Besarnya Kecintaan Rasulullah untuk Umatnya
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc,. M.A.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى الْخَلَائِقِ أَجْمَعِيْنَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ﴾
“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
Di antara nikmat Allah yang paling besar kepada umat ini adalah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Melalui beliau, Allah Ta’ala mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari kebodohan menuju ilmu, dari kesesatan menuju kebenaran, dan dari jalan yang mengantarkan kepada neraka menuju jalan yang mengantarkan ke surga. Oleh karena itu, Allah menyebut pengutusan Nabi Muhammad sebagai sebuah karunia yang sangat besar.
Allah Ta'ala berfirman,
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan As-Sunnah. Padahal sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)
Ketika menjelaskan ayat ini, Syaikh As-Sa'di mengatakan, "Nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya ini merupakan nikmat yang paling besar, bahkan menjadi pokok dari seluruh nikmat, yaitu diutusnya Rasul yang mulia ini. Melalui beliau, Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan melindungi mereka dari kebinasaan." (Tafsir As-Sa’di, 155)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
Ada satu sisi yang terkadang luput dari perhatian kita, yaitu betapa besarnya perhatian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap keselamatan umatnya. Beliau bukan sekadar menyampaikan wahyu, lalu selesai tugasnya. Tidak demikian. Seluruh hidup beliau adalah perjuangan agar tidak ada seorang pun yang binasa setelah petunjuk dari Allah datang kepadanya.
Inilah yang digambarkan Allah dalam salah satu ayat tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan keselamatan bagi kalian, dan terhadap orang-orang mukmin beliau sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128)
Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menggambarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta’ala tidak mengatakan bahwa beliau sekadar mencintai umatnya, tetapi Allah menyebutkan bahwa segala bentuk kesulitan yang menimpa umat terasa berat bagi beliau. Lebih dari itu, Allah menggunakan kalimat حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ, “sangat menginginkan keselamatan bagi kalian” yang menunjukkan betapa besar keinginan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar umatnya memperoleh hidayah, istiqamah di atas agama, selamat dari kesesatan, dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Inilah yang memenuhi hati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sepanjang hidupnya.
Syaikh As-Sa'di berkata, "Allah Ta'ala mengaruniakan nikmat yang besar kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan mengutus kepada mereka seorang nabi yang ummi, yang berasal dari kalangan mereka sendiri. Mereka mengenal keadaan beliau, dapat mengambil ilmu darinya, dan tidak merasa enggan untuk tunduk serta mengikutinya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berada pada puncak ketulusan dalam memberikan nasihat kepada manusia dan bersungguh-sungguh mewujudkan segala kemaslahatan bagi mereka.
Firman Allah Ta’ala, 'Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami', maksudnya, segala sesuatu yang menyulitkan dan memberatkan kalian juga terasa berat bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Firman Allah Ta’ala, 'Dia sangat menginginkan kebaikan bagi kalian', artinya shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai kebaikan untuk kalian dan mengerahkan seluruh kemampuannya agar kebaikan itu sampai kepada kalian. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat bersemangat membimbing kalian menuju keimanan, membenci segala keburukan yang menimpa kalian, serta bersungguh-sungguh menjauhkan kalian darinya.
Adapun firman Allah Ta’ala, 'Terhadap orang-orang mukmin, dia sangat penyantun lagi maha penyayang', maksudnya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki kasih sayang dan kelembutan yang sangat besar kepada kaum mukminin, bahkan kasih sayangnya kepada mereka lebih besar daripada kasih sayang kedua orang tua mereka sendiri." (Tafsir As-Sa’di, 356)
Ketika menafsirkan firman Allah حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ, Ibnu Katsir berkata "Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi kalian," yaitu sangat bersemangat agar kalian mendapatkan petunjuk dari Allah serta memperoleh seluruh kebaikan dan manfaat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir, 4:211)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
Apabila kita membaca sirah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan hati yang jujur, niscaya kita akan mendapati bahwa seluruh kehidupan beliau merupakan bukti nyata dari ayat yang agung ini. Tidak ada satu pun kesulitan yang beliau hadapi melainkan demi menyampaikan petunjuk kepada manusia. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam rela dicaci, dihina, didustakan, dilempari batu, diboikot, diusir dari kampung halamannya, bahkan berkali-kali diupayakan untuk dibunuh. Namun, semua itu tidak pernah membuat beliau berhenti mengajak manusia menuju jalan Allah Ta’ala. Sebab tujuan beliau bukanlah memperoleh kemuliaan dunia, melainkan melihat sebanyak mungkin manusia diselamatkan dari azab Allah Ta’ala dan memperoleh kenikmatan surga yang kekal.
