🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Dari Mata Air Wakaf, Mengalirkan Manfaat bagi Umat

Reporter: Leny Hasanah

Editor: Subhan Hardi


Dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Sa’ad bin ‘Ubadah, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ سَقْيُ الْمَاءِ

“Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal dunia, apakah boleh aku bersedekah atas namanya?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iya, boleh.” Sa’ad bertanya lagi, “Lalu sedekah apa yang paling afdal?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Memberi minum air.”

(HR. An-Nasai, no. 3694 dan 3695. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya)[1]

Sedekah air memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Air merupakan kebutuhan dasar yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga bersuci untuk beribadah.

Karena itu, menyediakan air bersih bukan sekadar membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi jalan sedekah yang manfaatnya biidznillah langgeng mengalir. Air yang tersedia dapat digunakan berulang kali dan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Melalui Program Air Bersih, HSI Berbagi berikhtiar menghadirkan akses air bersih bagi masyarakat. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari menyediakan sumber air hingga membangun dan memperbaiki jaringan pipa agar air dapat mengalir dan dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan

Mata Air Wakaf yang Tak Mengalir Lancar

Di balik rumpun bambu di pinggiran sungai Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, terdapat sebuah perigi yang adatnya mengairi penduduk kampung setempat. Sayangnya, dari kesaksian warga, air perigi tak selalu sampai ke permukiman. Bagi orang Karang Bayan, persoalan itu mau tak mau berdampak pada aktivitas ibadah.

“Jamaah tidak dapat wudu di masjid. Warga juga tidak dapat air untuk kebutuhan mereka sehari-hari,” ujar perwakilan Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At Taqwa Karang Bayan, yang juga Kepala Kewilayahan Dusun Karang Bayan Timur, Akhuna Sudiawan.

“Sambungan pipa menggunakan bambu yang diikat dengan karet ban dalam. Ketika hujan deras dan aliran sungai meningkat, pipa dapat terbawa arus dan putus,” sambungnya memaparkan kondisi jalur air dari perigi menuju permukiman. Akhuna Sudiawan menambahkan, ketika sungai mulai meluap, warganya akan melakukan perbaikan seadanya. “Biasanya membutuhkan waktu dua hingga empat hari agar aliran kembali normal,” ujarnya.

Kondisi tersebutlah yang mendorong warga Karang Bayan melayangkan permohonan bantuan air bersih kepada LAZ HSI Berbagi. Usulan awal mereka adalah pembangunan sumur bor karena menganggap debit sumber air yang ada terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan.

Ketika Sumber Air Masih Bisa Dimanfaatkan

Menindaklanjuti permohonan warga Karang Bayan, tim Program Air Bersih (PAB) HSI Berbagi melakukan asesmen langsung di lapangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa persoalan air di kampung tersebut berbeda dari dugaan warga.

“Setelah diasesmen, diketahui sebenarnya di kampung itu sudah ada sumber air,” ungkap Koordinator Lapangan giat PAB HSI Berbagi, Akhuna Denny Kristanto.

Tim kemudian menelusuri jaringan lama yang menghubungkan mata air dengan kawasan permukiman. Dari pemeriksaan itu, diketahui bahwa kendala utama bukan terletak pada debit sumber air, melainkan kondisi pipa yang sudah bermasalah.

“Sebenarnya bukan airnya kecil, tapi pipa lamanya banyak masalah, misalnya bocor, penyumbatan, dan masuk angin,” ungkapnya.

Temuan tersebut mengubah arah bantuan. Alih-alih mengebor sumur baru seperti yang semula diajukan warga, tim memilih membangun jaringan pipa baru dengan memanfaatkan mata air wakaf yang sudah tersedia.

Keputusan ini juga mempertimbangkan efektivitas biaya. Menurut Akhuna Denny, pengeboran sumur membutuhkan pasokan listrik dan biaya pemeliharaan setelah sistem beroperasi.

“Pengeboran membutuhkan listrik dan biaya pemeliharaan setelah sistem berjalan,” ungkapnya.

Dengan mempertimbangkan kebutuhan biaya tersebut, tim PAB memutuskan membangun jaringan pipa baru dari sumber air yang telah tersedia menuju kawasan permukiman dan Masjid At-Taqwa.

Dua Kilometer, Satu Persoalan

Sebelum pembangunan dimulai, tim mengukur debit sumber air yang tercatat minimal sekitar 0,7 liter per detik. Jaringan pipa kemudian dibangun sepanjang sekitar dua kilometer, melewati sisi sungai dan jalur menuju kebun hingga mencapai kawasan permukiman dan Masjid At-Taqwa. Jaringan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air sekitar 900 KK atau 2.000 jiwa di wilayah penerima manfaat.

Saat diuji coba, air belum langsung mengalir lancar. Udara yang terperangkap di dalam pipa menghambat alirannya.

“Kami prediksi dari awal memang ada kendala. Jadi dari pipa 100 meter pertama saja sudah mengalami masuk angin karena elevasi sumber kurang bagus dan kondisi geografis juga tidak bagus,” kata Akhuna Denny.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim memasang air valve atau klep pembuangan udara pada sejumlah titik di sepanjang jalur pipa.

“Alhamdulillah kami punya solusi dengan pemberian airval atau klep pembuangan angin. Dari 200 meter awal, kami banyak membuat lubang pembuangan angin di pipa. Pemasangan airpal. Alhamdulillah setelah itu air lancar sampai ke titik mesin, tidak ada hambatan lagi,” jelasnya.

