Keliling HSI

Bersama Jalani Suka Duka Menjadi Admin

Reporter: Anastasia Gustiarini

Redaktur: Hilyatul Fitriyah



وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). QS. Az-Zariyat Ayat 49

Bisa menjalani aktivitas bersama pasangan tentu suatu hal yang didambakan banyak orang. Bisa berbagi cerita, informasi, maupun saling membantu di kala sulit. Privilege itulah yang dirasakan dua santri HSI yang bertugas sebagai admin grup, yang ternyata merupakan pasangan suami istri.Rubrik Keliling HSI edisi ini, berkesempatan merekam cerita beliau berdua. Berikut kisahnya.. Mudah-mudahan menginspirasi

Sesama Urang Awak yang Bertemu di Jakarta

Mereka adalah Ummu Abdullah dan Ibnu Yusron. Pasangan ini berasal dari daerah yang sama yaitu Sumatera Barat. Meskipun Ummu Abdullah lahir di Jakarta dan orang tua tinggal di Jakarta, tetapi ia tinggal dan besar di Kuto Tua Ampek Koto, Kabupaten Agam bersama nenek dan bude rahimakumullah.

Adapun, sang suami merupakan asal Sumatera Barat. Ibunya berasal dari Sumaniak dan sang ayah berasal dari Batu Taba Ampek Angkek, Kabupaten Agam.

“Kita ketemu waktu masih muda dulu sebelum hijrah di Bukittinggi di salah satu perkumpulan radio. Saat itu kira-kira tahun 2006. Saya kelas 11 SMA, dan suami saat itu masih kuliah,” kenang Ummu Abdullah.

Namun setelah lulus sekolah, seiring dengan aktivitas dan kesibukan masing-masing, keduanya kehilangan kontak dan komunikasi dengan semua temannya.

Dengan izin Allah, sesuatu yang jauh pun bisa menjadi dekat kembali. Meski telah belasan tahun dilalui, akhirnya Allah pertemukan kembali keduanya dalam program Halfdeen Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri tepatnya pada Desember 2019.

“Lalu kami ta'aruf dan tertunda menikah karena orang tua meminta setelah COVID. Tetapi karena COVID tidak kunjung mereda akhirnya kami menikah pada 15 Januari 2021 di KUA,” terang Ummu Abdullah.

Bersama Belajar HSI

Tersentuh akan nasehat sang istri untuk senantiasa memanfaatkan waktu luang sebagai jalan meraih pahala, membuat hati Ibnu Yusran pun tergerak untuk mengikuti jejak sang istri menjadi admin di Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI) Ustadz Abdullah Roy, tepatnya di angkatan 221 yakni pada Desember 2021.

Sang istri sudah lebih dahulu menjadi Musyrifah pada Desember 2019 atau mulai bertugas untuk angkatan 201.

“Ana terinspirasi dari admin ana. waktu itu kok seru ya tugasnya sebagai admin. Bagaimana caranya jadi admin HSI. Dalam hati bertanya dapat pahala kan walau cuma jadi admin HSI,” tutur Ummu Abdullah.

Memiliki banyak waktu lapang dan keinginan agar bisa bermanfaat bagi orang banyak, tak pelak membuatnya memutuskan untuk bergabung dalam barisan admin.

“Sampai akhirnya ada pengumuman rekrutmen admin HSI. Sekarang namanya rekrutmen musyrifah. Tanpa pikir panjang langsung daftar. Tidak lama ikut training dan Alhamdulillah banget lulus sampai sekarang beranjak jadi MQ di ART251,” serunya.

MQ atau yang kita sebut Muraqibah merupakan pengarah para Musyrifah. Tingkatan mereka berada di atas para musyrifah yakni dengan catatan sudah melewati periode tertentu atau lama bertugas serta berpengalaman menjadi trainer untuk para musyrifah baru.

Sistem penyeleksian Muraqibah dilakukan oleh penanggung jawab KBM melalui interview. Setelah lulus, barulah bisa ditetapkan atau dinyatakan bertugas sebagai muraqibah.

Ibnu Yusran dan Ummu Abdullah merupakan santri HSI angkatan 191 tepatnya pada Januari 2019. Meski masuk dalam satu angkatan, tetapi keduanya mengaku tidak mendaftar secara bersamaan.

Ibnu Yusran menceritakan bahwa semula ia diajak oleh sang sepupu yang juga merupakan admin untuk turut mendaftar belajar di HSI. “Dijelasin sama sepupu tentang HSI, pengajarnya siapa, bagaimana cara belajarnya. Alhamdulillah atas taufik dari Allah, bismillah ana mau ikut HSI,” kenangnya.

