Rubrik Utama

Dakwah ke Jalan Allah

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Ary Abu Ayyub


Kebenaran tidak bisa bangkit dengan sendirinya dan kebaikan tidak bisa tersebar dengan sendirinya melainkan dengan adanya dakwah. Oleh karena itu, dakwah punya peran yang penting dalam agama Islam, bahkan sampai Allah mengutus para rasul-Nya untuk berdakwah. Oleh karena itu kita perlu memahami dakwah itu apa, bagaimana caranya, dan segala yang berkaitan dengannya agar tidak salah dalam pengaplikasiannya. Mari simak penjelasannya pada uraian berikut ini.

HAKIKAT DAKWAH

Secara etimologi dakwah berasal dari kata (دعا-يدعو) yang berarti menyeru[1]. Secara terminologi, dakwah adalah menyeru untuk mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata, “Menyeru untuk beriman kepada Allah, beriman dengan segala yang dibawa para Rasul-Nya pada segala yang mereka kabarkan, menaati segala perintah mereka, dan dakwah kepada hal demikian termasuk dakwah kepada Allah”[3].

Dari sini dipahami bahwa dakwah tidak terbatas pada media tertentu. Apa pun medianya, asal tidak bertentangan dengan syariat dan mewujudkan tujuan dakwah, maka bisa dijadikan perantara dalam berdakwah.

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP DAKWAH

Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami”. (QS Al-Anbiya’ : 35)

Keburukan adalah ciptaan Allah yang diciptakan untuk suatu hikmah, yaitu supaya kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kalau tidak ada keburukan kita tidak akan pernah tahu arti sebuah kebaikan. Kemudian Allah ciptakan Bani Adam supaya mereka mendakwahi anak turunannya untuk berjalan di atas jalan-Nya, yaitu beribadah kepada-Nya semata. Demikianlah para rasul setelahnya sampai kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam[4].

LATAR BELAKANG DAKWAH

Setiap muslim dituntut untuk berdakwah, baik maksud dari dakwah tersebut tercapai atau pun tidak. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.

Pertama, sebagai bentuk tanggung jawab. Ketika seorang muslim mendakwahi pelaku maksiat, maka dia punya argumentasi saat ditanya oleh Allah tentang pelaku maksiat tersebut di hadapan Allah. Hal ini sebagaimana digambarkan Allah Subhānahu wa Ta’ālā dalam firman-Nya,

وَاِذْ قَالَتْ اُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُوْنَ قَوْمًاۙ ۨاللّٰهُ مُهْلِكُهُمْ اَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ قَالُوْا مَعْذِرَةً اِلٰى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

“Dan ingatlah ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasehati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa”. (QS Al-A’raf: 164)

Kedua, untuk menghindari hukuman Allah. Hal itu karena orang yang diam membiarkan maksiat maka dia akan terkena efek hukuman meski tidak ikut melakukan maksiat tersebut. Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya”. (QS Al-Anfal: 25)

HUKUM DAKWAH

Wajibnya berdakwah adalah hal yang disepakati oleh para ulama. Mereka hanya berselisih apakah kewajiban tersebut bersifat wajib kifa’i atau wajib ‘ain. Wajib kifa’i adalah apabila ada yang sudah melakukannya, maka kewajiban tersebut gugur bagi pihak lainnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama’. Adapun wajib ‘ain, bila ada yang melakukannya, maka kewajibannya tidak gugur bagi pihak lain sampai melakukannya juga. Ini adalah pendapat sebagian ulama’[5].

Dua pendapat tersebut bisa dikompromikan dengan cara: bahwa adanya sebagian dari kaum muslimin yang fokus dalam dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan fardhu kifayah, sedangkan tuntutan dakwah bagi setiap muslim sesuai kemampuannya merupakan fardhu ‘ain[6]. Hal ini selaras dengan firman Allah Subhānahu wa Ta’ālā ,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah: 122)

SIAPA YANG BERHAK BERDAKWAH?

