Bertahan Menuntut Ilmu Ketika Futur Melanda
Reporter : Putri Oktaviani
Redaktur : Dian Soekotjo
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu (HR Ibnu Majah). Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia mengenal tujuan hidup, membedakan kebenaran dan kebatilan, serta menjadi bekal hingga akhir hayat. Namun perjalanan menuntut ilmu tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seseorang kehilangan semangat, menunda belajar, bahkan merasa berat untuk melanjutkan langkahnya. Keadaan inilah yang dikenal dengan futur.
Futur merupakan keadaan yang umum dan dapat dialami siapa saja. Karena merupakan bagian dari tabiat manusia, futur hampir tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya. Yang terpenting bukanlah menghapus futur, melainkan menjaga iman dan semangat belajar ketika ia datang menghampiri.
Kala Futur Melanda
Malas adalah tanda utama futur. Semangat yang menurun membuat kita menunda mendengarkan materi dan mengerjakan evaluasi HSI. Badan terasa berat untuk melakukan kebaikan dan cenderung memilih bersantai dan menuruti hawa nafsu. Ukhtuna Retno Ariani, santri HSI Angkatan 201, menceritakan keadaan yang dialaminya ketika futur melanda. “Yang dirasakan benar-benar capek, mau dengerin materi, simak materi, dan ngerjain evaluasi itu males banget,” ujarnya.
Sementara Ukhtuna Diana Wulandari, yang sama-sama berasal dari Angkatan 201, mengalami hal serupa. “Kalau lagi futur, saya nggak semangat gitu. Tapi tetap ngerjain tesnya,” ungkapnya sepenuhnya jujur. Kalau sudah begitu, Ukhtuna Diana merasa berat untuk mendengarkan berulang audio materi, apalagi mencatat. Namun, kemauannya untuk tidak sampai terdepak dari grup belajar masih ada. Ini dibuktikannya dengan tetap berusaha mengerjakan evaluasi.
Futur juga dapat muncul ketika seseorang mulai tertinggal dalam proses belajar. Hal inilah yang dialami Ukhtuna Luthfiah, santri HSI Angkatan 221. Di awal halaqah, ia begitu bersemangat hingga mencatat hampir seluruh materi yang dipelajari. Sayangnya, ia pernah merasa kewalahan.
“Waktu pertama saya catat. Kalau keluar hadits saya catat pakai Bahasa Indonesia dan kalau keluar ayat Al-Qur’an saya ambil Al-Qur’an dan saya tulis,” ujar Ukhtuna Lutfiah, menceritakan semangatnya di tahun-tahun pertama belajar. “Setelah sekian lama, akhirnya saya kewalahan. Lama-lama materi yang harus dicatat banyak, jadi kalau dicacat saya ndak mampu,” ungkapnya kepada reporter Majalah.
“Biasanya kalau pas repot sekali sampai baca ndak fokus. Akhirnya nilainya merosot menjadi Jayyid lalu pernah nilai saya jadi maqbul,” ujarnya menggambarkan masa-masa ketika semangat belajarnya menurun. Meski demikian, ia tidak ingin berlama-lama terpuruk. Ukhtuna Lutfiah berusaha memperbaiki fokus dan mengejar ketertinggalan hingga dapat kembali meraih hasil belajar yang lebih baik. “Wah, itulah suka duka belajar di HSI,” imbuhnya.
Karena Berbagai Faktor
Jika kita amati, salah satu penyebab futur tampaknya adalah kelelahan. Lelah sangat mungking membuat seseorang kehilangan tenaga untuk melanjutkan menuntut ilmu. Bahkan terkadang meskipun memiliki tekad untuk belajar, evaluasi dapat terlewat karena badan yang lelah.
“Saya sering lupa ngerjain evaluasi,” tutur Ukhtuna Retno kembali berbagi pengalaman belajarnya. “Jadi udah capek banget dengan pekerjaan, tapi di hati dan pikiran masih merasa punya utang tanggungan belum ngerjain evaluasi dan belum dengerin materi. Itu benar-benar terbebani,” santri yang tinggal di Banten tersebut menuturkan dengan nada sedih.
Kelelahan tidak selalu berasal dari pekerjaan. Mereka yang mengambil banyak program belajar pun dapat mengalaminya. Ukhtuna Ummu Azzam mengaku pernah merasa keteteran karena harus membagi perhatian ke beberapa program sekaligus.
