BQ HSI : Ekspansi Dakwah ke 3 Penjuru
Reporter: Dian Pujayanti
Redaktur: Dian Soekotjo
Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata,
أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 golongan dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 akan masuk Neraka dan hanya satu golongan akan masuk Surga, yaitu al-Jama’ah.”
(Hadits Riwayat Abu Dawud, Ad Darimi, dan lainnya).[1]
Hadits perpecahan umat menjadi peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bukan sekadar kabar, tetapi alarm nyaring bagi setiap muslim agar berhati-hati dalam menjaga arah dan pegangan hidup. Di zaman yang jarak dengan masa kenabian terbentang demikian jauh, kehati-hatian itu menjadi kian mendesak. Sebab semakin jauh seseorang dari sumber cahaya wahyu, tampaknya semakin besar pula tantangan untuk tetap teguh di atas jalan yang lurus.
Maka, jika seseorang benar-benar mendambakan keselamatan dan meyakini kebenaran risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan berjuang dengan sepenuh kesungguhan untuk meniti jalan yang hak, termasuk dalam urusan menuntut ilmu, tak terkecuali perihal memilih tempat belajar Al-Qur’an.
Dari semangat ini, kita menyadari bahwa ruang-ruang belajar Al-Qur’an yang terjaga kemurnian aqidahnya, menerapkan hanya yang sesuai tuntunan sunnah dengan pemahaman para salaf, kian diperlukan di tengah masyarakat.
Pembukaan BQ HSI Cikokol : Memperbanyak Titik di Tangerang
Tempat belajar Al-Qur’an bermanhaj salaf nyatanya tidak mudah dijumpai. Setidaknya, ini tergambar dari ‘bisik-bisik’ para wali murid TK Tunas HSI yang mendambakan ruang belajar Al-Qur’an yang aman dari penyimpangan aqidah.
Alhamdulillah, asa itu kini menemukan titik terang, seiring hadirnya Baitul Qur’an (BQ) HSI yang terus berkembang membuka cabang baru, salah satunya di Cikokol Tangerang. Berbarengan dengan cabang Cikokol, BQ HSI juga membuka dua cabang baru lainnya yaitu di Masjid Al Kautsar Bekasi dan Cirebon.
Di Cikokol, langkah awal BQ dimulai dengan memanfaatkan ruang kelas TK Tunas HSI pada siang dan sore hari. "Langkah ini bermula dari amanah Ustadz Abdullah Roy secara langsung, agar gedung TK dioptimalkan untuk kegiatan bermanfaat seperti dakwah sunnah," ujar Penanggung Jawab (PJ) BQ Cikokol, Ukhtuna Febri Chaniago.
Sebelumnya, sebuah daurah terbuka yang digelar Tim TK Tunas HSI menjadi titik pemantik. Acara itu dihadiri pengurus BQ HSI pusat, termasuk perwakilan BQ HSI Tangerang Raya. Daurah tersebut juga disambut antusias wali santri TK Tunas HSI yang berlokasi di Cikokol, serta masyarakat sekitar. Dari sana, harapan menguat bahwa BQ HSI perlu hadir lebih dekat di jantung Kota Tangerang. Menguatlah ide membangun satu lagi BQ HSI. TK Tunas langsung dipilih sebagai satu tempat potensial.
Kehadiran BQ HSI Cikokol melengkapi BQ HSI Lengkong yang sebelumnya merupakan satu-satunya cabang BQ HSI di wilayah Tangerang Raya. Meski sama-sama di Tangerang, tapi dua cabang BQ HSI tersebut akan berdiri dengan struktur yang terpisah. "BQ Lengkong dan nantinya BQ Cikokol tetap terpisah kepengurusannya, karena meski sama-sama Tangerang tapi terpisah," Ukhtuna Febri menjelaskan.
Dari sisi pengajar, BQ Cikokol memulai dengan satu tenaga inti yang akan membimbing para santri secara intensif. "Untuk tenaga pengajar di BQ Cikokol, kebetulan baru ada satu. Beliau Ustadzah Ria Priyanti," imbuh sang PJ. Menurutnya, para muallimah (tenaga pengajar, red) akan mendapat penguatan berkala. Ada pelatihan mandiri yang diadakan dua kali sepekan, di bawah arahan para pengampu dan pembina muallimah pusat.
