Dari Redaksi
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurna amal-amal shalih.
Tidak banyak yang sungguh memahami bagaimana rasanya menjadi tua. Ia datang perlahan, bersama napas yang mulai pendek, sendi yang sering berdenyut, ingatan yang tak lagi setajam dulu. Rumah yang dulu penuh tawa anak-anak kini bertambah sunyi. Piring makan tinggal satu atau dua, sandal yang dulu berjejer di depan pintu kini hanya tersisa milik ayah dan ibu. Suara pintu kamar anak-anak sudah lama tak terdengar dibuka. Mereka tumbuh, dewasa, dan pergi menjemput takdir masing-masing, sementara orang tua belajar berdamai dengan kesunyian.
Namun bukan kesepian saja yang membuat usia senja terasa berat. Ada tubuh yang kian ringkih, tangan bergetar ketika mengambil air wudhu, napas tersengal saat menuju masjid, bahkan sekadar turun dari tempat tidur butuh waktu lebih lama. Penghasilan sudah berhenti, pekerjaan tak lagi sanggup dijalankan, sementara obat-obatan makin sering dibeli. Kadang mereka harus menukar kebutuhan harian dengan rasa nyeri yang ditahan. Tapi semua itu masih bisa diterima. Yang paling menyakitkan adalah ketika rindu tak menemukan tempat untuk pulang, ketika anak-anak terlalu sibuk untuk sekadar bertanya, “Bagaimana kabarnya hari ini, Ayah? Ibu sehat?”
Orang tua tidak menuntut banyak. Mereka tidak meminta balasan dari setiap malam begadang, setiap doa yang tak pernah putus, setiap air mata yang menetes dalam sujud demi keselamatan anak-anaknya. Mereka hanya takut dilupakan. Takut satu hari sakit datang tiba-tiba, sementara pintu rumah anak-anak terlalu jauh untuk dijangkau. Takut ketika malaikat maut mengetuk pintu, mereka masih menyimpan rindu yang tak sempat terucap dan maaf yang tak sempat diminta. Dalam diam, mereka sering berkata dalam hati, “Nak, pulanglah… kalau tidak bisa dengan badanmu, pulanglah dengan perhatianmu.”
Namun, tak semua anak benar-benar pergi. Ada yang masih tinggal di bawah atap yang sama, mereka yang belum menikah, atau yang sudah berkeluarga namun belum beranjak dari rumah orang tua. Dekat bukan selalu berarti hadir. Kadang hanya dinding kamar yang memisahkan, tapi jarak hati lebih jauh dari yang terlihat. Anak sibuk dengan layar dan pekerjaan, menantu sibuk menata rumah tangga, sementara orang tua menatap pintu kamar yang tertutup, menanti ajakan sederhana: makan bersama, berbincang ringan, atau sekadar duduk di teras sore-sore. Dalam satu rumah, bisa tumbuh dua kesepian yang berbeda, orang tua merasa diabaikan, anak merasa sudah cukup dengan keberadaan. Padahal kebersamaan sejati bukan sekadar berbagi atap, melainkan berbagi waktu, rasa, dan perhatian.
Bagi orang tua, ada pelajaran untuk menahan harap: belajar memberi ruang agar anak-anak tumbuh tanpa merasa terikat oleh rasa bersalah. Bagi anak dan menantu, di situlah letak ujian bakti yang halus, mencintai pasangan tanpa mengabaikan kasih yang menjadi sebab hadirnya cinta itu sendiri. Sebab berbakti bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang hati yang tetap lembut walau hidup saling berdesakan.