“Kadang capek dan bingung mana yang diselesaikan dulu jika deadline hampir bersamaan,” ujarnya. Ia juga mengaku futur ketika merasa sulit memahami materi yang dipelajari. “Ana mengalami futur saat ana tidak faham-faham dalam menuntut ilmu.”
Selain kelelahan, lingkungan juga dapat memengaruhi semangat menuntut ilmu. “Penyebab futur paling banyak karena sibuk duniawi,” ujar Ukhtuna Diana yang merasakan perubahan besar saat beralih dari dunia kuliah ke dunia kerja. Tantangan lain datang dari lingkungan yang memandang remeh belajar agama. “Banyak yang mengatakan, ‘Sudah tua kok belajar?’” kenang Ukhtuna Luthfiah.
Pada hakikatnya, futur berkaitan dengan turunnya iman. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam...” (HR Tirmidzi). Dosa dapat melemahkan semangat ibadah, sementara lemahnya ibadah dapat membuka pintu dosa yang lain. Ukhtuna Ummu Azzam mengaku prasangka buruk dan terlalu memikirkan urusan dunia sering mengurangi kekhusyukannya dalam beribadah.
Tips Menghadapi Futur yang Melanda
1. Jangan Berhenti Beribadah
Langkah pertama menghadapi futur adalah tidak berhenti beribadah. Saat iman menurun, tetaplah beramal sesuai kemampuan agar tidak terjatuh lebih jauh.
“Jika mengalami futur, cepat kembali muhasabah diri,” ujar Ukhtuna Ummu Azzam.
Sementara itu, Ukhtuna Retno memilih memotivasi diri dengan mengingat pentingnya memasukkan ilmu setiap hari.
2. Turunkan Target, Bukan Semangat
Target yang terlalu tinggi terkadang justru memberatkan. Karena itu, menentukan skala prioritas dapat membantu seseorang tetap belajar meskipun sedang futur.
“Saat ini ana ambil yang memang dibutuhkan,” ujar Ukhtuna Ummu Azzam.
3. Teman yang Saling Menguatkan
Lingkungan yang baik dapat membantu seseorang bertahan ketika futur datang.
Ukhtuna Ummu Azzam merasa termotivasi oleh teman-teman sesama penuntut ilmu, termasuk santri yang usianya jauh lebih muda.
“Circle pertemanan dengan para penuntut ilmu itu penting untuk memotivasi semangat kembali,” ujarnya.
4. Mengingat Kembali Tujuan Menuntut Ilmu
Mengingat tujuan menuntut ilmu juga dapat menghidupkan kembali semangat yang meredup.
“Jika dari awal kita niatkan demi mendapat ridha Allah, kita akan menikmati prosesnya walaupun harus bersusah payah,” ujar Ukhtuna Heni Cristiani.
Senada dengan itu, Ukhtuna Diana mengingatkan, “Mengingat kematian dan mengingat bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban.
5. Perbanyak Doa dan Mendekat pada Allah
Selain berusaha, seorang penuntut ilmu perlu memohon pertolongan Allah.
“Mohon pertolongan Allah. Karena hanya dengan pertolongan-Nya semua akan dimudahkan,” ujar Ukhtuna Heni.
Ukhtuna Ummu Azzam juga menekankan pentingnya memperbanyak doa agar diberikan keistiqamahan dalam menuntut ilmu.
Futur mungkin tidak dapat dihindari, tetapi bukan berarti harus dituruti. Ketika semangat belajar melemah, tetaplah bertahan sesuai kemampuan, luruskan niat, dan mohon pertolongan kepada Allah. Sebab dalam menuntut ilmu, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita melangkah, melainkan kemampuan untuk terus melangkah hingga akhir.
REFERENSI:
- https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html
- https://muslim.or.id/29061-perjalanan-panjang-meraih-ilmu-bersabarlah.html
- https://rumaysho.com/39721-cara-mengatasi-kemalasan-dalam-ibadah-panduan-islami-berdasarkan-dalil-shahih.html
- https://rumaysho.com/1257-maksiat-menggelapkan-hati.html
- https://rumaysho.com/1013-doa-meminta-perlindungan-dari-sifat-malas.html