Mutiara Al-Quran
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Betapa Rasulullah Sangat Menyayangi Kita

Penulis: Azhar Abu Usamah

Editor: Athirah Mustadjab

Lafal Ayat

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat berbelas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

(QS. At-Taubah: 128)

Tafsir Ringkas[1]

Ayat ini termasuk yang terakhir kali diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Surah At-Taubah ini dipenuhi dengan ancaman yang keras kepada orang-orang kafir; mulai dari Ahli Kitab dan kaum musyrikin penyembah berhala, serta golongan munafik dari kalangan Arab maupun selain mereka. Di selanya, Allah menyinggung orang-orang mukmin yang keadaan mereka berkebalikan dengan orang-orang kafir tadi. Kaum mukmin diceritakan dalam surah ini bahwa mereka telah berhijrah, membela agama Islam, dan mengikuti Rasulullah walaupun pada masa yang sulit.

Di akhir surah ini, Allah Ta’ala hendak mengingatkan mereka mengenai nikmat yang amat besar, berupa diutusnya seorang Rasul dari kalangan Arab, yang sedarah dengan mereka, serta amat menginginkan kebaikan dan sangat khawatir terhadap ancaman bahaya bagi mereka semua.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri”

Maksudnya adalah berasal dari bangsa Arab, menurut pendapat mayoritas ahli tafsir, atau dalam pendapat lainnya, berasal dari jenis manusia seperti kalian.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga merupakan bentuk pengabulan Allah Ta’ala terhadap doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah selesai membangun Ka’bah, “Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahakuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)

Potongan ayat ini juga secara tidak langsung menegaskan kemuliaan nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kabilah Quraisy.

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

“Berat terasa olehnya penderitaanmu.”

Yaitu, dia merasa berat terhadap kesulitan yang kalian rasakan. Sifat yang dimiliki oleh Rasulullah ini mengandung isyarat yang kuat tentang kepedulian beliau terhadap keselamatan umatnya. Di antara efek yang ditimbulkan oleh sifat ini ialah: kepedulian beliau terhadap hal-hal yang membahayakan mereka di dunia dan akhirat. Dalam syariat pun, agama Islam merupakan perwujudan dari sebuah aturan kehidupan yang mudah, indah serta fleksibel. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diutus dengan syariat yang lurus (tauhid) dan mudah.”[2] 

Sampai pun ketika semua manusia berada di Padang Mahsyar, menanti hisab dari Allah Ta’ala dalam waktu yang amat lama. Di situ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafaat ‘uzhma (syafaat terbesar) supaya Allah Ta’ala mempercepat jalannya perhitungan amal mereka.

Bisa juga maknanya, mencakup rasa kasihan Rasulullah terhadap para sahabat yang telah menghadapi siksaan orang-orang kafir sebelumnya dalam mempertahankan agama Islam.

حَرِيصٌ عَلَيْكُم

“Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu.”

Rasulullah amat menginginkan kebaikan untuk kalian dan berusaha keras untuk menyampaikannya kepada kalian. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menginginkan hidayah bagi kalian dan keimanan, serta benci terhadap kejelekan dan sekuat tenaga menjauhkan kalian darinya.

Tak mengherankan jika para sahabat sangat terharu, mengagumi, dan bersedia menyerahkan nyawa mereka demi Rasulullah.

بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Amat berbelas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Kasih sayangnya melebihi cinta orang tua kepada anak-anak mereka, bahkan melebihi cinta kita sendiri terhadap diri kita. Karena itu, hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikedepankan oleh Allah Ta’ala melebihi hak seluruh makhluk di alam semesta.

Setelah ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita sebagai orang-orang yang mengaku beriman, bahwa jika kita tetap tidak mau mengikuti Rasulullah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat diutusnya beliau, maka hal itu tidak akan membuat rugi diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala tetap akan membalas beliau dengan kebaikan. Adapun perihal kita yang—na’udzubillah—membangkang ini, akan menghadapi murka dari Allah Ta’ala.

