Berpaling dari Orang Bodoh
Penulis: Azhar Abu Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Lafal Ayat
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf dan perintahkanlah orang-orang untuk mengerjakan hal yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
[QS. Al-A’raf: 199]
Tafsir Ringkas[1]
Ayat ini merupakan sebuah rangkuman mengenai cara kita berakhlak yang baik kepada sesama manusia. Selayaknya yang dilakukan kepada sesama ialah mengambil kerelaan hati kita terhadap tingkah laku serta akhlak mereka.
(خُذِ الْعَفْوَ)
“Jadilah pemaaf.”
Kita tidak boleh memaksa orang lain untuk berperilaku dengan perangai yang tidak sesuai dengan tabiat bawaan mereka. Kita hanya bisa berterima kasih pada mereka yang telah berbuat baik dan bertutur kata bagus, bahkan dari hal yang kurang dari itu. Kita pun diperintah untuk memaafkan keteledoran mereka, juga menutup mata atas kekurangan mereka. Kita tidak boleh sombong kepada orang yang lebih kecil fisiknya, lebih lemah akalnya, atau kurang hartanya. Kita diperintahkan untuk berinteraksi bersama mereka semua dengan cara yang lembut, membalas dengan yang sesuai serta yang membuat hati mereka rela.
Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, menukil riwayat Imam Al-Bukhari,[2] bahwa maksud dari “خُذِ الْعَفْوَ” ialah mengambil kerelaan dari akhlak dan tingkah laku manusia yang ada di sekitar kita.
(وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ)
“Dan perintahkanlah orang-orang untuk mengerjakan hal yang ma'ruf.”
Yaitu perintah berbuat baik dari segala jenis ucapan dan perbuatan, juga akhlak yang bagus kepada orang yang dekat maupun yang jauh. Oleh karena itu, jadikan interaksimu dengan orang yang mendatangimu sebagai: bentuk mengajarkan ilmu, menganjurkan kebaikan, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, memperbaiki hubungan dengan sesama, nasihat yang baik, usulan yang bagus, pertolongan dalam masalah ketakwaan, larangan dari perbuatan dosa, atau arahan untuk mendapatkan maslahat dunia maupun akhirat. Pada intinya, kita harus bisa mengelola interaksi kita bersama orang lain sehingga bernilai kebaikan dan berpahala.
Ketika interaksi yang kita lakukan tadi berpotensi mengundang perlakuan buruk dari orang-orang yang bodoh, maka Allah Ta’ala memerintahkan kita agar berpaling dari tindakan bodoh mereka.
(وَأَعْرضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ)
“Serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Yaitu dengan cara tidak melayani kebodohan mereka dengan tindakan serupa. Dengan demikian, siapa saja yang mengganggumu dengan perkataan atau perbuatannya, jangan membalasnya dengan tindakan yang serupa. Siapa saja yang tidak memberikan hakmu, jangan halangi mereka dari haknya. Siapa saja yang memutus hubungan (kekeluargaan) denganmu, sambunglah. Jika ada yang menzalimimu, tetaplah berbuat adil kepadanya.
Setelah ayat ini, Allah Ta’ala memerintah kita semua untuk berlindung dari gangguan setan karena gangguan yang menimpa kita saat memerintah manusia untuk berbuat baik tidak berhenti sebatas dari orang-orang yang bodoh. Bisa jadi, orang-orang yang jahat dan zalim itu luluh atau berhenti sementara dari tindakan zalimnya lantaran kebaikan akhlak kita, dengan izin Allah. Kendati demikian, akhlak yang baik tak cukup untuk meluluhkan setan. Padahal, kita tahu sendiri bahwa setan tidak akan rela melihat keturunan Adam beramal shalih. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada kita, bahwa agar selamat dari gangguan setan, kita harus meminta perlindungan dari-Nya karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
1. Kandungan ayat secara umum. Ayat di atas mencakup pelajaran inti tentang semua masalah perintah dan larangan Allah kepada kita sebagai seorang muslim. Al-Qurthubi rahimahullah merangkumnya sebagai berikut:[3]
- Bagian pertama mencakup aktivitas menyambung silaturahmi dengan orang yang memutusnya, memaafkan orang yang berbuat salah, serta berlemah lembut terhadap orang-orang mukmin.
