Di tengah derasnya arus informasi dan opini publik hari ini, sebuah ungkapan sederhana seringkali berseliweran di depan kita: “Adab itu di atas ilmu.” Kalimat ini menjadi populer, terutama sebagai reaksi terhadap fenomena viral—ketika seseorang yang dianggap berilmu menunjukkan perilaku yang melenceng dari adab. Lantas muncullah anggapan bahwa adab lebih penting daripada ilmu, bahkan ilmu bisa dikesampingkan selama seseorang memiliki akhlak dan sopan santun.
Namun, apakah benar Islam memandang ilmu dan adab sebagai dua hal yang harus ditimbang serta dipilah dan dipilih?
Majalah HSI Edisi 77 ini hadir dengan mengangkat tema “Ilmu dan Adab: Mana Lebih Dahulu?” sebagai undangan untuk merenungi kembali hubungan antara keduanya secara utuh dan proporsional. Islam tidak memisahkan antara ilmu dan adab, apalagi mempertentangkannya. Keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu yang benar melahirkan adab yang mulia, sebagaimana adab yang lurus tidak mungkin tegak tanpa fondasi ilmu.
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Sungguh hati tidak akan dapat berakhlak dengan akhlak yang mulia, melainkan dengan dasar ilmu dan amal (agama).” Perkataan ini menegaskan bahwa akhlak sejati bukanlah produk spontanitas atau warisan budaya semata, melainkan buah dari pemahaman dan kesadaran yang dilandasi ilmu dan ibadah.
Ilmu yang tak disertai adab ibarat pedang tajam di tangan orang yang tidak bijak—berbahaya dan bisa melukai. Ilmu tanpa adab berpotensi melahirkan arogansi intelektual, merendahkan sesama, bahkan menjustifikasi tindakan manipulatif atas nama ilmu. Sebaliknya, adab tanpa ilmu bagaikan lentera tanpa cahaya: tampak indah, tetapi gelap, tak mampu memberi arah. Ketulusan, tata krama, dan niat baik yang tidak dibimbing oleh ilmu dapat melahirkan tindakan yang salah sasaran, bahkan kontraproduktif terhadap tujuan syariat.
Itulah sebabnya, menggabungkan ilmu dan adab adalah sesuatu yang ideal dan sangat diinginkan. Ilmu tanpa adab akan kaku dan kering, sedangkan adab tanpa ilmu akan kehilangan batasan dan arah. Maka, ilmu harus diperhalus dengan adab, dan adab harus diperkaya dengan ilmu.
Imam Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah pernah berkata, “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.” Ungkapan ini bukan untuk merendahkan posisi ilmu, melainkan untuk menunjukkan betapa adab adalah wujud nyata dari ilmu yang benar-benar dihayati dan diamalkan.
Insyallah, tema yang menarik ini akan kita elaborasi dalam rubrik-rubrik yang tayang di edisi ini, di antaranya:
- Rubrik Utama mengulas bagaimana seorang muslim menempatkan ilmu dan adab dalam relasi yang seimbang dan saling menguatkan.
- Rubrik Aqidah yang membahasa bahwa adab yang mulia berakar dari aqidah yang shahih.
- Mutiara Al-Qur’an dan Mutiara Hadits yang memuat pelajaran berharga tentang hubungan antara ilmu dan akhlak.
- Rubrik Mutiara Nasihat Muslimah yang membahas keindahan perangai sebagai cermin dari ilmu yang meresap dalam jiwa.
- Rubrik Tausiyah Ustadz yang membahas adab dalam menuntut ilmu.
- Rubrik Sirah yang akan menampilkan kisah Imam Abdullah Ibnu Al-Mubarak, salah satu ulama panutan di dalam masalah ilmu dan adab.
Selain rubrik-rubrik diniyah di atas, terbitan edisi ini juga akan menyajikan tulisan menarik lainnya seperti:
- Mengenali Lebih Dekat HSI Pro, Solusi EO Syar'i Andalan HSI (Kabar Yayasan)
- Mendaftar ke TK Tunas HSI, Demi Pendidikan Agama yang Lurus untuk Sang Buah Hati
- Banyak Asap, Waspada Pneumonia, dan artikel-artikel menarik lainnya
Semoga edisi ini menjadi suluh yang menerangi perjalanan kita: agar ilmu yang kita pelajari tak hanya mengisi pikiran, tetapi juga melembutkan lisan, menuntun tangan, dan menundukkan hati.
Selamat membaca, baarakallahu fiikum.