Pekerjaan pembangunan jaringan beserta perjalanan tim berlangsung selama enam hari. Setelah jaringan selesai, tim memasang pelampung pada tandon Masjid At-Taqwa dan memberikan edukasi kepada warga mengenai pemeliharaan jaringan air.

Kini, aliran air di masjid kembali normal. Keran-keran di tempat wudu dan untuk kebutuhan warga dapat digunakan kembali.

“Kondisi jalan air di keran-keran masjid kini stabil dan airnya deras. Tempat wudu jamaah laki-laki dan perempuan dan keran-keran kebutuhan warga sudah normal,” kata Akhuna Sudiawan.

Pemeliharaan jaringan selanjutnya menjadi tanggung jawab bersama. Warga sepakat memantau kondisi pipa dan melaporkan jika ditemukan kebocoran atau kerusakan. Sebagian jalur pipa melewati area pertanian dan perkebunan warga, sehingga masyarakat sekitar dapat turut mengawasi kondisinya.

Pipa yang Menggerakkan Warga

Keterlibatan warga tidak hanya terlihat di Karang Bayan. Akhuna Novantio, Ketua Program Air Bersih HSI Berbagi, juga menemukan semangat kebersamaan serupa di lokasi pipanisasi lainnya.

“Penduduknya yang muslim dan nonmuslim hampir berimbang, namun pada pelaksanaan pipanisasi semua berbaur karena semangat untuk menggunakan air bersih bersama demi kepentingan warga sangat tinggi,” ujar Akhuna Novantio.

Di lokasi tersebut, beberapa rumah dilalui jaringan pipa yang masih tampak di permukaan tanah beberapa hari setelah pemasangan. Warga berinisiatif menggali tanah di depan rumah masing-masing agar pipa tertanam lebih rapi.

“Bahkan mereka yang rumahnya sudah dilalui oleh pipa dari HSI yang masih tampak di permukaan tanah setelah beberapa hari dengan sukarela menggali sendiri bagian depan rumahnya agar pipa bisa lebih rapi,” lanjutnya.

Akhuna Novantio juga mencatat perubahan pada ketersediaan air setelah pipanisasi dilakukan. “Terutama di masjid dan bak air umum sudah tidak pernah kekurangan suplai air lagi malahan sampai melimpah di mata airnya,” katanya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan air bersih dapat menjadi kepentingan bersama yang mendorong warga terlibat dalam pelaksanaan program. Meski demikian, bentuk bantuan di setiap wilayah tidak selalu sama. Tim menentukan penanganan berdasarkan kondisi dan hasil asesmen di lapangan.

“Mayoritas pemanfaatannya untuk umum, sehingga lokasi tidak boleh atas nama pribadi,” jelasnya.

Dari Karang Bayan ke Lokasi Lain

Pengajuan sarana air bersih masih datang dari berbagai wilayah. Setiap lokasi perlu melalui proses asesmen dan melengkapi dokumen persyaratan sebelum ditindaklanjuti.

Per September 2026, Tim PAB HSI Berbagi masih mencatat adanya pembangunan sumur di Pesantren Islam Zaid bin Tsabit, Lombok Barat, pengajuan dari Musholla Islahul Ummah, Lombok Utara, serta Ponpes Abu Hurairah, Sumbawa Besar, yang kini berada pada tahap persiapan survei.

Pengajuan dari Pesantren Al-Anshor, Ambon, masih dalam proses perhitungan RAB. Sementara Desa Gondang, Tulungagung, menunggu asesmen Tim Tanggap Bencana untuk kebutuhan pipanisasi. Selain lokasi tersebut, terdapat 10 pengajuan lain yang masih menunggu kelengkapan dokumen.

Akhuna Novantio mengatakan pembangunan sarana bukan satu-satunya hal yang diperhatikan. Kondisi sumber air, pemanfaatan untuk masyarakat umum, serta kesiapan lokasi menjadi bagian dari proses sebelum bantuan diberikan.

“Insyaallah melalui Program Air Bersih di HSI Berbagi, kemanfaatan yang didapatkan bisa berlangsung sangat lama karena kita menerapkan persyaratan dan asesmen awal yang cukup ketat pada lokasi bantuan yang akan,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap sarana air bersih membuat dukungan untuk program tersebut masih diperlukan.

“Tentu masih kami butuhkan bantuan dari para muhsinin untuk mendukung program air bersih ini, karena kemanfaatan yang didapat sangat nyata, baik berupa sumur bor maupun pipanisasi,” katanya.

Dari Karang Bayan, Akhuna Sudiawan menyampaikan ucapan terima kasih kepada para donatur dan HSI Berbagi yang telah mendukung pembangunan jaringan tersebut. Ucapan itu disampaikan mewakili pengurus masjid dan warga di Dusun Karang Bayan Barat dan Karang Bayan Timur.

“Kami mengucapkan jazaakumullahu khairan kepada donatur dan HSI Berbagi yang telah memberikan bantuan pipanisasi sepanjang 2 km. Tak lupa juga kepada tim teknisi pemasangan yang menjadi komando kami dalam pemasangan pipanisasi sehingga air untuk jamaah dan warga Dusun Karang Bayan Barat dan Timur sudah mengalir deras. Semoga para donatur selalu diberikan kesehatan, keberkahan rezeki dan kemudahan dalam setiap urusannya,” ujarnya. 

9