Dari Redaksi
Secara umum, kondisi ekonomi sekarang ini memang sedang tidak baik-baik saja. Sebagian ekonom memperkirakan bahwa tahun 2025 dan beberapa tahun setelahnya kemungkinan terjadi krisis. Di antara gejalanya adalah:
- Pertumbuhan ekonomi yang melambat, baik di sektor industri, perdagangan, maupun jasa.
- Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di berbagai perusahaan, mulai dari skala kecil hingga korporasi besar.
- Daya beli masyarakat menurun.
- Lapangan pekerjaan yang semakin sulit diperoleh, terutama bagi lulusan baru dan pekerja informal.
- Kebijakan efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berdampak pada terbatasnya kesempatan kerja baru dan pengetatan pengeluaran.
- Kenaikan harga kebutuhan pokok yang menekan daya beli masyarakat.
- Beban utang (baik rumah tangga maupun korporasi) yang meningkat di tengah bunga pinjaman yang tinggi, dan lain-lain.
Tekanan-tekanan inilah yang dalam beberapa hari terakhir tampak memunculkan gelombang ketidakpuasan sosial. Ditambah lagi dengan kenaikan pajak, beratnya himpitan hidup, serta pemandangan gaya hidup mewah sebagian pejabat yang kurang menunjukkan empati, telah menyulut kemarahan masyarakat di berbagai daerah. Sayangnya, sebagian protes berkembang menjadi kerusuhan dan tindakan anarkis. Padahal, kemarahan yang dilampiaskan dengan perusakan dan kekerasan bukanlah jalan keluar yang sesuai dengan tuntunan agama. Islam mengajarkan bahwa ketidakadilan harus ditolak dengan cara yang dibenarkan syariat, bukan dengan menambah kerusakan dan menebar bahaya bagi sesama.
Di sisi lain, dalam situasi penuh tekanan seperti ini, tidak sedikit masyarakat yang mengalami kesempitan ekonomi dan terpaksa hidup dengan berbagai keterbatasan. Keadaan tersebut seringkali memunculkan tekanan mental, rasa cemas, hingga dorongan untuk mencari jalan keluar dengan cara yang tidak dibenarkan syariat — mulai dari mengambil harta yang haram, menerima suap, utang ribawi, hingga terlibat dalam penipuan atau tindak kezaliman lainnya.
Karena itu, sabar dan syukur harus dipertebal. Inilah dua pilar penting yang menopang ketahanan iman dan kehidupan seorang muslim. Sabar menjadi perisai ketika menghadapi ujian dan kesulitan. Ia menahan diri dari mengeluh secara berlebihan, mengambil jalan pintas yang melanggar syariat, atau bersikap zalim demi memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, syukur menjadi kunci untuk melihat nikmat yang masih Allah berikan, bahkan di tengah kekurangan. Dengan syukur seseorang akan menghargai nikmat yang ada padanya, menerima pemberian Allah dengan qanaah, dan mempergunakan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya.
Maka ketika masyarakat dilanda kesulitan ekonomi, justru inilah saat yang paling tepat untuk kembali menguatkan nilai-nilai sabar dan syukur. Dengan keduanya, seorang muslim tidak akan larut dalam keputusasaan, tidak terbawa arus anarkisme, dan tidak tergoda jalan haram. Sebaliknya, ia akan semakin dekat kepada Allah, lebih kuat menghadapi ujian, dan tetap menjaga kebaikan di tengah krisis. Aplikasinya bisa dalam bentuk-bentuk berikut.
- Syukur dengan berhemat dan hidup sederhana tanpa mengeluh.
- Syukur dengan memanfaatkan apa yang ada untuk menutup kebutuhan.
- Syukur dengan tetap berbagi walau sedikit, dan menjaga ukhuwah sosial di tengah krisis.
- Syukur dengan memelihara hubungan baik dalam keluarga, saling menguatkan di masa sulit.
- Sabar dalam menahan diri dari mengambil harta haram: tidak korupsi, tidak menerima suap, tidak curang dalam transaksi, dan sejenisnya.
- Sabar dalam menjalani pekerjaan halal yang mungkin kecil hasilnya, tetapi penuh berkah.
- Sabar dalam meningkatkan keahlian atau beradaptasi dengan pekerjaan baru, alih-alih berputus asa.
Dengan latar belakang di atas, Majalah HSI Edisi 81 ini diterbitkan dengan judul Sabar dan Syukur di Masa Krisis. Kami berharap terbitan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesulitan ekonomi adalah salah satu ujian dari Allah. Dengan ujian itu akan tampak siapa yang paling baik dalam menyikapinya. Untuk itu, kami telah menghadirkan beberapa tulisan yang insyaAllah berfaedah, di antaranya:
- Tebalkan Sabar, Kerapkan Syukur (Rubrik Utama)
- Sabar dan Syukur, Tanda Tauhid di dalam Diri (Rubrik Aqidah)
- Jauhi yang Haram Meskipun Menggoda (Rubrik Mutiara Al-Quran)
- Jangan Selalu Merasa Susah (Rubrik Mutiara Hadits)
- Bantulah Suamimu Terhindar dari yang Haram (Mutiara Nasihat Muslimah)
- Bijak Kelola Harta, Berkah Selalu Terlimpah (Fiqih)
- Konsep Rezeki dalam Islam (Tausiyah Ustadz)
- Abu Qilabah: Si Penyabar yang Selalu Bersyukur (Sirah)
- Mencukupkan Diri dengan yang Halal (Khotbah Jumat), dan tulisan-tulisan berfaedah lainnya.
Selebihnya kami juga menghadirkan liputan kegiatan Yayasan HSI AbdullahRoy seperti peluncuran Khairunnikah, Wedding Organizer besutan HSI PRO serta sokongan HSIB untuk KKN Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember. Di Rubrik Kesehatan dan Tanya Dokter kami mengangkat topik tentang penyakit TBC.
Kami berharap, Majalah HSI Edisi 81 memberikan manfaat dan menjadi bagian dari amal shalih. Baarakallahu fiikum.