Yang menarik, proses belajar ini tidak hanya berjalan ke luar, tetapi juga ke dalam. Buktinya, Uktuna Febri sendiri selaku PJ, bahkan rela turun langsung menjadi santri tahsin pekanan di cabang yang dipimpinnya. Ia ikut berupaya menguatkan bacaan Al-Qur’an di tengah kesibukan sehari-hari. "Kalau pelatihan tajwid atau tahsin dikarenakan ana bukan sebagai muallimah jadi ana ikut juga kelas di cabang ini. Doakan bisa ikut kontribusi lebih ya.. Insyaallah bisa ikut mengajar nantinya," tutur Ukhtuna Febri yang sekaligus adalah santri Reguler HSI Angkatan 212.
Di tengah kesibukan domestik, Ukhtuna Febri terlihat tetap bersemangat. Ia mengaku optimis berkat kerja sama tim yang solid, termasuk dalam menyambut Pendaftaran Santri Baru (PSB). Pada 10 hingga 30 Juni 2026, PSB BQ HSI Cikokol akan dibuka. PSB kali ini, serentak dilaksanakan termasuk di dua cabang baru lainnya. Menurut Ukhtuna Febri, promosi awal melalui WhatsApp personal pun sudah mulai memikat beberapa calon santri dari masyarakat sekitar.
"Untuk gambaran persisnya ana belum terlalu fix. Kemarin itu baru iklan dari WA saja. Doakan nanti banyak santri yang mendaftar dan semoga BQ HSI Cikokol siap menjadi pelita baru bagi kaum muslimin di Tangerang," pungkasnya.
BQ HSI Cirebon: Agar Para Ibu Mahir Mengajarkan Al-Qur’an
Boleh dikatakan BQ HSI Cirebon lahir dari diskusi intensif alumni HSI QITA[2] yang berasal dari Cirebon, sejak setahun terakhir. Kehadiran cabang Cirebon merupakan inisiatif bersama para alumnus yang ingin menghadirkan bimbingan tilawah secara interaktif di wilayahnya.
"Latar belakang didirikan BQ Cirebon adalah keinginan bersama dalam mendakwahkan Al-Qur'an dengan memfasilitasi pembelajaran dan perbaikan secara berjenjang, secara langsung atau tatap muka (talaqqi)," ungkap PJ BQ HSI Cirebon, Ukhtuna Reni Andriyasari.
Naungan Yayasan HSI AbdullahRoy dipilih secara sadar oleh para penggagas. Bukan sekadar administratif, tetapi untuk memastikan kurikulum, arah pembinaan, dan ekosistem belajar tetap terjaga di atas jalan hak dan menghindari penyelewengan. Di tengah banyaknya pilihan tempat belajar Al-Qur’an, BQ Cirebon menegaskan posisi bahwa mereka berkomitmen pada sistem yang jelas dan terarah, dengan tenaga pendidik yang dibina dalam satu visi di atas jalan lurus.
"Karena mendakwahkan aqidah shahihah, kelas yang ditawarkan berjenjang, pengurus dan guru serta tim juga dibimbing, diarahkan, dan diajak bertumbuh bersama," tegas Ukhtuna Reni.
Pada tahap awal, BQ Cirebon memusatkan perhatian pada kaum akhwat khususnya para ibu atau ummahat, dengan harapan mereka menjadi fondasi kuat di rumah masing-masing. Artinya, kaum ummahat dibimbing agar menjadi mahir mengajarkan Al-Qur’an kepada seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak mereka sebagai generasi muslimin. "Target awal insyaallah untuk para akhwat, para ibu, yang harapannya dapat mendampingi kembali anandanya di rumah. Di sekitar tempat BQ saat ini, belum ada yang sunnah," jelas Ukhtuna Reni yang juga akan menjadi pengajar utama selama masa pembukaan.