Berbeda dengan Ummu Abdullah yang mengisahkan ketertarikannya untuk mendaftar HSI bermula dari melihat status rekan kerjanya dahulu di Ma'had tentang cara bagaimana mendaftar HSI.

“Statusnya link gitu. Dulu daftarnya pake link Google kalo ga salah. Jadi ana klik saja, loading-nya lama. Tapi alhamdulilah masuk grup belajar. Sampai sekarang sangat seneng banget belajar di HSI. HSI adalah grup belajar online ana yang pertama,” tuturnya.

Suka Duka Dalam Mengiringi Santri

Bukan tanpa hambatan, Ummu Abdullah dan Ibnu Yusron mengakui kala menjalankan tugas sebagai admin, keduanya tak lepas dari pengalaman-pengalaman yang begitu berkesan. Ummu Abdullah mengingat saat ia baru menjadi admin HSI. Kala itu ia diamanahi mengampu santri angkatan 201.

Tak dipungkiri saat itu banyak para santri di grup tersebut yang kebetulan gaptek. Namun, masya Allah keinginan kuat untuk belajar mereka sungguh luar biasa. Dengan sabar dan perlahan, ia pun memandu para santri satu per satu agar memahami cara menggunakan Chrome untuk pengerjaan kuis baik dengan menggunakan screenshot ataupun screen recorder. Walaupun, tidak sedikit dari mereka yang masih belum paham jua meski sudah diajarkan tahapannya.

“Masyaa Allah luar biasa. saat itu ana waktunya juga lowong sekali. Jadi bisa pelan-pelan memandu santri. Sebenernya penasaran sekali apakah mereka masih di HSI. Salam kangen buat mereka,” ungkapnya.

Lain halnya bagi Ibnu Yusran, ia mendapatkan pengalaman baru karena setelah menjadi admin semuanya berbanding terbalik. Sebelumnya ia masih harus dipandu ataupun diberikan pengingat oleh admin, tetapi kali ini ia yang bertanggung jawab untuk memandu dan mengingatkan para santri bahkan hingga menelpon santri untuk sekadar mengingatkan mereka agar tidak lupa mengerjakan soal.

Sepasang suami istri ini menyampaikan pula bahwa mereka semakin termotivasi dan terdorong untuk berdakwah di jalan sunnah. “Setelah belajar di HSI sebenarnya sangat ingin sekali mengajak keluarga dekat maupun jauh kembali belajar agama khususnya kelas online di HSI. Qaddarullah hidayah di tangan Allah,” lirih Ummu Abdullah.

Saling Menopang

Alhamdulillah, sebagai suami istri yang menjalani aktivitas yang sama, menjadi karunia tersendiri bagi keduanya. Begitu banyak hikmah yang bisa dirasakan mulai dari saling berbagi, bantu membantu hingga menopang satu sama lain dalam menjalankan tugas.

Namun qaddarullah, Ibnu Yusran beberapa waktu lalu tertimpa musibah. Hal ini berimbas kepada perubahan kegiatan sehari-harinya yang bekerja di sebuah toko dari pukul delapan pagi hingga sebelum ashar, mengajar anak anak TPA dari setelah Ashar sampai Maghrib, mengikuti kajian ke Blok M, serta statusnya yang masih menjadi santri dan musyrifah di HSI.

Sebulan lamanya sudah ia mengambil cuti mengajar TPA. Adapun, sang istri sementara menggantikan kegiatannya di toko. Ibnu Yusran pun bertukar peran dengan istri yang biasanya mengajar anak-anak tetangga.

Namun, atas rahmat Allah, ia bersyukur karena sedang menjalani proses pemulihan, hingga bisa mengajar lagi di TPA meski dengan keterbatasannya yang masih harus bertumpu pada tongkat.

Sama halnya dengan sang istri yang senantiasa mengucap syukur. Meski dalam keadaan sulit sekalipun, ia tetap menerima apa yang telah Allah takdirkan baginya dan keluarga, “alhamdulilah ala kuli haal,” tutupnya.

Mengambil langkah bersama di jalan Allah bagi sepasang suami istri, tentu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Bisa saling berbagi, saling menguatkan, dan saling membantu di kala salah satunya sedang terpuruk ataupun kesulitan

Begitulah kisah Ummu Abdullah dan Ibnu Yusron, sepasang suami istri yang memiliki kesamaan tekad untuk menjadi bagian dalam dakwah sunnah. Semoga kita bisa mengambil ibroh dari kisah di atas. Semoga Allah memberkahi keduanya, aamiin.

0