- Bagian kedua berisi perintah kepada hal yang ma’ruf, misalnya perintah untuk menyambung silaturahmi, bertakwa kepada Allah dalam perkara yang halal maupun yang haram, menjaga pandangan, serta mempersiapkan bekal ketaatan untuk kehidupan akhirat.
- Bagian ketiga meliputi perintah untuk berpaling dari orang bodoh, mencakup perintah untuk selalu mengedepankan ilmu, berpaling dari orang yang zalim, tidak melayani debat kusir orang pandir, tidak menyamakan antara orang bodoh dan pandai, dan yang semisalnya yang merupakan contoh akhlak terpuji serta perilaku yang bijak.
2. Jenis manusia secara umum. Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama, seseorang yang baik. Terhadap orang semacam itu, kita mengambil kebaikan darinya secara sukarela, serta tidak membebani dirinya dengan hal-hal di luar kemampuannya atau mempersulitnya. Jenis kedua, seseorang yang buruk. Terhadapnya, kita memerintahkannya untuk berbuat baik. Jika dia terus memilih berada dalam kesalahannya dan tidak menggubris nasihat kita, tetapi malah melanjutkan tindakan bodohnya, maka berpalinglah darinya. Dengan demikian, kemungkinan dampak buruk perbuatannya akan berhenti (atau kembali padanya).[4]
Jenis-jenis orang bodoh.[5]
- Pertama: Orang bodoh yang tidak memiliki keyakinan sama sekali, baik keyakinan yang buruk maupun yang baik. Tugas untuk menyadarkan orang semacam ini lebih mudah karena ia ibarat papan yang polos belum ditulisi apa pun. Orang jenis pertama ini disebut sebagai orang yang hatinya selamat.
- Kedua: Orang yang sudah meyakini pemikirannya yang rusak, tetapi ia tidak terdidik dan terbiasa dengan hal itu. Walaupun usaha menyadarkan orang jenis ini lebih susah dibandingkan dengan yang pertama, tetapi masih bisa diusahakan. Ibaratnya, ia seperti papan yang sudah ditulisi, namun butuh untuk dihapus atau direvisi. Orang jenis kedua disebut sebagai orang yang tersesat.
- Ketiga: Orang yang meyakini keyakinan yang rusak dan sudah melekat di dalam hatinya. Ia melihat kerusakan itu sebagai kebaikan. Tipe jenis ini adalah penderita penyakit akut yang membuat dokter kewalahan.
- Keempat: Orang yang meyakini keyakinan rusak, dia tahu kerusakannya, namun lebih memilih terus tenggelam dalam kerusakan berdasarkan hawa nafsunya. Ia terus berdalih dengan kebatilan demi melanggengkan kerusakannya atau melenyapkan kebenaran. Ia mencela para pembela kebenaran supaya manusia mengekor di belakang dirinya. Orang seperti ini disebut sebagai munafik yang fasik.
4. Berpaling dari orang bodoh bukan berarti mendiamkan kemungkaran. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Dan sungguh, Allah Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya untuk berbuat ma'ruf yang mencakup semua jenis ketaatan, juga memerintahkan agar berpaling dari orang yang berbuat bodoh. Perintah Allah Ta’ala secara tekstual adalah khusus untuk Nabi-Nya, tetapi itu berlaku umum sebagai pembelajaran bagi semua umatnya. Yaitu dengan bersabar menanggung perbuatan zalim orang yang berbuat jahat padanya, bukan dengan bersikap tak acuh terhadap perbuatan orang yang tidak mengetahui kewajibannya kepada Allah Ta’ala. Bukan pula maknanya dengan memaafkan begitu saja orang-orang yang kufur kepada Allah dan mengingkari keesaan-Nya. Hal tersebut wajib diperangi oleh kaum muslimin.”[6]
5. Mengapa kita tidak boleh meladeni orang bodoh? Al-Qurthubi rahimahullah mengutarakan, “Jika kamu menjelaskan alasan pada orang yang bodoh atau memerintah mereka untuk melakukan kebaikan, tetapi mereka malah bertindak tak pantas padamu, berpalinglah. Berpalinglah dari perbuatan mereka agar kebenaran tak ternoda serta supaya muruah kebenaran tetap terjaga. Walaupun tekstual ayat ini adalah perintah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi perintah tersebut merupakan pembelajaran bagi seluruh umatnya.”[7]
