshar yang Allah abadikan kemuliaannya dalam Al-Qur’an dan yang keridhaan-Nya telah ditetapkan bagi mereka.

Ketika kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan harta benda demi mempertahankan keimanan, mereka mengajarkan kepada kita makna pengorbanan yang sesungguhnya. Ketika kaum Anshar membuka rumah, harta, dan hati mereka untuk saudara-saudaranya seiman, mereka mengajarkan kepada kita makna ukhuwah yang sejati. Dari kedua kelompok inilah lahir generasi yang menjadi fondasi tegaknya peradaban Islam dan teladan sepanjang zaman.

Berangkat dari berbagai realitas tersebut, Majalah HSI Edisi 91 hadir dengan tema “Spirit Hijrah: Meneladan Muhajirin dan Anshar serta Berlepas Diri dari Para Pembencinya.” Melalui tema ini, kami berharap dapat mengajak para pembaca untuk mengagungkan bulan Muharram sesuai tuntunan sunnah, memahami dan meneladani generasi terbaik umat ini, menjaga aqidah dari berbagai penyimpangan pemikiran, bersikap bijak dalam menyikapi peristiwa sejarah maupun kondisi kontemporer, serta menguatkan hubungan kepada Allah melalui ibadah, ilmu, dan doa.

Dalam Rubrik Utama, Rubrik Aqidah, Mutiara Al-Qur’an, Mutiara Hadits, Sirah Nabawiyah, dan Tausiyah Ustadz, pembaca akan diajak menyelami kemuliaan para sahabat, memahami kedudukan Muhajirin dan Anshar, mengenali berbagai penyimpangan yang berkembang terkait mereka, serta menguatkan komitmen untuk tetap berpegang teguh di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan mengenai bahaya mencela sahabat, penyimpangan kelompok Rafidhah, hingga pentingnya menjaga kemurnian sumber-sumber agama menjadi bagian penting yang kami hadirkan dalam edisi kali ini.

Melalui rubrik Khotbah, Doa dan Dzikir, Tanya Ustadz, Mutiara Nasihat Muslimah, dan Tarbiyatul Aulad, kami berusaha menghadirkan bimbingan praktis agar semangat hijrah tidak berhenti sebagai slogan atau romantisme sejarah semata. Pembaca akan menemukan pembahasan seputar amalan-amalan Muharram, puasa Asyura, berbagai tradisi yang perlu ditimbang dengan neraca sunnah, hingga panduan membangun keluarga yang kokoh di atas ilmu dan ketakwaan.

Di rubrik-rubrik nondiniyah, kami juga menghadirkan berbagai kisah inspiratif yang menunjukkan bahwa semangat perjuangan para salaf masih hidup hingga hari ini. Dalam Rubrik Kabar Yayasan, pembaca dapat mengikuti perjalanan panjang di balik proses penerimaan santri baru HSI, kisah para penuntut ilmu yang berjuang melawan futur, hingga perkembangan Baitul Qur’an HSI yang terus memperluas jangkauan dakwah Al-Qur’an ke berbagai daerah. Kami juga mengangkat kiprah HSI Berbagi dalam pelatihan Juru Sembelih Halal sebagai salah satu bentuk pelayanan nyata kepada umat.

Tak ketinggalan, berbagai rubrik keluarga dan pengembangan diri seperti Catatan Sang Qawwam, Selasar Murabbiyah, Generasi Cahaya, Kesehatan, dan rubrik-rubrik lainnya hadir melengkapi edisi ini. Seluruhnya kami susun agar saling melengkapi, mulai dari penguatan ilmu, pelurusan aqidah, pemahaman sejarah, bimbingan ibadah, hingga pembinaan keluarga dan generasi.

Akhir kata, hijrah bukan sekadar peristiwa yang kita kenang setiap datangnya tahun baru Hijriah. Hijrah adalah pelajaran tentang pengorbanan, keteguhan, dan kesetiaan kepada kebenaran. Hijrah adalah warisan yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya kepada umat ini. Semoga seluruh artikel yang tersaji dalam Majalah HSI Edisi 91 ini dapat menjadi bekal ilmu yang bermanfaat, peneguh aqidah, penambah kecintaan kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta penyulut semangat untuk terus berhijrah menuju ketaatan yang lebih baik.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hati kita di atas Islam dan Sunnah, mengumpulkan kita bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Muhajirin, para Anshar, dan seluruh orang-orang shalih di surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

1