Saat ini, kegiatan belajar dipusatkan di Jalan Simaja, Gang Dahlia No. 79, Kepongpongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Ukhtuna Reni menjelaskan, "BQ Cirebon bertempat di kediaman sekretaris BQ, Mba Ida Fadillah, karena strategis." Santri HSI Angkatan 211 tersebut menambahkan bahwa lokasi tersebut dipilih sebab dekat dengan akses menuju jalan besar.
Di balik proses yang baru berjalan, koordinasi internal terus dirawat agar arah gerak tetap terjaga dan evaluasi berjalan berkesinambungan. "Untuk koordinasi, BQ berusaha menjalin komunikasi yang baik bersama tim, terkait hal-hal yang kita rencanakan, laksanakan, dan evaluasi kelak," pungkas Ukhtuna Reni.
BQ HSI Masjid Al-Kautsar Bekasi: Menjawab Kerinduan Jemaat
Tampaknya pembukaan BQ HSI Bekasi bermula dari komitmen tulus memperluas dakwah sunnah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Tekadnya sederhana tetapi terbilang vital yaitu menyediakan ruang belajar Al-Qur’an yang sesuai manhaj shahihah.
Saat ditemui Majalah HSI, Penanggung Jawab BQ HSI Bekasi, Ukhtuna Mila Sekar Dewi bertutur, “Tujuan utama program ini adalah memperluas dakwah sunnah dan memberikan manfaat bagi warga sekitar pada khususnya. Semoga warga sekitar bisa memperbaiki bacaan Al-Quran dengan baik dan benar, sesuai kaidah tajwid, serta mendalami maknanya.”
Seluruh kegiatan BQ HSI Kota Bekasi nantinya berpusat di Masjid Al-Kautsar, Kecamatan Mustikajaya. Masjid ini dipilih karena berada dalam satu kawasan dengan Boarding School HSI Akhwat dan kantor HSI Berbagi di Jalan Kampung Tenggilis. Kedekatan dari segi lokasi tersebut, membuat Masjid Al-Kautsar tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga difungsikan menjadi denyut aktivitas pendidikan di lingkup HSI, yang saling terhubung dan insyaallah hidup sepanjang hari.
Ternyata kehadiran BQ HSI di sana, menjawab kerinduan di tengah jamaah para ibu atau ummahat Masjid Al-Kautsar. Mereka ingin memiliki ruang khusus belajar Al-Qur’an. Dorongan itu banyak datang dari ummahat jamaah masjid yang justru tinggal jauh dari lokasi. "Keinginan agar diadakan tempat belajar Al-Qur'an di Masjid Al-Kautsar ini, justru banyak datang dari ummahat di luar sekitaran masjid. Mereka adalah jamaah yang sering hadir ke kajian dan tahu bahwa Masjid Al-Kautsar dikelola HSI," ungkap Ukhtuna Mila yang juga santri Program Reguler HSI AbdullahRoy sejak awal 2018.
Di tengah semangat tersebut, tantangan dakwah tetap ada. Ia hadir dalam bentuk kondisi sosial yang beragam. Ukhtuna Mila menyebutkan bahwa masyarakat sekitar masjid masih berada dalam spektrum pemahaman agama yang campur baur. "Sudah ada yang mengenal sunnah, tapi tidak begitu banyak. Lebih banyak yang masih bersifat awam," ungkapnya.
Menurut Ukhtuna Mila, untuk tahap awal, BQ Bekasi dijalankan oleh tim kecil yang insyaallah solid agar gerak dakwah tetap lincah dan terarah. "Saat ini, kafilah kecil Tim BQ Al-Kautsar terdiri dari 3 orang saja. Saya sebagai PJ, dan Mbak Yuni, istri dari pengurus masjid, sebagai bendahara. Sementara Ustadzah Azizah sebagai pengajar," papar Ukhtuna Mila.
Ia juga menjelaskan bahwa pembelajaran perdana akan berjalan dua kelas pada hari Ahad, dari pukul 8 pagi hingga 12 siang. Fokus awal diarahkan pada kelas I’dad dengan seleksi peserta melalui PSB bulan Juni.