6. Contoh cara berpaling dari orang yang bodoh.
- Menyederhanakan urusan dengan mereka. Hal ini sangat tampak dalam muamalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama orang-orang Badui. Mereka tidak bersikap sopan kepada beliau layaknya para sahabat yang tinggal di kota; di antara mereka ada yang hanya datang untuk meminta uang atau harta benda kepada Nabi. Rasulullah menerima ketidaksopanan mereka dan menyederhanakan urusan dengan mereka.
- Tidak terbawa emosi atas ucapan dan perbuatan buruk mereka. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saat mendengar orang-orang Quraisy mengganti nama Rasulullah dengan sebutan مُذَمَّمٌ (si Tercela). Beliau tidak terbawa emosi, tetapi malah mengatakan, “Kalian jangan heran mengenai cara Allah memalingkan hinaan dan celaan Quraisy kepadaku. Mereka mencela dan melaknatku sebagai ‘mudzammam’, padahal aku tetap Muhammad (yang terpuji).”[8]
- Berbicara sebatas kadar kemampuan akal mereka. Hal ini seperti ucapan Ali bin Abi radhiyallahu 'anhu yang terkenal, “Bicaralah kepada manusia dengan cara yang mereka pahami. Apakah engkau ingin mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya dengan sebab itu (tidak sampainya pemahaman?!”[9]
- Tidak memperpanjang asumsi sesat mereka. Salah satu contoh praktik generasi salaf mengenai tidak menggubris perbuatan orang-orang bodoh ialah semisal kejadian yang dialami oleh Salim bin Abdullah bin Umar rahimahullah. Suatu ketika beliau melewati serombongan kafilah dari Syam. Di dalam rombongan itu terdapat lonceng. Salim rahimahullah mengingatkan mereka, “Sesungguhnya lonceng ini dilarang.” Orang-orang di dalam rombongan lalu menukas dengan ketus, “Kami lebih tahu tentang hal ini dibandingkan dirimu! Yang dilarang adalah lonceng yang besar. Adapun lonceng kecil seperti ini, tidak mengapa.” Salim rahimahullah pun memilih diam, lalu mengutip firman Allah Ta’ala, “وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ”. [10]
7. Jangan sampai salah niat. Tatkala kita menyeru orang yang bodoh untuk menuju kebenaran, tetapi mereka enggan mengikuti kebenaran tersebut, jangan sampai muncul niat yang keliru dalam hati kita. Jika kita cermati dalil-dalil beserta penjelasan ulama terkait perbuatan “berpaling dari orang bodoh” dalam konteks ini, kita akan sampai pada satu kesimpulan penting, yaitu tidak melayani mereka. Alasannya, semakin kita menggubris mereka, kerusakan yang mereka perbuat akan membesar dan kebenaran pun kian berpotensi untuk direndahkan. Selain itu, tidak ada satu pun penjelasan ulama yang membolehkan kita berpaling dari tindakan orang yang bodoh dengan dasar merasa diri lebih baik daripada mereka karena “merasa diri lebih baik” merupakan hakikat kesombongan. Oleh karena itulah, jangan sampai saat kita mengaplikasikan Al-Araf ayat 199 di dalam kehidupan kita, setan justru menggelincirkan kita melalui jalan lain yang bernama “kesombongan”.[11] Allahul Musta’an.
Referensi
- Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, Arab Saudi.
- Tafsir al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Ad-Dar al-‘Alamiyah, Mesir.
- Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, Darul Kutub Al-Mishriyah, Mesir (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
- Mausu’ah Nadhratin Na’im fi Makarimir Rasulil Karim, Shalih bin Abdillah bin Humaid dkk., Darul Wasilah, Arab Saudi (Al-Maktabah Asy-Syamilah).