Tausiyah Ustadz


Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://youtu.be/_0DgCTDsTVU?si=7rEfq-Ai5Sb1N-Pc

Ciri Hamba yang Dipahamkan Ilmu Agama

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Athirah Mustadjab


Ikhwah sekalian, pembahasan ini sebenarnya bukanlah perkara yang asing bagi para penuntut ilmu. Kita akan mengambil beberapa faedah dari sebuah hadits yang masyhur, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."

Hadits ini menunjukkan bahwa di antara tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah Allah memberikan kepadanya pemahaman terhadap agama. Salah satu bentuk pengagungan terhadap ilmu agama yang semestinya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah memberikan perhatian yang besar kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah sebab keduanya merupakan sumber dan asal dari seluruh ilmu agama.

Perhatian Para Salaf terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah

Para salaf memiliki perhatian yang sangat besar terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka tidak hanya berusaha menghafalnya, tetapi juga mempelajari maknanya, mentadaburi kandungannya, serta menggali berbagai faedah yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, kita sering menemukan ucapan para ulama tentang bagaimana mereka merenungkan satu ayat atau satu hadits, kemudian mendapatkan banyak faedah darinya.

Di antaranya adalah Imam Asy-Syafi'i rahimahullah yang disebutkan telah mengambil lebih dari 70 faedah dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

"Wahai Abu 'Umair, apa yang dilakukan oleh Nughair?"

Demikian pula, para ulama telah menggali berbagai faedah dari ayat-ayat Al-Qur'an. Bahkan dari ayat tentang wudhu yang terdapat dalam surah Al-Ma'idah, para ulama dapat mengambil puluhan faedah.

Hal ini menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap tadabbur dan istinbath, yaitu berusaha memahami kandungan Al-Qur'an dan As-Sunnah serta menggali pelajaran dan hukum yang terkandung di dalamnya.

Ilmu Tidak Berhenti pada Hafalan

Dari sini kita memahami bahwa menuntut ilmu bukan hanya sekadar menghafal ayat dan hadits. Hafalan memang merupakan perkara penting, tetapi seorang penuntut ilmu hendaknya juga berusaha memahami, merenungkan, dan mengambil faedah dari apa yang telah dia hafal. Inilah salah satu bentuk kesungguhan dalam mencari ilmu.

Para ulama hingga zaman sekarang pun terus berusaha menggali faedah dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Di antaranya adalah guru kami yang mulia, Fadhilatusy-Syaikh Ad-Doktor Abdul Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Hamd Al-Badr hafizhahullah. Beliau dikenal memiliki perhatian yang besar dalam menggali berbagai latha'if (faedah-faedah yang mendalam) dan fawa'id dari ayat-ayat Al-Qur'an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian, salah satu ciri orang yang Allah kehendaki kebaikan padanya adalah tumbuhnya perhatian terhadap ilmu agama, khususnya Al-Qur'an dan As-Sunnah, disertai usaha untuk memahami, mentadabburi, dan mengambil faedah darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."

Berikut ini beberapa faedah yang dapat kita ambil dari hadits tersebut.

1. Beriman kepada kehendak Allah

Hadits ini mengajarkan kepada kita untuk beriman kepada masyi'atullah, yaitu kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada sesuatu yang terjadi di alam ini kecuali dengan kehendak-Nya. Allah berfirman,

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

"Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah." (QS. Hud: 88)

Termasuk ilmu yang kita peroleh dan kemudahan untuk mengamalkannya. Semua itu tidak semata-mata terjadi karena kemampuan, kecerdasan, atau kerajinan kita. Kita dapat memahami ilmu, menghafal Al-Qur'an dan hadits, serta mengamalkannya karena Allah memberikan kehendak dan taufik-Nya. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak merasa bahwa keberhasilannya semata-mata berasal dari dirinya. Ilmu adalah karunia Allah dan taufik untuk mengamalkannya juga merupakan karunia-Nya.

2. Keharusan bertawakal kepada Allah

Jika kita memahami bahwa mendapatkan ilmu agama merupakan sesuatu yang Allah kehendaki dan mudahkan, hal itu seharusnya mendorong kita untuk bertawakal kepada Allah dalam menuntut ilmu.

Seorang penuntut ilmu hendaknya menyadari bahwa dirinya sangat bergantung kepada Allah. Ketika duduk di majelis, mempelajari sebuah kitab, mendengarkan hadits, atau menghafal ayat Al-Qur'an, hendaknya dia memohon pertolongan Allah dan meyakini bahwa dia tidak akan mampu memahami dan menghafalnya kecuali dengan pertolongan-Nya. Allah berfirman,

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Dan bertawakal-lah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin." (QS. Al-Ma'idah: 23)

Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Seorang penuntut ilmu tetap belajar, membaca, menghafal, dan mempelajari ulang ilmu yang sudah pernah dia dapat. Namun, di balik seluruh usahanya, hatinya tetap bergantung kepada Allah dan memohon agar Allah memberikan kemudahan serta keberkahan dalam menuntut ilmu.

3. Pentingnya berdoa memohon ilmu

Faedah berikutnya adalah pentingnya memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan taufik dalam menuntut ilmu. Jika pemahaman terhadap agama merupakan karunia dari Allah, maka seorang thalibul 'ilm sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima."

Doa ini dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah shalat subuh. Perhatikan tiga perkara yang beliau mohonkan: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.