“Para muallimah dari Tartil Academy yang insyaallah membantu seleksi tersebut. Do'akan lancar untuk setiap prosesnya ya…,” pintanya. Obrolan hangat siang itu ditutup dengan sebuah harapan dari Ukhtuna Mila. Ia ingin semakin banyak orang mengetahui ada tempat belajar Al-Qur’an sesuai sunnah di Masjid Al-Kautsar, Kecamatan Mustikajaya, Bekasi.
Sistem Standar sebagai Sayap Dakwah Yayasan
Dalam upaya memperluas jangkauan dakwah Al-Qur’an, Baitul Quran HSI membangun sistem yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menopang gerak berkelanjutan. Sistem inilah yang menjadi “sayap” dakwah, sehingga memungkinkan misi besar yayasan menjangkau lebih jauh tanpa kehilangan arah dan pijakan.
Misi besar Baitul Quran HSI ialah berdiri di atas aqidah shahihah melalui dakwah Al-Qur’an. Bukan sekadar mencetak pembaca yang fasih, tetapi membentuk generasi memahami makna Al-Qur’an dengan pijakan sunnah yang shahih. BQ atau Baitul Qur’an sendiri merupakan salah satu divisi dakwah di bawah naungan Yayasan HSI AbdullahRoy. Kehadirannya menjadi bagian sistem yang lebih besar, di mana setiap divisi bergerak dengan peran masing-masing namun saling terhubung dalam mewujudkan visi besar dakwah yayasan.
“Alhamdulillah dakwah Qur’an itu sangat dimudahkan dan diterima oleh masyarakat, buktinya banyak rumah-rumah Qur’an di seluruh Indonesia,” ucap Ketua Divisi Baitul Quran HSI AbdullahRoy, Ustadzah Widy Nurhaliza Diputri. Ia berpendapat bahwa dakwah sunnah melalui tempat belajar Al-Qur’an, cenderung lebih mudah diterima banyak kalangan dibandingkan jika dakwah sunnah dibawa langsung.
Penerimaan yang luas tersebut, menjadi pintu bagi ekspansi cabang ke berbagai daerah. BQ HSI tidak ingin berhenti di pusat kota, tetapi menjangkau wilayah yang lebih luas agar akses belajar Al-Qur’an secara terstruktur bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. “Total ada 15 cabang di seluruh Indonesia saat ini. Untuk target ke depan itu ada dari Ketua Yayasan. Besarannya mohon doakan ya agar tercapai target yang masih kita keep nih,” papar Ustadzah Widy.
Selain masalah ekspansi, tantangan ternyata juga ada pada perihal keberlanjutan menurut Ustadzah Widy. Menjaga stabilitas, regenerasi pengurus, dan kesinambungan rumah Qur’an rupanya menjadi pekerjaan yang tidak ringan. Karena itu, Ustadzah Widy menegaskan bahwa setiap pengajuan cabang baru diawali dengan pemetaan yang ketat. Jemaah yang mengusulkan cabang, wajib menyiapkan sarana prasarana dasar secara mandiri, mulai dari meja, papan tulis, spidol, hingga ATK. Seluruh proses kemudian diinput melalui sistem online yang telah disiapkan secara terstruktur.
Ketersediaan pengajar menjadi kunci berikutnya. BQ HSI menyediakan dua jalur rekrutmen yaitu menghadirkan guru lokal atau menugaskan pengajar dari pusat melalui Tartil Academy. Namun keduanya wajib lolos screening guna memastikan kegiatan belajar yang diselenggarakan sesuai standar BQ HSI. Ustadzah Widy kemudian menjelaskan bahwa dalam ilmu qiraat, sanad, dan metode mengajar, divisi yang dipimpinnya kerap merujuk Syaikh Ibrahim Al Akhdar, salah satu Imam Qurra’ di Masjid Nabawi, sebagai panutan.
Dari sisi kepengurusan, BQ HSI mengutamakan santri-santri HSI menjadi pengelola cabang. Meski demikian, kemungkinan pembukaan cabang BQ HSI oleh masyarakat lokal, tetap terbuka selama pengajar utama memenuhi standar keilmuan yang ditetapkan.
