Mutiara Nasihat Muslimah
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Bulan Haram: Musim Ketaatan bagi Seorang Muslimah

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Bulan Ramadhan belum lama berlaluโ€”semoga kita semua masih istiqamah dalam ketaatan dan kebaikan. Bersyukurlah tiap-tiap jiwa yang kini masih diberi kesempatan oleh Allah Taโ€™ala untuk beramal shalih dan melanjutkan โ€œestafetโ€ ketaatan pada rangkaian bulan mulia lainnya di dalam Islamโ€”yakni di bulan iniโ€”bulan Dzulqaโ€™dah, salah satu dari empat bulan haram[1] yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Beliau shallallahu โ€™alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ุฒู‘ูŽู…ูŽุงู†ู ู‚ูŽุฏู ุงุณู’ุชูŽุฏูŽุงุฑูŽ ูƒูŽู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุชูู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉู ุงุซู’ู†ูŽุง ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู‹ุงุŒ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒ ุญูุฑูู…ูŒุŒ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉูŒ ู…ูุชูŽูˆูŽุงู„ููŠูŽุงุชูŒ ุฐููˆ ุงู„ู’ู‚ูŽุนู’ุฏูŽุฉู ูˆูŽุฐููˆ ุงู„ู’ุญูุฌู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ูุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูŽุจู ู…ูุถูŽุฑูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฌูู…ูŽุงุฏูŽู‰ ูˆูŽุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ

โ€œSetahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqaโ€™dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Syaโ€™ban.โ€ (HR. Bukhari no. 3025 dan Muslim no. 1679).[2]

Dengan demikian, dapat kita ketahui bersama bahwa empat bulan haram tersebut adalah bulan Dzulqaโ€˜dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Seorang muslim dan muslimah yang menyadari betapa bernilainya ketaatan di bulan-bulan haram akan lebih bersemangat dalam ketaatan dan kebaikan. Begitu pula mereka yang menyadari betapa beratnya kemaksiatan yang dilakukan di waktu tersebut akan lebih berhati-hati terhadap dosa dan kemaksiatan.

Akhawati fillah, sadarkah kita bahwa adanya bulan haram ini adalah di antara bentuk kasih sayang Allah Taโ€™ala kepada para hamba-Nya. Dia jadikan waktu-waktu tertentu ini sebagai โ€œmusim ketaatanโ€, yakni waktu di mana pahala atas kebaikan akan dilipatgandakan, begitu pula dengan dosa menjadi lebih berat untuk dipertanggungjawabkan.[3]

Maka masa-masa iniโ€”atas izin serta taufik dari Allah Taโ€™alaโ€”akan mendidik jiwa dan hawa nafsu kita untuk seterusnya dalam menjauhi dosa-dosa, sekaligus memberi kesempatan bagi kita untuk memperoleh banyak kebaikan yang dilipatgandakan dari ketaatan-ketaatan yang dikerjakan.

Namun, bagaimana seorang muslimah memaknai bulan haram di tengah realitas kesehariannya yang sarat dengan peranโ€”sebagai istri, ibu, anakโ€”beserta rentetan tanggung jawab lainnya?

Menggeser Cara Pandang: Bukan Sekadar Pengetahuan, melainkan Pemuliaan

Barangkali selama ini dalam benak kita, pengetahuan akan โ€œbulan haramโ€ masih sebatas nama saja. Kenyataannya, ini adalah waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah โ€˜Azza wa Jalla. Semestinya bulan ini memantik kesadaran dalam diri seorang muslimah bahwa ada masa di mana ia perlu bersungguh-sungguh dalam menjauhi dosa-dosa sekaligus memperbaiki kualitas hubungannya dengan Rabbnya.

Dengan menyadari menit-menit yang berjalan di bulan haram itu bernilai besar di sisi Rabb kita, biโ€™idznillah akan menghadirkan kesadaran pada diri sendiri bahwa setiap rutinitas yang biasa kita jalani dapat diganjar pahala yang luar biasa ketika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar.

Ketaatan yang Bertahap dan Konsisten

Akhawati fiddin, Islam adalah agama yang indah dan menenangkan. Allah โ€˜Azza wa Jalla tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba tersebut. Sepatutnya, dalam memuliakan bulan haram, seorang muslimah tidak harus memulai dengan target yang besar hingga memberatkan, sehingga berakibat amal shalih tersebut tidak berlangsung lama. Faktanya, ketaatan yang ringan namun konsistenlah yang sesungguhnya lebih berarti dan lebih dicintai oleh Allah โ€˜Azza wa Jalla.[4]

Sungguh tidak mengapa jika langkah kita kecil. Tidak mengapa jika perubahan terasa lambat. Apa yang terpenting ialah kita melangkah ke arah yang benar disertai kesungguhan untuk terus berjalan. Bulan haram adalah kesempatan untuk memulai atau melanjutkan perjalanan kebaikan itu.