Bahkan karena begitu besarnya keinginan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar manusia mendapatkan hidayah, Allah Ta’ala beberapa kali menghibur beliau ketika kesedihan hampir menghabiskan hati beliau. Tatkala orang-orang musyrik berpaling dari dakwah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bukan marah karena dirinya dihina, bukan pula kecewa karena kehilangan pengikut. Yang membuat beliau bersedih adalah kenyataan bahwa mereka sedang berjalan menuju azab Allah.
Allah Ta'ala berfirman,
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
“Maka boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu sendiri karena bersedih hati setelah mereka berpaling apabila mereka tidak beriman kepada Al-Qur'an ini.” (QS. Al-Kahfi: 6)
Ibnu Katsir berkata, bakhi‘ (باخع) berarti membinasakan atau mencelakakan dirimu sendiri karena kesedihan yang sangat mendalam terhadap mereka. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, "Maka boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada Al-Qur'an." Maksudnya, janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri karena terlalu bersedih atas keengganan mereka untuk beriman. (Tafsir Ibnu Katsir, 5:124)
Sejarah mencatat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dilempari batu di Thaif hingga kedua sandal beliau dipenuhi darah. Malaikat penjaga gunung datang menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif. Namun apakah yang keluar dari lisan Rasulullah? Beliau justru berharap dan menginginkan kebaikan,
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Akan tetapi, aku berharap Allah melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.” (HR. Bukhari nomor 1181 dan Muslim nomor 1421)
Sungguh, hati seperti apakah yang mampu mendoakan dan mengharapkan kebaikan untuk orang yang baru saja melukai dirinya? Tidak lain adalah hati seorang rasul yang lebih menginginkan hidayah manusia daripada pembalasan terhadap mereka.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللهِ، وَأَنَّ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kini marilah kita mengajukan pertanyaan kepada diri kita masing-masing. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menghabiskan lebih dari 20 tahun hidupnya untuk membimbing umat ini. Beliau rela menanggung lapar, pengusiran, peperangan, dan berbagai penderitaan agar kita mengenal Allah dan berjalan di atas jalan yang lurus. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan umatnya di setiap kesempatan. Bahkan menjelang wafat pun beliau masih memikirkan keselamatan umatnya. Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita membalas perjuangan itu dengan menaati beliau? Sudahkah kita menjadikan sunnah beliau sebagai pedoman hidup, ataukah kita lebih mendahulukan hawa nafsu, kebiasaan, dan tradisi yang bertentangan dengan petunjuk beliau?
Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa bukti kecintaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah sekadar ucapan atau luapan emosi, melainkan dengan mengikuti risalah yang beliau bawa. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah, 'Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31)
Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi justru mengecewakan beliau dengan meremehkan shalat, menelantarkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, atau berpaling dari petunjuk yang telah beliau perjuangkan dengan air mata, pengorbanan, dan kesabaran.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang memuliakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan cara yang paling beliau cintai, yaitu mengikuti sunnahnya, menjaga agama yang beliau wariskan, dan istiqamah di atas jalan yang lurus hingga bertemu dengan beliau di telaga beliau di akhirat nanti.
عِبَادَ الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ قُلْتَ فِي كِتَابِكَ الْكَرِيمِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، عَلَانِيَتَهَا وَسِرَّهَا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَزَكِّ نُفُوسَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالسُّنَّةِ حَتَّى نَلْقَاكَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا قَدْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فَاجْزِهِ عَنَّا خَيْرَ مَا جَزَيْتَ نَبِيًّا عَنْ أُمَّتِهِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَتْبَاعِهِ صِدْقًا، وَمِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ بِهَدْيِهِ، وَالْمُقْتَدِينَ بِسُنَّتِهِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ، وَلَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ شَرْبَةً هَنِيئَةً مَرِيئَةً لَا نَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ فِي زُمْرَتِهِ، وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى مِنَ الْجَنَّةِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، غَيْرَ مُبَدِّلِينَ وَلَا مُغَيِّرِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِينَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Referensi
- Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Ibni Katsir, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir As-Sa’di, Syaikh As-Sa’di, Al-Maktabah Asy-Syamilah.