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung.’" (QS. At-Taubah: 129)

Dua ayat terakhir dari surah At-Taubah ini seakan dijadikan oleh Allah sebagai penutup dan ringkasan secara global dari kandungan keseluruhan surah.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

1. Ketegasan dan kerasnya sikap dari Allah Ta’ala terhadap orang kafir merupakan bentuk kasih sayang-Nya secara tidak langsung kepada umat Muslim.[3] Karena itulah, kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat menjadi seorang Muslim yang beriman. Namun, sayang, kita jarang menyadari keberadaan nikmat ini.

2. Di antara bentuk konsekuensi dari sifat penyayang dan kepedulian Nabi yang begitu besar terhadap kebaikan umatnya, ialah mudahnya syariat Islam yang dibawa. Hal ini ditegaskan juga oleh Rasulullah sendiri dalam banyak kesempatan. Dari sana juga ulama menyimpulkan sebuah kaidah fikih yang agung, “Agama Islam datang dengan membawa kemudahan, dalam setiap hal yang memberatkan.”[4] Di antara contoh syariat yang meringankan adalah:

  • Keringanan dalam pelaksanaan ibadah semisal shalat dengan uzur yang dijelaskan dalam kitab fikih.
  • Semua jenis ibadah yang bersifat fardhu kifayah, sehingga jika sudah dikerjakan oleh sebagian orang, maka bagi yang selain mereka gugur kewajibannya.
  • Bolehnya beramal berdasarkan prediksi kuat, tidak harus berdasarkan keyakinan, semisal dalam sempurnanya basuhan saat mandi junub atau berwudhu.

3. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala hanya mengumpulkan dua sifat mulia dari nama-nama Allah secara bersamaan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ar-Ra’uf dan Ar-Rahim), tidak untuk seorang Nabi pun selain beliau.[5] Adapun makna dari kedua sifat itu bila disematkan bagi Rasulullah adalah:

  • Ar-Ra’uf: Sifat yang sangat sensitif saat melihat hal yang membahayakan bagi objek atau orang yang dilihat.
  • Ar-Rahim: Sifat yang melahirkan perbuatan baik bagi objek atau orang yang dikehendaki ketika terjadi bahaya.

Adapun pada ayat di atas, Allah Ta’ala mendahulukan kalimat “terhadap orang-orang mukmin” (بِالْمُؤْمِنِينَ) daripada kedua sifat yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (رَءُوفٌ رَّحِيمٌ) hanyalah untuk menunjukkan perhatian utama beliau terhadap orang-orang mukmin.[6]

Bisa juga maknanya diartikan sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullah, “Ra’uf terhadap orang-orang yang taat, Rahim terhadap orang-orang yang berbuat dosa.”[7]

4. Pada dasarnya, Allah Ta’ala tak butuh dengan kita, Rasulullah pun sejatinya tidak ada keperluan untuk menyelamatkan kita. Keberadaan kita hanyalah beban, namun kita sering sekali berlaku kurang ajar. Hidup nyaman difasilitasi, jalan-jalan menuju keselamatan ditunjukkan, Rasul diutus untuk memberi bimbingan, namun kita terus berbuat dosa dalam banyak kesempatan. Kita pun sering bermalas-malasan dan seakan tak butuh surga maupun ampunan! Allahul Musta’an.

Referensi

  • Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, Arab Saudi.
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Ad-Dar al-‘Alamiyah, Mesir, cet. 1 tahun 1434 H/2012 M.
  • Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, Darul Kutub Al-Mishriyah, Mesir, cet. 2 tahun 1383 H (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • At-Tahrir wat Tanwir, Muhammad Thahir bin ‘Asyur At-Tunisi, Mu’assasah At-Tarikhil ‘Arabi, Lebanon, cet. 1, tahun 1420 H (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • Ma’alimut Tanzil, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Dar Thaybah, Arab Saudi, cet. 4, tahun 1417 H (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
  • Manzhumah Al-Qawa’idil Fiqhiyyah, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Maktabah Syafi’iyah, Mesir, cet. 1, tahun 2021 M.
27