Beberapa bentuk ketaatan ringan namun fundamental yang seyogianya kita perhatikan dan perbaiki di waktu-waktu mulia ini, di antaranya:

1. Menjaga Shalat di Awal Waktu

Ini adalah bentuk ketaatan paling pokok bagi seorang muslim maupun muslimah, kendati tak jarang pula dilalaikan oleh sebagian dari kita. Benar, muslimah memang tidak diwajibkan untuk shalat berjamaah di masjid, akan tetapi bukan berarti kita boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini. Jangan sampai kita lalai dari pengetahuan bahwa shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab.[5] 

Mari sejenak kita perhatikan sabda Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berikut ini,

โ€Œุฅุฐุง โ€Œุตู„ู‘ูŽุชู โ€Œุงู„ู…ุฑูŽุฃุฉู โ€ŒุฎูŽู…ู’ุณูŽู‡ุงุŒ ูˆุตุงู…ูŽุชู’ ุดูŽู‡ู’ุฑูŽู‡ุงุŒ ูˆุญูŽููุธูŽุชู’ ูุฑู’ุฌูŽู‡ุงุŒ ูˆุฃุทุงุนูŽุชู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ุงุŒ ู‚ูŠู„ูŽ ู„ู‡ุง: ุงุฏู’ุฎูู„ูŠ ุงู„ุฌู†ู‘ูŽุฉูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŠ ุฃูŽุจูˆุงุจู ุงู„ุฌู†ู‘ูŽุฉู ุดูุฆู’ุชู

โ€œJika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, โ€˜Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.โ€™โ€ (HR. Ahmad no. 1661, dinilai hasan lighairihi oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1932).[6] 

Menjaga shalat yang dimaksud di sini berarti termasuk menjaga rukun-rukunnya juga syarat-syarat sahnya, sehingga termasuk pula seperti menjaga wudhu dengan baik dan benar, hingga menjaga waktu-waktu shalat dengan melaksanakannya di awal waktu.

2. Membasahi Lisan dengan Dzikir dan juga Istighfar

Banyak kalimat dzikrullah bisa kita ucapkan sembari beraktivitas. Meski terlihat sangat ringan dilakukan, namun dengan ini akan membiasakan lisan kita dalam menjaga perkataan yang baikโ€”yang juga sangat bernilai besar di sisi Allah โ€˜Azza wa Jalla daripada mengucapkan hal-hal buruk atau sia-sia lainnya, terlebih lagi di bulan-bulan haram ini.

3. Rutin Membaca Al-Qurโ€™an Meski Sedikit

Al-Qurโ€™an diturunkan oleh Allah โ€˜Azza wa Jalla untuk menjadi pedoman hidup kita, rujukan utama dari segala problematika kehidupan kita. Bagaimana mungkin menjadi tenang hati seorang muslimah yang hari-harinya dilalui tanpa membaca maupun mendengar kalam Rabbnya Subhanahu wa Taโ€™ala?

Kenyataannya, untuk membaca satu halaman mushaf, hanya butuh beberapa menit dari 24 jam yang kita miliki dalam sehari. Jika firman-firman Allah dibaca dengan hati yang hadir, tadabbur dan rutin akan menghadirkan ketenangan pada hati dan keberkahan di dalam kehidupan kita.

4. Memperbaiki Niat dalam Aktivitas Harian

Inilah yang acap kali terlupa, bahwa aktivitas yang sama bisa bernilai berbeda, tergantung niat yang melatarinya. Dengan niat yang benar, rutinitas harian bisa berubah menjadi ibadah. Mari kita niatkan segala aktivitas kita untuk kebaikan, bahkan sebagai sarana yang mendukung untuk beribadah kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Menjauhi Kezaliman dalam Keseharian

Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุนูุฏู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ุดู‘ูู‡ููˆุฑู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงุซู’ู†ูŽุง ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒ ุญูุฑูู…ูŒ ุฐูŽูฐู„ููƒูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ูู…ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุธู’ู„ูู…ููˆุง ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’

โ€œSesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.โ€ QS. At-Taubah (9) :36.

Pada ayat tersebut, Allah โ€˜Azza wa Jalla secara khusus mengingatkan, โ€œJanganlah kalian menganiaya/menzalimi diri kalianโ€ pada bulan haram yang empat itu, ini menunjukkan bahwa menjauhi dosa adalah hal yang sangat penting di waktu-waktu yang mulia ini.

