🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Bye-Bye Liburan, Welcome Back ‘Mode Belajar’

Reporter : Dian Pujayanti

Redaktur: Dian Soekotjo


Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, mengajarkan doa terhindar dari rasa malas:

اللهم إنى أعوذ بك من العجز والكسل والجبن والهرم والبخل وَأعوذ بك من عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian." (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)[1]

Libur panjang Idul Fitri baru saja berlalu. Saat ini, kegiatan belajar di HSI telah kembali diselenggarakan. Namun mengembalikan ritme belajar, sepertinya menjadi PR banyak di antara kita.

Liburan seringkali membuat pola harian berubah total. Waktu tidur tidak teratur, aktivitas lebih santai, dan kewajiban belajar seakan terkesampingkan sejenak. Ketika masa libur usai, tidak sedikit kita merasa berat kembali fokus. Ada rasa malas juga lelah yang kemudian timbul.

Ritme belajar susah kembali on hingga tugas mulai menumpuk menjadi tantangan. Bagaimana caranya mengembalikan “mode belajar” tanpa terbebani? Kondisi ini sebenarnya fenomena yang lumrah atau manusiawi karena bagian dari tabiat manusia. Namun, jangan didiamkan. Membiarkan diri dalam posisi santai atau malas-malasan sama dengan mempersilahkan kebodohan merayap masuk dan merampas waktu produktif.

Masa Santai Usai, Belajar Mari Dimulai

Adaptasi adalah proses fisik, yang tidak terjadi dalam semalam. Saat liburan, otak beradaptasi dengan situasi yang minim stres dan tekanan (low dopamin). Fokus otak beralih dari hal-hal metodis ke relaksasi dan menikmati pemandangan. Liburan juga menghapus jadwal ketat. Hal ini membuat jam biologis tubuh berubah[2].

Untuk mengembalikan otak ke mode siaga, perlu usaha, tekad kuat, dan strategi yang tepat menghindari kelelahan mental di awal masa kembali aktif belajar. Namun, meskipun fisik telah kembali, terkadang mental masih tertinggal di masa liburan. Otak perlu dilatih ulang untuk menghadapi pelajaran yang terasa kurang menarik dibanding pengalaman liburan. Lakukan secara bertahap saja, tidak perlu menggebu-gebu, asal konsisten. Sabar dengan diri sendiri dan hargai setiap kemajuan kecil.

"Perubahan ritme setelah libur panjang itu wajar ya..,” ujar Ukhtunna Enny Setiawati santri HSI Angkatan 251. “Apalagi bagi ibu rumah tangga yang harus menyeimbangkan urusan rumah, keluarga, dan waktu belajar. Kuncinya bukan langsung kembali sempurna, tapi membangun ulang secara bertahap dan realistis,” ungkapnya mengemukakan pendapat. Ukhtuna Enny juga mempunyai gagasan tentang perlunya menjaga pagi kita sebagai titik terbaik memulai segalanya.

Tak jauh berbeda dengan Ukhtuna Enny, Ukhtuna Gia yang tinggal di Jambi mengemukakan penilaiannya. “Saya kira itu wajar-wajar saja dan sepertinya semua orang seperti itu. Kalau sudah habis liburan, belajar lagi jadi terasa berat, malas, perlu effort,” papar ibu tiga putri satu putra tersebut. Ia menambahkan, “Tapi jangan kebablasan karena tidak akan ada habisnya rasa malas itu kalau kita turuti. Harus berani mengekang nafsu-nafsu negatif dan segera bangkit. Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim dan hanya dengan belajar kita memahami apa yang Allah perintahkan. Padahal hidup kita singkat. Jadi jangan banyak membuang waktu,” pungkasnya berbagi hikmah.