Ilmu yang bermanfaat adalah yang disebutkan pertama kali dalam doa tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu bagi seorang muslim. Bahkan kebutuhan seorang penuntut ilmu terhadap ilmu bukanlah kebutuhan sesaat, melainkan kebutuhan setiap hari.

Oleh sebab itu, seorang thalibul 'ilm tidak benar-benar memiliki waktu "libur" dari ilmu. Ketika kegiatan belajar sedang berhenti, dia tetap dapat bersama ilmu dengan memurajaah hafalan Al-Qur'an, membaca kembali kitab yang telah dipelajari, mengulang hadits, atau mengingat kembali pelajaran yang pernah dia dapatkan. Seorang penuntut ilmu senantiasa bersama Al-Qur'an, hadits, dan ilmu yang bermanfaat. Sebab, kebutuhan terhadap ilmu adalah kebutuhan yang terus-menerus.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan dalam perkara ilmu. Allah berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'" (QS. Thaha: 114)

Allah tidak memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan harta atau kekuasaan, tetapi memerintahkannya untuk meminta tambahan ilmu. Dengan demikian, seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, dimudahkan dalam memahaminya, serta diberi taufik untuk mengamalkannya. Sebab, tidak ada yang memberikan ilmu dan taufik dalam menuntut ilmu selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

4. Tanda orang yang dikehendaki kebaikan pada dirinya

Faedah keempat dari hadits yang telah disebutkan di awal adalah bahwa di antara tanda seseorang mendapatkan kebaikan dari Allah adalah dia memiliki kecintaan terhadap ilmu agama. Dia merasa senang menghadiri majelis ilmu, bersemangat mendengarkan kajian, tertarik mempelajari kitab, dan merasa gembira ketika mendapatkan faedah baru. Hatinya terasa lapang ketika mendengarkan ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia memiliki keinginan untuk memahami agamanya, menghilangkan kebodohan dari dirinya, kemudian dia mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.

Jika seseorang menemukan dalam dirinya kecintaan dan kegembiraan terhadap ilmu agama seperti ini, hendaknya dia bergembira dan berhusnuzan kepada Allah. Semoga kecintaan tersebut menjadi tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi dirinya.

5. Waspada ketika hati berat terhadap ilmu

Sebaliknya, hadits ini juga menunjukkan bahwa seseorang yang tidak mendapatkan pemahaman terhadap agama berada dalam keadaan yang perlu dikhawatirkan.

Di antara tanda yang patut diwaspadai adalah ketika seseorang merasa berat menghadiri majelis ilmu, malas mendengarkan kajian, atau tidak memiliki ketertarikan untuk mempelajari agama, padahal di dalam majelis tersebut disampaikan firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika seseorang mendapati keadaan seperti ini dalam dirinya, hendaknya dia tidak membiarkannya. Segera koreksi diri, memohon ampun kepada Allah, dan bertobat kepada-Nya. Hendaknya pula dia berdoa agar Allah membuka hatinya, menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, dan menjadikan majelis ilmu sebagai sesuatu yang dia cintai.

Merupakan kerugian yang besar apabila seseorang justru berpaling dari ilmu agama. Sebaliknya, ketika Allah memberikan kepada seorang hamba kecintaan terhadap Al-Qur'an, As-Sunnah, dan majelis ilmu, hendaknya dia bersyukur dan memohon kepada Allah agar kecintaan tersebut terus dijaga. Maka, jangan remehkan rasa cinta kepada ilmu. Bisa jadi, kecintaan itu merupakan salah satu tanda bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan bagi kita.

6. Dipahamkan tentang agamanya

Di antara faedah yang dapat kita ambil dari hadits yang mulia ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Niscaya Allah akan memahamkannya tentang agamanya."

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar menghafal lafaz, tetapi juga memahami kandungannya. Al-Qur'an tidak hanya dihafalkan, tetapi juga perlu dipahami dan ditadabburi. Demikian pula, hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cukup hanya menghafalnya, tetapi hendaknya seorang penuntut ilmu berusaha memahami makna dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

"Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci?" (QS. Muhammad: 24)

Allah juga berfirman,

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS. Shad: 29)

Kata “fiqh” (الفقه) pada asalnya bermakna pemahaman. Maka, orang yang dipahamkan oleh Allah tentang agama bukan hanya orang yang memiliki banyak hafalan, tetapi juga orang yang Allah berikan kemampuan untuk memahami agama dengan benar.

7. Fiqh dalam hadits Ini bermakna umum

Yang dimaksud dengan fiqh dalam hadits ini bukanlah fiqih dalam pengertian khusus sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas hukum-hukum syariat, seperti shalat, thaharah, zakat, puasa, dan berbagai hukum lainnya. Namun, fiqh fid-din dalam hadits ini memiliki makna yang lebih luas, yaitu memahami agama secara menyeluruh.

Perkara yang paling utama dalam pemahaman agama adalah akidah dan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang muslim wajib memahami tauhid, karena tauhid merupakan perkara paling mendasar dalam agama dan kewajiban yang paling utama bagi seorang Muslim. Oleh karena itu, fiqh fid-din dalam hadits ini bukan sekadar memahami hukum-hukum fiqih dalam pengertian khusus, tetapi pemahaman terhadap agama secara umum, yang mencakup akidah, tauhid, ibadah, akhlak, dan berbagai perkara agama lainnya. Dengan demikian, ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah akan memberikan kepadanya pemahaman yang benar terhadap agama-Nya.

10