Setelah struktur terbentuk, lazimnya cabang BQ HSI akan memasuki fase PSB yang berjalan serentak setiap Juni, lalu KBM dimulai pada 1 Agustus. Ternyata sistem ini dijalankan lintas divisi, termasuk pada divisi-divisi belajar lainnya seperti dalam Tartil Academy, HSI Berbagi dengan Akademi Zakat, maupun Divisi KBM dengan Program Reguler maupun Takhassus-nya. Penyeragaman jadwal ini tampaknya guna memudahkan Divisi HSI Pernik menangani pengiriman kitab bagi program-program tertentu, agar santri siap belajar sejak hari pertama.
Beralih ke masalah publikasi, Ustadzah Widy menyatakan, "Untuk menjaring santri, pusat memaksimalkan media sosial dengan mengurasi testimoni positif santri, lalu menyebarkannya melalui broadcast ke seluruh grup WhatsApp HSI, agar diteruskan oleh pengurus cabang. Saat mendaftar, calon santri wajib mengikuti tes lisan, baik langsung di cabang, secara online, maupun mengirimkan rekaman suara atau voice note via Google Form.” Metode ini ditempuh dengan tujuan agar penempatan kelas sesuai dengan kemampuan awal para calon penuntut ilmu.
Ustadzah Widy juga berkenan membagikan perihal pendanaan. Menurut beliau hafizhahullah, pada tahap awal, dukungan finansial masih bersifat mandiri dari masing-masing cabang. Namun ke depan, seiring berjalannya proses belajar, sistem akan dipusatkan. “Seluruh pemasukan, termasuk SPP, akan dikelola pusat dan dikembalikan ke cabang dalam bentuk alokasi kebutuhan operasional berbasis pengajuan, dengan skema subsidi silang antar cabang,” papar Ustadzah Widy.
Dukungan BQ pusat terhadap cabang-cabang, diberikan termasuk dalam urusan pengadaan aset seperti printer atau kebutuhan belajar lainnya. Meski terpusat, menurut Ustadzah Widy, fleksibilitas sistem tetap diterapkan mengingat tujuan utama sistem yang dibangun adalah agar cabang mudah menyelenggarakan proses pembelajaran, sesuai kondisi sosial tiap wilayah. Ustadzah Widy kemudian memberikan contoh, "Termasuk pemberian keringanan SPP bagi santri yang kurang mampu melalui ikhtiar kerja sama dengan HSI Berbagi."
Pembukaan BQ HSI di Berbagai Penjuru Nusantara
Terlihat salah satu divisi yang tergolong muda dalam Yayasan HSI AbdullahRoy ini, pesat tumbuh tanpa melepaskan prinsip. Dari Cikokol, Cirebon, Bekasi, juga cabang-cabang lain yang telah berdiri sebelumnya, Baitul Qur’an HSI terlihat konsisten menggaungkan cita-cita yang sama yaitu mendekatkan umat kepada Al-Qur’an dengan bimbingan yang insyaallah terjaga di atas sunnah.
Hari ini, tiga cabang baru telah dibuka BQ HSI. Tiga wilayah, tiga titik awal, dengan satu arah yang sama. Namun, perjalanan masih panjang dan langkah-langkah berikutnya terus disiapkan.
Kita doakan bersama mudah-mudahan Baitul Qur’an HSI dapat hadir di lebih banyak wilayah di berbagai penjuru nusantara, menjangkau lebih banyak masyarakat, serta melahirkan lebih banyak rumah Qur’an yang terjaga di atas jalan lurus keilmuan maupun metode belajar. Dukungan, doa, dan keterlibatan kaum muslimin menjadi bagian penting agar ikhtiar ini terus berlanjut hingga bermuara pada keberhasilan.
Sebagai santri HSI, mari kita melibatkan diri. Jika belum mampu dengan tenaga atau harta, jangan tinggalkan doa-doa terbaik untuk kemajuan dakwah ini ya... Semoga Allah Ta'ala menggolongkannya dalam upaya menopang dakwah dan menjadikan ridho-Nya tercurah bagi kita juga negeri tercinta, Indonesia. Baarakallahu fiikum.