Mulai dari Langkah Kecil

Memulai rutinitas setelah waktu senggang tampaknya memang butuh tekad. Tapi kita perlu juga menyesuaikan dengan daya badan. Ibaratnya setelah jeda istirahat, tidak mungkin kita memaksakan diri langsung lari maraton. Transisi yang lembut seringkali menjaga motivasi lebih awet dan tidak cepat padam.

Kita bisa memulai secara bertahap dengan hal-hal kecil, semisal membuka catatan, melihat materi pertemuan sebelumnya, atau mendengarkan audio pembelajaran singkat guna menyegarkan otak. Langkah-langkah tersebut telah diterapkan Ukhtuna Resa Tarsela santri ART212. “Membuka kembali materi belajar yang sudah pernah dipelajari dari yang paling mudah dan menyenangkan. Baik dengan membacanya atau mendengarnya melalui audio,” ujar Ukhtuna Resa.

Pun demikian pendapat Ukhtunna Ita Subekti yang memilih mulai mempersibuk diri dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat serta mempertahankan ritme Ramadhan. Ide ini sangat mungkin diterapkan karena dengan menggugah pikiran akan pentingnya mengisi hari-hari dengan amal shalih, bisa menyeret kesadaran untuk kembali menekuni ilmu.

Di awal masa transisi, kita bisa menerapkan durasi belajar sesuai kemampuan. Ukhtuna Resa mencontohkan 30 menit menyimak materi sembari mencatat, 10 menit istirahat, kemudian melanjutkan belajar. “Sediakan waktu khusus minimal 30 menit dalam satu hari. Usahakan di waktu yang sangat tenang, saat mau tidur atau setelah bangun tidur. Dan waktu belajar terbaik setelah bangun tidur adalah sebelum waktu Subuh,” tambah Ukhtuna Resa yang pernah menimba ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar Raayah Sukabumi atau yang sejak tahun 2025 beralih status menjadi Institut Muslim Cendekia.

Atau jika merasa sangat malas, komitmenlah untuk belajar atau membaca selama lima menit saja. Tidak perlu langsung masuk ke materi utama. Siapkan audio materi atau catatan yang singkat namun sangat menarik perhatian, misalnya silsilah yang membahas Beriman dengan Ru’yatullah di Hari Kiamat, silsilah Beriman Kepada Malaikat pada halaqah tentang Mengenal Sifat-sifat Fisik Malaikat, atau silsilah Beriman Kepada Hari Kebangkitan, silsilah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam pada halaqah Keterasingan Islam di Akhir Zaman, atau materi dari silsilah mana saja yang paling menarik perhatian. Seringkali, setelah 5 menit berlalu, kita akan terdorong melanjutkan membaca.

Hal-hal ringan ini dilakukan semata-mata untuk merealisasikan tujuan awal terlebih dahulu. Jika rasa percaya diri mulai muncul dan otak kembali tanpa merasa terbebani, insyaallah perlahan tapi pasti ritme belajar bisa kembali seperti sedia kala. "Turunkan ekspektasi, naikkan konsistensi. Seringkali yang menghambat itu keinginan langsung ideal. Lebih baik sedikit demi sedikit dan terus, daripada langsung banyak tapi putus," tambah Ukhtunna Enny yang juga tercatat sebagai maha santri HSI Akademi.

Saat otak dan fisik setengah pulih, baru bangun momentum sedikit demi sedikit melalui lingkungan yang kondusif. Biidznillah, lingkungan yang rapi mengembalikan motivasi menuntut ilmu. Menempatkan diri di tengah ekosistem penuntut ilmu, tampaknya juga akan membantu. “Merapat ke majelis Al Quran dan ilmu lain adalah salah satu langkah simpel balik ke setelah awal. Tidak lupa meminta bantuan kepada Allah untuk mendapatkan keistiqomahan tersebut,” tambah Ukhtuna Ita yang juga aktivis dakwah sunnah di Masjid Al Madani Harvest, Bekasi, Jawa Barat.