Sadarilah, duhai akhawati fiddin, kezaliman tidak selalu tampak dalam bentuk besar. Ia bisa hadir dalam keseharian yang tampak sederhana dan diremehkan. Menjaga lisan, misalnya. Termasuk di dalamnya menghindari ghibah, ucapan kasar, atau kata-kata yang menyakitkan. Dengan demikian, berpikir sebelum berucap adalah bentuk ketaatan yang sering kali lebih berat daripada ibadah fisik. Sebagaimana dalam hadits yang masyhur, dari Abu Hurairah radhiyallahuโ€™anhu bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู„ููŠูŽุตู’ู…ูุช

โ€œBarang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.โ€ (HR. Bukhari no. 5672 dan Muslim no. 47).[7]

Kemudian menghindari sikap kasar, menjaga hati dan perasaan orang lain, terutama kepada orang terdekat, karena sayangnya, justru kepada keluarga, seseorang sering kali lebih mudah melampaui batasโ€”kecuali yang Allah rahmati.

Maka di waktu-waktu ini, mari kita belajar untuk bijak dalam bersikap dan bertutur kata, mengontrol ego diri, dan menanamkan kesadaran bahwa tidak setiap kata atau kalimat yang sudah berada di ujung lisan, harus kita lepaskan seluruhnya.

Keseimbangan antara Peran dan Ibadah

Menjadi muslimah berarti menjalani berbagai peran dan amanah sekaligus dengan berbagai tanggung jawabnya. Sedangkan bulan haram bukanlah waktu untuk โ€œmengurangi intensitas tanggung jawabโ€, tetapi ini merupakan musim untuk kita belajar agar pandai dalam menghargai dan mengelola waktu, serta menghadirkan niat yang lurus dalam setiap peran dan tanggung jawab tersebut.

Menjadi seorang hamba yang terus berusaha mendekatkan diri pada Rabbnya dengan amalan-amalan sunnah[8], menjadi seorang ibu yang merawat anaknya dengan sabar, seorang istri melayani suaminya dengan ikhlas, seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, menjadi seorang penuntut ilmu yang belajar dengan tekun, tanggung jawab, dan diiringi dengan pengamalan; semua itu adalah bentuk ibadah yang agung dan perlu dikelola pembagian waktunya dengan baik. Manakala itu semua dilakukan dengan kesadaran tentang tujuan utama dari penciptaan diri kita di dunia ini, maka seluruh peran itu menjadi bagian dari menghargai musim ketaatanโ€”yang insyaallah akan memperbaiki kualitas hidup kita untuk seterusnya.

โ€œMemuliakanโ€[9] Bulan Haram dengan Hati yang Sadar

Akhawati fillah, catatlah baik-baik, bahwa sejatinya bulan-bulan haram yang dimuliakan, pasti akan pergi meninggalkan kita. Namun, ia bisa saja kembali datang untuk menemui hamba-hamba Allah lainnya. Adapun usia kita, ia akan pergi dan luruh bersama detik-detik yang berjalan, hingga pasti akan menjumpai โ€œbatasnyaโ€. Ya, benar, bulan haram boleh jadi akan kembaliโ€”namun, ia tak pernah dijanjikan kembali datang untuk menemui diri kita lagi. Tidak semua jiwa diberi kesempatan untuk menjumpainya kembali, dan tidak semua hati mampu merasakan hadirnya sebagai sesuatu yang istimewa.

Seorang muslimah yang cerdas adalah ia yang mampu menangkap pesan dan memetik hikmah di balik waktu-waktu mulia. Ia tidak hanya melewatinya, tetapi mengisinya dengan kesadaran akan mulianya waktu-waktu ini, meski dalam langkah-langkah kecil yang sederhana. Tidak harus sempurna, tidak harus besar. Cukup meluruskan niat, perbaiki setiap langkah, dan jaga keistiqamahan.

Boleh jadi, dengan amalan-amalan kecil yang mulai dibiasakan di bulan-bulan mulia ini, menjadi sebab dari lahirnya keberkahan yang mengubah hidup seorang hamba ke depannyaโ€”di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

  • Al-Qurโ€™anul Karim.
  • Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauziโ€™, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam al-Bukhari, Shahihul Bukhari, Dar Ibnu Katsir: Damaskus, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar At-Tibaโ€™ah Al-Amiroh: Turki, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Syirkah Maktabah wa Mathbaโ€™ah Musthafa al-Babi al-Halabi: Mesir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Nashiruddin al-Albani, Shahih at-Targhib wat Tarhib, Al-Maktabah asy-Syamilah.
10