Dakwah harus dengan dasar ilmu pada perkara yang hendak didakwahkan, sebagaimana perintah Allah Subhānahu wa Ta’ālā terhadap Nabi-Nya shallallāhu ‘alaihi wa sallam,

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan dasar bashirah (ilmu), Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS Yusuf : 108)

Setiap orang yang memiliki ilmu maka dia berhak berdakwah, namun tentunya kapasitas setiap orang bertingkat-tingkat sesuai dengan ilmu yang dimiliki. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam,

‌بَلِّغُوا ‌عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku (apa yang sudah kamu kuasai dan pahami) meskipun satu ayat.” (HR Al-Bukhari No. 3461)

Demikian halnya ketika Nabi bersabda tentang orang yang mengingkari kemungkaran, tidak dijadikan satu level namun bertingkat sesuai kemampuan masing-masing. Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌مَنْ ‌رَأَى ‌مِنْكُمْ ‌مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya mengubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim No. 49)

Maka orang yang tidak memiliki ilmu pada perkara yang didakwahkan atau berbicara di luar kapasitasnya adalah terlarang dan diharamkan dalam islam, apalagi yang disampaikan hanya sekedar opini dan prasangka. Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36)

SIAPA YANG DIDAKWAHI?[7]

Dalam dakwah ada skala prioritas, maka harus tepat kepada siapa disampaikan agar memberikan hasil yang terbaik.

Pertama, mendakwahi diri sendiri

Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَاَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ(7)

“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh balasan yang lebih banyak, dan karena Tuhanmu, bersabarlah”. (QS Al-Muddassir: 1-7)

Kedua, mendakwahi orang tua, keluarga, dan kerabat

Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.” (QS Asy-Syu’ara’: 214)

APA YANG DIDAKWAHKAN?

Materi dakwah adalah ajaran islam yang telah Allah wahyukan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka dakwah ilallah sejatinya adalah dakwah kepada agama-Nya[8]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dakwah ilallah adalah mengajak untuk beriman dengan-Nya dan dengan yang dibawa para Rasul-Nya, dengan cara membenarkan apa yang mereka kabarkan dan menaati perintah mereka. Semua itu mencakup dakwah kepada dua kalimat syahadat, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa ramadhan, dan haji ke baitullah, dan dakwah untuk beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan takdir baik maupun buruk, serta dakwah untuk seorang hamba beribadah kepada tuhannya seakan-akan ia melihat-Nya. Maka sesungguhnya tiga tingkatan ini, yaitu islam, iman, dan ihsan masuk dalam pembahasan agama”[9].

Ajaran agama Islam yang terpenting dan didahulukan dalam dakwah adalah dakwah kepada tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, sebab inilah yang pertama kali didakwahkan para nabi dan rasul sebagaimana firman Allah,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan Jauhilah taghut (segala sesembahan selain-Nya)’”. (QS An-Nahl: 36)

SAMPAI KAPAN BERDAKWAH?

Dakwah dilakukan setiap waktu, sebab dakwah termasuk ibadah dan ibadah berakhir dengan kematian. Maka tugas dakwah tidak akan selesai dan berakhir sampai akhir hayat[10]. Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian mendatangimu.” (QS Al-Hijr: 99)

PERSIAPAN DAKWAH

Selain ilmu, ada hal lain juga yang harus dipersiapkan sebelum berdakwah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata,

“(Pendakwah) harus memiliki tiga perkara: ilmu, lemah lembut, dan kesabaran. Ilmu (dimiliki) sebelum memerintah dan melarang, lemah lembut (dimiliki) saat melakukan (keduanya), dan kesabaran setelahnya”[11].

Ilmu di sini mencakup tiga hal: ilmu agama sebagaimana disebut dalam QS Yusuf: 108, ilmu tentang keadaan orang yang hendak didakwahi, dan ilmu tentang metode dakwah sebagaimana tersirat dalam HR Bukhari No. 1580.

Sejatinya apa yang dibutuhkan seorang da’i dalam berdakwah sudah dijelaskan secara jelas oleh Allah dalam firman-Nya,

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (QS An-Nahl: 125)

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman,

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan dasar bashirah (ilmu), Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS Yusuf : 108)

RINTANGAN DAKWAH

Dalam dakwah pasti ada rintangan. Ini perkara yang diprediksikan pada setiap perbuatan. Rintangan dalam dakwah ada dua jenis sebagai berikut.

Pertama, rintangan yang tidak nyata. Rintangan ini sebenarnya hanya imajinasi seorang da'i dan sebagiannya muncul dari was-was setan. Solusinya adalah minta pertolongan kepada Allah dan berjalan di atas jalan Nabi serta merasa bahwa apa yang dilakukan akan mendatangkan pahala yang besar.