Kembali ke Rutinitas Harian

Sebelum kembali ke rutinitas, sisihkan masa pemulihan satu hingga dua hari. Gunakan waktu ini untuk menyesuaikan diri secara bertahap, baik untuk sekolah formal, pondok, maupun thalabul ‘ilmi informal.

Mulai dari mengatur ulang waktu tidur dan bangun. Geser perlahan 15–30 menit setiap 2–3 hari hingga kembali ke ritme semula. Paparan cahaya pagi membantu tubuh beradaptasi. Hindari menunda alarm dan kurangi penggunaan gadget sebelum tidur karena dapat menghambat produksi melatonin.

Ukhtunna Enny menyampaikan, "Rapikan waktu tidur secara perlahan, kalau langsung memaksa tidur cepat biasanya gagal. Geser saja, maju 15–30 menit setiap 2–3 hari. Kurangi screen time sebelum tidur dan hindari tidur siang terlalu lama."

Selanjutnya, buat jadwal harian sederhana yang seimbang antara ibadah, belajar, dan istirahat. Ukhtunna Enny menambahkan, “Di waktu pagi atau setelah Subuh misalnya, menjadi sarana ibadah dengan tilawah Al Quran. Plus belajar ringan menyimak materi HSI Reguler dan Akademi. Lalu siang fokus pada pekerjaan rumah dan istirahat. Sore atau malam, waktu bersama keluarga. Setelahnya review ringan. Tidak perlu detail per jam, yang penting alurnya terasa.” Kunci di tahap ini adalah konsistensi, bukan kesempurnaan.

Menetapkan Target yang Realistis

Tetapkan target sesuai kondisi tubuh yang belum pulih sepenuhnya. Buat to do list sederhana, misalnya dibagi menjadi tiga waktu: subuh, pagi–siang, dan sore–malam.

Awali hari dengan bangun mendekati Subuh, lalu lakukan aktivitas ringan seperti mandi untuk membantu kesadaran dan fokus. Pagi atau siang, ulangi materi sebelum libur. Sore atau malam, siapkan kebutuhan belajar esok hari dan lakukan evaluasi singkat.

Fokus pada target harian, tidak perlu langsung mengejar semuanya. Beri ruang istirahat agar ritme terbentuk tanpa tekanan.

Ukhtuna Yulika menambahkan, “Karena memang sudah menjadi kewajiban sebagai istri dan Ibu harus belajar. Karena fakirnya ilmu. Yang membuat ritme belajar meningkat juga keberadaan ana dalam circle penuntut ilmu. Adapun reward dari suami sebenarnya support dan doa sudah cukup. Terpenting, suami rida terhadap ana untuk belajar. Aamin.”

Mengelola Distraksi

Distraksi adalah pengalihan perhatian yang dapat menghambat fokus, baik dari dalam diri maupun lingkungan. Saat ini, distraksi terbesar sering berasal dari ponsel.

Ukhtunna Resa berbagi, “Berusaha untuk tidak memulai dan mengakhiri aktivitas harian dengan membuka handphone. Menyalakan paket data atau handphone di waktu tertentu. Menyembunyikan notifikasi aplikasi pada handphone di waktu belajar. Sehingga notifikasi apapun yang hadir tidak terlihat,”

Dan Ukhtunna Enny mengingatkan, “Pengalihan perhatian itu normal, yang penting kembali lagi ke rutinitas harian tadi di atas. Mulai dari bangun pagi yang konsisten, tambah sedikit belajar, ulang setiap hari, perbaiki pelan-pelan.”

Distraksi bukan untuk dihilangkan sepenuhnya, tapi dikelola. Gunakan mode Do Not Disturb atau jauhkan ponsel saat belajar. Lingkungan yang tenang akan membantu menjaga konsentrasi.

Dengan langkah sederhana dan konsisten, proses kembali ke “mode belajar” bisa dijalani dengan lebih ringan. Insyaallah…biidznillah..

27