Lalu mengapa banyak anak tidak menyadari semua itu? Mungkin karena dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Pekerjaan, karier, tuntutan hidup, ambisi, media sosial — semuanya membentuk lingkaran kesibukan yang menelan waktu dan rasa. Ada yang berpikir, “Nanti pasti sempat pulang,” atau “Aku bekerja keras juga demi mereka.” Ada pula yang merasa orang tua mereka kuat dan baik-baik saja, padahal di balik kata “kami baik,” sering tersembunyi batuk yang ditahan, obat yang dibagi dua agar cukup sampai akhir bulan, atau rindu yang disimpan karena takut anak merasa bersalah. Lebih memilukan, ada anak yang mulai canggung, sudah lama tidak menelepon, lalu ragu memulai. Semakin lama, semakin jauh, lalu hilang kabar.
Padahal Islam tidak menurunkan standar tentang bakti. Setelah perintah untuk bertauhid, Allah langsung memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (QS. Al-Isra’: 23). Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Maka jagalah pintu itu, atau sia-siakanlah.” Pintu itu bisa terbuka luas dengan seulas senyum, genggaman tangan, atau sekadar menemani mereka makan. Dan pintu itu bisa tertutup dengan kelalaian, suara yang meninggi, atau hati yang mengeras karena dunia. Pertanyaannya, sudahkah kita menjaga pintu itu? Atau tanpa sadar justru sedang menutupnya perlahan?
Sebab ketika pintu itu benar-benar tertutup, tak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menyesali waktu yang terlewat. Banyak anak baru menangis lama setelah ayah dan ibu pergi. Bukan semata karena kehilangan, tapi karena sadar betapa sedikit waktu yang benar-benar mereka berikan. Dulu sibuk mencari rezeki, kini sadar bahwa doa orang tua adalah rezeki yang paling besar. Dulu menunda pulang karena pekerjaan, kini rindu rumah yang sudah tak sama. Dulu merasa masih ada waktu, kini hanya tersisa kenangan yang tak bisa disentuh.
Maka selama masih ada kesempatan, selama suara mereka masih bisa kita dengar, genggam tangan itu seerat mungkin. Tatap wajah yang mulai renta itu dengan kasih yang penuh sadar. Jangan menunggu sampai rumah mereka tinggal kenangan, dan pulang hanya berarti ziarah, bukan pelukan. Karena saat itu tiba, semua kesibukan, semua alasan, dan semua penyesalan tak akan mampu membuka kembali pintu surga yang telah tertutup.
Melalui Edisi 83 bertema “Pintu Surga Paling Tengah”, Majalah HSI mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menoleh ke rumah yang dulu membesarkan kita. Di dalamnya, kami hadirkan tulisan-tulisan yang bukan sekadar pengetahuan, tetapi cermin untuk hati, di antaranya:
- Pintu Surga Paling Tengah (Rubrik Utama) – tentang kedudukan agung orang tua dan urgensi birrul walidain dalam kehidupan modern.
- Bila Mereka Telah Renta (Rubrik Al-Qur’an) – tadabbur QS. Al-Isra’ 23–24; doa “warhamhuma kama rabbayani shaghira” yang sering kita ucapkan tapi jarang kita hayati.
- Hadits: Orang Tua, Gerbang Surga – makna sabda Rasulullah ﷺ tentang pintu surga paling tengah.
- Hubungan Aqidah dan Bakti – karena iman bukan hanya di lisan dan pikiran, tetapi tercermin di sikap kita kepada ayah dan ibu.
- Fiqih Anak dan Orang Tua, Konflik Peran Istri–Anak–Menantu, Kisah Abu Hurairah & Ibunya, hingga Khutbah Jumat: “Selama Pintu Surga Masih Terbuka.”
Kami berharap, setiap halaman dalam edisi ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi mengetuk hati agar kita pulang sebelum terlambat, meminta maaf sebelum lisan mereka bisu, menggenggam tangan mereka selagi hangat, dan menjaga pintu surga itu sebelum tertutup selamanya.
Semoga Allah melembutkan hati kita, memampukan kita untuk berbakti, dan menjadikan orang tua kita saksi kebaikan bagi kita di hadapan-Nya. Baarakallahu fiikum.