Kedua, rintangan yang nyata atau haqiqi. Rintangan jenis ini memang sudah banyak dilalui oleh para nabi dan rasul. Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun dalam dakwahnya pernah mengalami rintangan seperti dicelakai, direndahkan, diusir, dan dihina. Meskipun demikian, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berhenti dalam dakwahnya[12].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata, “(Adanya) berbagai rintangan dan ujian itu semisal (adanya) panas dan dingin. Bila seseorang tahu bahwa keduanya pasti didapati, maka ia tidak akan marah bila keduanya datang dan tidak akan muram serta bersedih karenanya. Bila dia bersabar atas berbagai rintangan tersebut dan tidak berhenti karenanya, maka diharapkan dia akan sampai pada maqam tahqiq (yaitu mengerti kebenaran dan bisa membedakannya dari kebatilan)”[13].

PENUTUP

Demikian yang bisa penulis jelaskan tentang dakwah ke jalan Allah. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillāhi Taufiq Ilā Aqwāmith Tharīq

REFERENSI :

  1. Shahīh Al-Bukhārī, Abu Abdillah Muhammad bin Ismā'īl bin Ibrāhīm Al-Bukhārī, As-Sulthāniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  2. Shahīh Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjāj Al-Qusyairī, Tahqīq Muhammad Fuad Abdul Bāqī, Mathba'ah 'Īsā Al-Bābī Al-Halabī-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
  3. Lisān Al-‘Arab, Abul Fadhl Jamāluddin Muhammad bin Mukrim Ibnu Mandzūr, Dār Ihyā’ At-Turāts Al-‘Arabī-Beirut, Cet. 3, Tahun 1417 H/1997 M.
  4. Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Abul Fadhl Ahmad bin 'Ali bin Hajar Al-'Asqalani, Darul Ma'rifah-Beirut, Cet. Tahun 1379 H.
  5. Majmu' Al-Fatawa, Abul Abbas Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim Ibn Taimiyah Al-Harrani, Pengumpul dan Penata Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim, Mujamma' Al-Malik Fahd-Madinah-KSA, Cet. Tahun 1425 H/2004 M.
  6. Al-Hisbah Fil Islam, Abul Abbas Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim Ibn Taimiyah Al-Harrani, Taqiq Sayyid bin Muhammad, Tauzi' Ar-Riasah Al-'Ammah Li Idarah Al-Buhuts Al-'Ilmiyah Wal Ifta' Wad Dakwah Wal Irsyad, KSA, Cet. 1, Tahun 1403 H.
  7. Ad-Dakwah ilallah Fawaid Wa Syawahid, Syaikh Abdul Malik Al-Qasim, Darul Qasim, www.ktibat.com.
  8. Ushul Ad-Dakwah, DR. Abdul Karim Zaidan, Muasasah Ar-Risalah, Cet. 3, Tahun 1396 H/1976 M.
  9. Usus Manhaj As-Salaf Fi Ad-Dakwah Ilallah, Syaikh Fawwaz bin Halil bin Rabah As-Suhaimi, Dar Ibnil Qayyim/Dar Ibn 'Affan, Cet. 3, Tahun 2002 M.
  10. Madarij As-Salikin Fi Manazil As-Sairin, Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Dar 'Atha'at Al-Ilm-KSA, Cet. 2, Tahun 1441 H/2019 M.
  11. Hukm Ad-Dakwah Ilallah, DR. Ezzat Shehata Karar, Majallah Ad-Dirasat Al-Arabiyah, Minia University, Kuliah Dar Al-‘Ulum, Publis Tahun 2012, http://search.mandumah.com/Record/432006.
  12. At-Tashnif Fi Ilm Ad-Dakwah Ilallah, DR. Nashir bin Said As-Saif, https://www.alukah.net/sharia/0/126811/التصنيف-في-علم-الدعوة-إلى-الله-تعالى/, Diakses tgl. 18/11/2024.
  13. Ad-Dakwah Bil Kitabah (Wasilah Al-Kitabah Ad-Da'awiyah), DR. Hindun binti Musthafa Syarifi, https://www.alukah.net/sharia/0/98523/الدعوة-بالكتابة-وسيلة-الكتابة-الدعوية/, Diakses tgl. 18/11/2024.
  14. Maudhu’ Wa Khashaish Ad-Dakwah Al-Islamiyah, DR. Hindun binti Musthafa Syarifi, https://www.alukah.net/sharia/0/68785/موضوع-وخصائص-الدعوة-الإسلامية/, Diakses tgl. 18/11/2024.
  15. Website islamweb.net, https://shorturl.at/YF0ic, Diakses tgl. 18/11/2024.
2