Dari Redaksi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Pemberi Rezeki, Maha Bijaksana, dan Maha Adil. Dialah yang menetapkan pembagian rezeki kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Ada yang diberikan kelebihan, dan ada yang dicukupkan dengan apa yang dibutuhkan. Dalam kondisi yang mana pun, —kekurangan atau kelebihan—semuanya adalah ujian.

Bagi yang diberi kelapangan, Allah menguji bagaimana ia memanfaatkan rezekinya: apakah digunakan untuk berbagi atau hanya disimpan dalam kerakusan? Bagi yang diberi keterbatasan, Allah menguji keteguhan sabarnya: apakah ia tetap bersyukur dan berupaya memberi meski hanya sedikit? Kedua ujian ini mengingatkan kita akan tanggung jawab besar yang melekat pada setiap nikmat yang kita miliki, sekecil apa pun itu.

Islam mengajarkan bahwa harta bukanlah milik mutlak manusia, melainkan amanah dari Allah. Salah satu bentuk syukur atas rezeki yang Allah berikan adalah dengan berbagi kepada sesama. Selain wujud syukur, berbagi juga merupakan ujian dan tugas yang Allah bebankan kepada manusia agar menjadi sarana redistribusi kekayaan sehingga kekayaan itu tidak hanya berputar di kalangan tertentu saja, sebagaimana diisyaratkan Allah dalam Q.S. Al-Hasyr: 7.

Sebagai seorang Muslim, berbagi bukan sekadar tuntutan sosial, tetapi ibadah yang melibatkan hati, keimanan, dan ketulusan. Islam tidak hanya memerintahkan zakat, sedekah, dan infak sebagai bentuk berbagi, tetapi juga menanamkan itsar, yaitu sifat mendahulukan kepentingan orang lain meskipun kita sendiri berada dalam keterbatasan. Inilah bentuk keimanan yang tertinggi, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang rela mengutamakan kebutuhan saudara mereka, meski mereka sendiri membutuhkan.

Namun, berbagi juga memiliki aturan. Allah tidak ingin kita bersikap pelit sehingga menahan kebaikan hanya untuk diri sendiri. Dalam waktu yang sama, Allah melarang kita untuk boros, sehingga berbagi dilakukan tanpa perhitungan yang bijak. Allah mengatakan,

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا ۝٢٩

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (pelit), dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra': 29)

Dengan keseimbangan ini, Islam mengajarkan kita untuk bersedekah dengan hikmah: mendahulukan kebutuhan diri dan keluarga sebagai kewajiban, lalu berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan dengan penuh keikhlasan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ

“Mulailah dari dirimu, bersedekahlah untuknya, jika ada sisa, maka untuk keluargamu” (HR. Muslim no. 997).

Dalam riwayat lain Nabi bersabda,

وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“dan dahulukan bersedekah kepada orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Ahmad 14: 324)

Majalah HSI Edisi 70 ini mengangkat tema besar “Terus Berbagi Meski Sedikit”, mengajak kita semua untuk merenungkan betapa besar keutamaan berbagi dan bagaimana ia menjadi bukti nyata keimanan kita kepada Allah. Dalam edisi ini, Anda akan menemukan beragam sudut pandang tentang keutamaan berbagi, di antaranya:

Dalam Rubrik Utama, kita diajak untuk memahami hakikat berbagi meski dalam keterbatasan, sebagaimana dijelaskan dalam artikel “Tetap Berbagi Meski Sedikit”.

Rubrik Aqidah mengingatkan kita bahwa setiap orang, baik yang diberi kelebihan maupun keterbatasan, akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dimiliki.

Rubrik Mutiara Al-Qur’an menjelaskan bagaimana setan menggoda manusia agar menjadi kikir, sementara Mutiara Hadits menegaskan bahwa harta terbaik adalah yang digunakan untuk memberi manfaat.

Dalam Tausiyah Ustadz, kita diajak untuk merenungi makna berbagi sebagai bentuk menolong saudara seiman, sementara rubrik Tarbiyatul Aulad menanamkan pentingnya membiasakan berbagi kepada anak-anak sejak dini.

Semua artikel dalam edisi ini dirancang untuk menginspirasi Anda agar terus berbagi, tak peduli berapa pun jumlahnya. Bahkan sedikit yang kita berikan bisa menjadi kebaikan besar di sisi Allah, karena yang terpenting adalah niat dan keikhlasan.

Mari jadikan berbagi sebagai gaya hidup, sebuah wujud nyata dari itsar yang terimplementasi dalam keseharian kita. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang tidak pelit dalam berbagi, tetapi juga tidak boros, sehingga setiap sedekah yang kita berikan membawa keberkahan dan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan umat.

Selamat membaca, semoga menginspirasi!

Baarakallahu fiikum.

0